9. Buang Gas

1230 Kata
Setelah merasa berhasil menutupi rasa malunya. Brian memandang ke luar jendela, ia menaikkan sedikit kaca mobil. Siluet Zakia yang terpantul di benda tersebut. Semakin membuat lelaki itu, tak mampu menenangkan si junior yang bergejolak di bawah sana. Jantungnya berdegub kencang, seiring dengan aliran darahnya yang berdesir. "Tenanglah sedikit, Junior. Apa kau tidak tahu situasi dan kondisnya sekarang," desis Brian dengan nada lirih. Di antara kedua insan berlawanan jenis itu tidak ada lagi perbincangan. Satu sama lain tenggelam dalam lamunan masing-masing. Namun, tiba-tiba Zakia merasakan gemuruh dalam perutnya. Seperti gerakan ikan terbang yang meliuk dalam pencernaan. Gadis itu berusaha menahan, tetapi tak bisa. Dorongan alam tampaknya lebih mendominasi dibandingkan tenaganya. Aroma terapi pun menyebar di dalam mobil. Brian yang berada tepat di samping kiri Zakia mulai menangkap bau yang menyengat. Indera penciumannya tampak kembang kempis, memastikan apa yang barusan ia hirup. Lelaki itu menutup hidungnya dan membentak Hafif yang asik mengemudi. "Fif, kau buang gas, ya? Sembarangan!" "Tidak, Pak," jawab Hafif secepat kilat karena memang bukan dia pelakunya. Hafif mulai tidak fokus mengemudi, ia melirik sang majikan sesekali. Tuduhan yang diberikan Brian tidak benar. Jika memang ia merasa ingin buang gas, pasti akan meminta maaf dahulu. "Jangan berbohong! Apa kau tidak mencium baunya, hah? Cepat matikan AC-nya dan turunkan juga kaca mobil depan!" titah Brian lantang. Hafif yang merasa terpanggil lagi, melirik sang majikan dari balik spion dalam. "Hah? Tidak, Pak. Sumpah, saya tidak buang gas. Namun, ini memang seperti bau ...." "Aku juga tidak. Lantas siapa?" bentak Brian kesal. Tatapan Brian dan Hafif bertemu di dalam spion. Asistennya itu memberi kode dengan menggerakkan kepalanya ke samping kanan. Brian mengerti, jika bukan Hafif ataupun dirinya yang mengeluarkan flatuensi. Hanya satu orang yang tersisa di antara mereka bertiga. Brian menoleh dan menatap lekat Zakia, wajah gadis itu bersemu merah. "Jadi, Macan Kecil ini yang buang gas sembarangan, hah?" Zakia memalingkan wajah, ia memandang ke luar jendela dengan watadosnya. Seakan tidak terjadi apapun, tetapi usus-usunya tidak dapat bekerja sama. Tanpa permisi mengeluarkan kembali tumpukkan gas dalam pencernaannya. Kali ini dengan suara yang sangat keras dan berturut-turut. Seketika Brian menoleh ke arah Zakia. "Menjijikan!" "Hafif, cepat hentikan mobil. Semprot bagian dalam dengan desifektan dan pengharum!" Brian menatap tajam Zakia yang menutupi mulutnya. Gadis itu terkekeh melihat tingkah laku Brian yang berlebihan. Itu hanya gas, bukan ledakan bom. Sementara Hafif dengan patuh menepikan kendaraan besi itu, dirinya juga merasa geli dengan perintah majikannya yang perfeksionis. "Keluar!" sentak Brian kepada Zakia ketika pintu mobil telah terbuka. Zakia menurut dan turun dari mobil, tetapi ia merasa ada sesuatu yang janggal ketika menyentuh bagian b****g. Astaga, gas terakhir yang ia keluarkan membawa serta ampasnya! Ini pasti akibat ulahnya sendiri yang ceroboh meminum obat sebelum makan. Apalagi, Brian membuka jendela tadi. Bagaimana ini? "Ah, emm ... A-aku ingin buang air kecil," ucap Zakia berdusta. Tentu saja gadis itu tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Jika sampai Brian tahu, mungkin dirinya akan diejek mati-matian. Kenapa tubuhnya tidak bisa diajak kompromi? Ah, hari yang melelahkan bagi Zakia. Mata Brian melotot dan lelaki itu mendengkus lagi. "Kau ini merepotkan saja! Ayo kuantar, kau harus tetap kuawasi!" "Tapi, di mana aku harus ...." Jari Brian menunjuk ke arah sebuah pom bensin, yang lokasinya tidak jauh dari posisi mereka berdiri. "Di sana! Sudah jangan banyak bicara, ikuti saja aku." "Ya," jawab Zakia lirih. Mahasiswi aktif itu ingin tertawa terbahak-bahak. Zakia merasa sedikit kekesalannya terhadap Brian terbalas. Gadis itu melenggang santai dengan tangan menutupi bagian belakang tubuhnya. "Cepat, jangan membuatku menunggumu terlalu lama!" Brian mendorong tubuh Zakia. Di dalam toilet Zakia memutar kran. Gemricik air menyamarkan suara gas yang ia keluarkan lagi. Peluh bercucuran di wajahnya yang ayu, keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuh. Gadis itu berusaha menahan rasa sskit yang seperti melilit isi organ-organ pencernaan. "Hah, sial! Kenapa harus diare di saat yang tidak tepat. Aduh ...." Putri Pak Sandi tersebut telah selesai melakukan ritualnya di toilet. Zakia keluar sambari meremas perutnya. Gadis itu tampak pucat, tentu saja karena cairan tubuhnya terbuang percuma. "Perutmu sakit?" tanya Brian yang melihat rupa Zakia. Zakia mengangguk lemah, ia tidak mampu mengucapkan apapun. Perasaannya tak karu-karuan apalagi ditambah perut yang melilit. Betapa lengkap penderitaannya. "Tunggu di sini!" titah Brian yang dijawab anggukan oleh Zakia. Brian berlalu pergi, ia menuju minimarket yang terdapat di pom. Tak lama kemudian membawa sebotol minuman isotonik, dan menyodorkannya ke Zakia. "Minum ini! Aku tidak ingin kaumati lemas di dalam mobilku." Entah apa yang dipikirkan Zakia, ia menatap Brian sesaat. Mungkin gadis itu bingung terhadap sikap sang cassanova. Bagaimana tidak? Beberapa menit yang lalu ia tampak kasar dan bengis. Namun, saat ini lelaki itu menunjukkan perhatian. Ya, meskipun hanya seujung kuku. "Terima kasih," ucap Zakia yang kemudian meneguk minuman itu. Sang cassanova mengamati wajah gadis yang berada di hadapannya. Berapa kalipun ia memandang tidak ada perasaan bosan. Sikapnya yang sedikit memberontak, makin membuat Brian tertantang. Sanggupkah ia menaklukkan Macan Kecil itu? "Pak, mobilnya sudah bersih," ujar Hafif yang berlari ke arah mereka. "Bagus. Hafif, bawa dia masuk ke dalam mobil." Brian membalikkan tubuh dan melewati Zakia. Tampaknya perhatian yang diberikan Brian tadi hanya tipuan. Manusia kejam yang telah menghancurkan dunia Zakia itu kembali ke sikap aslinya. Ya, setiap kalimat yang diucapkannya penuh sembilu. Dua puluh menit berlalu, mereka tiba di depan kediaman Brian. Hunian bergaya kotemporer modern itu berdiri dengan megah. Manik mata Zakia terhenti pada sebuah patung berbentuk dewa cupid yang berada di tengah-tengah taman. Taman? Bukan, lebih tepat dikatakan halaman rumah Brian. "Cepat keluar!" Brian menarik kaos yang Zakia kenakan. Pakaian itu tersingkap dan sedikit mempertontonkan kulitnya yang mulus. Brian membuang wajah, mengalihkan pandangan dari sesuatu yang membuat adiknya bergetar. "Hei, jangan menarikku seperti anak kucing!" sentak Zakia kesal. Brian memicingkan mata dan menyeringai. "Ini rumahku dan aku bebas melakukan apapun." Akhirnya, mereka berdua memasuki kediaman pribadi milik Brian itu. Sementara Hafif tak tahu ke mana, mungkin ia memarkirkan kendaraan sang majikan. Ya, lokasi parkiran mobil berada di tempat yang terpisah, karena kendaraan yang baru saja ia kenakan akan segera dicuci sebelum duduk manis. "Selamat datang, Tuan. Saya telah mempersiapkan kamar tamu seperti yang Anda perintahkan sebelumnya." Salah seorang asisten rumah tangga menghampiri Brian dengan santun. Brian menggeleng dan memutar bola matanya. "Tidak, aku berubah pikiran. Siapkan ruang tidur yang terhubung oleh ruanganku. Pastikan bahwa pintunya berfungsi dengan baik." "Ba-baik, Tuan. Akan segera saya persiapkan." Lelaki itu menyeringai, ketika mencuri pandang ke arah Zakia yang tampak gelisah. Tak tahu apa yang akan ia lakukan nanti, yang pasti Brian ingin menjaga barang miliknya agar tak tersentuh orang lain. Ya, meskipun tidak akan ada yang berani mendekati miliknya. Sedangkan Zakia menggerakkan netranya liar. Ia mulai panik mendengar kata ruangan yang terhubung oleh milik lelaki itu. Apa tandanya nanti, ia akan tidur di ruangan yang terhubung dengan pintu kamar Brian? Demi Tuhan, ini sangat buruk! "Mari, Nona saya antarkan. Ruangannya telah siap digunakan," ujar asisten yang datang beberapa waktu lalu. "Ikutlah dengannya, tapi jangan berpikiran untuk mencoba kabur!" Brian menatap tajam Zakia bagaikan seekor elang. Pikiran Zakia tidak dapat berpikir jernih lagi. Ia bingung harus bagaimana? Apakah ini benar satu-satunya jalan untuk menolong sang ayah? Wanita itu merasa tidak nyaman, berada di kediaman mewah Brian yang baginya seperti neraka. Apa yang akan dilakukan lelaki itu? Sampai memintanya untuk tidur di ruangan yang terhubung dengannya. Gila, ini benar-benar gila! ----- JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR DAN TAP LOVE NOVEL INI UNTUK SAVE KE LIBRARY KALIAN YA. HATUR NUHUN SADAYANA...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN