Bagian 6

1579 Kata
“Baru pulang kok cemberut, Nak?” tegur sang ibu. Cila pun langsung mengambil duduk di kursi kosong dekat ibunya. Tampak sang ibu masih memiliki pekerjaan dengan baju-baju yang harus ia rapikan. Cila melepaskan sepatu serta tasnya. Sekali lagi wanita ini mengembuskan napas berat. “Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman di kantor?” tanya wanita paruh baya itu kembali. “Ada. Sejak awal aku masuk kantor itu, bahkan saat wawancara pun ada hal yang mengusikku, Bu,” sahut Cila dengan nada yang kentara bila dirinya sedang tidak merasa baik-baik saja. Sang ibu pun meletakkan setrikaan di tempatnya lebih dulu agar baju yang sedang dia kerjakan tidak rusak. “Ceritaka kepada Ibu,” perintahnya kemudian yang kali ini berfokus kepada putrinya. Tak lupa wanita itu mematikan setrika yang tadinya panas. Cila mengembuskan napas berat. Sebenarnya hal ini tidak perlu ia besar-besarkan, tetapi mengingat pria itu yang terus membuatnya emosi, Cila jadi malah terbawa suasana alias menjadi ikut emosi. “Saat wawancara pekerjaan, aku bertemu dengan pria mesumm, Bu.” “APA? Di mana?” pekik sang ibu. “Di kantor itu. Jadi aku lagi di toilet sebelum wawancara di mulai. Lalu saat aku keluar, ada seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam bilik toilet juga. Aku benar-benar terkejut. Untung saja aku sudah selesai buang air kecil, dan untungnya tidak ada wanita lain di sana.” “Astaga. Kenapa kantormu bisa sampai begitu? Apa tidak ada pembeda antara toilet pria dan wanita?” tanya sang ibu. “Ini cerita selanjutnya, Bu. Aku menegur pria itu ketika dia sudah keluar dari toilet. Tapi bukannya minta maaf, dia malah pergi begitu saja. Karena kesal, aku akhirnya memberi dia pelajaran kecil dan tanpa sengaja jas yang ia pakai sedikit robek karena saking kuatnya tarikanku. Salah dia sendiri kenapa mengabaikanku begitu saja tanpa mau minta maaf.” Sang ibu mengangguk paham. “Sikapmu benar, Nak. Lantas apa yang terjadi selanjutnya? Perdebatan kalian pasti di lihat oleh orang-orang di kantor itu bukan?” Cila mengangguk. “Semuanya melihat, Bu. Aku canggung, tapi bukan karena di lihat oleh mereka. Tetapi aku canggung karena aku adalah orang yang bersalah di sini.” Ibu dari wanita ini pun mengernyit bingung. “Di lantai itu hanya di isi oleh pekerja wanita, jadi memang tidak disediakan toilet wanita, Bu. Dan orang yang aku tegur itu ternyata adalah pemilik perusahaan.” Seketika mata sang ibu pun melotot. “Aku tau aku salah, dan aku terkena masalah karena itu, Bu. Tapi aku sudah minta maaf,” ungkap Cila sembari meringis. “Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” “Aku di tempatkan di office girl begitu saja tanpa ada tes wawancara. Sepertinya pemilik perusahaan memiliki dendam kepadaku karena semenjak hari pertama kerja, dia selalu mempermainkanku dalam hal pekerjaan. Sungguh menyebalkan.” Cila mengakhiri ceritanya di sana. “Kalau kamu sudah tau jika pria itu menyebalkan, kenapa kamu malah menerima begitu saja pekerjaan di sana?” “Ini masalahnya, Bu,” sembur Cila. “Aku sudah menolak, tapi dia mengancamku dengan mengatakan bila aku tidak akan di terima di perusahaan mana pun. Aku pun terpengaruh oleh perkataannya saat itu. Dan juga kita butuh uang untuk menyambung hidup, jadi aku mencoba untuk menjalani pekerjaan ini saja sembari coba mencari pekerjaan lain.” Pada akhirnya sang ibu pun paham dengan cerita semua putrinya. Dia cukup prihatin melihat Cila yang berjuang begitu keras demi hidup mereka. “Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu akan coba cari-cari pekerjaan di luar. Ibu rasa, Ibu bisa bekerja menjaga toko. Mungkin gajinya jauh lebih besar.” Cila pun menggeleng. “Jangan, Bu. Ibu di rumah saja. Bekerja seperti ini sudak cukup. Biarkan Cila yang cari uang di luar. Cila tak akan tega melihat Ibu bekerja di toko, di mana itu pasti sangat melelahkan. Jangan ya, Bu.” Wanita paruh baya itu pun tersenyum haru. “Ibu akan selalu mendukung segala pilihanmu, Nak. Semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan lain setelah ini.” “Terima kasih, Bu. Tapi … cerita tentang atasan yang menyebalkan itu tidak hanya sampai di sini saja, Bu,” ungkap Cila. “Ada cerita lain, dan aku harus terlibat juga di sana. Lama-lama aku bisa lelah jika begini terus.” Sang ibu mengusap punggung tangan Cila dengan lembut. “Jangan terlalu di pikirkan atau di ambil hati perkataan atasanmu itu. Anggap saja angin lalu. Jika kamu ingin tetap berada di sana, maka kamu harus bisa tutup telinga. Jika kamu ingin keluar, maka kamu harus berpamitan dengan baik-baik.” Cila mengangguk paham. Kemudian dia memeluk sang ibu dengan hangat. “Terima kasih ya, Bu. Cila akan mengingat semua nasihat-nasihat yang Ibu berikan.” Sang ibu pun mengusap pelan rambut putrinya. “sama-sama. Ini sudah tugas Ibu untuk membuat anak-anak Ibu tetap berada di jalan yang benar. Ibu akan terus menjaga kalian berdua sampai hari pernikahan kalian datang.” Cila melepaskan pelukannya. “Ibu bilang apa? Menikah? Itu tidak akan terjadi, Bu. Aku akan terus bersama Ibu selamanya,” tutur gadis ini. Sang ibu pun tertawa kecil, dia mengusap hidung putrinya menggunakan jari telunjuk. “Kamu bicara apa, Cila? Suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan mate mu. Dan kalian akan menikah setelah itu. Dan kamu harus hidup berdampingan dengan mate mu itu.” Cila pun tampak kurang suka dengan pernyataan ibunya. Berdampingan dengan mate? Itu bukan sebuah kewajiban sah. “Jika Ayah dan Ibu bisa berjauhan, kenapa aku harus berdampingan dengan mate ku?” ucap Cila mengalir begitu saja. Wanita paruh baya di sampingnya pun tertegun, bingung harus mengatakan apa. Cila melirik sang ibu yang terdiam saat itu. “Ibu … dari kepergian kita di dunia manusia ini, Cila tidak pernah bertanya kenapa kita pergi dari samudera. Dan kenapa Ayah tidak ikut. Aku tidak bertanya karena merasa aku masih kecil, dan tidak perlu tau akan hal itu. Tapi … kini Cila sudah dewasa, Bu. Apa Ibu tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi?” Sang ibu tiba-tiba berdiri dan kembali ke tempat dia menyetrika tadi. “Jika tidak keberatan, setelah membersihkan diri apa kamu bisa bantu Ibu mampir ke minimarket untuk membeli bawang, Cila?” Cila pun tersenyum kecut ketika sang ibu malah mengalihkan pembicaraan begitu saja. Wanita ini akhirnya berdiri dari tempatnya. “Baiklah, Cila ke kamar dulu, Bu.” Akhirnya dia memilih pergi dari sana dan tak melanjutkan pertanyaan perihal keluarganya itu. Ketika Cila pergi, tampak sang ibu yang menahan tangisnya, dia memegangi dadanya yang terasa sesak jika mengingat masa lalu lagi. Cila sendiri merasa muak dengan segala hal yang terjadi dengan keluarganya. Dia tak langsung membersihkan diri, malah memilih untuk merebahkan dirinya sembari menatap dinding plafon kamar. Dulu, hidupnya begitu sempurna, bahkan kamarnya sangatlah luas dan tidak kecil seperti sekarang. Cila tidak paham apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarganya. Ketika Cila yang masih bergulat dengan pikirannya, tampak Reynart yang baru saja sampai di rumah. Ya, pria ini memaksa untuk pulang ke rumah karena dia juga merasa baik-baik saja. Untungnya Elijah mau membantu berbicara dengan dokter. Jadi dokter hanya menyarankan untuk sering-sering mengganti perban di kepala. Dan Reynart pulang di antar oleh Elijah di malam itu. Elijah tampak terus mendumel karena tadinya dia sedang asyik bersama keluarganya, namun karena panggilan dari Reynart, akhrinya me time dengan keluarga sedikit terganggu. “Apa ada hal lain lagi yang ingin kau minta?” tanya Elijah. Reynart terdiam sejenak, kemudian mengingat sesuatu. “Kau hubungi office girl itu. Katakan jika mulai besok dia harus datang ke rumah ini, bukan ke rumah sakit.” “Namanya Cila, Rey,” ingatkan Elijah yang tampak kurang suka dengan panggilan yang diberikan oleh Reynart itu. “Ya, ya aku tau. Kau hubungi saja dia oke.” “Ya sudah. Kau istirahatlah. Aku akan pulang.” Reynart mengangguk dan membiarkan Elijah pergi. Setelah memastikan temannya pergi, Reynart pun langsung bangkit dari duduknya, lebih tepatnya mengubah posisinya menjadi bersila di atas tempat tidur. Dia mulai berkonsentrasi kembali untuk bisa menghubungi Wizard Berta. Sejak kedatangannya di dunia manusia, memang hanya Wizard Berta yang tetap selalu Reynart hubungi. Tidak hanya untuk menanyakan perihal keluarga serta kedua sahabatnya, tetapi Reynart juga bertanya perihal seberapa mungkin dia akan bertemu dengan sang mate. Setiap kali dia menghubungi Wizard Berta, wizard tersebut selalu mengatakan bila mate nya masih cukup jauh dari jangkauan Reynart. Namun kemarin dia mendapat kabar mengejutkan di mana kata sang wizard mate Reynart sudah sangat dekat. Reynart yang mengetahui hal itu pun sangat terkejut dan kabar tersebut dia dapat ketika dirinya sedang mengendarai mobil. Saking senangnya, dia sampai lupa jika sedang berkendara, jadi kecelakaan pun tak terhindarkan saat itu. “Bagaimana Wizard? Seberapa dekat dia sekarang?” tanya Reynart ketika komunikasinya sudah terhubung dengan wizard tersebut. “Masih seperti kemarin, dia sudah sangat dekat denganmu. Jika dia adalah manusia, maka mudah bagimu untuk menemukannya. Tetapi jika dia bukan manusia, maka dia yang akan menemukanmu. Mungkin kau juga akan merasakannya juga, tetapi tidak sekuat mate mu.” “Baiklah. Bagaimana dengan ayah dan ibu?” “Aku baru saja ingin menghubungimu mengenai ini. Aku mendapat kabar bila ibumu sedang jatuh sakit.” “Ibu sakit? Lalu bagaimana keadaannya? Apakah sakitnya sangat parah?” “Tenanglah, Rey. Aku akan memastikannya langsung nanti. Aku akan hubungi dirimu jika sudah mendapatkan kabarnya.” “Baiklah. Terima kasih banyak, Wizard. Kalau begitu aku akan tutup komunikasi kita.” “Baik. Hanya ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, Rey. Jangan terlalu membencinya, aku yakin takdir kalian tetap akan bersatu. Jadi, pikirkan baik-baik keputusanmu.” Panggilan terputus ketika Wizard Berta menyelesaikan satu kalimatnya. Reynart membuka kedua matanya, kemudian kerutan di dahi menjelaskan jika pria ini tampak bingung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN