New Beginning

2012 Kata
Cello sudah akan bicara kembali saat sebuah suara menahannya. “Carilla!”panggil sebuah suara yang membuat Rilla langsung menoleh. Theo berdiri menjulang di antara para tamu yang baru hendak masuk lewat pintu depan hotel. Rilla menyadari kalau Theo berjalan ke arahnya. “Cecil ingin bicara denganmu. Dan aku harap kamu segera kesana agar dia tidak mengamuk karena keterlambatan kita. Bujuk dia dengan segala cara. Okay? Si pendek itu sangat mengerikan kalau sedang mengamuk.”tanya Theo lalu tersenyum. Rilla berusaha menyembunyikan kegelisahannya dengan mencoba tersenyum karena baginya akan terjadi masalah besar kalau Theo tahu apa yang dikatakan Cello. Masalah yang akan dimunculkan Theo jauh lebih berbahaya daripada masalah yang mungkin ditimbulkan oleh Rissa atau Cecil. “Baiklah. Ayo kita temui Cecil, karena ini salah kita berdua.”sahut Rilla santai. Theo meletakkan kedua tangannya di bahu Rilla, ”Kamu masuk dulu. Ada masalah yang ingin kubicarakan dengan Cello berdua. Maklum, masalah laki-laki. Nanti aku menyusul.”ucap Theo lembut sambil mendorong Rilla melewati pintu masuk dan memastikan kalau gadis itu tidak kembali ke belakang. Theo kembali ke tempat Cello berdiri dan dengan santai menyandar pada sebatang pohon besar dengan tangan terlipat di d**a. Selama beberapa detik Theo hanya diam dan menatap Cello dengan tajam. Theo tahu kalau dia bisa mengintimidasi lawannya kapanpun dia inginkan, dan saat ini adalah salah satunya. “Jauhi Rilla. Aku tidak ingin melihatmu mendekatinya. Kesalahan yang kali ini kau lakukan sudah sangat parah. Aku tidak ingin melihatnya dilukai orang atau siapapun bahkan kau sekalipun.”ucap Theo datar. Cello langsung mendekati Theo, ”Aku sudah minta maaf dan memintanya menunggu sampai aku berhasil membuktikan semuanya.”sahut Cello. “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Bersama Miranda di depan mata Carilla?” “Ini hanya bentuk tanggung jawabku!” “Mau bertanggung jawab kau bilang? Aku tidak akan mempermasalahkan apapun, karena aku tidak mau menjadi orang sok suci. Aku juga pernah tidur dengan wanita lain, tapi kau meminta dia untuk menunggumu sampai kau lepas dari semua tanggung jawab itu. Mau sampai kapan? Apa kau pernah memikirkan bahwa dia juga menderita? Apa kau pernah berpikir sudah berapa banyak luka yang kau torehkan di hatinya? Berpisah denganmu dan melihatmu melindungi perempuan lain jauh lebih menyakitkan baginya daripada kau memutuskan hubungan kalian! Aku tidak sepertinya yang bisa dengan mudah menerima semua alasanmu dan menunggumu. Aku akan merebutnya. Aku akan merebutnya darimu dan aku yang akan menjaganya.”sergah Theo. ”Tapi aku melakukan ini demi dia! Aku tidak ingin ada seorangpun yang menyakitinya!”elak Cello cepat. ”Sadarkah kau, bahwa semua yang kau lakukan ini malah telah menyakitinya melebihi perlakuan orang lain padanya? Dengar... Cukup sudah semua sakit hati yang kau berikan padanya selama ini. Pertama kali aku melihatnya menangis adalah saat mengetahui kau makan malam dengan wanita sialan itu padahal sebelumnya kau membatalkan janjimu, bahkan kau membatalkan janji untuk makan malam bersama James dan Caroline hanya untuk wanita itu. Kau tahu, pengakuan dari James dan Caroline adalah segalanya bagi Carilla! Dia bersusah payah membuat kedua orangtuanya yakin dengan apa yang dilihatnya darimu. Tapi apa? Dan sekarang kau malah terbukti telah menghabiskan malam bersama dengan wanita itu di rumahmu! Di kamarmu! Apa kau akan bilang kalau tidak terjadi apa-apa? Apa kau akan bilang kalau kau bukan laki-laki normal yang tidak tertarik padanya dengan keadaan seperti itu? Sampai langit runtuh pun aku tidak akan percaya! Sekarang aku minta kau menjauhi Carilla dan jangan mencoba untuk menemuinya, menghubunginya atau bahkan sampai menyentuhnya kalau kau belum bisa memilih satu diantara mereka, sebelum kau bisa membuktikan kalau tidak terjadi apa-apa diantara kalian malam itu. Jangan menguji kesabaranku lebih dari ini Marcello Arnight Seirios!”teriak Theo benar-benar hilang kendali. ”Aku yakin Rilla mau menungguku. Jadi jangan menyuruhku menjauhinya. Kau tidak punya hak itu.”ujar Cello keras kepala. Theo mengangkat tangannya menyuruh Cello diam,”Menunggumu? Yang benar saja! Apa kau bodoh? Kalau semua itu tidak pernah terjadi, oke! Kau akan kembali pada Carilla. Tapi bagaimana kalau semua itu memang benar-benar terjadi? Apa yang akan kau lakukan? Meninggalkan Carilla setelah memintanya menunggu begitu lama? Dengan apa sebenarnya kau berpikir? Dan ingat apa yang aku katakan tadi, kalau kau masih mencoba untuk mengabaikan peringatanku, aku akan membunuhmu!”amuk Theo lalu segera pergi dari tempat itu meninggalkan Cello dengan semua rasa bersalahnya. Theo berjalan lambat memasuki ballroom, berusaha mengatur kembali emosinya. Dia tidak ingin Rilla tahu apa yang terjadi. Begitu Theo berhasil memasang kendali dirinya yang biasa, Theo melangkah cepat dan langsung berdiri di sisi Rilla setelah berhasil mengatasi ketegangannya yang menggerogoti hatinya, ”Hai, Cecil. Apa Carilla sudah memberikan hadiah dari kami?”tanya Theo cepat. Cecil menatap Dennis dan kemudian meninju d**a Theo pelan, ”Sialan! Kau tahu kalau aku sangat menyukai rancangan Donatello, dan kau memberiku rancangannya yang bahkan belum di promosikan! Hanya orang gila yang menolaknya! Tapi bukan berarti aku memaafkan kalian. Aku nyaris menjadi putri durhaka karena menolak perintah Dad untuk melangsungkan upacara lebih cepat hanya demi menunggu kalian.”geram Cecil. Dennis tertawa pelan, ”Sudahlah. Maafkan saja mereka, sayang. Ini hari bahagia kita, jadi jangan merusak wajah cantikmu dengan memarahi mereka.”ucap Dennis lembut. *** Rilla sedang berganti pakaian saat Theo mengetuk pintu kamarnya, ”Carilla... aku ingin bicara.”ucap Theo. ”Masuk saja.”sahut Rilla saat selesai mengancingkan baju tidurnya dan berbaring di ranjang. Theo melangkah lebar melintasi kamar Rilla dan duduk di sofa lembut yang ada disana. ”Aku sudah tahu masalahmu dengan Cello.”ujar Theo pelan sambil menatap langsung pada kedua mata Rilla. ”Masalah yang mana? Kami tidak punya masalah lagi, Theo.”ujar Rilla lembut, masih berpura-pura tidak ada masalah yang terjadi antara dirinya dan Cello. Setidaknya menurut Rilla, cukup dirinya saja yang tahu masalah itu. ”Jangan berbohong dihadapanku. Apa kamu anggap kemungkinan kalau Cello menghamili Miranda itu bukan masalah untukmu?”tanya Theo to the point. Rilla terdiam. Ternyata Theo benar-benar sudah tahu, dan tidak akan ada gunanya lagi kalau menyembunyikan masalah ini.”Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan?”tanya Rilla tegang seakan menunggu keputusan hakim tentang masalah hukuman gantungnya. Theo menjalin jari-jarinya dan menopang dagunya, ”Aku ingin kamu menjauhi Cello. Cukup sudah semua sakit hati yang diberikannya padamu. Jangan mendekatinya atau berhubungan lagi dengannya sampai dia bisa membuktikan kalau dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Miranda disamping hubungan masa lalu mereka.”tegas Theo. ”Aku menyayanginya, Theo!” Theo meringis mendengar ledakan emosi Rilla. ”Lupakan dia untuk sementara. Aku hanya memintamu untuk melupakannya sementara, bukan selamanya! Ini demi kebaikanmu, Carilla. Aku tidak ingin melihatmu disakiti lagi oleh siapapun.” ”Kalau aku melakukannya lalu apa yang akan kamu lakukan?” Theo tersenyum, ”Apa yang kamu ingin aku lakukan pada Miranda atau Cello? Aku akan menghancurkan mereka saat ini juga kalau memang itu yang kamu inginkan. Bisnis mereka, bahkan seluruh orang yang ada hubungan dengan mereka. Aku yakin Ana sanggup melakukannya untukku. Tapi kalau kau ingin aku sendiri yang menyelesaikannya, akan kulakukan.” ”Kamu benar-benar akan melakukan apa yang aku inginkan?” ”Ya...” ”Baiklah. Kalau begitu jangan lakukan apapun pada Cello atau Miranda. Jangan lakukan apapun! Apapun! Jangan sentuh kehidupan mereka, bisnis mereka, perekonomian mereka atau apapun. Ingat itu. Biarkan waktu yang membalas mereka.” ”Kamu yakin?”tanya Theo memastikan. Namun otaknya sudah memikirkan cara lain untuk memberi peringatan pada kedua orang itu seandainya dia terpaksa berjanji pada Rilla. ”Ya.” Theo menghela napas pasrah. ”Oke. Aku akan melakukannya untukmu. Aku tidak akan melakukan apapun pada mereka. Kalau begitu selamat malam. Besok kamu sudah harus masuk sekolah. Tidur yang nyenyak. Jangan pikirkan masalah ini.”ujar Theo lembut sambil berdiri lalu mencium dahi Rilla sebelum keluar dari kamarnya. Dan Rilla sama sekali tidak menyadari apa maksud tersembunyi dari ucapan Theo barusan dan memilih untuk beristirahat. Theo langsung menghubungi Ana begitu sampai di kamarnya ,”Sewa penyidik terbaik sampai batas waktu yang belum ditentukan untuk mengawasi Miranda Vollans dan Marcello Seirios. Dan ingat, apapun yang terjadi laporan harus sampai setiap jam padaku kapanpun dalam keadaan apapun. Aku tidak ingin ada laporan yang tertunda. Dan kalau ada laporan yang sampai padamu yang mempunyai kemungkinan menyakiti hati Carilla dalam bentuk apapun, hancurkan mereka. Tidak peduli berapa harga yang harus aku bayar.”ucap Theo cepat sebelum memutuskan sambungan. *** ”Dengar, hanya kamu yang bisa membantuku. Aku akan kehilangan Cello selamanya kalau kamu tidak membantuku.”ujar Miranda pada seorang laki-laki yang cukup tampan. Laki-laki itu menggeleng cepat, ”Aku tidak bisa membantumu. Kau akan melukai Carilla dan yang paling parah adalah Cello. Kau masih bisa mencoba cara lain. Atau kau katakan saja yang sejujurnya pada Cello? Aku rasa kau akan dimaafkan.”ujar pria itu cepat. ”Itu sama saja kau menyuruhku bunuh diri! Lebih baik kalau aku tidak menerima jantung ini. Dengan begitu aku tidak perlu berbuat seperti ini untuk mempertahankan Cello di sisiku. Aku bersedia menjalani transplantasi jantung karena aku ingin lebih lama lagi bersama Cello. Dan apa yang aku dapat sekarang? Tidak ada! Aku bahkan tambah jauh dari Cello! Dan kalau dia sampai tahu apa yang aku lakukan, aku yakin dia pasti akan marah besar dan bukan tidak mungkin kalau dia tidak akan mau menemuiku lagi... Aku mohon, tolonglah aku. Demi anak yang kukandung, demi anak kita...” *** Setelah perundingan panjang malam sebelumnya, akhirnya Rilla pasrah dengan keputusan Theo yang ingin mengantar serta menjemputnya untuk pergi dan pulang sekolah. Rilla tahu, sama sekali tidak ada manfaatnya kalau menentang keputusan Theo. Jadi, walaupun enggan, pagi ini Rilla diantar Theo ke sekolah hingga mobil Theo masuk dan baru berhenti begitu hampir menyentuh pagar tanaman yang mengelilingi bangunan utama. ”Apa kalian diizinkan makan siang di luar?”tanya Theo sebelum membukakan pintu untuk Rilla, sama sekali tidak memperdulikan perhatian yang tertuju padanya. Rilla terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Theo, dia menangkap ada maksud lain dari pertanyaan Theo. ”Seingatku tidak masalah dengan izin untuk makan siang di luar. Hanya saja selama ini aku selalu makan siang di kantin sekolah bersama Dee. Ada masalah?”tanya Rilla cepat. ”Bagus.”ucap Theo bersemangat, ”Lebih baik sekarang kamu segera masuk ke kelas sebelum terlambat.”lanjut Theo sambil keluar dari tempatnya dan berjalan menyebrangi mobil untuk membukakan pintu bagi Rilla. Rilla hanya bisa memandangi kepergian mobil Theo dengan perasaan bingung. Dia yakin Theo menyembunyikan sesuatu darinya, tapi Rilla belum bisa menebak apa itu. Dengan malas akhirnya Rilla melangkah menuju kelasnya. ”Rilla!! Kemana saja kau seminggu ini!?”teriak seorang gadis tomboy sambil berlari menghampiri Rilla yang baru saja melangkah memasuki kelasnya. ”Dee! Ya ampun. Jangan teriak-teriak begitu kenapa? Malu kan? Lagipula aku kan cuma minta izin selama seminggu.”sahut Rilla cepat sambil meneruskan langkahnya menuju tempat duduknya. ”Seminggu Rilla! Demi Tuhan! Seminggu! Itu dia yang jadi masalah. Baru kali ini sekolah memberikan izin selama itu padahal kita baru saja liburan musim panas. Apa yang sebenarnya kau lakukan?”tanya gadis bernama Dee itu. Rilla meletakkan tasnya ke atas meja dan berjalan ke belakang kelas, ke tempat lockernya berada, ”Aku hanya liburan ke Italy bersama Theo. Tidak lebih. Dan yang meminta izin ke sekolah juga Theo. Aku sama sekali tidak ikut campur.”jawab Rilla jujur sambil mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari dalam locker. ”Apa kau bilang? Theo? Kau pergi berlibur bersama Theo?”ucap Dee tidak percaya, ”Aku mungkin masih bisa mengerti kalau kau mengatakan bahwa kau berlibur bersama Cello sampai-sampai rela meninggalkan pelajaran selama seminggu. Tapi ini Theo! Apa Cello sudah tahu tentang ini?” ”Seharusnya Cello tidak tahu.” ”Jadi kau sama sekali tidak memberitahukan ini pada Cello? Ya ampun! Kau seperti bermain di belakang Cello.”ucap Dee hampir teriak. Dengan cepat Rilla menutup mulut Dee dengan sebelah tangannya, ”Diam Dee! Malu!”ucap Rilla memperingatkan. ”Begini, lebih baik aku memberitahukan masalah ini padamu sekarang daripada nanti kau menuntut penjelasan padaku saat aku sama sekali tidak ingin membicarakannya... Hubunganku dengan Cello sebentar lagi mungkin akan berakhir. Aku benar-benar sudah tidak sanggup menjalani ini hubungan ini lebih lama. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semuanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN