Final Decision

1386 Kata
Dee langsung terkesiap mendengar ucapan Rilla. Sepanjang pengetahuannya, Rilla sangat mencintai Cello dan memilih percaya pada pria itu apapun yang pria itu katakan. ”Kenapa Rilla? Bukankah kau sangat mencintai Cello? Atau cinta itu sudah tidak ada?” Rilla menggeleng pelan, ”Cinta itu masih ada. Aku sangat mencintai Cello. Tapi perasaannya padaku lah yang aku ragukan. Karena aku mencintainya makanya aku membuat keputusan ini agar dia bisa bahagia dengan semua keputusannya. Aku sama sekali tidak ingin memaksanya untuk memilih.” ”Apa kau serius?” ”Ya. Dan satu hal lagi. Kalau saatnya tiba, aku harap kau bisa memaklumi kepergianku. Aku disini hanya untuk menyelesaikan sekolahku, setelah itu aku harus ikut berkeliling dunia untuk penelitian bersama kedua orang tuaku dan juga Rissa.” ”Apa kau bilang?”ucap Dee cepat. Jantungnya sudah tidak kuat kalau Rilla memutuskan memberinya kejutan yang lain. Dee menyayangi sahabatnya ini dan apa yang Rilla katakan sejak tadi benar-benar membuatnya shock. ”Aku akan ikut kedua orangtuaku untuk melakukan penelitian. Mereka sudah berangkat seminggu yang lalu. Mereka sudah akan membawaku kalau Theo tidak menjamin keselamatan dan kehidupanku disini.” Dee menggeleng kuat, ”Jangan bercanda! Ini berarti kau hanya berada di kota ini selama 5 bulan? Lima bulan, Rilla!” ”Mungkin juga. Karena aku sama sekali tidak mungkin mengharapkan Theo akan bertanggung jawab atas diriku.”ucap Rilla enggan sambil berjalan pelan kekembali ke tempat duduknya, ”Theo pasti juga punya seseorang yang sangat diperhatikannya, jadi dia tidak mungkin hanya mengurus semua yang aku butuhkan. Aku hanya akan menambah masalahnya saja.” “Ya Tuhan!”ucap Dee frustasi,”Kenapa kau tidak tinggal bersamaku? Aku yakin Mom dan Dad pasti akan setuju. Kau harus melanjutkan ke perguruan tinggi. Kita bisa terus bersama.”bujuk Dee. “Sudahlah. Mr. Andreas sudah masuk. Jangan dibahas lagi masalah ini. Aku malas.”bisik Rilla pelan sambil menunjuk ke arah pintu kelas tepat saat seorang pria paruh baya melangkah masuk ke dalam kelas. Dee sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran. Baginya, berita kalau Rilla akan berpisah dengan Cello sudah cukup membuatnya shock, apalagi sekarang mendengar kalau Rilla akan ikut keluarganya melakukan penelitian sambil berkeliling dunia. Semuanya sama tidak mungkinnya dengan usaha untuk memasukkan grand piano ke sebuah ruang dengan ukuran 1x2! Dengan kata lain, Dee sangat tidak ingin mempercayai apa yang sudah didengarnya dari Rilla. Bel istirahat berbunyi, saat Rilla berusaha untuk menyadarkan Dee dari lamunannya. Namun butuh usaha keras untuk menarik sahabatnya itu dari dunia lamunannya. “DEE!”ucap Rilla nyaris teriak di telinga Dee. “Apa-apaan sih?”bentak Dee sambil menutup telinga kanannnya dan otomatis bergerak menjauh dari Rilla seolah Rilla adalah wabah penyakit. Rilla menutup mulutnya menahan tawa, ”Siapa yang suruh kamu melamun? Sudah jam makan siang nih. Kita makan dimana?”tanya Rilla setelah berhasil menahan gelak tawanya. “Seperti biasa saja. Kenapa?” Rilla mendekatkan wajahnya ke arah Dee, ”Kita makan di luar yuk? Bosan makan di kantin.”bujuk Rilla. “Naik apa? Aku bawa mobil.”sahut Dee enggan karena dia tahu kalau sahabatnya itu tidak bisa naik mobil. “Ya sudah naik mobil saja. Aku sudah bisa naik mobil. Setidaknya ini kabar baik yang kau dengar hari ini bukan?”tanya Rilla balik. “Kau_bisa_naik_mobil? Yang benar saja? Kau yakin? Jangan bilang kalau selama kalian di Italy, yang kalian kerjakan hanya terapi trauma yang kau alami terhadap mobil?” Rilla mengangguk pelan, ”Memang itu yang kami lakukan. Lantas mau melakukan apa lagi? Kami, kan, tidak pergi berkencan.” Dee tersenyum tulus. Setidaknya memang ada kabar baik yang Rilla berikan padanya. “Aku menyerah. Baiklah, kita akan makan di luar. Kau puas?”tanya Dee sambil melangkah gontai keluar dari kelas. Dee berjalan beriringan bersama Rilla melewati koridor sekolah dan mereka sama-sama berhenti mendadak saat mengenali siapa orang yang sedang berdiri di tengah halaman sekolah di samping mobilnya sehingga menarik perhatian semua siswa penggemar mobil. Apalagi mengingat Cello adalah alumni yang sangat dipuja siswa dan siswi sekolahnya. Cello berdiri di sebelah mobilnya. Dan Rilla yakin kalau yang dibawanya kali ini adalah mobil barunya. Rilla yakin kalau sesaat dia melihat senyum puas terlukis di bibir Cello. Demi Tuhan, apa yang dia lakukan disini?tanya Rilla dalam hati. “Hai, Rilla. Hai Dee. Kalian mau kemana?”tanya Cello ramah. Cello benar-benar berbeda dari yang terakhir kali dilihat Rilla. Saat terakhir itu, Cello benar-benar terlihat menyedihkan. Tapi sekarang Cello terlihat hampir seperti biasa, segar dan benar-benar tampan. Dee mengamati Cello dari ujung kaki hingga ujung kepala, ”Ada apa, Dee? Apa ada yang salah denganku?”tanya Cello bingung karena mendapat tatapan tajam dari Dee yang seolah sedang menilainya. “Tidak, tentu saja tidak ada yang salah denganmu, Cello. Hanya saja, apa tujuanmu datang kemari saat ini? Seingatku, selama ini kau selalu menghindari datang ke sekolahku kan?”tanya Rilla datar sebelum Dee sempat mengucapkan apapun. Cello memamerkan senyum miringnya dan berjalan mendekati Rilla, ”Aku hanya sangat merindukanmu. Apa itu pun tidak boleh?”tanya Cello lembut. “Kamu tidak lupa dengan apa yang kamu katakan kemarin bukan?”tanya Rilla mengingatkan apa yang sudah pernah Cello katakan. “Tentu saja tidak.”sela sebuah suara yang benar-benar membuat Cello membeku di tempat, ”Kau tidak akan mungkin bisa melupakan hal itu, bukan begitu, Sobat?”tanya Theo yang entah sejak kapan berada diseberang mobil Cello. Dan parahnya, bukan hanya Theo yang ada disana. Di belakang mobil Theo, sudah berhenti dua buah sedan lain. Dan dari masing-masing mobil keluarlah Ana dan suaminya, serta Cecil dan Dennis. Melihat itu, semakin banyak siswa-siswi yang berkerumun hanya untuk sekedar melihat tipe mobil mereka atau penasaran kenapa banyak sekali orang asing yang datang saat ini. “Mau apa kalian kesini?”tanya Rilla benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Theo oke, tapi Cecil? Dennis? Ana? Untuk apa?tanya Rilla lagi. Theo berjalan melewati Cello untuk mendekati Rilla, ”Aku tadi sudah memberikan sedikit petunjuk bukan? Ini lah kejutannya. Kita akan makan siang bersama. Selain itu masih ada kejutan lain menunggumu. Lihat saja nanti.”ucap Theo lembut. “Mana bisa seperti ini, Theo. Aku sudah akan pergi makan siang bersama Dee kalau kalian semua tidak muncul seperti ini.”tukas Rilla, ”Dee… Ayolah. Ayo bicara!” Dee hanya terdiam. Di hadapannya kini sudah berdiri dua orang laki-laki yang sangat mencintai sahabatnya. Walau Theo berusaha menyamarkan kedekatan dan semua kebaikannya dengan alasan sayang sebagai saudara, tapi Dee tahu kalau Theo juga menyukai Rilla seperti Cello. Dan Dee harus mengakui kalau dia juga mencintai salah satu dari mereka. “Dee… Apa kau keberatan kalau ikut makan siang bersama kami?”tanya Theo benar-benar lembut hingga membuat wajah Dee bersemu merah. Tidak ada yang tidak mengenal pewaris Grup Venatici itu. Pria itu sangat sibuk dan walaupun Dee bersahabat dengan Rilla, Dee tidak sering bertemu dengan Theo apalagi bicara dengannya. Ini benar-benar langka. Dee menggeleng cepat. Bahkan saking cepatnya, Rilla takut kalau kepala sahabatnya akan lepas dari tempatnya selama ini. ”Tidak. Tidak. Tentu saja aku tidak keberatan. Setidaknya aku tidak harus membuang-buang bensin.”sahut Dee asal. Theo tersenyum penuh kemenangan, ”Lihat. Dee sudah setuju. Ayo kita pergi!”ucap Theo puas,”Dan kau, Cello… Apa kau juga ingin ikut makan siang bersama kami?”tanya Theo tenang tapi Cello berhasil menangkap maksud lain dari ucapan Theo itu. “Tidak, terima kasih.”sahut Cello cepat lalu tanpa aba-aba langsung masuk ke dalam mobilnya. Dengan sudut matanya, Theo mengikuti semua gerakan Cello. ”Ayolah. Apa lagi yang kalian tunggu?”tegur Cecil yang sudah mulai kesal melihat Rilla, Theo, dan Dee hanya diam di tempat. Rilla segera sadar dari lamunanya dan segera berpaling ke arah Dee, ”Dee… Apa kamu yakin tidak masalah dengan ini semua?”tanya Rilla pelan. “Sudahlah. Ayo cepat!”tukas Theo sambil memeluk bahu Rilla dan Dee bersamaaan dan menggiring mereka masuk ke dalam mobilnya. Ana tersenyum pada suaminya dan mereka segera masuk ke dalam mobil mereka sendiri sedangkan Cecil dan Dennis sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Mereka semua beriringan berkendara menuju ke sebuah restoran mewah. Ketujuh orang itu duduk membentuk lingkaran di sekeliling meja bundar yang telah mereka pesan sebelumnya. Semua sedang sibuk membaca menu saat sebuah tangan memeluk Rilla dari belakang. “Aku sangat merindukanmu!”ujar si pemilik tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN