Dalam hidup, ada kalanya aku berharap aku memiliki sebuah ‘remote control’. Supaya aku bisa menghentikan waktu, dan meski hanya sejenak, memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan yang aku ambil. Atau sebuah tombol ‘rewind’ kalau-kalau aku salah melangkah, aku bisa kembali memutar waktu, dan mengambil pilihan yang berbeda. Sayang tidak ada omong kosong semacam itu dalam dunia ini. Kadang kita memilih sesuatu dengan terlalu terburu-buru. Lalu tanpa sadar berakhir pada situasi yang sulit.
Seperti sekarang. Aku sekarang sedang berada dalam situasi yang sulit. Dengan susah payah mengatur nafas ku yang tersengal-sengal. Sesekali mengamati wajah Alex dengan mencuri-curi. Alex tidak terlihat seperti dirinya sendiri. Nafas nya berat dan wajahnya memerah seperti terbakar matahari. Mata hijau hutan nya terlihat tidak bersahabat. Ah, tidak bersahabat mungkin bukan kata yang tepat. Lebih tepatnya matanya terlihat seperti binatang buas yang terusik.
Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadaku. Sesuatu yang memenuhi rongga dadaku dan menyesakkan. Mataku berair. Aku tidak suka Alex yang seperti ini. Oh, Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku tidak berpikir lebih baik.
“Keluar.” Katanya dingin. Sebelum aku bisa melangkah keluar dengan kakiku sendiri. Alex dengan kasar menggenggam lengan bagian atasku kuat-kuat dan menarikku keluar. Alex kemudian membanting pintu mobil di belakangku. Tanpa berpikir panjang, Alex terus menggenggam lenganku lebih kuat. Sakit. Aku tahu Alex akan marah, tapi tidak kusangka Alex menyeretku terus menyusuri sebuah lorong yang diterangi cahaya kuning yang mewah ini. Alex lepaskan lenganku di depan sebuah pintu di ujung lorong. Tanpa kata Alex membuka membuka pintu apartemen nya dan masuk ke dalam.
Setelah beberapa langkah, Alex menoleh ke belakang. Menemukanku yang hanya berdiri mematung di depan pintu. Alex memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan tidak sabar, seolah-olah ingin berkata ‘tunggu apa lagi?’. Tubuhku bergeming seperti membeku. Aku tahu begitu aku masuk dan menutup pintu di belakangku, Alex akan meledak seperti panci bertekanan tinggi. Dan ini mungkin tidak akan berakhir baik untukku.
“Masuk!” Perintahnya tegas. Seperti terkena sihir, meski tahu ini bukanlah ide yang bagus, tubuhku tetap saja menuruti perintahnya. Aku melangkah masuk dan menutup pintu di belakangku perlahan.
Aku menarik nafas dan menyiapkan hatiku. Benar saja, begitu pintu tertutup, ada suara pecahan kaca di lantai. Tanpa perlu menoleh, aku tahu Alex telah melempar gelas kaca di tangannya ke lantai. Aku bergidik, jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Kaget. Oh Tuhan! Kenapa aku begitu bodoh?
“APA YANG ADA DI PIKIRANMU?!” Suara Alex yang lantang menggetarkan seluruh otot dalam tubuhku. Dadaku semakin terasa penuh.
“AKU KAN SUDAH MEMPERINGATIMU UNTUK MENJAGA DIRI! APA KAMU SUDAH KEHILANGAN AKALMU, HAH?!” bentak nya seraya mencengkeram kedua bahuku lalu menggiring ku seperti sebuah boneka ke hadapan sebuah cermin.
“LIHAT DIRIMU! LIHAT!” Aku malah menatap ujung sepatuku menahan tangis. Aku merasakan jari-jari yang kuat di bawah daguku. Jari-jari yang memaksaku untuk mengangkat wajahku. Ada seorang gadis menyedihkan dengan gaun merah selutut disana. Gadis itu menatapku dengan mata lembab berair. Wajahnya terlihat pucat seperti anak kecil yang tahu akan dipukul dengan rotan karena sudah berlaku tidak baik.
“KAMU TERLIHAT SEPERTI SEORANG PEREMPUAN s****l!” kata-kata Alex meluncur seperti pisau tajam yang menghunus tepat di dadaku. Sakit. Aku menatap laki-laki di belakang gadis itu bingung. Aku tidak percaya pada apa yang baru aku dengar. Alex tidak akan berkata seperti itu! Aku ingin berteriak. Aku bukan perempuan s****l! Hentikan semua ini!
“DASAR WANITA JALANG! BERANI-BERANI NYA KAMU MENGGODA LAKI-LAKI LAIN. AKU SIBUK MENGKHAWATIRKANMU DISINI! TAPI APA YANG KAMU LAKUKAN DENGANNYA, HAH?! APA?! DASAR s****l!”
Cukup! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku memang bersalah, tapi tidak seharusnya kamu seperti ini. “ALEX!” Suaraku meluap dari dadaku. “Jangan menghina ku! Aku bukan perempuan s****l. Aku ini wanita baik-baik.”
“OH YA?”
Dengan sekali kibas, Alex memutar tubuhku menghadapnya. Aku berporos pada ujung sepatu hak tinggiku, hampir terjatuh. Aku menatap laki-laki di hadapanku dengan rasa tidak percaya. Mereka mungkin terlihat sama. Tapi laki-laki yang berdiri di hadapanku ini bukan Alex. Tangan kokoh yang biasa memelukku dengan lembut dan membelai rambutku dengan lembut itu kini mencengkram rahangku. Dengan paksa ia mengangkat dagu ku ke atas. Aku tidak bisa lagi menghindari tatapannya. Tatapan yang entah mengapa tidak terasa asing. Matanya berkilat, penuh kebencian dan amarah. Ini bukan Alex yang aku kenal, tapi aku pernah melihat tatapan itu di suatu tempat.
“LALU APA NAMANYA SEORANG WANITA YANG PERGI MABUK-MABUKAN DAN MENGGODA LAKI-LAKI LAIN, HAH?! APA?! JAWAB?!”
‘Alex, aku tidak menggoda laki-laki itu, dia hanya membantuku keluar karena….”
“KARENA KAMU MABUK KAN?! IYA KAN?! APA YANG KAMU LAKUKAN DENGAN LAKI-LAKI ITU?!”
“Alex aku bisa menjelaskan semuanya. Kamu tenang dulu…”
“TENANG?! TENANG, SAAT KAMU DUDUK BERDUA DI TEMPAT YANG GELAP DENGAN LAKI-LAKI. LAKI LAKI SIALAN YANG SEPERTI INGIN MELAHAPMU ITU?! KAMU MINTA AKU TENANG?! KAMU SUDAH GILA?!”
“Alex, aku bukan w************n. Dia hanya membantuku keluar dari dalam sana. Tidak lebih. Kalau aku melakukan sesuatu, apa kamu pikir aku akan memanggilmu?”
Alex menatap wajahku dalam-dalam. Mencermati setiap inci wajahku. Ada kekecewaan yang jelas di wajahnya. Alex, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang ini?
“Kinan…” suara Alex melembut, tapi hatiku terasa lebih sakit mendengarnya yang seperti ini. “Jawab aku dengan jujur. Apa kamu mencium laki-laki itu?” Suaranya bergetar, lemah, namun menusuk hatiku lebih dalam dari teriakan nya. Alex… inikah yang kamu pikirkan?
“Apa kamu membiarkan laki-laki itu menyentuhmu?” Semurah itukah kamu menganggapku?
Ada rasa sakit yang nyata di balik suaranya yang tenang itu. Meski terlihat mengerikan, aku lebih memilih Alex untuk berteriak padaku saat ini. Sosok nya yang diselimuti rasa sakit begitu menyayat hatiku.
“Alex… hal itu tidak mungkin terjadi….” Aku melangkah lebih dekat kepada Alex yang kini berdiri di hadapan sebuah jendela besar dengan tatapan yang kosong. Aku bisa mendengar nafas nya yang tersengal-sengal seperti ia sedang berusaha mengendalikan amarahnya.
Aku mohon jangan bersedih. Aku mencoba untuk melingkarkan tanganku dari belakang punggungnya yang lebar itu. Mendekap tubuhnya yang membara terbakar amarah.
“Lalu kenapa lipstik-mu terlihat sangat berantakan? Kenapa kamu memakai jaket laki-laki itu… kenapa ada aroma laki-laki lain di tubuhmu… Kenapa Kinan?”
Aku benar-benar wanita bodoh! Alex pasti merasa sangat marah karena ia takut sesuatu terjadi padaku. Kenapa aku tidak berpikir lebih baik sebelumnya. Kenapa aku tidak memaksa Brian kembali kedalam saat itu juga. Dengan begitu hal seperti ini tidak perlu terjadi. Atau lebih baik, seharusnya aku tidak pergi ke tempat itu.
“Alex… aku minta maaf…”
“Kinan, lihat apa yang sudah kamu lakukan padaku… kamu membuatku kehilangan kendali, Kinan… Kamu membuatku terlihat seperti orang jahat….” Alex yang selalu terdengar percaya diri kini terdengar lemah dan terluka. Suaranya yang berat dan dalam itu kini terdengar bergetar dan tidak pasti.
“Alex, aku tidak bermaksud….”
“Cukup Kinan, tolong jangan katakan apa-apa lagi sekarang.” Katanya sambil melepaskan pelukanku. “Aku butuh waktu untuk sendiri. Kamu… kamu beristirahatlah.” Lanjutnya. Alex menatapku dengan tatapan seorang anak yang telah dibohongi. Ia lalu berjalan menjauh dariku, tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Alex memasuki kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.
“Alex… Maaf…” desirku, ada aliran air yang hangat di pipiku. Aliran yang terus mengalir tak terkendali. Hatiku remuk. Aku kemudian menatap sosok diriku di cermin. Ada seorang gadis berpakaian merah ketat dan menggoda. Rambutnya terlihat tidak teratur, begitu juga riasan di wajahnya. Aku menatap wajahnya lebih dalam, gadis itu perlahan menyentuh bibirnya dengan ujung jari-jarinya. Apa aku benar-benar mencium laki-laki itu? Aku tidak ingat… tapi lipstik-ku terlihat sangat berantakan seperti telah di lumat seseorang. Apa aku benar-benar w************n. Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa kemudian terisak sambil meringkuk di sana.
Aku memang salah, tapi kenapa Alex se terluka itu. Bukankan ini adalah hal yang wajar disini? Semua gadis seusiaku di sini pasti pernah minum dan sedikit mabuk.
Samar-samar aku bisa mendengar barang-barang yang jatuh ke lantai pada saat yang bersamaan. Ada suara peralatan kayu yang pukul dengan benda tumpul di balik pintu ruangan yang ditempati Alex sekarang. Disusul dengan jeritan yang penuh dengan keputusasaan. Aku… aku benar-benar wanita bodoh….