Chapter 4: Laki-laki Beraroma Kayu

1862 Kata
“Karena aku berbicara Bahasa Spanyol?” “Ah, kamu juga dari Amerika Selatan?” “Aku dari Spanyol.” Pembicaraan kami bertiga berlanjut. Tidak Mudah karena kadang kami tidak mengerti satu sama lain melalui tata bahasa yang berantakan. Sesekali kebingungan dan kemudian tertawa satu sama lain sambil menggunakan Bahasa isyarat. Mencari teman baru lebih susah dari yang aku bayangkan. Meskipun begitu, aku sangat senang karena memiliki seseorang untuk berbicara tanpa takut dihakimi. Aku senang bertemu dengan orang-orang yang sama payah dan berantakan nya denganku. Sebelum aku tiba di Amerika, aku punya banyak asumsi tentang Amerika. Tapi ketika aku tiba disini, aku belajar bahwa beberapa asumsiku salah. Salah satunya tidak semua orang di benua Amerika berkulit putih pucat dan bermata terang. Dan tidak semua orang berkulit putih di benua ini berbicara Bahasa Inggris, contohnya Jose. Flash back off _____________________________ Long Island, New York, Desember 2017. 'Aku nggak seharusnya berada disini'. Penglihatan ku mulai kabur. Kepalaku berdenyut. Di mana Rebecca sialan itu? Aku nggak mau berada di sini lebih lama lagi. Aku mau pulang. Tempat ini gelap, namun ada lampu sorot yang berkedip-kedip lebih cepat dari detak jantung. Menyinari tubuh-tubuh berkeringat yang sibuk menari dalam kerumunan. Larut dalam alunan musik yang berdebar kencang. Ada asap putih yang menyesakkan menyelimuti setiap sudutnya. Ramainya suara tawa dan omong kosong yang terdistorsi membuatku muak. Seseorang, tolong! Aku nggak bisa bernafas. Mataku menjelajahi seluruh ruangan untuk mencari jalan keluar. Alex benar, tidak seharusnya aku pergi ke tempat seperti ini. Alex pasti marah kalau melihatku seperti sekarang ini.  Aku bersandar pada salah satu dinding yang kosong cukup jauh dari keramaian. Oh Tuhan. Ini benar-benar kacau. Entah kenapa aku bisa setuju untuk datang ke tempat semacam ini? Oh iya, mungkin karena Rebecca bilang ini akan menjadi malam yang penuh dengan kesenangan. Sepertinya Rebecca memiliki definisi yang berbeda tentang kata ‘menyenangkan’. “Hai. Kinan, bukan?” Sesosok laki-laki dengan jaket dari tim basket sekolah kami datang berjalan ke arah ku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas di tengah kegelapan. Meski begitu, aku tahu dia memiliki tubuh yang cukup atletik. Setidaknya jauh lebih baik dari anak laki-laki sepantarannya. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi entah di mana. “Iya.” Jawabku acuh sambil terus mencari jalan keluar. Aku harus keluar dari sini dan menelepon seseorang. “Aku Brian.” “Hai, Brian.” “Kamu terlihat cantik sekali malam ini.” Hahaha. Klasik. Bahkan dengan cahaya yang tidak seberapa, aku bisa melihat naluri binatang di matanya. 'Menjijikkan'. “Terima kasih.” “Kamu mau minum?” Katanya sambil menyodorkan segelas soda. Aku menatap gelas itu ragu. Ada suara kecil yang mengingatkanku untuk tidak mengambil minuman itu. “Nggak…. Aku… Aku nggak seharusnya minum….” Sial Kinan! Bisa nggak sih kamu menjaga sikapmu? Kamu terdengar seperti seorang pecundang! “Ayo lah, ini ringan kok. Ini hanya soda.” Aku hanya menatap gelas yang ditawarkannya dengan ragu “Aku hanya mencoba berbaik hati padamu. Kamu nggak akan menolak niat baikku kan?” Lanjutnya. Baiklah, kamu nggak boleh menolak maksud baik orang kan, Kinan? “Okay.” Kataku seraya menerima gelas berisi cairan hitam pekat dari tangan laki-laki itu. “Nice, Ayo duduk bersama kami.” Senyumnya seraya mencoba mendaratkan tangannya di pinggangku. Aku dengan cepat mengelak. Aku bisa mendengar segerombolan anak laki-laki bersorak sambil menggoda dan mengejek Brian. “Nggak, terima kasih. Aku baik-baik saja.” “Ayo lah, nggak perlu malu. Duduklah bersamaku.” “Sebenarnya aku lagi mencari jalan keluar, aku butuh angin segar.” Sial! Kepalaku berputar lagi. “Oh, begitu?” katanya dengan nada menggoda. Ia mengambil satu langkah lebih dekat padaku yang terperangkap di antara dinding dan dirinya. Ia berdiri begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium aroma tubuhnya. Bau keringat yang bercampur dengan rokok dan alkohol. Tersamarkan oleh bau musk dan kayu yang kuat. Aku mencoba mendorongnya, tapi ia sama sekali tidak bergerak. Ia malah melangkah lebih dekat. Mengangkat tangannya seperti ingin menyentuh wajahku. Jantungku berdetak tak terkendali, nafasku pendek. Rebecca sialan! Bisa-bisanya dia meninggalkan sendirian dan sibuk dengan Julian. Perlahan Brian menyisihkan rambutku dari wajahku. Matanya bersinar. “Kamu terlihat sangat cantik, Kinan.” Ia menatapku dengan tajam sambil menarik seuntai rambutku ke bawah hidungnya dan menarik nafas dalam-dalam. 'Apa dia sedang menggodaku?' “Brian, berhenti!” “Apa?” “Aku nggak kenal kamu siapa, dan aku harus keluar dari tempat ini sekarang. Aku nggak waktu untuk omong kosong macam  ini.” “Kenapa?” Brian tidak terlihat senang. Tapi itu tidak menghentikannya untuk semakin mendekat kepadaku. “Brian! Berhenti. Aku benar-benar nggak suka.” “Oh… Maaf, aku nggak  bermaksud membuatmu merasa nggak nyaman.” Katanya sambil mengambil dua langkah ke belakang. Memberikanku ruang yang nyaman untuk diriku. “Aku hanya ingin… mengenalmu… Aku… aku hanya ingin berteman….” 'Oh ya? Kamu terlihat lebih seperti ingin melahap ku.' “Baiklah, kalau kamu harus keluar, aku akan menemanimu. Habiskan dulu minumanmu, lalu dan aku akan menemanimu keluar.” Lanjutnya. “Tapi…” “Kinan…”  potongnya tegas sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku. “Tidak baik menolak niat baik orang yang mau membantumu.” Okay, sepertinya bukan ide yang buruk. Minuman ini juga cukup enak rasanya. 'Apa ini? Ini bukan hanya soda… lemon? Rum mungkin? Ah, entahlah…' aku hanya ingin cepat keluar dari sini. Brian tersenyum dan mulai berbicara tentang sesuatu. Entah apa, tapi suaranya terdengar semakin samar dan jauh. Sial! Aku tiba-tiba kehilangan kekuatanku, pandanganku semakin kabur. “Sial! Kamu nggak terlihat baik-baik saja!” teriaknya sambil dengan sigap menangkapku yang hampir saja terjatuh. “Sudah aku bilang. Aku harus keluar dari sini. Aku butuh udara segar.” “Okay, biar aku bantu.” Katanya panik. Ini buruk. Benar-benar buruk. Kepalaku berdenyut lebih kencang. Suara di sekitarku terdengar semakin samar dan ter-distorsi. Brian menyandarkan kepalaku di dadanya. Ada perasaan aneh yang membuatku merasa tidak nyaman. Entah detak jantungnya, aroma nya atau sesuatu dari dirinya. Otot-otot tangannya menekan pinggangku. Sakit. Aku berusaha melepaskan diriku dan berdiri. Sakit. Aku berusaha berdiri diatas kakiku. Dan gagal. “Kinan, biarkan aku membantumu. Aku akan bawa kamu keluar… aku mohon, berhentilah meronta… Kinan…. Aku….” Aku tidak yakin apa yang dia katakan pandanganku semakin gelap dan suaranya menjauh. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Tapi setelah kesadaranku kembali, aku berada di luar. Duduk di sebuah bangku kayu sambil bersandar pada orang yang tidak aku kenal. Dengan sontak aku mengangkat kepalaku dan duduk dengan tegak. “Maaf.” “Nah, nggak  apa-apa. Ini aku, Brian.” Ah… aku pikir siapa. “Apa ini pertama kalinya kamu minum?” Aku mengangguk. “Seharusnya kamu bilang.” “Aku sudah bilang, aku nggak minum.” “Kapan?” “Waktu kamu menawarkan aku minuman.” “Sial! Benar… Maaf…. Ini salah ku. Apa kamu nggak apa-apa?” “Sepertinya begitu….” “Kamu datang ke sini sendirian?” “Nggak  aku datang ke sini dengan seorang teman. Tapi sekarang aku nggak tahu dia di mana” “Mau aku panggilkan taksi?” Entahlah… Ni Made tidak akan suka jika melihat ku pulang dengan keadaan yang seperti ini. Aku bilang padanya kalau aku akan pergi ke home party bersama Rebecca di rumah temannya. Tapi tidak aku sangka home party itu akan jadi seperti ini. Ni Made tidak pernah melarangku untuk bersenang-senang. Justru menurutnya aku harus menikmati masa mudaku. Tapi aku malu pulang dalam kondisi yang tidak karuan seperti ini. Apa  aku harus bilang kalau aku akan menginap di tempat Rebecca karena sudah larut, lalu menelepon Alex? Tapi… Alex pasti akan marah besar. Apa lebih baik jika aku telepon Jose saja? Jose pasti mau membantuku. “Jadi… Kamu mau aku panggilkan taksi, atau mau mencari temanmu?” Brian mengulangi pertanyaannya. “Entahlah. Kamu bisa masuk. Aku mau  tinggal disini sebentar lagi. setelah aku lebih sadar aku akan menelepon seseorang.” “Hahaha, yang benar saja… Kamu cuma minum segelas… dan itu pun sangat ringan.” Pundak lebarnya bergetar karena menahan tawa. “Terima kasih, Brian. Itu sangat membantu.” Dasar tidak tahu malu! “Maaf…” “Terserah… Sekarang kalau kamu mengijinkan. Aku mau  menelepon seseorang.” Kataku kesal. “Silahkan, tentu saja.” Aku mulai mencari nama yang sangat familiar untukku, kemudian menekan tombol hijau kecil di ujung layarku. Sesekali aku mencoba mengatur nafasku supaya aku tidak terdengar terlalu kacau. “Halo, Kinan?” aku mendengar suara hangat di ujung telepon. Tanpa banyak penjelasan, Alex sudah dalam perjalanannya untuk menjemputku. Ketika aku membalikkan badanku, Brian masih disana. Dia menatapku seolah-olah ingin mengatakan ‘jadi?’ dengan tatapan nya. ‘Brian, seseorang akan menjemputku. Jadi masuklah. Terima kasih karena sudah membawaku keluar.” “Hahaha, aku nggak  bisa meninggalkan kamu sendirian disini.” Kenapa laki-laki tidak bisa menerima sebuah jawaban tanpa protes. Benar-benar menyusahkan. “Nggak apa-apa. Lebih baik kamu masuk ke dalam.” Seperti berbicara dengan dinding. Bukan mendengarkan perkataanku dan masuk ke dalam, Brian malah melepaskan jaketnya dan meletakkannya di atas pundakku. “Lihat dirimu, kamu menggigil. Apa kamu nggak membawa mantel atau sesuatu?” Sial! Di mana mantelku? Aku panik. Sekarang 2 derajat Celsius dan aku hanya memakai sebuah gaun merah selutut dan sepasang stocking hitam untuk menghangatkan kakiku. “Mantelku… Aku…” Tanpa sengaja mataku bertemu dengan matanya. Aku baru menyadari Brian memiliki mata berwarna hazel terang yang terlihat seperti agar-agar. Kinan! Fokus! “Aku nggak tahu mantelku di mana . Mungkin di dalam.” “Wow, kalau sekarang pasti susah untuk menemukannya. Lebih baik kamu tanya Julian saat masuk sekolah nanti.” Dia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. “Ambil saja punya ku.” “Nggak perlu… aku… achooo…” Wajahku panas. Aku sangat malu sampai-sampai aku tidak bisa mengangkat kepalaku. “nggak apa-apa. Kamu bisa mengembalikannya padaku nanti. Kita ada di kelas kimia yang sama.” Ah… benarkah? Sudah kuduga, aku pernah melihatnya di suatu tempat. Aku mengangguk. Kami hanya duduk dalam diam hingga sebuah mobil hitam meluncur dalam kecepatan penuh sebelum berhenti di seberang jalan. Dalam kegelapan, ada sesosok laki-laki tinggi dan besar keluar dengan terburu-buru dari dalam mobil. Bahkan dalam gelap yang pekat aku bisa merasakan kemarahannya. 'Celaka!' Aku bergidik. Pandang ku menjadi terang dengan seketika. Udara di luar cukup dingin, tapi keringat mulai bercucuran dari dahi ku. “KINAN! KE SINI KAMU!” suara lantang dari laki-laki menggerakkan seluruh bagian dari tubuhku seperti sihir. Dengan cepat aku berdiri dan lemparkan jaket di atas pundakku ke bawah. Dengan cepat kaki-kaki melangkah pergi. “Apakah itu kakakmu?” Brian mencekal tanganku. Ada kekhawatiran yang tersirat di wajahnya. “Diam!” kataku ketus. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya. “KINAN! APA KAMU MENDENGAR KU?!” Badan ku yang tadinya lemas kini ajaib berdiri di atas kakiku sendiri dengan seimbang dan berlari ke arah suara itu dengan kecepatan penuh. Tubuhku bergetar. “MASUK!” Perintahnya. Tubuhku melaksanakan perintahnya tanpa ragu. Setelahnya yang aku tahu, Alex mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan raut wajah yang menakutkan. Seharusnya aku memanggil Jose! Sekarang aku dalam masalah. Benar-benar dalam masalah.  Sial! apa yang harus aku lakukan sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN