"Tangan kamu kenapa, Lang?" Pergerakannya yang hendak meraih roti tawar, seketika terhenti. Berdeham pelan, Elang melanjutkan gerakannya yang sempat terinterupsi karena pertanyaan tiba-tiba dari Dela. "Nggak apa-apa kok, Ma." Jawabnya berusaha santai. Lalu berniat mengambil selai kacang tapi tampak menimbang sejenak. Takut tangannya kembali mencuri atensi sang Mama. "Coba lihat." Dela yang tak percaya begitu saja, tetap meminta putranya memperlihatkan tangannya yang terlihat ganjil oleh sesuatu. "Lang," panggilnya dengan nada yang tak bisa terbantahkan. Mengela napas panjang, Elang akhirnya pasrah. Sebelum kemudian memperlihatkan tangan kanannya. Di mana, ada tiga jari yang ditutupi plester luka. "Satunya lagi." Elang kira, sang Mama sudah puas dan bisa membuatnya melanjutkan sarapan.

