Bersilang kaki, Juned bersedekap tangan sembari menyandarkan punggung pada sandaran sofa yang berada di belakangnya. "Gue rasa wilayah selatan perlu diperketat, si Jambul mulai berani bikin ulah."
Menganggukkan kepala, Bimo yang tengah membuka kulit kacang, sebelum kemudian memakan isinya, menyetujui ucapan Juned. "Anak buahnya udah bikin resah, bukan cuma nyopet atau jambret. Tapi nggak segan lukai korbannya. Dan yang lebih kurang ajarnya lagi, nama anak buah kita yang dituduh."
Menegakkan posisi duduk, Tio menyugar rambut sembari mengela napas panjang. "Mereka memang perlu kita didik. Udah nggak bisa lagi dikasih peringatan."
Mendengar ucapan Tio, membuat senyuman Bimo dan Juned mengembang. Keduanya sudah cukup lama tak terlibat tawuran antar kelompok. Karena tak ada yang berani mengusik wilayah mereka. Tapi sekarang, sepertinya ada yang ingin berkenalan dengan mereka.
BRAK!
Suara pintu yang terjeblak kasar, membuat ketiga pria itu berjengit. Bimo nyaris meneriakkan omelan. Tapi sudah lebih dulu dijejali kulit kacang yang berserakan di atas meja oleh Juned, saat tau, siapa pelaku yang berani mengusik rapat penting mereka.
Tentu saja anak buahnya tak akan ada yang berani. Terlebih, membuka pintu dengan gerakan membanting seperti tadi. Kecuali bocah satu ini.
AYAH! PAPA! DADDY!" Seruan riang yang memenuhi ruangan itu membuat ketiga pria bertubuh kekar yang tadi memperlihatkan raut serius. Kini kompak mengembangkan senyuman. Meski di mata orang lain, senyuman ketiganya masih tetap tampak menyeramkan.
"My princess sudah pulang." Bangkit dari tempat duduknya, Bimo menghampiri Alexa. Merentangkan kedua tangannya, pria berkepala plontos itu dengan sigap menangkap tubuh kecil Alexa yang melompat ke dalam pelukannya. "Gimana sekolahnya, Sayang?" Mencuri satu kecupan di pipi tembam kemarahan Alexa, Bimo mengendong gadis kecil itu dan mendudukkannya di atas pangkuan. Tapi Alexa meronta turun karena belum menyapa Tio dan Juned yang dengan senang hati memberi pelukan dan menyematkan satu kecupan.
"Cerah banget hari ini Sayang, Papa sampai silau lihat senyuman kamu." Ujar Juned sembari membenahi poni Alexa yang sedikit menempel di kening karena keringat. Mengingat, di luar sana, hari memang kian terik hingga membuat gerah. Ia membiarkan gadis kecil itu berlari kearah Tio yang belum mendapat pelukan.
Alexa yang sudah berada di atas pangkuan Tio hanya terkekeh. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku seragam sekolahnya. "TARA!" Teriaknya penuh semangat. "Alexa dapat ini!"
Tio mengambil alih apa yang baru saja Alexa acungkan. Memerhatikan sejenak, sebelum akhirnya mengangguk mengerti. Kenapa putri mereka begitu penuh semangat dan ceria. Karena biasanya, setiap pulang sekolah, putri cantik mereka lebih sering memperlihatkan wajah murung.
"Itu apaan? Undian?" Tanya Bimo yang membuat Tio melempar pelototan. Meringis, Bimo menggaruk kepalanya yang pelontos. "Ya maaf, kan gue nggak tau. Makanya nanya. Emang itu apaan? Sampai Alexa sesenang itu? Kalau gue sih, hal yang bikin girang kayak Alexa sekarang, ya karena menang undian."
"Ini kartu undangan," Tio memberikan kartu undangan tersebut pada Bimo yang segera menerima dan melihatnya.
"Mario? Ini bocah semprul, aduh!" Bimo tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Juned yang duduk di sebelahnya sudah lebih dulu menginjak kakinya dengan cukup keras. "Sakit, oy!"
"Omongan lo disaring kalau ada Alexa." Peringat Juned yang membuat Bimo merengut. Tapi karena sadar dia salah, pria itu akhirnya menggumamkan permintaan maaf.
"Tapi, bener kan? Ini si Mario yang Emaknya kayak petasan banting kalau ngomong?"
"Al, sayang, ini Mario yang dulu nakal sama kamu?" Tanya Tio pelan, membuat Alexa mendongakkan wajah kearahnya, sebelum kemudian menganggukkan kepala.
"Tapi Mario udah nggak nakal lagi Ayah. Dia baik, mau jadi temen Al, dan ajak ke pesta ulangtahun."
Tersenyum, Tio mengelus lembut surai coklat gadis itu.
"Al mau datang ke pesta ulangtahun Mario." Ungkap Alexa kemudian.
Sejenak, ketiga pria dewasa itu saling melempar tatapan satu sama lain, usai mendengar permintaan putri kecil mereka.
"Nggak usahlah, nanti itu anak curut bikin masalah lagi gimana?" Bisik Bimo yang membuat Juned menyenggol lengannya sebagai peringatan.
"Kasihan kan kalau nggak dibolehin. Ini pertama kalinya buat Al. Dia pasti mau datang dan kumpul bareng teman-temannya." Ucap Tio yang tampak tak setuju dengan ucapan Bimo.
Juned dan Bimo terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengela napas panjang. Memilih menyetujui ucapan Tio. Mereka tak akan sanggup melihat gurat kekecewaan diwajah cantik Alexa yang sejak tadi tak henti merekahkan senyum bahagia.
Mendapat persetujuan dari kedua sahabatnya. Tio mengelus puncak kepala Alexa, hingga bocah itu meletakkan atensi padanya. "Kamu boleh datang, Sayang."
Alexa berteriak kegirangan. Ia memeluk Tio, memberi satu kecupan sebelum berlari menghampiri Juned dan Bimo untuk melakukan hal yang sama.
Melihat wajah bahagia Alexa membuat mereka bernapas lega, karena yakin sudah memutuskan hal yang tepat. Kebahagiaan sang putri adalah prioritas utama.
"Tapi, Al mau beli kostum, boleh?"
"Kostum?" Tanya Juned pada gadis yang kini berada di pangkuannya. "Oh, acaranya pakai dress code gitu ya?"
"Temanya apa, Sayang?" Tanya Tio yang membuat perhatian Alexa teralihkan padanya.
"Kata Mario, superhero, Ayah."
Menepuk tangan dengan kencang, Bimo Tiba-tiba begitu antusias. "Alexa pakai kostum superhero wanita pasti cantiknya makin silau." Kikiknya membuat Juned mendengkus geli.
"No, Daddy, Al bukan pakai kostum superhero wanita."
"Loh, kok? Terus, kamu maunya jadi apa, Sayang?"
Dengan senyum merekah lebar hingga deretan giginya terlihat, Alexa menatap satu persatu pria dewasa yang tengah menunggu jawabannya. "Superhero yang badannya hijau!" Jawabnya lantang, dan berhasil membuat ketiga pria bertubuh kekar yang berada satu ruangannya itu ternganga tak percaya.
"APA?" Tanya Bimo nyaris histeris. Mengorek-ngorek telinga dengan jari kelingking kirinya, pria berkepala pelontos itu mencoba peruntungan, dengan kembali menanyakan pada Alexa. "Sayang, coba ulangi? Kamu mau jadi apa?"
"Superhero yang badannya besar seperti Daddy, tapi warnanya hijau."
Meringis, Bimo melempar lirikan pada Tio dan Juned.
Berdeham, Tio tersenyum hangat pada gadis kecil dipangkuan Juned yang tampak kebingungan melihat reaksi mereka bertiga. "Al, Sayang, kenapa mau jadi itu?"
"Mario bilang,"
"Tuh, kan! Apa gue bilang? Anak curut itu pasti mau ngerjain Al kita." Ucap Bimo dengan menggebu-gebu.
"Sebaiknya dengarkan dulu penjelasan Alexa, Bim." Tio berusaha menenangkan sahabatnya yang tengah menahan kekesalan. Kembali beralih pada Alexa, pria itu mencoba memberi senyuman menenangkan. "Lanjutkan, Sayang."
Terdiam sejenak, Alexa akhirnya melanjutkan apa yang hendak ingin dikatakannya karena tadi sempat terputus kemarahan Bimo. "Mario bilang, semua teman-teman akan pakai kostum superhero. Karena Al dapat undangan terakhir, jadi hanya superhero hijau itu. Al nggak apa-apa kok Ayah, Papa, Daddy. Al mau, yang penting bisa data ke acara ulangtahun Mario. Bolehkan?" Tanyanya dengan tatapan bak anak kucing yang tengah kehujanan di pinggir jalan. Membuat siapa pun yang melihatnya tampak tak tega dan ingin melindungi sosok yang begitu rapuh itu.
Jika sudah begini, ketiga pria dengan badan kekar dan wajah sangar itu tak bisa berbuat apa-apa. Karena sekali lagi, kebahagiaan Alexa adalah prioritas mereka.
"Baiklah, ayo kita cari kostumnya."
"YEY!" Sorak Alexa kegirangan.
***
Berkacak pinggang, Bimo berjalan mondar-mandir. Sesekali berdecak kesal dan menggaruk kepalanya yang tanpa rambut. "Ini maksudnya apa coba? Masa iya, kita bertiga nggak boleh nemenin Al?"
Sebentar lagi, Alexa sudah akan bersiap pergi menghadiri pesta ulangtahun Mario. Gadis itu telah mengenakan kostumnya dengan wajah yang telah diberi cat berwarna hijau yang aman untuk kulit. Tio, Juned, dan Bimo terutama, sempat menentang saat Alexa menginginkan wajahnya dicat hijau. Mereka kira, Alexa akan mengenakan topeng. Tapi putri kecilnya justru menolak dan meminta jika wajahnya yang dicat hijau.
Sempat terjadi perdebatan sengit hingga tangis keras Alexa pecah, memenuhi seisi markas. Gadis itu baru bisa ditenangkan saat keinginannya dikabulkan. Juned akhirnya turun tangan dengan membeli cat yang aman digunakan untuk kulit, terutama anak-anak. Dia juga yang merias wajah Alexa hingga menjadi hijau layaknya superhero yang diinginkan bocah itu.
Berbanding terbalik dengan Alexa yang tampak riang, ketiga pria dewasa yang menemaninya berusaha untuk mengais ketenangan. Sayangnya, semua buyar saat Alexa tiba-tiba berkata sudah melupakan sesuatu.
Dan ternyata, sesuatu yang gadis itu maksud adalah, pergi ke pesta Mario tanpa di dampingi Tio, Bimo, atau pun Juned.
"Emang lo berdua bisa tenang biarin Alexa di sana sendirian?"
Mengela napas, Tio menepuk bahu sahabatnya yang tampak uring-uringan. "Ya nggaklah, mana mungkin?"
"Ya terus gimana? Siapa yang bakal awasi Alexa di sana nanti?"
"Gue udah minta si Reza buat temenin Alexa. Diantara anak buah kita, dia yang mukanya paling kalem."
"Lah, apa hubungannya?"
"Ck! Lo nggak nyimak, tadi yang Alexa bilang?"
Menggaruk kepala, Bimo meringis sembari menggeleng. "Gue terlalu fokus sama ucapan Alexa yang larang kita buat anterin ke sana."
"Iya, dan itu alasannya karena teman-temannya bakal takut lihat kedatangan kita. Jadi, Al mau pergi sama yang lain. Makanya gue pilih si Reza yang mukanya kalem. Tampilannya juga nggak sangar. Jadi amanlah, buat nemenin Al ke sana dan nggak bikin teman-temannya takut."
"Siapa sih yang bikin peraturan nggak masuk akal itu?" Berdecak kesal, Bimo masih tak terima dan menganggap peraturan itu seolah mendiskriminasi mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Yang penting Alexa bahagia.
Setelah persiapan panjang dan perdebatan alot, Alexa yang akhirnya pergi ditemani Reza, salah satu anak buah yang dipercaya menjaga gadis kecil yang sudah mengenakan kostum dan wajahnya diwarnai hijau agar menyerupai karakter superhero tersebut. Tengah berpamitan sebelum berangkat.
"Tolong jaga Alexa di sana." Pesan Tio yang diangguki penuh semangat oleh Reza.
"Tentu saja, Bos. Akan saya jaga Nona Alexa dengan sepenuh jiwa dan raga saya."
"Awas ya lo, kalau Al lecet seujung kuku pun." Pesan Bimo yang membuat Reza menelan ludah susah payah, seolah baru saja ada batu yang tersangkut di tenggorokannya.
"Iya Bos, pasti akan saya jaga Nona Alexa baik-baik."
"Ck! Bim, lo bikin dia nyaris tremor tau nggak?" Tegur Juned karena membuat Reza ketakutan. "Yang penting Alexa baik-baik di sana, dan bisa menikmati acaranya."
"Iya, Bos, pasti!" Menegakkan posisi tubuhnya, Reza memberi gerakan hormat untuk ketiga Bos besar yang memercayakan putri kesayangan mereka padanya. Menjadi sebuah kebanggaan dan tugas berat untuknya. Karena jika ada apa-apa dengan bocah itu, maka nyawanya menjadi taruhannya.
Usai berpamitan, Reza akhirnya membawa Alexa pergi untuk menghadiri acara ulangtahun Mario.
Sepanjang perjalanan, Alexa tampak berceloteh dan antuasias. Membuat Reza ikut senang dan lega.
Setelah beberapa lama berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah cukup besar berlantai dua. Dengan halaman yang sudah dipenuhi banyak mobil dan kendaraan lainnya.
Membantu Alexa turun dari dalam mobil, Reza menggandeng gadis itu yang tampak kepayahan karena mengenakan kostum cukup besar ditubuhnya yang tinggi untuk ukuran anak perempuan dibanding teman-temannya yang lain.
"Sini, Om Reza aja yang bawa kadonya."
Menggeleng-gelengkan kepala, Alexa melepas gandengan tangan Reza dan memeluk kado yang sudah ia persiapkan untuk Mario. "Nggak, Al aja. Mau kasih ke Mario nanti."
Mengela napas, Reza akhirnya mengangguk pasrah. Tapi kemudian keningnya mengernyit saat mengingat sesuatu. "Aduh!" Serunya sembari menepuk kepala, dan menarik perhatian Alexa.
"Kenapa Om?"
"Ini, Om lupa bawa ponsel. Ketinggalan di mobil. Mana si Bos minta nanti Non Alexa di foto-foto sama video."
"Ambil aja, Al masuk sendiri."
Terdiam sejenak, Reza tampak memikirkan ucapan gadis itu. Sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Om ambil ponsel sebentar ya? Nanti susul Non Al ke dalam."
Mengangguk patuh, Alexa kemudian beranjak lebih dulu, dengan setengah berlari karena tak sabar bertemu dengan teman-temannya. Tapi hal itu membuat Reza berteriak agar gadis itu berhati-hati. Terlebih, dia masih ingat ancaman Bimo tadi. Kalau Al sampai lecet sedikit pun, bisa habis dia.
Tak ingin membuang waktu, Reza bergegas kembali ke mobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas dasbor. Sewaktu di lampu merah tadi, ia sempat membalas pesan dari Tio yang menanyakan keberadaan mereka. Apa masih di perjalanan? Atau sudah di tempat acara? Sayangnya, karena lampu sudah keburu hijau, Reza memilih meletakan ponsel di atas dasbor usai membalas pesan dari Tio, karena terburu-buru melajukan kendaraannya setelah mendapat klakson tak sabaran dari pengendara di belakangnya. Membuatnya lupa mengantongi ponselnya lagi.
Sementara itu, Alexa tampak antusias saat berhasil masuk ke dalam. Tak sabar menyapa teman-temannya yang lain.
Sayang, senyuman cantik itu perlahan memudar. Saat melihat penampilan teman-temannya yang tampak berbeda. Bukan karena kostum-kostum superhero yang sempat Mario celotehkan. Justru sebaliknya, semua tampak memakai pakaian formal. Teman-teman prianya kebanyakan memakai kemeja. Sementara teman-teman perempuannya, tampak cantik dengan berbagai dress yang melekat di tubuhnya.
Genggaman tangan Alexa kian mengerat pada kotak kado yang berada di dalam pelukannya.
"WAH! TAMU ISTIMEWA KITA SUDAH DATANG RUPANYA!" Teriak salah satu teman Mario yang melihat keberadaan Alexa. Membuat semua mata mengalihkan pandangan dari Mario yang sebelumnya baru saja menyelesaikan acara tiup lilin dan memberikan kue kepada kedua orangtuanya. Kini serentak meletakkan atensi pada Alexa yang membuat mereka semua meledakan tawa.
"HUAHAHAHAHAHAHA!"
"Astaga, apa-apaan dia?"
"Kenapa memakai pakaian seperti itu?"
"Apa dia hadir sebagai badut acara ini?"
"Jangan heran, kan dia anak aneh."
Di tengah keriuhan suasana pesta dan suara-suara yang terdengar mengolok-olok Alexa. Mario yang sebelumnya ikut menikmati raut wajah Alexa yang malu sekaligus ketakutan. Tiba-tiba terdiam, terlebih, saat tatapan keduanya saling bersirobok. Bocah laki-laki itu mengepalkan tangan, mendapati sorot terluka dikedua netra berwarna hazel tersebut.
Dengan tubuh gemetar, Alexa perlahan mundur, sebelum kemudian menjatuhkan kado yang sejak tadi dipeluknya erat-erat. Seolah benda itu bisa menjadi tameng untuknya dari semua orang yang tengah melempar ejekan padanya.
BRUK!
Usai menjatuhkan kado, Alexa memilih berlari meninggalkan pesta yang hanya menjadikannya sebagai lelucon.
"Mau kemana? Acaranya belum selesai." Mario yang hendak beranjak pergi, ditahan sang Mama. "Itu temen kamu apa-apaan pakai baju begitu? Siapa sih yang undang?" Kesal wanita itu.
"Biarin ajalah Ma, lumayan buat hiburan acaranya Mario." Timpal sang suami yang ikut tertawa bersama tamu undangan lainnya.
"Iya sih, tapi mukanya kayak familiar, Pa."
"Iyalah familiar, kan dia superhero."
"Ish! Si Papa!" Kesalnya, tapi kemudian terkikik bersama sang suami.
Mario sendiri masih menatap lurus ke tempat Alexa berdiri tadi, yang kini meninggalkan sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus karakter superhero favoritnya.
Seharusnya, Mario merasa senang karena rencananya mempermalukan Alexa berhasil. Tapi kenapa justru rasa bersalah yang kini bergentayangan dan menyesaki hatinya?