Istri Badung - 4

1868 Kata
Tumpukan kado yang tersuguh di depan matanya, tak lagi membuat Mario antusias. Bocah itu hanya diam dengan wajah muram, melihat sang Mami yang terus berceloteh penuh semangat, membuka satu persatu kado dari teman-temannya, dibantu asisten rumah tangga. "Waw! Sayang, coba lihat? Ini robot yang kamu mau kan?" Menatap malas pada robot yang Maminya perlihatkan, Mario hanya mengangguk samar. Mengerutkan kening, wanita itu bingung melihat putra semata wayangnya yang tampak tak bersemangat. Hal yang sejujurnya ia endus sedari pesta ulangtahun berakhir. Mengambil tempat duduk di samping anaknya yang sejak tadi diam sembari memeluk satu kado bergambar superhero favoritnya, ia mengelus lembut kepala putranya. "Mario kenapa, hm? Kok abis pesta ulangtahun sedih? Masih mau ketemu teman-teman? Kan besok di sekolah bisa ketemu lagi." Kepala yang sebelumnya tertunduk lesu tiba-tiba terangkat. Menegakkan posisi duduknya, Mario mengukir senyum hingga sang Mami ikut merasa senang. Benar, besok dia masih bisa bertemu dengan Alexa. Tapi, bagaimana caranya Mario meminta maaf? Itu benar-benar membuatnya gugup. Selama ini, yang biasa Mario lakukan adalah mengusili Alexa. Rasanya akan sangat aneh jika dia harus bersikap baik pada gadis itu. Kecuali, sewaktu memberi undangan dan berpura-pura baik agar Alexa mau datang. Apa dia harus melakukan hal seperti itu lagi? Berpura-pura? Tapi, untuk kali ini, Mario ingin melakukannya dengan tulus. Dan ia bingung bagaimana cara memulainya? "Mi," memeluk erat kado yang berada di atas pangkuan, bocah itu menatap sang Mami yang hanya menjawab dengan gumaman. "Mario mau ke kamar, ngantuk." Mengela napas, sang Mami memberi anggukan, "baiklah, lagipula ini memang sudah malam. Buka kadonya bisa dilanjutkan nanti." "Mami aja yang buka sama Bibi, Iyo nggak minat. Cukup ini aja." Menepuk kado di atas pangkuan, Mario yang sebelumnya duduk bersila di atas sofa, segera turun. "Selamat malam Mi," memberi kecupan di pipi kanan sang Mami, bocah itu bergegas pergi menuju kamarnya. Sesampainya di lantai atas, Mario membuka pintu kamar dengan tergesa dan sedikit kepayahan karena memegangi kado. Setelah berhasil terbuka, ia menutup dengan cara menendangnya cukup kuat hingga menimbulkan bunyi berdebum. Melempar kado yang sejak tadi berada dalam pelukan ke atas tempat tidur, bocah itu menyusul dengan merangkak naik. Mengerjai Alexa, anak yang paling pendiam dikelasnya seolah menjadi kesenangan tersendiri untuk Mario. Meski sejujurnya, ada rasa iba, setiap kali melihat tatapan iri di mata gadis itu, saat teman-temannya yang lain sibuk bercanda atau bermain bersama. Di saat itulah, Mario sering kali mengerjai Alexa hingga membuat gadis itu kesal. Setidaknya, ia tak lagi melihat tatapan sendu yang Mario tak sukai. Tapi untuk kali ini, apa Mario sudah sangat keterlaluan? Dia, sudah sering mengerjai Alexa. Entah sekadar membuatnya cemberut, berteriak kesal, bahkan menangis dan yang paling parah, gadis itu yang ternyata memiliki tenaga besar, membuatnya terluka sampai kedua orangtua mereka datang ke sekolah dan terlibat perdebatan. Meski akhirnya berakhir dengan sebuah kesepakatan. Lalu kenapa? Melihat tatapan penuh luka yang Alexa perlihatkan tadi, membuat Mario ingin ikut menangis dan meraungkan permintaan maaf. Sayangnya, tubuh Mario membatu. Gelak tawa semua orang, serta olok-olok yang mereka lemparkan untuk Alexa berdengung di telinga Mario. Membuatnya ingin menutup dengan kedua tangan dan berteriak kepada mereka agar tak lagi mengusik Alexa. Meski pada akhirnya, keinginan itu sekadar bercokol di kepala. Karena pada kenyataannya, yang Mario lakukan hanya berdiam diri, melihat Alexa menjadi bulan-bulanan semua tamu undangan, termasuk kedua orangtuanya. Mengela napas panjang, bocah itu menggaruk kepalanya yang sejujurnya tak gatal. Sebelum kemudian mengetuk-ngetuk kado yang berada di depannya. "Aku hanya bercanda. Maaf, ya?" Bak kado tersebut adalah sosok Alexa, Mario menunduk penuh penyesalan. Mengangkat wajah, bocah itu kemudian membuka kado pemberian Alexa dengan tak sabaran, hingga kertas kadonya koyak dan berceceran di atas tempat tidur. Tapi tentu saja dia tak memedulikannya. Membuka kotak berwarna biru, mata Mario berbinar. Mendapati sebuah boneka figur super hiro yang memiliki tameng bergambar bintang. Padahal, dia memiliki boneka serupa dengan berbagai ukuran. Semua pernak-pernik di kamarnya pun bertema superhero tersebut. Tapi entah kenapa, boneka tersebut ia nobatkan sebagai favoritnya mulai dari sekarang. Membuang asal kotak kado dan ceceran kertas pembungkusnyan ke bawah lantai. Mario masuk ke dalam selimut dengan boneka pemberian Alexa yang berada dalam pelukannya. "Besok, bantu aku minta maaf ya?" Bisiknya sebelum memejamkan mata, berusaha terseret lelap, agar besok, bisa berangkat lebih pagi ke sekolah untuk bertemu Alexa. *** Ke esokan harinya, Mario berangkat ke sekolah penuh semangat. Menyusuri lorong kelas, bocah itu melangkah santai dengan boneka yang berada di dalam pelukannya dan sempat mendapat perhatian beberapa pasang mata murid lain. Berusaha tak acuh, Mario memilih berderap menuju kelasnya. "Iyo!" Seruan antusias yang tertangkap pendengaran membuat Mario menghentikan langkah. Menolehkan kepala, ia mendapati dua teman dekatnya yang tengah berlari kearahnya. "Tumben pagi banget." Ucap salah seorang temannya yang hanya Mario respon dengan mengedikkan bahu tak acuh. "Eh, Yo, ultah kamu keren banget!" "Iya, apalagi pas yang Alexa datang pakai baju itu. Astaga, itu parah. Dia lucu banget. Mukanya ijo-ijo kayak lumut." Kedua temannya terus berceloteh di samping kiri-kanan Mario yang sejak tadi memilih diam dengan pelukan pada boneka kian mengerat. "Yo, kamu ngapain bawa-bawa boneka ke sekolah?" "Tau, nanti diledek loh. Kan kita udah besar." "Kita masih kecil." Jawab Mario tak acuh sembari mendengkus sebal. "Iya, masih kecil, tapi udah besar sedikit. Kita kan anak SD, bukan anak TK lagi, jadi bakal diledek kalau bawa-bawa boneka ke sekolah." "Silakan aja ledek, aku nggak takut." Berdecak kesal, Mario mengentakkan kaki dan berlalu pergi lebih dulu. Meninggalkan kedua temannya yang terbengong bingung. "Si Mario kenapa ya?" "Mungkin sarapan cabe. Jadi masih pagi udah galak." Menepikan rasa bingung akan sikap tak biasa yang Mario perlihatkan pada mereka. Keduanya memilih mempercepat langkah untuk menyusul Mario yang sudah berlalu lebih dulu. Sesampainya di kelas, Mario meletakkan atensi pada deretan kursi paling akhir yang berada di bagian paling pojok. Tempat itu masih tampak kosong. Belum memperlihatkan penghuninya yang biasanya tengah menundukkan kepala, fokus membaca buku cerita yang seolah menyita seluruh perhatiannya hingga mengabaikan sekitar. Duduk di tempatnya, Mario melepas tas, dan di simpan ke dalam kolong meja. Tapi tidak dengan bonekanya yang masih berada dalam pelukannya. Hari itu, Mario jadi lebih pendiam, terlebih, hingga jam masuk berteriak lantang membuat semua murid tergopoh-gopoh menempati kursi masing-masing. Satu kursi yang sejak awal masuk ke dalam kelas terus Mario perhatikan. Tak juga di tempati pemiliknya. "Dia kemana? Kamu tau, kenapa hari ini dia nggak masuk sekolah?" Bisik Mario pada boneka di atas pangkuannya. *** Sementara itu, di markas, ketiga pria dewasa tampak cemas, memerhatikan gadis kecil yang terbaring dengan sebuah plester demam yang tertempel di keningnya. "Gimana?" Dengan tak sabaran, Bimo mendekati Juned yang baru saja memeriksa suhu tubuh Alexa. "Masih tinggi panasnya." "Ck! Udah deh, langsung bawa ke rumah sakit aja. Nunggu apa lagi sih?" Kesal, Bimo menatap Juned yang justru melempar pandangan pada Tio yang menganggukkan kepala. "Gue siapkan mobil," menegakkan tubuh yang sebelumnya bersandar pada dinding. Tio keluar dari kamar Alexa. Dengan satu tangan yang tersembunyi di balik celana jeansnya yang sobek dibagian lutut serta paha. Tio turun ke lantai bawah. "Bos," Reza yang berpapasan dengan Tio segera menundukkan kepala sungkan. "Gimana luka lo? Udah lebih baik?" Mengangkat wajah takut-takut, Reza berdeham untuk menjernihkan suaranya yang bergetar. "Baik, Bos. Sudah tidak apa-apa." Mengela napas panjang, Tio menepuk-nepuk pundak pemuda yang nyaris babak belur diamuk Bimo dan Juned, saat mendapati Alexa yang menangis keras dalam gendongan Reza, seusai pulang dari acara ulangtahun teman gadis itu. Tio mengambil alih tubuh Alexa, dia nyaris bertanya ada apa, tapi kedua sahabatnya sudah lebih dulu mengayunkan pukulan pada Reza. Dia pun heran, Juned yang biasa kalem dan mengedepankan pembicaraan, tiba-tiba mengikuti Bimo yang memang paling mudah tersulut emosi. Sebelum semuanya kian kacau, terlebih belum ada penjelasan apa pun penyebab Alexa menangis sesenggukan. Tio meminta tolong salah satu anak buahnya untuk mengambil alih Alexa dalam gendongannya. Karena ia harus mengurus dua sahabatnya yang tengah terbakar emosi. Mengingat, tak akan ada yang berani melerai dan para anak buah lainnya cuma bisa menatap iba salah satu rekannya yang nyaris babak belur. Meski sempat kepayahan, Tio akhirnya berhasil menenangkan kedua sahabatnya. Meminta mereka untuk menahan diri dan meminta penjelasan Reza. Dibantu yang lain. Mereka duduk di sofa dengan Alexa yang berada di atas pangkuan Bimo dan masih terisak. Meski tangisnya tak sekeras saat masuk ke dalam markas dan mengejutkan semua orang. Di tengah suasana yang masih penuh ketegangan. Reza akhirnya ditanyai, kenapa mereka pulang begitu cepat, dengan Alexa yang menangis keras? Karena sudut bibirnya terluka hingga mengeluarkan cairan merah berbau anyir, Reza berbicara cukup kesulitan. Tapi tetap berusaha menjelaskan kepada para Bosnya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Pria muda itu meminta maaf karena sudah lalai menjaga Alexa. Gara-gara lupa membawa ponsel yang tertinggal di dalam mobil, ia terpaksa membiarkan gadis kecil itu masuk sendirian ke tempat acara. Setelah mengambil ponsel dan bergegas masuk untuk menyusul Alexa. Reza sempat mengira, jika suara riuh tawa orang-orang karena acaranya berjalan dengan meriah. Dia sudah tersenyum sumringah dan menyiapkan kamera ponsel untuk memvideo. Tapi baru berjalan sebentar, Reza menurunkan lagi ponselnya saat menyadari sebuah kejanggalan. Reza menggeram keras, meski suaranya teredam tawa orang-orang yang terus berdengung-dengung ditelinganya bak suara kawanan lebah. Pria itu marah, saat akhirnya berhasil menemukan keanehan dalam acara pesta ulangtahun teman Alexa itu. Di mana, semua tamu tampak mengenakan pakaian formal. Tidak ada satu pun yang mengenakan kostum. Kecuali, gadis kecil yang tengah memeluk kadonya dengan mata berkaca-kaca, bibir bergetar dan wajah memerah. Mendapati dirinya menjadi bahan olok-olokan. Reza tentu saja tak terima anak bosnya diperlakukan seperti itu. Dia sudah bersiap mengamuk dan tak peduli jika harus berurusan dengan sang pemilik rumah nantinya karena telah mengacaukan acara. Tapi, belum sempat rencananya terealisasi. Alexa sudah lebih dulu melepas kado dalam pelukan, sebelum kemudian berbalik pergi. Membuat Reza panik dan mengejar gadis itu yang akhirnya memecah tangis. Sepanjang perjalanan, Reza berusaha menenangkan Alexa yang terus menangis. Pria itu sampai membenturkan kepalanya ke setir mobil saat lampu merah menyala, karena frustasi. Bukan sekadar karena tangisan Alexa. Tapi memikirkan bagaimana nasibnya saat di markas nanti? Dan benar saja dugaan Reza. Sesampainya di sana, ia diberi pukulan bertubi-tubi dari para Bosnya. Mendengar cerita Reza dan melihat video singkat yang sempat Reza abadikan, membuat Bimo murka. Dengan napas tersengal-sengal, seolah baru saja berlari maraton. Pria itu sudah bersiap mendatangi kediaman orangtua Mario. Beruntung, masih bisa ditahan oleh Juned yang kali ini bisa berpikir lebih dingin. Tak langsung terbakar amarah seperti sebelumnya. Ia pun tentu saja geram saat tau, putri kecil kesayangan mereka diperlakukan semena-mena. Tapi, sekadar memberi bogeman tak akan membuatnya puas. Jadi Juned membisikkan sebuah rencana pada Bimo yang sebelumnya masih bersikeras ingin pergi. Dan berubah pikiran dalam sekejap, setelah mendapat bisikan yang entah apa, Dari Juned. Sampai akhirnya, Tio pun tau rencana yang tengah disusun kedua sahabatnya. Jika biasanya ia memilih perundingan dan memikirkan semuanya secara baik-baik dalam segala hal. Tapi kali ini, seolah menjadi pengecualian. Karena tak hanya Bimo dan Juned yang marah Alexa diperlakukan seperti itu, ia pun sama. Maka dari itu, Tio menyetujui rencana kedua sahabatnya. "Bos," suara bergetar dan takut-takut milik Reza mengoyak lamunan Tio. Mengerjap, pria itu menggaruk pelipis. "Bilang sama yang lain buat jaga markas, kami mau bawa Al ke rumah sakit." "Baik, Bos." Menepuk pundak Reza sekali lagi, Tio akhirnya berlalu pergi. Melanjutkan langkahnya menuju garasi, menyiapkan mobil untuk segera membawa Alexa ke rumah sakit. Mereka tak tahan, mendapati putri cantik yang biasanya tersenyum manis. Kini berbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah pucat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN