Istri Badung - 5

1890 Kata
Dengan gerakan perlahan, Bimo menutup pintu kamar Alexa. Setelah satu malam di rawat di rumah sakit, gadis itu akhirnya kembali pulang karena tak berhenti merengek selama di rawat. Membuat ketiga pria dewasa yang menjaganya kian dilanda frustrasi. Sampai akhirnya, memutuskan untuk tak memperpanjang masa rawat inap Alexa dan memilih melanjutkan pemulihan di rumah. Menuruni anak tangga, Bimo berbelok menuju ruang tengah. Membuka pintu di mana sudah ada sosok Juned dan Tio di sana. "Jadi, gimana?" Menutup pintu, Bimo berderap menuju kedua sahabatnya. Sebelum kemudian, mendudukkan diri di samping Juned yang tengah memainkan bibir gelas dengan jari telunjuknya. "Udahlah, kalau nggak berhasil samperin aja langsung. Nggak usah sampai babak belur, bikin patah tulang atau masuk ICU beberapa malam udah cukup." "Ck! Kan kita udah sepakat botak!" "Eh, gondrong! Kok bawa-bawa status kepala gue?" "Ya lagian, lo nggak sabaran. Kita harus main cantik supaya hasilnya juga maksimal." Mendengkus, Bimo bangkit dari duduknya dan berpindah tempat, duduk di samping Tio yang hanya bisa mengela napas sembari menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya. "Dih, badan doang gede, tapi ambekan." Ejek Juned yang membuat Bimo melempar pelototan padanya. "Lo kok nyebelin banget hari ini, Ned?" Mengedikkan bahu tak acuh, Juned meneguk santai minumannya hingga nyaris tandas. "Sudah, cukup. Kenapa jadi berdebat?" Tio yang sebelumnya hanya menjadi penonton akhirnya angkat bicara untuk menjadi penengah. "Dia noh, sinis terus dari tadi ngomongnya. Kalau orang lain, udah gue jahit mulutnya." Menyugar rambut, Tio mengangkat satu tangan. Memberi tanda agar tak ada lagi perdebatan di luar jalur pembicaraan yang tengah mereka bahas. Mengela napas panjang, Juned membungkukkan sedikit tubuh untuk meletakkan gelas di atas meja. Menyugar rambut panjangnya yang tergerai. Pria itu menumpukkan kedua tangannya di atas paha dengan jemari yang saling bertaut. "Sorry Bim, tadi gue emang agak nyebelin." "Sangat nyebelin!" Sambar Bimo cepat, mengoreksi ucapan Juned yang dirasanya kurang tepat. Berdecak pasrah, Juned akhirnya mengangguk. "Baiklah, sangat menyebalkan." "Kenapa lo? Ditolak cewek?" Dengan wajah masam, Juned kembali berdecak. "Gue nggak pernah mau berurusan dengan hal menye-menye semacam itu." "Oke, jadi, kembali ke topik awal. Gimana perkembangannya?" Tio menyerahkan sebuah map berwarna merah pada Bimo yang segera menerimanya. Membuka dengan tergesa, pria berkepala plontos itu tampak serius melihat apa yang tertera di sana. Perlahan, sudut bibirnya yang kehitaman, terangkat membentuk seringai yang bisa membuat bulu kuduk berdiri. "Waw! Keberuntungan macam apa ini? Jadi, dia bekerja di perusahaan Bos Besar?" Selain menguasai beberapa wilayah sebagai ketua preman, Tio, Juned, dan Bimo pun menjadi tameng untuk beberapa orang yang menggunakan jasa mereka. Semisal, mengurusi lawan bisnis yang dianggap mulai mengusik. "Si Bos memangnya bersedia, itu bisul kadal disingkirkan dari perusahaannya?" "Lo kayak nggak tau aja si Tio gimana? Dia kan paling jago ngebacot dan yakinin orang. Apalagi, udah terlalu banyak kartu si Bos yang kita punya. Kalau cuma nyingkirin satu orang buat kenyamanannya pasti nggak bakal jadi masalah. Lagian, si curut itu ternyata bermain curang. Si Bos malah berterima kasih sudah membuatnya sadar, kalau ada bakteri di perusahaannya." Mengangguk-anggukkan kepala, Bimo tampak puas dengan ucapan Juned. "Gue nggak sabar, lihat muka-muka yang udah nyakitin putri cantik kita sengsara. Cih! Salah cari lawan mereka." Menyandarkan punggung pada sandaran sofa di belakangnya sembari bersedekap tangan, Juned ikut merekahkan senyuman. "Tinggal tunggu kehancuran mereka." "Tapi itu masih belum sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan sama Al." "Ya, apalagi Alexa sedih dengan kenyataan tak memiliki ibu, dan menjadi bahan olok-olokan teman sekolahnya karena memiliki tiga ayah yang seram." "Heh! Gue nggak seram." Bimo memprotes dan tak terima dengan ucapan Juned. "Pas ngaca ganteng kok kalau dilihat dari sudut pandang tertentu." Alih-alih menanggapi, Juned justru bangkit dari duduknya sembari menguap malas. "Capek ngomong sama orang halu." "Halu? Siapa? Gue?" Ikut berdiri, Bimo menunjuk-nunjuk Juned tak terima. Sembari terus mengoceh, pria berkepala plontos itu mengekori Juned yang sudah keluar ruangan. Meninggalkan Tio yang hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Sepeninggal kedua sahabatnya, Tio ikut bangkit dari duduknya. Pria itu keluar dari ruangan yang sering dipakai untuk mendiskusikan sesuatu dengan Juned dan Bimo. Tak sembarang orang bisa masuk ke sana tanpa izin dari mereka. Bukannya pergi menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah meneriakkan kata lelah. Tio justru mengayunkan langkah menuju kamar yang di tempati Alexa. Dengan gerakan pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa mengusik putri cantiknya. Tio melongokkan kepala. Awalnya, dia hanya ingin melihat gadis itu terlelap. Tapi yang Tio temukan justru tubuh kecil Alexa yang berselonjor di lantai dengan punggung yang disandarkan pada tempat tidur. "Loh, anak Ayah kenapa belum tidur? Bukannya tadi udah tidur dijagain Daddy?" Mengangkat wajah yang sebelumnya tertunduk diam. Alexa mengerjap mendapati sosok Tio yang menjulang tinggi di depannya. Pria itu kemudian menempatkan diri di sampingnya yang masih bertahan duduk di lantai yang dingin. "Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur? Butuh sesuatu, hm?" Tanya Tio pelan sembari mengelus lembut kepala Alexa. Menoleh hingga tatapan keduanya bersirobok. Alexa tampak ragu menyampaikan sesuatu. Dan hal itu disadari betul oleh Tio, yang kemudian meraih tubuh Alexa dan mendudukkan pada pangkuannya. Mengelus pelan punggung gadis kecil itu yang kini berada di dalam dekapannya. "Ayah?" Setelah sebelumnya bungkam, Alexa akhirnya angkat bicara, meski suara yang dikeluarkan bak sebuah bisikan. Beruntung, masih berhasil tertangkap pendengaran Tio. "Iya, Sayang?" Mengangkat wajah, sementara Tio menundukkan pandangan hingga tatapan keduanya kembali bersirobok. Alexa meremas bagian depan kaus yang Tio kenakan, sebelum menyampaikan hal yang ingin dikatakannya. Tapi ragu masih menggelayut, membuatnya terkungkung ragu. "Al mau bilang apa? Ngomong aja, Ayah akan dengarkan baik-baik." "Ayah," panggil Alexa lagi. Tapi tak segera mengatakan apa yang sejak tadi tertahan dibenaknya. "Iya Sayangnya Ayah, kenapa, hm?" "Al," membuat pola lingkaran tak beraturan di kaus yang Tio kenakan. Gadis itu mengalihkan pandangannya. Mengangkat kepala yang sebelumnya agak tertunduk, hingga bisa bersitatap. "Al nggak mau sekolah." Deg! Tio menegang di tempat duduknya. Mendengar suara serak putri kecilnya yang berhasil mengoyak pertahanannya. Pandangan Tio tiba-tiba memburam, dengan rasa hangat yang menyelimuti kedua netranya. Jika Bimo dan Juned melihatnya menangis, mereka bisa terpingkal sampai terjungkal. Anehnya, Tio tak mempermasalahkan hal tersebut. Air mata selalu ia jadikan sebagai bentuk kelemahan. Tio tak lagi mau memperlihatkan kelemahannya. Mendapati kerapuhan Alexa, nyatanya ikut menghancurkan hati Tio. Dia tak gentar saat menghadapi lawan-lawannya. Bahkan tak bergeming, saat timah panas menembus kakinya. Tapi, mendengar suara putus asa dari Alexa, berhasil meluruhkan semua pertahanannya. "Nggak akan ada yang sakitin Al lagi, Ayah pastikan itu sayang." Ungkapnya sembari mendekap lembut tubuh mungil yang amat berharga baginya serta kedua sahabatnya. *** Memperbaiki kerah kemeja, Ferdi mengangkat tangan bergantian untuk mengendus aroma ketiaknya. Sebelum kemudian beralih dengan aroma mulutnya. Ck! Tau begini, dia akan menyiapkan penampilan yang lebih rapi dan wangi. Tapi, mana dia tau kalau pagi ini dipanggil atasan di perusahaan tempatnya bekerja? Ferdi bekerja di bagian keuangan perusahaan. Dan baru kali ini mendapat kehormatan dipanggil ke ruang atasan. Jika mengingat tak ada kesalahan yang diperbuat, Ferdi meyakini dia mungkin mendapat promosi. Menjilat ujung telunjuk tangan kanannya, ia jadikan air liur yang tertempel di sana untuk merapikan kedua alisnya. Mengela napas panjang, Ferdi menatap pintu yang seolah tampak menyeringai remeh padanya. Hingga membuat Ferdi tak lagi ragu mengetuk pintu di depannya. Suara bariton yang memerintahkan masuk membuat tubuh pria itu menegang. Mengendapkan gugup, Ferdi membuka pintu secara perlahan. Menyunggingkan senyum sesopan mungkin, ia masuk ke dalam ruangan luas yang sudah berhasil menciutkan nyalinya. "Ekhm! Selamat pagi, Pak." Mengangguk samar, tanpa mengalihkan perhatian dari berkas yang tengah dibacanya, pria paruh baya itu meminta Ferdi untuk duduk di kursi kosong yang berada di depannya. Menutup berkas yang belum sepenuhnya dibaca, pria paruh baya itu memperbaiki letak kacamatanya. "Saya tidak akan berbasa-basi, itu hanya akan membuang waktu." Membuka salah satu laci, ia melempar satu amplop coklat dengan gerakan kasar ke atas meja. "Apa itu, Pak?" "Kau bisa melihatnya sendiri. Apa saya yang harus membacakannya?" Menggeleng cepat, Ferdi mengambil amplop coklat tersebut dengan tangan gemetar yang sulit disembunyikan. Dalam hati, pria itu bersorak-sorai. Apa mungkin, ini surat naik jabatan untuknya? Senyuman yang sebelumnya merekah di wajah Ferdi meluruh, usai mendapati apa yang berada di amplop coklat tersebut. "Loh, Pak, ini?" Dengan kedua lengan yang bertumpu pada meja, Pria paruh baya itu menatap nyalang wajah Ferdi yang memucat. "Itu hanya sebagian kecil bukti atas tindakan korupsi yang kamu lakukan di perusahan." Menggeleng cepat, Ferdi berusaha memberikan penjelasan. Sayang, suaranya seolah lenyap. "Kamu dipecat, dan dituntut atas kejahatan korupsi yang kamu lakukan. Perusahaan sudah melaporkannya pada pihak berwajib." Punggung Ferdi basah oleh keringat dingin yang dengan cepat membanjiri tubuhnya. Semua harapan tinggi yang sebelumnya bercokol dikepala. Kini lenyap dan berganti dengan ketakutan yang mencekiknya tanpa ampun. Pria paruh baya itu kemudian meraih telepon. Ferdi tak mendengar apa yang dibicarakan karena pikirannya tengah kacau. Entah berapa lama ia terhanyut dalam lamunan, sampai suara ketukan pintu mengembalikan kesadarannya. Dua orang pria dengan pakaian petugas keamanan tengah menghadap dan memberi hormat pada pria paruh baya yang dengan wajah datar, meminta keduanya untuk menyeret Ferdi keluar. "Pak, ini pasti ada yang salah. Tolong, kasih saya waktu untuk menjelaskan." "Nanti, saat di kantor polisi." Menulikan pendengaran, pria paruh baya itu tak acuh melihat Ferdi yang meronta dan berusaha melepaskan diri dari dua petugas yang mencoba menyeretnya keluar. Setelah ruangannya sepi. Pria paruh baya itu kembali meraih telepon dan menghubungi seseorang. "Sudah saya bereskan Bos. Baik, Bos." Menutup kembali teleponnya. Ia mengela napas panjang. "Pria yang malang." Ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan raut prihatin. *** Jam penanda pulang berteriak lantang. Menciptakan kegembiraan para siswa yang bergegas membereskan peralatan menulisnya yang berserak di atas meja. Tapi tidak dengan Mario, yang terus memerhatikan kursi paling pojok yang sudah beberapa hari kosong di tinggal penghuninya. Memilih menjadi yang paling akhir dalam menyalami sang Guru. Mario ingin menanyakan hal yang terus mengusiknya. "Bu?" Panggil bocah itu seusai menyalami sang guru. "Ya, Mario, ada apa?" "Itu, Alexa, sudah beberapa hari nggak masuk sekolah, kenapa ya?" "Oh, iya, Alexa sedang sakit. Jadi nggak masuk sekolah." Keresahan tiba-tiba menyerbu Mario tanpa ampun. Saat hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Selama perjalanan pulang, Mario terus terpikirkan Alexa. Sesampainya di rumah, bocah itu berlari. Dia akan meminta sang Mama mengantarnya untuk menjenguk Alexa. Tak apa jika harus bertemu tiga pria seram itu lagi. Sayang, keinginan Mario lenyap, sewaktu mendapati sang Mama yang tengah tertunduk dengan bahu bergetar. Wajahnya basah karena air mata. Di depannya, ada sang Papa yang tak kalah kacau. Menunjuk-nunjuk sembari menjambak rambut sendiri. "GIMANA BISA KAMU TERTIPU INVESTASI BODONG, HAH?" Mengangkat wajah, wanita itu tak lagi menundukkan kepala. Dia tak terima semua kesalahan dilimpahkan padanya. "KOK AKU YANG DISALAHKAN? MEMANGNYA AKU TAU BAKAL DITIPU!" "YA TERUS SEKARANG GIMANA? DENGAN APA PAPA BAYAR GANTI RUGI UANG PERUSAHAAN MA? PAPA NGGAK MAU DI PENJARA!" "ITU SALAH PAPA SENDIRI! KENAPA KORUPSI?!" "KENAPA? KAMU BILANG KENAPA? AKU TERPAKSA LAKUKAN ITU BUAT MEMENUHI KEBUTUHAN KAMU YANG NGGAK PERNAH ADA KATA CUKUP!" Awalnya, Ferdi tak pernah mau melakukan korupsi pada perusahaan tempatnya bekerja. Tapi, iming-iming teman dan tuntutan sang istri yang terus mengeluh dan mengoceh, membuatnya bertindak nekat. Sayangnya, serapi apa pun hal itu disembunyikan, tetap saja terendus. Yang lebih menyedihkan, uang hasil korupsinya justru lenyap karena sang istri tertipu investasi bodong. Apa semua ini hukuman untuknya? Mario menatap nanar kedua orangtuanya yang saling berteriak satu sama lain. Setelah ini, ia tau, jika hidupnya tak akan pernah lagi bisa sama. Menundukkan kepala, Mario menatap boneka pemberian Alexa yang memang selalu dibawanya ke sekolah, bahkan dipeluknya sewaktu tidur. "Apa aku bisa meminta maaf sama kamu, Al?" Ucapnya lirih, dan nyaris tak tertangkap pendengaran. Terkalahkan teriakan kedua orangtuanya yang masih sibuk saling menyalahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN