BRUK!
Tubuh tambun milik pria yang wajahnya penuh luka lebam itu tersungkur.
"Akh!" Memekik dengan suara serak, ia hanya pasrah saat punggungnya diinjak sosok yang membuatnya berakhir mengenaskan. Semua sikap arogan yang diperlihatkan beberapa menit yang lalu menguap, menyisakan penyesalan yang bercokol di hati karena sudah meremehkan dan tak memercayai selentingan orang-orang akan sosok yang ia tantang dengan keangkuhan.
"Jadi, siapa lagi yang mau uji nyali sama gue?" Bersedekap tangan, dengan satu kaki yang masih menginjak punggung pria sombong yang sudah menantangnya, gadis berusia dua puluh dua tahun, dengan surai coklat yang dicepol asal itu menaikan satu alis mata. Menatap tiga orang pria yang saling melempar lirikan dengan wajah gamang. Jika sang Bos saja tumbang, apalagi mereka?
Menggeleng kompak, mereka tak peduli dianggap pengecut. Selagi masih bisa menyelematkan diri dan tak berakhir menyedihkan seperti sang Bos. Gadis muda itu jelas bukan sosok sembarang. Tubuh tinggi semampai dengan wajah cantik kebule-bulean tak disangka memilki kemampuan berkelahi yang sangat piawai.
"Ah, nggak asyik lo semua." Mendengkus sebal, gadis itu menendang punggung pria yang terkapar di bawah kakinya. "Sekali lagi bikin ulah di wilayah Daddy gue, bakal gue gantung lo semua di tengah-tengah pasar."
Meneguk ludah kelu, ketiga pria itu menggeleng takut-takut.
"Maaf, Nona. Kami hanya menuruti perintah Bos."
Mengangkat wajah yang penuh luka lebam, pria itu menatap sengit salah satu anak buahnya yang tadi berbicara.
Kurang ajar! Harga dirinya benar-benar sudah tercerai berai. Ditundukkan gadis ingusan yang berhasil melumpuhkannya hanya dalam waktu beberapa menit.
"Minggat lo semua! Awas bikin resah lagi di sini."
Tergopoh-gopoh, mereka membantu sang Bos yang mengerang kesakitan untuk berdiri. Di papah dengan susah payah, sebelum kemudian beranjak pergi. Meninggalkan gadis cantik yang bak kutukan di siang bolong bagi mereka.
"Al!" Teriakan seseorang membuat gadis itu menolehkan kepala, melambai singkat pada pria yang usianya lebih tua dua tahun darinya.
"Oy!"
"Ay, oy, ay, oy! Kebiasaan," memberi jitakan dikening, pria muda itu berkacak pinggang.
"Ck! Mulai deh, ribet soal umur." Mengibaskan tangan tak acuh di depan wajah, gadis itu, Alexa. Bersiap mengayunkan langkah. Tapi terjeda saat lengannya ditahan. "Apalagi sih, Sak?"
Sakti, pria itu meneliti tubuh Alexa dari ujung sepatu, celana jeans belel yang bagian lutut serta pahanya robek-robek, kemeja kotak-kotak berwarna merah yang tak terkancing hingga memperlihatkan tank top hitam. Serta wajah putihnya yang sedikit memerah karena kepanasan dan dipenuhi peluh.
"Lo nggak apa-apa?"
"Begitu doang mah, cuma bikin ngantuk."
"Ck! Lo kenapa lawan mereka sendirian? Kan bisa minta bantuan anak-anak yang lagi mencar di pasar."
"Kalau gue bisa beresin sendiri, ngapain ribet minta bantuan?"
"Al, kalau ada apa-apa sama lo tadi, kepala gue sama anak-anak yang jadi taruhannya."
"Ah, drama lo. Udah deh, kan liat sendiri gue nggak apa-apa. Eh, apa-apa sih," ralatnya yang membuat Sakti seketika cemas.
Meletakan kedua tangan dibahu Alexa, Sakti meneliti kembali kondisi gadis itu lebih seksama. Memastikan tak ada luka yang mungkin saja terlewatkan oleh matanya. "Mana? Di mana yang luka? Tadi mereka sempet pukul lo?"
"Dih, siapa yang bilang luka?" Mengulum senyum, Alexa berusaha menahan semburan tawanya melihat wajah khawatir Sakti yang justru terlihat konyol di matanya.
Mengerutkan kening, Sakti dibuat bingung dengan sikap Alexa. "Bukannya tadi lo bilang apa-apa?"
"Iya, tapi bukan karena gue luka."
"Terus?"
Menepuk-nepuk perut, hingga membuat Sakti menurunkan pandangan dan ikut meletakkan atensi di sana. Alexa terkekeh geli, "gue lapar, oy!" Melepas kedua tangan Sakti dibahunya, Alexa melenggang pergi. Mengabaikan gerutuan pria di balik punggungnya.
"Al, tunggu!"
"Lo nggak awasi yang lain?" Menyusuri pasar yang masih cukup ramai meski hari sudah kian siang. Alexa melihat deretan lapak para pedagang. Mencari penjual makanan yang bisa menenangkan perutnya yang tengah merengek minta di isi.
"Udah, lagian nanti mereka laporan kalau udah selesai narik uang keamanan."
Mengangguk tanpa menatap Sakti yang sejak tadi memerhatikannya, Alexa masih fokus mencari pedagang yang menjual makanan.
"Ayo," meraih tangan kanan Alexa dengan tiba-tiba hingga membuat gadis itu berjengit karena terkejut. Sakti menarik pelan agar mengikutinya.
"Loh, mau kemana?"
"Lo lapar kan? Yaudah, ayo makan."
"Gue masih liat-liat, belum nentuin mau makan apaan."
"Udah, ikut gue aja."
Memberengut sebal, Alexa akhirnya memilih untuk mengikuti Sakti yang masih menuntunnya ke tempat yang belum ia tau.
"Lah, kok ke sini?" Alexa kira, akan diajak ke lapak pedagang yang menjual makanan. Tapi Sakti justru menuntunnya sampai ke parkiran.
"Pake," alih-alih menjawab kebingungan Alexa, Sakti justru mengulurkan sebuah helm.
"Mau kemana sih?"
"Cari makan kan?"
"Ngapain jauh-jauh. Di sini juga banyak yang jual makanan. Eh, atau ke warung baso Mang Jenggot aja deh. Mau makan baso isi telur gue."
Karena Alexa tak juga menerima uluran helmnya. Sakti akhirnya maju untuk mempersempit jarak diantara mereka. Mengabaikan ocehan Alexa soal baso Mang Jenggot yang menjadi langganan gadis itu. Sakti memakaikan helm dikepala gadis itu. "Khusus hari ini, baso Mang Jenggot di skip dulu ya."
"Loh, kenapa?"
"Karena gue mau ajak lo ke tempat lain?"
"Kemana?"
"Adalah pokoknya. Udah, ikut aja." Setelah memakai helm untuk dirinya sendiri, Sakti menaiki motor matic merah kesayangannya, sebelum kemudian mengedikkan dagu kearah jok belakang motornya. "Ayo naik, panas nih."
Berdecak, Alexa tak lagi mendebat. Gadis itu menurut dengan membonceng di belakang Sakti. Memegang jaket jeans pria itu. "Udah," lapornya yang membuat Sakti melajukan motornya.
Sepanjang perjalanan, Alexa yang masih digelayuti penasaran, terus bertanya tentang tujuan mereka. Tapi Sakti enggan membocorkan. Menahan dongkol, gadis itu melampiaskannya dengan menggetok belakang helm Sakti. Hingga membuat pria itu menggerutu.
Dan akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan. Turun dari atas motor, Alexa membuka helm, menatap tempat yang saat ini mereka datangi. "Astaga Sak, ngapain kita ke sini? Nggak usah gegayaan deh, baso Mang Jenggot udah cukup buat perut gue. Justru gue takut nggak cocok kalau makan di tempat beginian. Harga minumannya aja bisa setara dua mangkuk basonya Mang Jenggot."
"Udah, lo tinggal makan. Nggak perlu pusing masalah harga." Sakti yang sudah berdiri di samping Alexa, menepuk pelan kepala gadis itu.
Alih-alih bersorak-sorai karena mendapat traktiran, gadis itu justru memicingkan mata dengan wajah yang mendekat hingga Sakti memundurkan kepala. "Ngapain sih?" Keluh pria itu dengan telunjuk tangan kanannya yang ditempelkan ke kening Alexa dan mendorongnya pelan, hingga membuat wajah gadis itu menjauh.
"Lo lagi tajir hari ini? Gegayaan makan di kafe segala."
"Astaga, Al, makan di kafe doang ribet banget sih. Udah ayo," merangkul bahu Alexa, Sakti mengajak masuk gadis itu yang terus melempar pertanyaan padanya.
Menggaruk leher, Alexa masuk ke dalam dan mengedarkan pandangan ke sekitar kafe yang cukup ramai. Mungkin, karena sekarang sudah mendekati jam makan siang.
"Cari tempat duduk, bukannya bengong. Lo menghalangi jalan." Kembali merangkul Alexa, Sakti mengajak gadis itu mencari tempat duduk.
Keduanya kemudian memilih meja yang dekat dengan dinding yang sebagian besar dari kaca. Jadi, selagi menikmati santap siang, masih bisa melihat keadaan yang berada di luar. Kafe dengan desain minimalis modern yang tampak nyaman itu baru buka kurang dari seminggu.
Tak berapa lama, meja yang mereka tempati di datangi pramusaji yang menyapa ramah, sembari memberikan buku menu. Butuh beberapa lama sampai akhirnya Alexa memilih menu untuk makan siangnya. Gadis itu tampak kebingungan dengan deretan foto menu dengan nama yang kadang membuat lidahnya terbelit.
Setelah memastikan kembali pesanan Alexa dan Sakti dengan menyebutkannya, pramusaji tersebut undur diri.
"Lo pernah ke sini sebelumnya? Kok gue baru lihat ini kafe."
Sakti menggeleng, "gue juga baru pertama. Dan, ya, ini kafe memang baru buka."
"Kok lo bisa tau ada kafe baru?"
"Mas Sakti?" Suara seorang wanita menginterupsi pembicaraan mereka. Menoleh bersamaan, keduanya mendapati seorang wanita cantik yang merekahkan senyuman dan berdiri di samping meja yang mereka tempati. Fokusnya seketika terarah pada Sakti yang menggaruk-garuk kening dengan senyum yang lebih terlihat seperti ringisan.
"Ya ampun, akhirnya. Seneng banget bisa lihat Mas Sakti datang. Kok nggak bilang? Harusnya ngomong sama salah satu pegawaiku kalau datang, biar aku sambut. Untung aja aku keluar ruangan, pas tadi lagi lihat-lihat, aku nemu wajah familiar. Tadinya ragu-ragu buat nyapa, takut salah orang. Tapi syukurlah, ternyata benar-benar Mas Sakti yang ada di sini."
Astaga! nggak engap apa ya itu orang ngoceh panjang? Pikir Alexa yang menggaruk ujung hidung.
Wanita itu menatap Sakti dengan mata berbinar, seolah, pria itu adalah sosok paling menakjubkan yang ada di muka bumi ini.
Oh, oke, mungkin pemikiran Alexa terlalu berlebihan. Tapi, hei! Bagaimana bisa dia tak berpikiran seperti itu, kalau sejak tadi diabaikan bak makhluk tak kasat mata? Dan hanya menyapa Sakti seorang?
Menendang kaki Sakti dari bawah meja, Alexa melempar kedipan penuh kode. Beruntung, Sakti bisa tanggap akan maksudnya.
Berdeham, pria itu menegakkan posisi duduknya. "Oh, hai, Syeli."
"Syela, Mas," koreksi wanita itu dengan senyuman kaku.
Mengigit bibir bawah, dengan tangan terkepal di atas meja, Alexa berusaha menahan diri agar tak meledakan tawa. Astaga Sakti! Bisa-bisanya salah nama. Kasihan wanita cantik yang wajahnya tak lagi secerah matahari di jam dua belas siang seperti pertama kali menyapa dan menghampiri meja mereka. Sekarang, wajah wanita itu berganti muram, seperti dikerumuni awan cumulonimbus yang siap meluncurkan hujan lebat di iringi petir.
Meringis, Sakti menggumamkan permintaan maaf. "Kafenya keren." Tak bisa berbasa-basi, hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Makasih, Mas. Boleh pesan apa aja yang Mas Sakti mau, gratis."
"GRATIS?" Alexa yang sebelumnya hanya memerhatikan, tiba-tiba memekik heboh. Mengejutkan dua orang yang sejak tadi terlibat pembicaraan.
Mengerjap, Syela menatap lekat sosok Alexa. Dia terlalu fokus pada Sakti sampai tak menyadari jika sejak tadi, pria itu tak duduk sendirian.
"Oh, hai. Anda?"
Anda? Yaelah, formal amat? Ringis Alexa dalam hati. Waktu sama Sakti aku-kamu. Tapi giliran bicara padanya langsung berubah kaku.
Berdeham, Alexa berdiri dari duduknya, lalu mengulurkan tangan kanannya. "Halo, gue Alexa."
Sedetik, dua detik, tiga detik, senyum Alexa mulai meluruh saat tangannya yang masih terulur tak juga disambut Syela.
Kesal, Alexa menarik kembali tangan kanannya dan menggaruk ketiak.
"Hm, maaf, tadi habis dari dapur dan pegang cabai. Saya takut nanti tangan anda kepedesan."
Perasaan tadi bilangnya dari ruangan, bukan dapur. Ah, tau deh, yang penting sekarang buat Alexa adalah mengisi perutnya.
Ini masak kambing guling apa gimana? Lama amat?
Beruntung, tak lama Alexa menggerutu dalam hati, pelayan datang membawa pesanan mereka. Menatanya di atas meja, sebelum kemudian pamit undur diri.
Alexa pikir, perempuan yang menjadikan Sakti bak pusat dunianya akan segera pergi. Tapi dia justru menarik kursi kosong yang berada disebelah pria itu dan mendudukkan diri di sana.
Mencoba abai dan memfokuskan diri pada deretan makanan yang membuat perutnya dangdutan, Alexa nyaris meraih sebuah piring berisi makanan yang tampak lezat, tapi Syela sudah lebih dulu mengambilnya. "Pas banget Mas Sakti pesan ini. Salah satu menu andalan di kafeku."
Merengut masam, Alexa melirik sinis pada Sakti yang hanya bisa meringis. Kesal, ia lampiaskan dengan menendang kaki pria itu di bawah meja, lebih keras dari sebelumnya hingga membuat Sakti mengaduh.
"Kenapa Mas?" Syela yang baru saja meletakkan beberapa lauk di piring Sakti tampak terkejut sekaligus khawatir, melihat wajah pria itu yang kesakitan.
"Nggak apa-apa. Itu, digigit semut, aduh!" Hanya berselang beberapa detik, Sakti kembali mendapat tendangan maut dari Alexa.
"Ya ampun Mas, aku cari pegawaiku dulu ya, buat usir semutnya. Kok bisa sesakit itu? Semut api ya yang gigit?" Tanpa menunggu jawaban dari Sakti, Syela sudah lebih dulu bangkit dari duduknya. Berjalan tergesa-gesa mencari salah seorang pegawainya untuk dimintai tolong, mengusir semut yang membuat Sakti kesaktian.
"Apa?" Tanya Alexa judes, saat Sakti melirik kearahnya. "Ngusir semut aja heboh. Ngaku lo, itu cewek cem-ceman lo kan?"
"Astaga, harus cem-ceman banget ya bahasanya?"
Mengedikkan bahu tak acuh, Alexa menukar piringnya yang masih kosong dengan piring Sakti yang penuh dengan berbagai macam makanan yang diambilkan Syela. "Gue harus cepet makan sebelum cem-ceman lo datang."
Mengabaikan gerutuan Sakti, Alexa memilih sibuk dengan isi piringnya.