Tergopoh-gopoh, seorang pria paruh baya membukakan pintu mobil bagian penumpang yang berada di belakang, mempersilakan sosok bertubuh tinggi tegap itu untuk turun.
Dengan raut datar, tatapan tajamnya menatap lurus, membuat ciut nyali siapa pun yang berpapasan hingga tergesa membungkuk sembari mengucap selamat pagi.
"Bagaimana dengan perkembangan proyek yang kemarin bermasalah, apa sudah dibereskan?"
Meneguk ludah kelu, pria yang berusaha mensejajarkan langkah dengannya tampak melempar lirikan pada wanita yang hanya mengedikkan bahu. "Sedang diusahakan, Pak."
Di depan lift khusus petinggi perusahaan. Pria muda itu menatap sosok yang mengkeret takut hanya dengan lirikan darinya. "Cepat bereskan, atau kamu bereskan semua barangmu dan enyah dari perusahaan ini."
Dentingan suara lift yang tertangkap pendengaran membuat pria itu mengalihkan atensinya pada salah satu pegawainya yang sudah memucat. Tanpa ekspresi, pria itu masuk ke dalam lift dengan wanita yang merupakan sekretarisnya.
"Siapkan semua jadwalku hari ini."
"Baik Pak," mengeratkan pelukan pada beberapa berkas ditangannya. Wanita itu berusaha untuk tak membuat mood bosnya kian carut-marut. Astaga, ini bahkan masih terlalu pagi, tapi pria tampan yang sayangnya menyeramkan itu sudah membuat semua orang ketar-ketir. Tak terkecuali dirinya, meski sudah bekerja selama tiga bulan, menggantikan sekretaris lama yang memilih resign karena ikut dengan suaminya yang pindah ke luar kota.
Sesampainya di lantai yang dituju, pria itu berderap keluar dan segera memasuki ruangannya. Meninggalkan sang sekretaris yang menyeka keringat di pelipis sebelum mendudukkan diri dengan elaan napas panjang.
Segera merogoh tasnya, Devi mengeluarkan peralatan makeup untuk memperbaiki penampilannya, tapi sebelum itu, ia mengintip kearah pintu ruang kerja bosnya, agar tak ketahuan tengah mencuri waktu berdandan sejenak.
Setelah dirasa aman, baru kemudian Devi berkaca, menambahkan beberapa bedak dan lipstik, melihat deretan giginya untuk memastikan, nasi uduk dengan sambal yang tadi dimakannya sebagai menu sarapan tak meninggalkan kulit cabe di giginya yang belum lama di veneer.
Suara dering ponsel menyentak Devi, pergerakannya yang tengah menebalkan lipstik merah dibibir tipisnya sedikit melenceng. Tapi, dia tak memiliki waktu untuk melihat hasilnya karena tergesa mengangkat telepon yang berdering memekakkan telinga.
Berdeham, Devi bersiap menyapa. Tapi belum sempat dilakukan, suara lain sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Bawakan saya berkas kerjasama dengan perusahaan lain dua hari lalu, sekarang." Usai mengatakan itu, sambungan telepon terputus secara sepihak.
Mengatupkan bibirnya yang sempat ternganga. Devi mengela napas panjang untuk mempertebal kesabaran. Astaga, dia bahkan belum mengatakan apa-apa tadi. Tapi bos tampannya itu sudah berkata ke inti. Baiklah, sebelum mendapat amukan, Devi segera mencari apa yang pria itu minta. Bangkit dari tempat duduknya, wanita itu merapikan rok di atas lutut yang dikenakannya. Sebelum kemudian, mengayunkan kakinya yang berhias high heels dengan warna senada dengan lipstik yang menghias bibirnya.
Usai mengetuk pintu, suara berat dan terdengar merdu di pendengaran Devi mempersilakannya masuk. Membuka pintu, ia berusaha memperlihatkan senyuman anggunnya.
"Ini berkas yang anda minta Pak," hanya dengan membaui aroma parfum dari Bosnya saja sudah membuat Devi kelimpungan mengendapkan rasa gugupnya.
Sementara itu, Elang, yang sebelumnya fokus pada berkas kerjasama dengan perusahaan lain yang tengah dibacanya kemudian mengangkat wajah. Menerima apa yang disodorkan sekretarisnya. "Terima kasih."
"Iya Pak, sama-sama. Kalau begitu, pamit undur diri untuk kembali ke meja saya, jika sudah tak ada lagi keperluan lainnya Pak."
Usai mendapat anggukan dari Elang yang Devi anggap sebagai persetujuan, wanita itu kemudian melangkahkan kaki, berniat keluar ruangan. Tapi baru dua langkah, suara berat sang bos sudah kembali mengudara dan seketika menghentikan pergerakannya. "Iya Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
Dengan kedua lengan yang bertopang di atas meja, Elang menautkan jemari, memandang Devi yang tersenyum seperti ringisan. "Apa sekarang model memakai lipstik hingga ke pipi?" Tanyanya tenang.
Mengerjap, Devi tampak kebingungan. "Hah? Maaf Pak, maksud anda?"
Mengedikkan bahu, Elang kembali menundukkan pandangan dan fokus pada berkas yang tersuguh di hadapannya. Meski begitu, ia masih melanjutkan ucapan untuk sekretarisnya. "Tanya saja sama cermin. Silakan kembali ke tempat kamu."
Menggaruk pelipis, Devi akhirnya berpamitan sekali lagi, sebelum kemudian berlalu keluar dari ruangan Elang dengan tergesa.
Sesampainya di meja kerjanya, wanita itu menyambar cermin dan mengaca hanya untuk ternganga, mendapati coretan lipstik cukup panjang hingga ke pipi.
Ya ampun! Apa-apaan ini? Benar-benar memalukan!
Jatuh sudah harga dirinya di depan bos tampannya. Uh, menyebalkan!
Dengan bibir mencebik, wanita itu menjatuhkan diri di kursi kerjanya dengan mood yang sudah awut-awutan. Berusaha membenahi penampilannya sebelum kemudian melanjutkan pekerjaan sebelum ada surat peringatan yang mendarat di depan mata. Mengingat, bosnya itu, meski mengandung vitamin mata, tapi juga bisa membuat jantung ketar-ketir dengan tindakan tegasnya.
Elang sendiri masih fokus dengan tumpukkan pekerjaan yang seolah tak pernah ada habisnya.
Ponselnya yang berdering membuat Elang mengalihkan atensi sejenak pada benda pipih itu. Keningnya mengernyit saat menemukan nama sang kekasih yang tertera di sana.
Menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan, Elang menempelkan ponsel di telinga kiri, sementara tatapannya masih jatuh pada berkas yang tengah fokus dibacanya. "Halo?"
"Baby!" Rengekan yang tertangkap pendengarannya membuat sudut bibir Elang tertarik ke atas hingga membentuk senyuman.
"Kenapa Honey?"
"Mama kamu!" Rajuk sosok di seberang sambungan.
Mengela napas, Elang menutup berkas yang belum selesai dibacanya. Tau jika masalah yang akan mereka bicarakan membutuhkan atensinya secara utuh. "Kenapa sama Mama? Kamu udah di rumah?"
"Udah! Dan kamu tau? Aku pikir bakal diajak shopping atau ngobrol santai. Tapi apa? Aku justru diminta masak! Baby, ujung kuku kelingking aku lecet. Mana Mama kamu nggak sabaran kasih instruksi. Aku kan nggak tau harus pakai baking soda bukan maizena. Lagian ribet banget, kan sama aja bentuknya."
"Tapi kegunaannya beda Honey."
"Siapa yang peduli sih Beb? Aku nggak ya, by the way!"
Mengela napas panjang, Elang memilih untuk tak memperpanjang perdebatan dengan kekasihnya yang tengah merajuk. "Kenapa Mama ajak masak?"
"Katanya buat latihan pas nanti aku jadi istri kamu. Astaga, ribet banget kan? Terus buat apa ada asisten rumah tangga setengah lusin di rumah kamu? Kalau masak aja masih harus aku yang turun tangan sendiri?"
"Mama memang gemar memasak, meksipun sudah ada asisten rumah tangga di rumah."
"Kamu menghubungi Elang?" Samar-samar, Elang bisa mendengar suara sang Mama. Mungkin wanita paruh baya itu memergoki kekasihnya yang tengah menghubunginya.
"Sini, berikan pada saya."
"Tapi, itu Tante, saya masih mau ngomong sama My Baby, eh, Elang maksudnya."
"Dan kamu pikir, saya tidak butuh bicara dengan anak saya sendiri?"
"Ya bukan begitu maksudnya, Tan."
"Honey, bisa kamu berikan sebentar teleponnya pada Mama?" Elang bisa membayangkan wajah kesal sang kekasih. Tapi pada akhirnya, wanita itu memberikan telepon yang masih terhubung dengannya pada sang Mama. Terbukti, dengan suara wanita paruh baya itu yang kini tertangkap pendengarannya.
"Halo Elang? Nak?"
"Ma?"
"Kamu makan siang di rumah ya, cobain masakan perempuan pilihan kamu itu."
Menggaruk ujung hidung, Elang hanya bisa meringis mendengar panggilan sang Mama untuk kekasihnya. "Ma, jangan terlalu keras dengan Chintya."
"Keras apanya? Memang Mama ngapain? Orang cuma ajarin dia beberapa masakan kesukaan kamu. Biar nanti kalau sudah jadi istri udah jago."
"Ma, maaf Elang potong pembicaraannya." Menjauhkan ponselnya sejenak, Elang mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya untuk masuk. Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan Devi yang tersenyum canggung. "Ada apa?"
"M—maaf Pak, hanya ingin mengingatkan, sebentar lagi meeting di mulai."
"Ya, saya akan bersiap."
"Baik Pak, Saya permisi dulu." Usai mendapat anggukan kepala dari Elang, Renata segera kembali menutup pintu dan kembali ke mejanya. Mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk meeting nanti.
Sementara itu, Elang terpaksa mengakhiri panggilan dengan sang Mama.
"Tapi kamu makan siang di rumah kan?" Bujuk wanita paruh baya itu saat Elang hendak menutup telepon.
"Iya Ma, Elang usahakan."
"Yasudah," tanpa basa-basi, sang Mama menutup sambungan secara sepihak hingga Elang terbengong di tempat duduknya. Menggaruk pelipis, pria itu hanya bisa meringis. Kekasihnya pasti akan semakin merajuk. Tapi biarlah, untuk saat ini, Elang sudah harus menyiapkan diri untuk meeting sebentar lagi. Sebelum nanti pulang ke rumah agar bisa makan siang dan menghadapi dua wanita beda usia yang sama-sama keras kepala, tapi begitu ia cinta.
***
Sesuai janji, Elang memilih pulang saat jam makan siang. Dan tak mau mengecewakan sang Mama serta kekasihnya.
Sesampainya di rumah, pria itu mencari-cari keberadaan dua wanita yang sebelumnya ribut menelponnya.
"Ma," Elang berderap cepat menuju wanita paruh baya yang tengah mendorong kursi roda menuju kearahnya. "Chintya mana?"
"Ck! Datang-datang bukannya kasih salam tapi sibuk cari pacarnya." Omelan sang Mama membuat Elang meringis. Berjongkok agar bisa mensejajarkan tubuh, ia mengucap salam, mencium punggung tangan sang Mama dan memberi pelukan pada wanita paruh baya itu.
"Pacar kamu kabur."
"Hah?" Mengerjap, Elang mengelus belakang lehernya, "maksudnya, Ma?"
"Iya, tadi abis telepon kamu, dia bilang harus pulang karena ada urusan. Mama bukannya berpikiran yang nggak-nggak, tapi nebak aja kalau itu cuma akal-akalan supaya bisa kabur."
"Ma," panggil Elang pelan.
"Apa? Mau bilang jangan terlalu keras sama pacar manja kamu itu?"
"Bukan begitu, Ma."
"Sudah, ayo makan siang. Urusan pacar kamu bisa nanti. Sekarang, perut kamu yang jauh lebih penting."
Mengangguk pasrah, Elang berdiri dari posisi berjongkoknya. Menempatkan diri di belakang sang Mama untuk mendorong kursi rodanya menuju meja makan.
Setelah ini, ia harus memutar otak untuk mencari cara meluluhkan kekasihnya yang pasti tengah merajuk.
Sejak dulu, Elang tak pernah main-main dengan komitmen. Ia tak mau menjadi seperti sang Papa yang dengan teganya pergi meninggalkan istri yang menemani sedari dulu dan memberikan putra. Hanya untuk bersama mantan pegawainya yang lebih muda.
Pengkhianatan sang Papa membuat Mamanya terpuruk. Di tengah keadaan kalut, wanita itu mengendarai mobilnya seorang diri di tengah hujan deras. Usai mendapati sang suami dengan perempuan lain di sebuah rumah minimalis berlantai dua yang rupanya pemberian pria itu untuk simpanannya.
Kecurigaannya pada sang suami membuatnya menugaskan seseorang untuk mencari tau. Dan, kenyataan pahit itu harus diterimanya. Saat perubahan sang suami, di karenakan wanita lain yang usianya hanya terpaut lebih tua tiga tahun dengan putra mereka sendiri.
Seolah belum cukup, kemalangan lainnya datang menghampiri. Lewat kecelakaan tunggal yang membuatnya harus berakhir dengan duduk di kursi roda setelah kakinya dinyatakan mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tersebut. Hal lainnya datang berupa sebuah surat perceraian.
Di tengah keadaannya yang membutuhkan dukungan, sang suami justru mengirimkan surat gugatan cerai usai perselingkuhannya terungkap, alih-alih meminta maaf. Beruntung, masih ada Elang yang membuatnya tetap bertahan dari semua rasa sakit dan kekecewaan yang datang bertubi-tubi.
Jadi, bukan sebuah hal yang berlebihan, saat dirinya menginginkan pendamping terbaik untuk putra satu-satunya yang sangat berharga baginya, bukan?