Bocah itu meringkuk dengan napas tersengal-sengal dan tubuh gemetaran. Tenaganya telah terkuras, tak lagi bisa mengandalkan kedua kakinya yang lunglai karena kelelahan. Terlebih, perut kurusnya belum terisi apa pun. Dua bungkus roti dan satu botol air mineral yang nyaris menjadi penghuni perutnya terjatuh entah di mana saat kakinya yang tak mengenakan alas memacu cepat, agar bisa melarikan diri dari amukan orang-orang setelah ibu penjual warung meneriakinya maling.
Kata-k********r, tendangan, serta ayunan pukulan menghujaninya yang hanya bisa menahan erangan kesakitan.
"Sudah! Cukup! Ada apa ini?" Suara tegas seseorang menginterupsi aksi main hakim sendiri yang dilakukan orang-orang. Ia tak berani mengalihkan lengan kurusnya yang digunakan melindungi kepala untuk sekadar mengintip, siapa yang berhasil menghentikan keganasan orang-orang itu padanya?
"Ini bocah maling, Bos! Tadi gue lagi ambil setoran dan ada Ibu penjual warung yang teriak maling. Nah, itu si Ibunya," tunjuk pria tinggi dengan kaus tanpa lengan, pada seorang wanita paruh baya yang mengangguk takut-takut.
"Maling apa dia? Uang Ibu?"
"Bukan, itu, kalau tidak salah, roti sama air minum."
"Udah, bubar semua, biar gue yang urus ini bocah!" Seru pria itu yang merupakan Tio, kemudian membuat kerumunan perlahan memudar. Tentu saja tak ada yang berani menentang salah seorang preman yang ditakuti di wilayah tersebut.
Merogoh saku celana, Tio menyerahkan uang lima puluh ribuan pada Ibu warung yang tadi kecurian. Wanita itu menatap Tio dan uang yang pria itu sodorkan secara bergantian. "Ini Bu, anggap aja sebagai ganti rugi sama yang bocah itu curi tadi." Jelasnya karena Ibu tersebut hanya diam dan menatapnya takut-takut. "Apa uangnya kurang? Dia nyuri apalagi?"
Menggeleng cepat, Ibu warung itu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, "oh, nggak, bukan begitu. Uang ini justru kebanyakan. Yang bocah itu curi jumlahnya nggak sampai segitu."
"Nggak apa-apa, sisanya buat Ibu, tolong terima ya?"
Menimbang sejenak, Ibu tersebut berusaha mengendapkan rasa ragu dan akhirnya menerima uang pemberian Tio. "Terima kasih," ucapnya dengan suara kecil, sebelum kemudian, tatapannya jatuh pada bocah laki-laki yang tadi mencuri di warungnya. Melihat kondisinya yang tampak kumal dan meringkuk ketakutan membangkitkan rasa ibanya. "Saya, sebenarnya nggak ada maksud bikin dia jadi bulan-bulanan seperti tadi. Saya refleks teriak maling karena kaget, dia ambil jajanan di warung saya terus lari." Ucapnya yang merasa bersalah, "kalau minta baik-baik pasti saya kasih."
Mengangguk mengerti, Tio memberi senyuman kecil. "Tidak apa-apa, Ibu bisa kembali ke warung. Dia, biar saya yang urus."
Mengangguk patuh, Ibu pemilik warung itu akhirnya melangkah pergi, meski sesekali menoleh pada bocah menyedihkan itu.
Setelah semua kondusif, Tio fokus pada bocah asing yang tadi sempat menjadi bulan-bulanan. Berjongkok di samping bocah itu yang masih meringkuk ketakutan, Tio berusaha mendekatinya dengan hati-hati.
"Nggak perlu takut, nggak akan ada yang pukul kamu lagi."
Lengan kurus yang tampak gemetaran itu perlahan berpindah dari atas kepala, mendongakkan wajah, dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Tak ada lagi kerumunan orang dewasa yang menatapnya bengis. Melemparkan k********r yang disertai pukulan dan tendangan pada tubuh ringkihnya.
"Siapa nama kamu?"
Meletakan atensi pada sosok Tio, bocah itu meremas ujung kaus lusuhnya. "Sakti, nama saya Sakti, Om."
"Sakti?" Ulang Tio sembari mengangguk. "Kenapa mencuri?"
"Lapar, saya kelaparan." Menggigit bibirnya yang kering dan pucat dengan pelan, Sakti menahan laju air matanya yang sudah bergumul di pelupuk mata. Dia tak boleh menangis, jika Ayahnya tau, bisa-bisa dipukul. Karena menurut pria itu, anak laki-laki tidak boleh cengeng dan bersikap payah.
Tapi, ayahnya sekarang tak ada kan? Sudah nyaris satu bulan, pria itu tak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan di saat sang Ibu mengembuskan napas terakhir karena sakit keras yang di deritanya selama ini.
Pekerjaan sebagai buruh cuci dan penghasilan seadanya, membuat wanita itu memilih menelan segala rasa sakitnya sendiri. Yang terpenting, perut keluarganya terisi. Mirisnya, dengan uang pas-pasan yang Ibunya miliki pun, kadang diambil paksa sang Ayah. Berdalih agar bisa mendapat uang banyak dengan cara cepat untuk biaya pengobatan Ibunya.
Pada kenyataannya, pria itu justru hanya menambah beban. Karena, alih-alih mendapat keuntungan, semua uang yang dijadikan taruhan lenyap dalam sekejap mata karena pria itu selalu menelan kekalahan.
Meski begitu, sang Ayah tak pernah kapok, justru kian kecanduan.
Demi menambah penghasilan, meski tak seberapa. Sakti diam-diam bekerja dengan mengumpulkan barang-barang bekas yang kemudian dijualnya.
Naas, dua minggu lalu, sewaktu pulang ke rumah dengan uang hasil memulungnya, Sakti mendapati sang Ibu yang terbujur kaku di kasur lantai usang rumah kontrakan mereka.
Ibunya telah pergi, meninggalkannya seorang diri karena sang Ayah pun tak diketahui keberadaannya. Terakhir kali yang Sakti ingat, Ayah dan Ibunya bertengakar hebat. Pria itu merampas tabungan yang diam-diam Ibunya sembunyikan. Gelap mata, sang Ayah tak segan mengayunkan tangan pada tubuh ringkih istrinya yang selama ini sudah bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga.
Sakti tak bisa tinggal diam, dengan keberanian yang hanya segenggam tangan. Bocah itu memukul serampangan tubuh besar Ayahnya. Tentu saja perlawanan yang dilakukannya tak berarti apa-apa. Hanya dalam sekali pukulan, tubuhnya tersungkur hingga keningnya membentur sudut meja dan mengeluarkan darah.
Sang Ibu menjerit histeris. Sementara Ayahnya kian murka dan melempar k********r pada Sakti yang dianggapnya pengganggu. Tanpa perasaan, pria itu dengan tak acuh keluar dari rumah kontrakan mereka dengan mengantongi uang hasil kerja keras istrinya.
Setelah itu, Sakti tak pernah lagi melihat sosok Ayahnya. Ia pun tak peduli dan menganggap jika pria itu tak lagi ada dihidupnya.
Sepeninggal sang Ibu, Sakti menghidupi dirinya sendiri dengan uang hasil mengumpulkan barang-barang bekas. Sayangnya, bocah itu lupa, jika rumah yang ditinggali bukan milik kedua orangtuanya. Mereka hanya mengontrak. Dan ketika sang pemilik kontrakan menagih uang padanya, dia jelas kebingungan. Mengingat, uang yang dimiliki hanya cukup untuk makan.
Sejujurnya, pemilik kontrakan itu merasa kasihan pada nasib malang yang menimpa Sakti. Sayangnya, ia tak bisa berbuat banyak. Terlebih, tengah membutuhkan uang di tengah kondisi ekonominya yang juga kurang bagus. Jadi, dengan sangat terpaksa, ia meminta Sakti untuk meninggalkan kontrakan tersebut karena akan ada pemilik baru.
Beberapa hari terlunta-lunta di jalan. Tidur di emperan ruko yang tutup tiap malam. Makan dengan mengais tempat sampah, mencari sesuatu yang masih tampak cukup layak untuk di simpan di dalam perutnya. Sampai kemudian, Sakti gelap mata. Saat perutnya kian terasa perih karena cukup lama tak di isi.
Melihat sebuah warung yang tampak sepi, bocah itu akhirnya beraksi. Mengambil dua bungkus roti dan satu botol air mineral. Jantungnya berdegup kencang saat sang pemilik warung meneriakinya maling. Tubuh kurusnya kian gemetaran saat orang-orang berdatangan untuk mengejarnya.
Tak lagi memiliki tenaga, Sakti tersungkur. Dengan kerumunan orang dewasa yang mencerca dan mengayunkan pukulan ditubuh kurusnya.
Di tengah keadaan mencekam yang tengah menimpanya, Sakti membayangkan sosok sang Ibu. Tak apa jika pada akhirnya dia harus menyusul wanita yang paling disayanginya itu. Dibanding hidup sebatang kara tanpa tujuan.
Tapi, harapan Sakti sepertinya terpaksa pupus. Ketika tak lagi dihujani pukulan setelah suara berat menginterupsi orang-orang yang termakan kemarahan.
Saat akhirnya memberanikan diri menatap seseorang yang telah menolongnya. Sakti ketakutan, pria bertubuh kekar dengan rahang yang dipenuhi brewok itu menatapnya dan melempar beberapa pertanyaan padanya.
"Orangtua kamu kemana?"
Sakti menggeleng, dengan bulir air mata yang akhirnya meluncur turun, membasahi wajah kusamnya. "Tidak ada," jawabnya bak sebuah bisikan. Tapi beruntung, masih tertangkap pendengaran Tio.
"Rumah kamu di mana? Sekarang tinggal sama siapa?"
Tio pikir, mungkin bocah itu tinggal dan diurus oleh sanak saudara karena kedua orangtuanya sudah tidak ada. Tapi gelengan kepala yang Sakti berikan membuatnya mengerutkan kening.
"Tidak ada Om, saya tidak punya rumah."
"Terus kamu tidur di mana?"
"Di mana aja Om, seringnya di emperan toko kalau sudah tutup."
Mengela napas panjang, Tio tampak terdiam sejenak. Seolah menimbang sesuatu. Dan sebuah pertanyaan yang pria itu ajukan kali ini membuat Sakti tertegun.
"Kamu mau ikut dengan saya? Tinggal di markas bersama saya dan teman-teman saya yang lainnya?"
Wajah yang sebelumnya tampak menyeramkan itu memudar, kini, sosok Tio tampak bak penolong di tengah kehidupan Sakti yang carut-marut.
Sejujurnya, masih ada rasa takut yang terselip dibenak bocah itu. Apalagi dia tak mengenal Tio. Bagaimana jika pria asing itu tak sebaik yang dia kira? Bagiamana kalau pada akhirnya ia kembali mendapat pukulan yang sering di alaminya? Atau yang lebih menakutkan, bagaimana kalau dia dijual?
Tapi Sakti tak memiliki tempat tujuan. Dia juga tak mau terus terlunta-lunta di jalanan. Seterbiasa apa pun hidup keras yang menerpanya sejak dulu, dia tetap seorang bocah yang butuh perlindungan. Dan sekarang, ada sosok asing yang menawarkan itu padanya.
Menelan ragu, Sakti menganggukkan kepala takut-takut. Memilih untuk mencari peruntungan di tengah kemalangan hidupnya selama ini.
Setelahnya, Tio membawa Sakti ke Markas. Keberadaan bocah itu yang terus menempel padanya menarik perhatian semua orang. Terutama dua sahabatnya.
"Anak siapa yang lo culik?" Bimo yang masih mengenakan celemek bunga-bunga dan sebuah spatula ditangan kanannya mendekat, memerhatikan Sakti yang terus menunduk takut.
"Lo mau masak?" Tak menjawab pertanyaan Bimo, Tio justru memberi pertanyaan pada sahabatnya itu.
"Iya, Al mau nasi goreng buatan gue."
"Sekalian bikin dua porsi ya?"
"Emang lo belum makan?"
"Bukan buat gue."
"Lah, terus? Buat siapa?"
Menurunkan pandangan, Tio mengedikkan dagu kearah Sakti. "Buat dia," ucapnya yang membuat Bimo kembali tergelitik rasa penasaran.
"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, oy! Anak siapa yang lo bawa?"
Mengela napas panjang, Tio menepuk pundak sahabatnya. "Nanti gue ceritakan semuanya."
Menelan dongkol, Bimo terpaksa menurut.
Juned sendiri tak banyak bicara, pria gondrong itu hanya memerhatikan dari tempat duduknya sembari menikmati minumannya.
"Ron," panggil Tio pada salah seorang anak buahnya.
"Iya, Bos?"
"Ned, baju yang waktu itu lo beli buat Al kegedean masih ada?"
"Masih," jawab Juned dengan anggukan kepala pelan.
"Modelnya kayak baju anak cowok kan?"
Juned kembali mengangguk. Dia memang membelikan baju dan celana jeans untuk Alexa, sayangnya, ukurannya terlalu besar. Karena membeli lewat online dan malas harus menukar. Jadi hanya di simpan.
"Buat ini bocah aja, daripada sayang nggak kepake."
Menyugar rambutnya yang cukup panjang, Juned bangkit dari duduknya. "Oke, gue ambil dulu."
Tak lama, Juned kembali dengan kantong plastik berisi baju dan celana yang tadi diminta Tio. "Nih," ucapnya sembari menyodorkan pada Tio yang segera menerima.
"Ini baju sama celana ganti buat kamu." Tio menyerahkannya pada Sakti yang menerima dengan haru. Anak itu bahkan lupa, kapan terakhir kali mendapat baju baru?
"Ron, anterin ke kamar mandi. Dia butuh bersih-bersih." Titah Tio yang dengan sigap diangguki Roni, salah seorang anak buahnya. "Kamu ikut sama Kakak itu, mandi dulu, abis itu makan."
"Makasih, Om."
Mengangguk singkat, Tio menepuk pelan kepala Sakti. Membiarkan anak itu mengikuti Roni yang akan memberitahu letak kamar mandi yang berada di lantai bawah.
"Daddy!" Pekikan itu membuat Sakti berhenti sejenak, menolehkan kepala dan tatapannya bersirobok dengan gadis cantik yang juga tengah mengamatinya.
"Astaga Sayang, maaf, Daddy lupa. Udah lapar ya?" Tergopoh-gopoh menuju Alexa, Bimo segera menggendong gadis itu. "Sama Ayah dulu ya, Dady bikin nasi gorengnya." Menyerahkan Alexa pada Tio, Bimo bergegas menuju dapur. Bersiap membuat nasi goreng untuk putri cantiknya dan bocah yang namanya tak ia tau siapa? Setelah ini, dia akan mengintrogasi Tio.
"Eh, bocah, ayo cepetan." Teguran Roni membuat Sakti mengangguk cepat, dan bergegas melanjutkan langkah mengikuti pria itu. Meski sesekali mencuri pandang pada gadis kecil yang juga masih menatap kearahnya.
"Ayah," panggil Alexa pelan, setelah tak lagi bisa menangkap keberadaan Sakti.
"Iya, Sayang?"
"Yang tadi itu, siapa?" Sembari merangkul bahu Tio, Alexa yang tak lagi bisa menahan rasa penasarannya, segera melempar tanya akan sosok asing yang baru dilihatnya.
"Namanya Sakti, Al mau temenan sama dia?"
Memainkan brewok dirahang Tio, Alexa tampak berpikir sejenak. "Memangnya, boleh?"
"Kenapa nggak?"
"Dia mau temenan sama, Al?"
"Siapa yang nggak mau temenan sama anak Ayah yang paling cantik ini?"
"Teman-teman di sekolah Al, nggak mau."
Senyuman Tio pudar mendengar ucapan gadis cantiknya. Berdeham canggung, pria itu kemudian mengajukan tanya. "Al, masih nggak mau sekolah?" Sudah hampir dua minggu Alexa tak masuk sekolah. Tio terpaksa memberi alasan jika putrinya masih dalam keadaan tak sehat. Bimo meminta agar Alexa sebaiknya home schooling jika memang tak mau lagi ke sekolah. Sementara Juned, memilih menyerahkan semuanya pada Alexa sendiri. Yang secara tidak langsung, menuruti permintaan gadis kecil mereka.
Sayangnya, Tio masih berharap jika Alexa mau tetap sekolah. Tapi dia juga tak ingin memaksa.
"Ayah?"
"Iya, Sayang?" Tio mengerjap, berdeham untuk mengembalikan fokusnya yang sempat terseret lamunan.
"Al, mau sekolah lagi," ucapnya yang membuat Tio dipenuhi kelegaan. "Tapi kalau ada temannya."
"Kan nanti di sekolah ada."
"Sekolahnya sama anak tadi ya?"
Mengerutkan kening, Tio tampak bingung, sebelum kemudian, sosok Sakti terbersit di kepalanya. "Maksud Al, Sakti?" Tanyanya yang diangguki sang putri. "Al mau sekolah, asal Sakti ikut sekolah juga?" Kembali mendapat anggukan dari Alexa. Tio saling melempar lirikan dengan Juned yang sejak tadi memerhatikan pembicaraannya dengan Alexa.
Setelahnya, mereka mengadakan pembicaraan. Sempat dibumbui perdebatan. Terlebih, akan rencana Tio yang ingin menyekolahkan Sakti bersama Alexa.
Beruntung, keputusan Tio rupanya sangat tepat. Tak sekadar mau kembali sekolah, keberadaan Sakti juga membuat Alexa lebih bersemangat dan ceria karena akhirnya memiliki seorang teman, dan tak lagi terkungkung kesepian.
Hingga bertahun-tahun kemudian, Alexa dan Sakti bak sepasang sandal yang selalu bersama. Tak sekadar di bangku SD, tapi hingga SMP dan SMA. Sayangnya, keduanya sepakat untuk tak melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah. Meski ketiga Ayah Alexa bersedia memberi biaya.
Sakti, tak ubahnya bayangan seorang Alexa. Karena pria itu selalu ada untuk gadis itu.