"Rumah siapa?" "Kita." "Hah! Gimana? Kita?" Elang hanya memberi anggukkan singkat, sebelum kemudian masuk ke dalam rumah dua lantai bergaya minimalis sembari menggeret koper mereka berdua. Berdecak sebal, Alexa yang masih digelayuti rasa bingung tetap mengekori pria itu. "Ada dua kamar di lantai atas. Dan satu kamar tamu di lantai bawah. Kamu bisa pilih kamar yang cocok untuk kita." Kita? Kenapa Elang terus menyebut kata itu? Karena jujur saja, Alexa merasa telinganya gatal setiap kali mendengar pria yang telah berstatus sebagai suaminya itu menyebut kata kita. Seolah mereka memang memiliki kedekatan. Sayangnya tidak. Apa yang kini mengikat mereka sebatas formalitas. Meski Alexa tau jika Elang hanya tengah berpura-pura sebagai suami idaman. Sebelum pada akhirnya pria itu akan mengh

