Sakti bergegas pergi meski hari masih cukup pagi untuk bertamu ke rumah orang. Terserah! Dia tak peduli! Rasa resah yang menggerogoti perasaannya sejak semalam tak lagi bisa dipendam. Sungguh! Itu benar-benar membuatnya kelimpungan. Jadi, menitipkan pesan pada salah seorang penghuni markas, untuk menyampaikan pada ketiga Ayah angkatnya jika dia keluar sebentar. Sakti bergegas pergi. Untuk memejamkan mata pun begitu sulit. Nyaris lima menit sekali ia coba hubungi Alexa, atau mengirimkannya pesan. Tapi, tak ada satu pun panggilan darinya dijawab. Sama seperti puluhan pesannya yang terabaikan. Gadis itu marah. Ah, tidak. Tapi murka. Dan hal itu jelas sesuatu yang sangat gawat. Level kemarahan Alexa yang paling tinggi adalah mengabaikan. Jika masih sekadar kesal, gadis itu biasanya aka

