Mama kembali menangis sesenggukan. Aku dan Alex berusaha menangkan dan menghibur mama yang tidak hentinya menangis. Di saat seperti ini hanya papa yang bisa menenangkannya namun saat semua orang membutuhkannya dia menghilang. Papa malah asik berbincang dengan teman-temannya. “Ma, sudah ya. Ana cuma pindah tidur saja. Ana tidak pergi jauh,” ucapku berharap tangisan itu mereda. “Mama khawatir sama kamu, Ana. Kamu gak bisa masak, nyetika pun gak pernah, apa lagi beres-beres rumah. Lebih baik kamu tinggal sama mama biar mama gak kesepian.” Kutatap Alex bermaksud untuk meminta bantuan tapi pria itu hanya tersenyum bahkan hampir tertawa. “Mama tenang saja, tidak perlu khawatir akan hal itu. Saya akan menjaga Ana dengan baik.” Mama menangis memeluk Alex. Aku segera pergi membiarkan Alex m

