Ide konyol tercetus setelah kami berdebat. Acara lamaranku tinggal menghitung hari. Walau sudah dekat tapi Bagas tidak pernah menghubungiku kecuali ada yang penting. Aku bersyukur untuk hal itu sehingga masalahku dengan Alex bisa terselesaikan tanpa ada gangguan dari Bagas. “Kamu mau bunuh diri, ya?” tanyaku. “Ana, percaya sama saya semua akan baik-baik saja. Apa pun resikonya saya akan hadapi. Walau saya akan di caci maki saya akan terima asal pernikahan kamu dan Bagas dibatalkan.” Ide gila dari Alex akan menambah masalah lagi. Bagaimana bisa ia mengundang keluarga Bagas dan keluargaku makan malam bersama lalu ia akan melamarku di depan mereka. Ini sama saja bunuh diri. “Alex pikirkan baik-baik. Orang tua Bagas tidak akan menerimanya dengan mudah.” “Untuk itu saya butuh bantuan pa

