Pukul empat sore seperti janjiku pada Melody untuk bertemu di café. Sudah lebih dari sepuluh menit aku menunggu namun ia belum juga datang. Mungkin karena aku datang lima menit lebih awal dari waktu yang disepakati sehingga terasa sangat lama. Lonceng pintu berbunyi setiap kali ada tamu yang masuk. Suaranya nyaring sampai membuatku tertarik setiap kali benda itu berbunyi. Apa mungkin rasa cintaku terlalu besar untuk Alex sampai-sampai aku melihat dia berjalan memasuki cafe. Jantungku berdebar kencang, ada rasa panas yang mengaliri seluruh tubuhku. Kalau tahu Alex akan datang mungkin aku akan memilih pakaian yang lebih bagus dari sekadar rok jeans selutut dan baju kaos biasa. Penampilanku terlalu sederhana. “Ana, kamu di sini?” sapanya membuat wajahku memanas. “I-iya, sa-saya menunggu

