Moza menatap ngeri tumpukan pakaian dengan merk tak main-main di hadapannya. Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa, untuk menyelamatkan harga dirinya yang kini menggelinding bebas menerjang kerasnya bebatuan. "Wanita itu benar-benar sudah gila!" desis Moza mengeram tertahan. Seumur hidupnya, ia tak pernah sekedar mencuci satu potong pun pakaian kotornya. Dan sekarang, di negara asing ia harus bekerja sebagai buruh cuci di rumah seorang sultan gila. Membuat ia benar-benar kehilangan martabatnya sebagai seorang mantan supermodel. "Apa yang kau katakan Rosalinda?" tanya Humaira yang tanpa sengaja mendengarkan gerutuan Moza. Moza mendelik tajam ke arah wanita muda di sampingnya. "Sudah berapa kali aku katakan, namaku Moza! M O Z A! apa kau tak bisa mengeja dengan benar, hah?!" emosi Moza sud

