"Restoran Dalet..Rupanya kau masih suka mengkonsumsi makanan vegetarian sayang." Gumam elardo setelah membaca papan nama restoran yang mereka datangi.
Di sana menyediakan menu diet bagi seorang vegetarian. Dan Elardo sangat mengetahui dengan pasti, apa yang menjadi kesukaan dan kebiasaan sang kekasih.
Moza selalu takut memiliki tubuh yang gemuk. padahal sepanjang penglihatan Elardo, tubuh Moza berada dalam porsi proporsional. Namun sebagai seorang model, Moza selalu menjaga pola makannya dengan ketat.
Ia tak suka jika jarum timbangannya bergeser setengah inci saja menuju ke kanan. Moza akan langsung terserang panik luar biasa, dan berusaha untuk menurunkan berat badannya melebihi jumlah kenaikan berat tubuhnya sendiri.
"Ayo kita masuk, aku tak sabar untuk mendapatkan kabar mengenai kekasihku Harlan." Ujar Elardo penuh semangat.
Harlan hanya bisa mengekori tuannya memasuki restoran tersebut. Seorang pelayan berjalan cepat menghampiri pria penguasa itu. Dengan senyum lebar penuh keramahan, pelayan tersebut menyambut kedatangan Elardo.
Siapa yang tak merasa tersanjung, jika tempat kerjanya di kunjungi oleh sosok Elardo Aarav. Terlebih kini sosoknya terlibat dalam misi penting untuk menemukan informasi mengenai kekasih pria itu.
"Selamat siang tuan, senang akhirnya bisa berjumpa langsung dengan anda." Sapa sang pelayan tersenyum ramah.
"Langsung saja!" Suara berat Elardo membuat sang pelayan sedikit gentar. Ia tak yakin Elardo akan senang saat mengetahui bila kekasihnya datang ke sana bersama pria lain.
"Silahkan duduk terlebih dahulu tuan," sahut pria muda itu dengan suara yang sedikit gugup. " Silahkan mengikuti saya, kami sudah menyiapkan tempat duduk dengan pemandangan terbaik untuk anda nikmati dari balik jendela kaca di sebelah sana." Ujar si pelayan mencoba tetap beramah tamah walau degup jantungnya sedikit tak berkompromi saat ini.
Setelah mengarahkan Elardo ke sebuah meja di sudut restoran, pria tadi memanggil beberapa pelayan lain untuk menghilangkan menu terbaik restoran tersebut. Rupanya pria itu pula adalah putra pemilik restoran yang sedang dalam misi dari sang ayah, sebelum ia di percayakan untuk memegang kendali restoran berikutnya.
"Aku tak datang untuk makan. Jadi, bisa kau langsung saja pada topik yang seharusnya kita bahas saat ini." Rupanya Elardo bukanlah tipe pria sabar.
Si pelayan bahkan belum mengenalkan siapa dirinya, namun Elardo sudah dua kali mendesaknya untuk segera berbagi informasi mengenai wanita bernama Moza.
Si pria berdehem pelan untuk menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyerangnya.
"Maaf sebelumnya tuan, bila informasi yang akan saya sampaikan kepada anda tak sesuai dengan harapan. Tiga hari yang lalu nona Moza memang berkunjung kemari, untuk pertama dan terakhir kalinya aku melihat kekasih anda. Karena esok harinya, nona Moza tak lagi berkunjung kemari atau sekedar memesan makanan dari restoran kami seperti hari-hari sebelumnya. Ku pikir...."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin, bila wanita itu adalah Moza kekasihku? Ada jutaan Moza di muka bumi ini, kenapa kau langsung berasumsi bahwa wanita itu adalah tunanganku?" Elardo memotong kalimat si pelayan dengan nada penuh selidik.
"Siapa yang tak mengenal nona Moza tuan...selain merupakan seorang model ternama, nona Moza juga merupakan tunangan dari pria hebat seperti anda. Seluruh kota kecil ini mengetahuinya. Tak ada informasi yang bisa tersembunyikan terlalu lama tanpa di ketahui oleh seluruh isi kota." Jawab si pelayan tanpa rasa ragu.
Elardo bergeming. Ia tak menyanggah, hanya mencerna apa yang pria itu sampaikan kepadanya dengan penjelasan yang dapat ia pahami dengan baik.
"Bersama siapa kekasihku berkunjung kemari?" Kembali suara bas tersebut menguar. Kali ini si pelayan menatap ke arah Harlan sejenak sebelum menjawab pertanyaan sensitif tersebut.
Anggukan kecil Harlan membuat pria itu akhirnya menjawab walau dengan sedikit bumbu dusta di dalamnya.
"Bersama seorang teman wanitanya tuan. Sepertinya mereka cukup dekat, karena nona Moza begitu akrab dengan temannya tersebut." Sahut si pelayan sedikit gugup.
Jelas cukup dekat, karena Moza tampak begitu menikmati kebersamaan tersebut dengan senyum sumringah sepanjang penglihatannya.
Elardo masih terdiam. Pria itu seolah tak percaya dengan jawaban sang pelayan. Moza tak pernah sekalipun dekat dengan teman wanitanya, selain wanita yang kini berada dalam belenggu penjara ciptaannya.
"Bagaimana ciri-ciri spesifik wanita yang bersama kekasihku?" Tanya Elardo membuat nafas si pelayan tercekat. Ia tak memikirkan hingga sejauh itu pertanyaan yang akan Elardo tanyakan. Tampak reaksi gugup mencuri perhatian Elardo. Mata setajam belati itu menatap si pelayan dengan tatapan penuh selidik.
"Wanita itu... memiliki postur tubuh yang sedikit lebih berisi dari nona Moza. Sedikit lebih tinggi dan berkulit kecoklatan eksotis." Terang si pelayan mencoba menggambarkan wanita yang menjadi teman dari tunangan pria itu.
Entah jawaban cukup memuaskan atau tidak, yang jelas dirinya sudah mencoba untuk memberikan jawaban yang Elardo minta. Semua di luar rencana, membuatnya sedikit kehilangan fokus akibat pertanyaan tersebut.
Elardo menarik nafas berat. Entah mengapa jawaban pelayan itu justru membuatnya ragu.
"Baiklah, terimakasih atas informasi yang telah kau berikan. Aku akan menghabiskan hidangan ini. Aku akan memberikan rating terbaik untuk semua menu yang terhidang saat ini. Kau bisa memotretku dengan jarak yang kau inginkan, tapi aku tak ingin bila kau meminta untuk berfoto bersama." Pungkas Elardo akhirnya memilih untuk tidak lagi memperpanjang pertanyaan, yang tak akan berujung memberikan jawaban yang memuaskan hatinya.
Dan pernyataan Elardo jelas membuat pria muda itu tersenyum sumringah. Restorannya pasti akan semakin terkenal dengan berita kunjungan Elardo ke restoran kecil miliknya.
Selesai dengan segala urusannya di restoran, Elardo akhirnya memilih untuk beristirahat di sebuah villa di desa Guarda. Alih-alih menginap di hotel yang Harlan reservasi, Elardo lebih memilih untuk menginap di sebuah villa yang cukup jauh dari keramaian.
Elardo kini tengah duduk di balkon kayu yang menghadap persis ke sebuah kolam renang. Pikirannya kacau. Namun bayangan senyum teduh Ryu yang selalu wanita itu berikan kepada Marta sang pelayan, membuat pikiran kalutnya perlahan mulai tenang kembali.
Entah sihir apa yang kau gunakan padaku wanita ja la ng! kenapa setiap kali aku mengingatmu, hatiku terasa damai?
Elardo bergumam frustasi dalam hatinya.
Di saat ia sedang ingin fokus mencari keberadaan Moza, justru bayangan wajah Ryu yang selalu muncul dengan lancang di dalam benaknya.
Tok tok tok
Sebuah ketukan halus membuyar segala lamunan Elardo. Pria itu menoleh dan mendapati Harlan sedang berdiri di pintu kaca yang membatasi mereka.
"Masuklah Harlan," sang asisten melangkah masuk kemudian menyerahkan sebuah tablet yang berisi rekaman cctv di restoran Dallet.
"Kau bekerja dengan baik Harlan, namun hari ini aku tak ingin semakin membuat moodku kacau. Ijinkan pria malang ini beristirahat sejenak dari rasa lelah yang selalu mendera hati dan pikiranku. Aku hanya manusia biasa. Tak semua yang aku inginkan berjalan semulus jalan tol. Terkadang aku harus menukarnya dengan harga yang tak murah, agar bisa mendapatkan respect serta rasa hormat dari makhluk fana bernama manusia. Sungguh melelahkan, kau pasti tak akan bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi diriku." Ungkap Elardo dengan nada lirih.
Tergambar jelas guratan kelelahan di wajah tegas nan tampan itu.
Untuk pertama kalinya, Harlan melihat sisi rapuh sang tuan. Selama ini yang terlihat jelas dari pria itu hanyalah keangkuhan. Sikapnya yang arogan dan penuh kuasa atas segala hal yang ia kehendaki.
Namun kini, pria itu begitu lemah hanya karena hati yang dilema. Namun Elardo tetap kukuh untuk menepis setiap rasa yang hadir tanpa ia minta.
Akhirnya Harlan menarik kembali tablet tersebut dari atas meja. Padahal ia sangat berharap sang tuan melihatnya dengan jelas. Bagaimana wanita yang merubahnya menjadi sosok monster, rupanya sedang menari-nari di atas penderitaan seorang wanita malang.
To be continue
Terimakasih bagi yang sudah berkenan mampir. Salam sapa author di kolam komentar oke. Semoga hari kalian penuh warna cerah akan kisah-kisah romansa yang indah bersama keluarga tercinta.
Jangan lupa tap LOVE, ya....
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.