KEHIDUPAN BARU YANG TAK DIINGINKAN

1367 Kata
Ryu menatap nanar benda pipih yang kini berada di telapak tangannya. Wanita itu tertawa lirih dalam tangis yang tidak bisa ia bendung lagi. Marta yang sejak tadi menunggu dalam kecemasan di luar pintu kamar mandi, akhirnya memutuskan untuk menggedor pintu tersebut dengan cukup keras. Namun setelah hampir lima menit lamanya ia mencoba untuk mengetahui keadaan Ryu, wanita itu tak kunjung membukakan pintu untuknya. Marta mulai di landa kecemasan. Bermula dari kecurigaannya melihat perubahan bentuk perut Ryu yang tampak lebih menonjol dari biasanya. Akhirnya Marta memutuskan untuk membeli tes kehamilan di kota saat ia sedang berbelanja kebutuhan mingguan kastil. Dan sampai sekarang, Ryu tak kunjung keluar. Ia khawatir wanita itu semakin putus asa, kala mendapati kehidupan baru yang tak pernah ia inginkan dalam dirinya. "Nona! aku akan membuka pintu ini dengan paksa bila anda tak keluar dalam satu menit!" seru Marta dengan suara bergetar namun nyaring. Ia ketakutan. Takut karena di kepalanya ia memikirkan hal-hal buruk yang bisa saja Ryu lakukan, untuk melenyapkan nyawa baru tersebut. Klek Suara handle pintu terbuka membuat hati wanita tambun itu lega. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali menegang kala melihat ekspresi Ryu yang bagai makhluk fana tak bernyawa. Wajah Ryu sepucat mayat. Tampak penuh tekanan dan depresi. Ryu meletakkan tes kehamilan yang baru saja ia gunakan di atas meja rias. Lalu berjalan lesu menuju sisi ranjang yang selama ini menjadikan sebatas tempat singgah yang menghangatkan sang pemilik rumah. "Aku harap tuanmu mau berbaik hati menerima makhluk tak berdaya di dalam rahimku ini, Marta." Tubuh Marta menegang. Tak ia sangka Ryu begitu mudah menerima janin suci di rahimnya meski terlihat tanpa ekspresi apapun. Marta meraih tes kehamilan itu lalu menatapnya dengan perasaan berkecamuk. Ia tak yakin sang tuan akan menerima makhluk tak berdosa itu. Untuk itu Marta lekas memasukkan tes kehamilan Ryu ke dalam saku bajunya. Wanita itu pula bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil bungkusan testpack milik Ryu. Ia khawatir Elardo akan mengetahuinya. Karena Marta meragukan kerendahan hati tuannya seperti Ryu yang mampu menerima dengan lapang da da. "Beristirahatlah nona, aku telah membeli beberapa kotak su su untuk ibu hamil. Sebagai persiapan saja, dan rupanya dugaanku benar. Selamat untuk anda, walau kehadirannya tak pernah anda harapkan. Tapi... bisakah anda tak harus mengatakannya kepada tuan Elardo? aku tak yakin tuan muda mampu menerima calon anaknya dengan baik." Sungguh permintaan yang tak tau diri. Namun ia harus tetap mengatakannya sebelum hal buruk terjadi kepada Ryu juga calon anaknya. Ryu tertawa miris. Ia sudah meyakini hal itu akan terjadi. Untuk itu ia pasrah bila Elardo malah semakin murka atas kehamilannya. Ia sengaja tak mengkonsumsi penunda kehamilan yang selalu Marta berikan padanya seusai Elardo menggempurnya bagai tubuh tak berharga. Ia sengaja. Ia ingin penderitaannya berkahir dan tak lagi merasakan penderitaan panjang setiap harinya. "Kau tau Marta...aku sengaja melakukannya. Aku tak benar-benar menginginkan anak ini, tapi anak ini akan membawaku pada kebebasan jiwa dan raga. Aku harap tuanmu kali ini benar-benar murka padaku, lalu mengirimku pada malaikat maut lebih cepat. Aku sudah sangat lelah, Marta....rasa lelah yang nyaris membuatku tak mampu lagi meski sekedar terbangun dari tempat tidur." lirih. Sangat lirih. Hati Marta mencelos pedih mendengar kalimat bernada keputusasaan tersebut. Ia memahaminya dengan sangat. Namun tak setuju bila Ryu memilih mengakhiri semuanya dengan cara menyakiti dirinya sendiri. Ia menyayangi wanita muda itu seperti putrinya sendiri. Marta menggeleng lemah. "Jangan berkata seperti itu nona...akan aku pastikan kau akan baik-baik saja selama kita bersepakat untuk bungkam. Aku mohon, pikirkan kembali keluarga anda di suatu tempat yang pasti sedang menunggu kepulangan anda dengan hati penuh kerinduan yang dalam." Cegah Marta dengan burai air mata yang mulai membasahi pipi lebarnya. Ryu tersenyum di balik wajah pucat nya. Ia tersentuh oleh perhatian wanita itu. Marta memang selalu baik terhadapnya, namun kebaikan wanita itu tak mampu membawanya pergi menjauh dari penderitaan fisik juga psikis yang ia alami. Dirinya sudah berada di ambang batas kesanggupan. Tubuhnya kurus kering hanya berbalut kulit yang tampak seperti tubuh seonggok mayat yang sedang dalam fase menyusut. "Kita lihat saja Marta, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terpeleset juga jika takdir sudah menentukan. Aku bahkan melewati balkon ini saja tak mampu, apalagi melompat selincah tupai. Aku hanya seekor burung tak berharga, namun tetap di kekang dalam sangkar hanya demi sebuah keegoisan." Ungkap Ryu dengan tatapan mata menerawang jauh. Terlintas senyum teduh ibunya, suara manja sang ayah sambung. Serta tatapan penuh harapan yang selalu Aslan lontarkan setiap kali berjumpa dengannya yang kaku. Sungguh ia ingin memutar waktu. Mungkinkah ini sebuah rangkaian Karma, karena selama ini ia selalu menghindari pertemuan dengan ayah kandungnya sendiri. Namun sungguh Ryu tak bermaksud demikian, hanya saja hatinya merasa sedikit sungkan dan aneh atas perhatian sang ayah yang hadir di saat usianya sudah remaja. Kecanggungan yang akhirnya membuat sosoknya menjadi terlihat tak ramah terhadap ayahnya sendiri. Tapi percayalah, Ryu tak pernah bermaksud seperti itu. Hatinya pun sangat merindukan pelukan manja ayah kandungnya, namun apa daya, Ryu remaja merasa terlalu sungkan oleh karena keadaan. ******************** Setelah dua hari dalam pencarian informasi tentang Moza, Elardo akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Rasa hampa karena tak bisa melihat wajah wanita yang selama ini ia siksa, rupanya mampu membuat harinya kacau-balau tak tentu arah. Harlan hanya mengikuti apa yang sang tuan inginkan. Karena memang ia tak pernah benar-benar berniat untuk mencari keberadaan Moza. "Beli beberapa buah tangan untuk Marta, Harlan." Pinta Elardo ketika mobil mereka berhenti di depan sebuah pasar tradisional yang menjual aneka buah tangan dari berbagai bahan kerajinan. "Baik tuan," pria itu akhirnya turun dari dalam mobil lalu menuju ke sebuah toko kecil yang menjual beberapa aksesoris hasil kerajinan tangan. "Aku ingin membeli ini nyonya, berapa harganya?" tanya Harlan pada seorang wanita yang menjual pernak-pernik tersebut. "1,2 franc tuan..." jawab wanita paruh baya tersebut tersenyum ramah. "Apa kau berniat untuk membelinya sebagai hadiah? apa dia seorang wanita? ah, maafkan aku telah membuatmu tak nyaman dengan pertanyaanku. Hanya saja gelang yang kau pilih sangat cocok bila di hadiahkan kepada seorang yang spesial. Ini tak hanya sekedar gelang kerajinan biasa. Tersemat mantra baik di dalamnya, doa seorang wanita tua bagi kaum muda yang sedang di landa debaran romansa. Bagi siapapun yang memakai gelang ini, di harapkan akan menemukan kebebasan jiwa juga kebahagiaan hakiki dalam hidupnya. Dan kau pria beruntung hari ini, karena gelang ini hanya tinggal satu pasang saja. Ambillah, aku akan memberikan sedikit diskon untuk pria beruntung sepertimu." Ujar wanita itu panjang lebar. Tampaknya wanita itu begitu antusias karena toko kecilnya hari ini memang sedikit sepi pengunjung. Tak berhenti melebarkan senyuman saat ia dengan semangat menjelaskan nilai historis, serta makna yang terkandung dari gelang yang terbuat dari manik juga butiran kecil yang berbahan berupa kulit kayu. "Baiklah, aku akan membeli ini. Tadinya aku ingin membeli satu saja, tapi kau mengatakan jika gelang ini bisa membawa kebaikan. Maka aku ingin berbagi kebaikan ini pada seorang teman, yang sedang tersesat untuk menemukan tujuan hatinya. Aku akan membayarnya dengan harga tiga kali lipat, agar mantranya semakin kuat." Balas Harlan terselip harapan meski terdengar seperti sebuah guyonan. Setelah selesai membayar, Harlan membeli tas, topi, juga sebuah jaket rajut. Ia membelinya masing-masing dua. Karena akan ia berikan pada seseorang selain Marta. Sedangkan di dalam mobil, Elardo nampak menekuk wajah kesal. Harlan benar-benar memburu isi pasar tradisional tersebut dengan penuh semangat. "Anda sudah mendapatkan apa yang anda cari tuan?" tanya sang sopir kala melihat Elardo duduk melamun menatap sebuah gelang manik di telapak tangan. Dengan cepat pria itu memasukkan gelang tersebut secara asal ke dalam saku celananya. "Apa kau tak bisa fokus pada pekerjaanmu saja, Mason?" suara bas Elardo membuat nyali Mason langsung ciut seketika. Pria muda itu lekas meminta maaf kemudian kembali fokus menatap jalanan berbelok-belok di hadapan mereka. Ia juga sedikit jenuh menunggu Harlan yang sedang memburu toko-toko cinderamata. Itu kenapa ia lancang berbasa basi dengan sang tuan, karena melihat pria itu baru saja membeli sesuatu di sebuah toko tak jauh dari mobil mereka terparkir. Namun reaksi sang majikan rupanya tak begitu ramah. Mason akhirnya memilih untuk bungkam daripada kehilangan pekerjaan. To be continue Semoga ada cintanya... Buat siapakah Elardo juga Harlan membeli buah tangan tersebut epribadeehhh?? semoga saja buat author ya kaaan...pen juga dapat oleh-oleh dari cogan nan arogan. Pasti ada manis-manisnya kaya gila li di cocolin coklat leleh hihihiii.... Jangan lupa tap LOVE ya gengs Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN