KEMARAHAN

1323 Kata
Elardo menatap datar punggung ringkih wanita yang baru saja ia perlakukan bak seorang ja lang beberapa saat yang lalu. Ada perasaan aneh menubruk relung hatinya kala melihat Ryu meringis menatapnya penuh permohonan. Namun bukan sebuah permohonan untuk di kasihani. Wanita itu malah sengaja menyulut emosi Elardo dengan permintaannya. Bunuh aku ba ji ngan! Ryu mendesis dengan ekspresi wajah angkuh yang membuat sisi ego Elardo terpancing murka. Pria itu tanpa belas kasih menerobos tubuh lemah Ryu dengan bringas melebihi hari-hari biasanya. Ryu tampak pasrah menunggu ajal menjemput, hingga akhirnya kesadaran wanita itu mulai menghilang perlahan di ujung erangan panjang nan ganas Elardo. Selesai menuntaskan has rat be jat nya, Elardo lekas menarik diri. Namun pria itu di buat terkejut saat melihat darah yang mengalir cukup banyak dari inti Ryu. Ia pikir wanita itu sedang dalam fase tamu bulanan. Sehingga kian tersulutlah emosinya. Elardo memberikan tamparan keras ke wajah Ryu yang bahkan sudah tak lagi merasakan rasa sakit. Wajah wanita itu terlihat pucat pasi, sudut bibirnya berdarah akibat tamparan keras yang Elardo berikan. Setelah di bersihkan oleh Marta, Ryu kembali di letakkan oleh Harlan di atas ranjang yang sama. Namun kondisi wanita itu sudah lebih baik dalam balutan gaun tidur yang entah sejak kapan Elardo siapkan. Sekarang pikirkan Elardo kacau, Marta terpaksa memberitahukan kehamilan Ryu karena desakan keadaan. Jika Ryu kembali mengalami pendarahan, maka nyawa wanita itu tak akan tertolong lagi. Di tempat tersebut sangat jauh dari rumah sakit, hanya ada sebuah klinik kecil berjarak sekitar 20 menit dari kastil. "Kau rupanya ingin bermain-main denganku, bi*tch!" gumam Elardo yang masih setia menatap tubuh Ryu yang semakin kurus kering. Elardo meninggalkan kamar Ryu dengan menyentak daun pintu sekeras mungkin. Ia tak peduli bila Ryu terbangun akibat ulahnya. Melihat Ryu dalam kondisi tak sadarkan diri, entah mengapa ia begitu ketakutan. Rasa takut yang akhirnya membuat sisi hatinya terketuk untuk memanggil seorang dokter jaga di klinik kota kecil tersebut. Namun hatinya juga marah, Ryu rupanya sengaja tak meminum pil pencegah kehamilan yang selalu rutin ia berikan pada Marta. Wanita itu ternyata sangat tak sabar bertemu dengan sang pencipta, dan itu membuat hatinya kesal. Di dalam ruang kerja milik Elardo, Harlan terlihat duduk di sebuah sofa panjang sambil mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda, selama mereka mencari keberadaan Moza. "Kau dengar apa kata dokter Mark tadi, Harlan? aku akan segera menjadi seorang ayah," ucap Elardo di iringi tawa hambar dan miris. "Kenapa benihku harus tumbuh di rahim wanita ja lang itu Harlan? kenapa bukan Moza yang mengandung anakku? kami pasti akan sangat bahagia menyambut kehadirannya di dunia ini." Tutur Elardo dengan ekspresi frustasi. "Beli beberapa obat penggugur kandungan terbaik, dan pastikan tak berefek samping pada wanita itu. Aku masih belum puas memberikan wanita ja lang itu hukuman." Perintah Elardo membuat nafas Harlan tercekat. Pria itu melepaskan kedua tangannya dari keyboard laptopnya, lalu mengangkat kepalanya menatap sang atasan dengan tatapan tak terbaca. "Anda yakin tuan? bukankah nyonya Camelia sangat ingin memiliki seorang cucu dari anak sulungnya. Tidakkah anda berpikir untuk membiarkan kehamilan nona Ryu hingga persalinan tiba? setelah itu anda bisa melanjutkan hukuman yang anda inginkan." Saran Harlan meski harus bertarung dengan rasa gugup karena telah berani memberikan ide lancang kepada sang tuan. Elardo membuang pandangan menatap potret Moza di sebuah bingkai besar di ruang kerjanya. "Aku tak sudi benihku tumbuh dan di lahirkan oleh wanita ja lang itu, Harlan. Hanya Moza yang boleh menjadi ibu dari anak-anakku. Mutlak!" tekan Elardo dengan tekanan suara berat. Harlan hanya bisa mengesah pasrah. Ia tak mungkin lagi memaksa namun untuk menuruti permintaan tuannya, ia masih akan memikirkannya berkali-kali lipat. "Itu semua terserah anda tuan, anda yang paling tau apa yang terbaik untuk segala keputusan yang anda buat." Ujar Harlan yang kini berada di fase pasrah. "Lakukan saja perintahku, dan selama janin sia lan itu belum lenyap dari perut wanita itu, aku tak akan kembali kemari. Aku akan ke kota untuk beberapa waktu, kau urus wanita itu sampai tak lagi menyisakan walau hanya sepotong gumpalan darah dari janin yang tak pernah aku inginkan." Setelah melontarkan kalimat penuh nada kebengisan, Elardo meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar pribadinya. Sedangkan Harlan menyandarkan punggungnya ke punggung sofa menahan denyut di kepalanya. Ia bagai buah simalakama. Harlan mengalami peningkatan stress berat akibat segala permintaan Elardo yang tidak manusiawi. "Anda akan benar-benar menyesali semua ini suatu saat nanti, tuan. Tak bisakah anda membiarkan bayi tak berdosa itu lahir dengan selamat ke dunia ini?" gumam Harlan putus asa. Di kamar Ryu, wanita itu sebenarnya tidaklah sedang tertidur. Ia terbangun dan cukup jelas mendengar daun pintu yang tertutup cukup keras oleh amarah Elardo. "Kenapa kau tak bisa membantu mommy...hmmm? apa kau lebih suka pria kejam itu menyiksa kita seperti ini sepanjang waktu? mati bukanlah sesuatu yang buruk dan menakutkan, akan lebih baik dari pada mendapatkan penyiksaan fisik maupun psikis. Kau akan lebih bahagia bila kita sudah berada di surga, ada banyak malaikat kecil sepertimu di sana. Mereka akan senang menyambut teman baru yang mungil dan menggemaskan." Gumam Ryu lirih. Wanita itu mengusap perutnya yang sedikit menonjol keluar. Ada rasa tak tega mendapati dirinya pendarahan hebat, akibat ulah Elardo. Hatinya tiba-tiba merasa ketakutan akan kehilangan calon kehidupan baru dalam rahimnya. Di kamar lain, Elardo bersiap dengan sebutan koper berukuran sedang. Ia akan menepi sejenak dari perkara rumit yang membuat pikirannya kacau belakangan ini. Di tambah lagi dengan kehamilan Ryu yang membuat pikirannya semakin tak karuan. Drrrtt drrrtt drrrtt Elardo melirik layar ponselnya lalu kembali mengabaikan panggilan tersebut. Namun sepertinya si penelpon kali ini berada di fase yang tak ingin menyerah begitu saja. Akhirnya dengan enggan Elardo menjawab panggilan tersebut. "Halo mom, langsung saja aku sedang sibuk.." sungguh salam sapa yang penuh kehangatan. Elardo bahkan tak menyapa ibunya dengan cara yang benar dan santun. Terdengar suara decakan kesal dari lidah Camelia. "Mom merindukanmu, El. Pulanglah, jenguk nenekmu. Beliau sedang tak sehat saat ini dan selalu menanyakan tentang keberadaanmu. Kami semua merindukanmu nak, cobalah untuk melepaskan Moza dan menerima wanita itu sebagai pendamping hidupmu. Wanita itu bukan wanita yang jelek, bahkan jauh lebih cantik daripada Moza. Apa hebatnya wanita yang selalu mempertontonkan bagian-bagian sensitifnya tubuhnya di hadapan kamera..." "Mom! berhentilah membandingkan Moza dengan wanita ja lang itu. Aku tak suka! jika mom hanya ingin mengomentari penampilan kekasihku, lebih baik panggilan ini di akhiri saja. Aku tak ingin berkata kasar terhadap mommy, namun aku tak bisa diam saja bila kekasihku di hina. Moza seorang model, seharusnya mom mengerti." Elardo menekan intonasi suaranya agar tak meledak-ledak terhadap sang ibu. Meski tak begitu dekat dengan keluarganya, Elardo tak pernah ingin melukai hati wanita yang telah melahirkannya itu dengan kata-kata kasar dari mulutnya. Tapi hatinya juga tak rela, bila ibunya terus menyudutkan Moza juga profesinya. "Terserah kau saja!" sahut Camelia menahan rasa kesal terhadap putranya. " Lupakan apa Yang Mom ucapkan tadi, jenguklah nenekmu kemari sebelum kau menyesal kehilangan orang yang kau sayangi, namun sudah terlambat untuk bisa melihatnya lagi." Pungkas Camelia akhirnya. Wanita itu menyerah menyadarkan putranya yang keras kepala, betapa Moza tak pantas menjadi bagian dari keluarga Aarav. "Baiklah," jawab Elardo melunak. "Aku akan datang, katakan pada nenek." Camelia hanya menjawab dengan deheman kecil karena terlalu malas menanggapi kalimat putranya yang belum tentu pasti. "Apa yang di katakan oleh anak keras kepala itu padamu? ekspresimu tak terlihat bahagia untuk seorang ibu yang baru saja bercengkrama dengan putranya." Ujar Kevlar dengan nada meledek. Ia tau bagaimana sang istri bila berhadapan dengan putra sulungnya itu. Obrolan keduanya tak pernah berkahir baik bila istrinya sudah menyinggung perkara Moza. Dan Elardo sangat membenci fakta ibunya tak menyukai kekasihnya. "Aku jadi berpikir, mungkin saja anak itu tertukar ketika aku lahirkan dulu. Aku akan memeriksa daftar pasien yang melakukan persalinan di hari yang sama denganku. Anak itu benar-benar berbeda, dan sangat menjengkelkan." Sungut Camelia menggerutu kesal. Kevlar hanya diam dengan menahan tawa. Ia tak ingin semakin menyulut api amarah yang mulai terlihat berasap dari atas kepala istri tercintanya. To be continue Semoga menghibur. Jumat berkah, berikan dukungan kalian terhadap novel ini. Berikan vote moon ticket jika berkenan. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN