Bab 6

1273 Kata
Hampir dua bulan ini kehidupan Ryu menjadi lebih tentram, dan mendamaikan hati serta raganya. Karena tak ada lagi siksaan fisik maupun psikis dari kejamnya kebrutalan Elardo. Pria itu benar-benar tak sudi melihatnya yang kini tengah berbadan dua. Namun itu suatu keuntungan bagi Ryu, karena tak harus mendapatkan perlakuan hina dari pria bengis itu. "Nona, aku membuatkan puding mangga kesukaan anda. Ayo, nanti kau bisa melanjutkan kembali merajutnya." Marta meraih peralatan merajut dari tangan Ryu. Wanita itu rupanya memiliki bakat terpendam. Marta iseng membelikan beberapa bahan untuk merajut, dan siapa sangka, Ryu dengan mudah mempelajari ilmu dasar cara merajut. Dan sepasang kaos kaki lucu berwarna pink pastel, di kombinasikan dengan warna coklat di bagian telapak kakinya, membuat kaos kaki bayi itu terlihat begitu menggemaskan. "Aku akan semakin besar jika selalu kau recoki dengan aneka makanan manis seperti ini Marta." Rengek Ryu yang nampak enggan untuk menambah bobot tubuhnya lagi. Selama hampir dua bulan ini, dokter Mark rutin berkunjung setiap dua Minggu sekali untuk memeriksakan kandungan Ryu. Semua atas ide Harlan yang tentu saja di luar pengetahuan Elardo. Terlepas dari jadwal yang sudah di tentukan, dokter Mark pun kerap berkunjung hanya sekedar untuk memastikan keadaan pasiennya baik-baik saja. Wanita itu berhasil menaikkan berat badannya secara perlahan namun pasti. Kini Ryu semakin berisi setiap harinya. "Anda harus banyak makan nona, atau nona kecil akan terlahir menjadi peri paling mini yang pernah ada. Anda ingat apa pesan dokter Mark? janin anda memiliki ukuran yang lebih kecil dari usia yang seharusnya. Jadi, menurutlah pada wanita tua ini nona," ucap Marta serius. Ryu hanya bisa mengesah pasrah sembari mengangguk paham. Wanita itu mulai mengambil satu hingga tanpa terasa, puding mangga tersebut tinggal sedikit lagi. Padahal satu piring lainnya adalah milik Marta. Namun wanita paruh baya itu memilih untuk diam saja membiarkan Ryu memakan jatah pudingnya. Ia senang selera makan Ryu membaik pasca kepergian tuannya ke kota. Dan Marta berharap tuan bengisnya tak akan kembali hingga menjelang persalinan Ryu. Janin Ryu berjenis kelamin perempuan, itu berhasil di ketahui oleh alat ultrasonografi yang di bawa oleh Mark ke kastil atas perintah Harlan. Karena hanya Elardo yang memiliki kunci untuk melepaskan gembok yang membelenggu kebebasan Ryu untuk keluar dari kamarnya. Harlan tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak ingin tindakannya yang lain akan memicu amarah Elardo, meski apa yang diam-diam dirinya lakukan sudah cukup untuk membuat kemurkaan tuannya memuncak. "Ups!...maafkan aku Marta. Aku memakan puding milikmu," ucap Ryu tak enak hati. Wanita itu meringis dengan memperlihatkan gigi indahnya. Marta tersenyum senang. Ia senang melihat sang nona yang lebih banyak tersenyum lebar belakangan ini. Dan wanita itu pula mulai menerima kehadiran calon anaknya dengan sepenuh hati. Terbukti Ryu sering mengajak sang janin berbincang tentang masa depan. Merajut beberapa baju hangat, topi dan kebutuhan bayinya yang lain. Di kota, Elardo merasakan kehampaan luar biasa. Sangat kuat hingga membuat pria itu kerap marah-marah tanpa alasan terhadap para karyawannya. Seperti saat ini, pria itu sedang memarahi para dewan direksi juga kepala personalia yang menurutnya bekerja tak becus. "Jika hal semacam ini terjadi lagi, silahkan kemasi barang-barang kalian dan angkat kaki dari perusahaanku. Aku tak butuh orang-orang bodoh bekerja padaku dan hanya membuat kerugian." Tegas Elardo dengan tekanan suara yang lugas dan tak terbantahkan. Setelah memberikan sederet ultimatum kepada para dewan perusahaan, Elardo meninggalkan ruang meeting dengan langkah lebar. "Tuan Elardo lebih kejam belakangan ini, apa kau tau penyebabnya?" tanya seorang pria yang mewakili divisi keuangan. "Mungkin berhubungan dengan masih menghilangnya nona Moza," sahut salah seorang beropini. "Aku rasa bukan, tuan tampak baik-baik saja setelah tunangannya menghilang. Kurasa ada hal lain. Tuan terlihat resah seperti sedang memikirkan seseorang. Itu hanya menurut kacamataku saja," timpal seorang lainnya mengemukakan pendapatnya. "Kau benar. Tuan Elardo seperti seorang pria yang sedang merindukan seseorang namun tertahan oleh ego. Itu menurutku, karena aku sering mengalami hal klasik itu kala sedang bertengkar dengan istriku, namun aku terlalu gengsi untuk memulai obrolan terlebih dahulu." Suara-suara sumbang itu di dengar jelas oleh Harlan. Pria itu menarik sudut bibirnya dengan senyum penuh kepuasan. Ia senang Elardo tersiksa oleh perasannya meski harus mengorbankan para karyawan perusahaan. "Kau lihat tuan, hatimu rupanya telah berpaling penuh dari haluan. Sebentar lagi anda akan menjemput sesal, yang tak akan pernah bisa anda bayar dengan kekuasaan yang anda miliki." Gumam Harlan kemudian melangkah meninggalkan pintu ruang meeting. Pria itu mengirim pesan kepada Marta tentang sang tuan sekaligus menanyakan kabar tentang Ryu. Nona baik-baik saja, akan lebih baik jika tuan tak kembali dalam waktu dekat ini. Nona butuh ketenangan batin agar tak mengalami tekanan psikologis. Itu yang di katakan oleh dokter Mark. Begitulah pesan singkat yang di kirimkan oleh Marta. Wanita itu selalu cemas memikirkan nasib sang nona jika saja tuannya kembali mengacaukan hari-hari Ryu. Wanita itu bisa saja mengalami depresi berat. Harlan tak membalas. Pria itu menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar. Ia pun sedang melakukan sesuatu agar sang tuan bertahan di kota minimal hingga Ryu mendekati persalinan. Namun sepertinya waktu Elardo di kota sudah tak bisa di perpanjang lagi. Pria itu berencana mendatangi kota terakhir di mana kabar tentang keberadaan Moza mereka dapatkan. Di sertai bukti foto wanita itu, Elardo yakin Moza sang tunangan berada di kota yang di maksud karena bersembunyi dari orang-orang suruhan Ryu. Padahal wanita itu terbelenggu di kastil tua, entah apa yang sang tuan pikirkan hingga berpikir sedangkal itu. Wanita yang jelas terlihat begitu baik menurut kacamatanya, namun tak tampak meski hanya sekilas di mata sang tuan. Drrrtt drrrtt drrrtt Benda pipih di tangan Harlan bergetar menandakan sebuah panggilan memohon untuk di jawab. Harlan menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut. "Ya tuan," jawab Harlan singkat. "Apa kau lupa letak ruanganmu Harlan? aku sedang membutuhkanmu saat ini dan kau berada entah di mana." Suara berat Elardo menguar di ujung telepon, membuat Harlan tersadar. Pria itu melangkah cepat menuju ruangannya agar sang tuan tak menunggu lebih lama lagi. Kembali ke kastil. Ryu sedang memberikan makan siang kepada ikan-ikan hias yang di berikan oleh Mark sebagai hadiah kecil. Pria itu ingin Ryu tak mengalami stress akibat terkungkung dalam kamar setiap hari. Oleh sebab itu, Mark berinisiatif memberikan sepasang ikan hias agar Ryu memiliki hiburan di sela waktunya merajut. "Anda menyukainya nona?" Ryu menghentikan kegiatannya kemudian menoleh. Wanita itu melebarkan senyuman kala melihat dokter Mark tengah berdiri dengan menenteng sebuah kantung berisi aneka roti manis kesukaannya. "Aku menyukai, mereka tampak sangat manis di dalam akuarium kecil ini. Terimakasih banyak dokter Mark, kau baik sekali." Ucap Ryu tersenyum lebar. Mark tertegun melihat senyum manis Ryu. Namun segera Mark menggeleng. Ia masih sangat menyayangi nyawanya, mengagumi Ryu sama saja berjalan di tepi jurang terjal. "Aku membawakanmu roti manis. Marta mengatakan kau sangat menginginkannya kemarin, semoga saja ngidammu masih tersisa." Ujar Mark mengangkat kantong paper berisi aneka roti yang ia beli sambil tertawa kecil. Ryu meraih kantong paper yang Mark bawa lalu membawa pria baik itu duduk di kursi balkon. "Aku merajut sebuah baju hangat untukmu. Semoga kau suka," ucap Ryu memberikan sebuah sweater rajut berwarna coklat muda kepada dokter Mark. Pria itu menyambut pemberian Ryu dengan senyum sumringah. "Tentu saja aku menyukainya. Akan aku pakai bila aku dinas malam, cuaca belakangan ini sedikit lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena sudah mendekati musim dingin. Terima banyak, ini sangat indah." Dokter Mark tak bisa berhenti tersenyum mendapatkan hadiah dari wanita cantik itu. Hatinya mengagumi namun ia cukup sadar diri untuk tak menjadi sebuah malapetaka bagi wanita malang tersebut. "Aku senang kau menyukainya," ucap Ryu tersenyum ceria. Keduanya kemudian mengobrol hangat menikmati secangkir teh hangat buatan Marta, sembari menikmati keindahan tepi pantai yang berada tepat di depan balkon kamar Ryu. To be continue Terimakasih banyak sudah bersedia mampir, jangan lupa tap LOVE agar selalu mendapatkan update terbaru dari author. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN