Bab 7

1433 Kata
Harlan masih setia menemani sang tuan yang kini tengah menegak minuman berkadar alkohol tinggi di dalam kamarnya. "Anda masih ingin melanjutkan renungan patah hati ini tuan? aku sudah sedikit mengantuk, malam ini terlalu berat untuk kita semua tak terkecuali anda. Namun jika anda masih ingin melanjutkannya, aku akan setia di sisi anda seperti biasanya." Entah keberanian dari mana, Harlan mampu memberikan kata-kata mutiara penuh sindiran telak tersebut. Namun ia merasa perlu menyadarkan sang tuan, atas tindakan yang kini Elardo lakukan. Pria itu sedang melampiaskan segala amarah yang terpendam di dalam hatinya. Selama dua bulan ini, Elardo tak berhenti mencari tau tentang keberadaan Moza. Entah karena di dorong oleh rasa penasaran, atau karena hatinya ingin memastikan sesuatu. Dan malam ini, semua misteri tentang hati itu terjawab sudah. flashback Elardo menatap nanar dua insan yang tengah bergumul di sudut club malam tanpa mempedulikan pengunjung lainnya. Itu merupakan pemandangan biasa, tak akan ada yang peduli dengan apa yang di lakukan oleh para pecinta dunia malam. Yang mereka pedulikan hanyalah mencari kesenangan hati serta kepuasan batin masing-masing. "Ughhh baby...kau luar biasa..." Lenguhan panjang disertai celotehan bernada pujian terlontar dari bibir seorang pria paruh baya. Pria tersebut merupakan seorang pemilik agensi model di mana Moza bernaung. Selama ini wanita itu rela melakukan apapun agar bisa tetap berada di puncak popularitasnya, sebagai seorang model kelas atas. "Kau juga Cheng...aku senang kau selalu puas dengan pelayananku..." sahut Moza tersenyum bangga dengan nafas terengah-engah. Bangga atas pencapaiannya dalam memuaskan sang sugar Daddy. "Bertahanlah tiga bulan lagi bersamaku, akan aku berikan job di paris itu untukmu. Aku masih belum puas bermain-main dengan tubuhmu ini, baby." Pinta Cheng dengan nada memelas. Pria berperut buncit itu sangat menyukai pelayanan Moza. Di antara sekian banyak model yang bekerja padanya, hanya Moza yang mau di perlakukan sesuka hatinya saat berhubungan. Termasuk melakukan hubungan sek*s an*al. Moza tampak berpikir, sembari menunggu milik pria itu keluar dengan sendirinya. Posisi Moza yang duduk di atas pangkuan si pria membuat kelakian Cheng terbenam sempurna. "Baiklah, tapi berjanjilah kau tak akan memberikannya pada model lain? atau kau akan tau akibatnya bermain-main denganku." Jawab Moza dengan nada penuh ancaman. "Dan lagi aku sudah mengorbankan temanku untuk semua rencana liburan kita ini. Aku harap Elardo memperlakukan wanita malang itu dengan baik." Cheng tertawa renyah, "aku tak bodoh baby. Kalau begitu tunda kepulanganmu besok, kita akan ke Maldives lusa. Kau pasti menyukainya," rayu Cheng agar Moza tak berubah pikiran. Senyum sumringah di bibir Moza tampak bercahaya mengalahkan kerlap kerlip lampu diskotik. "Aku semakin menyayangimu daddy Cheng," pekik Moza kegirangan. Wanita itu kembali melabuhkan ciuman mautnya di bibir tebal Cheng sembari menggerakkan pinggulnya. Membuat pria buncit itu mengerang kembali dengan suara tertahan.Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Elardo menjadi penonton setia adegan maut tersebut. Pok pok pok Suara tepuk tangan membuat Moza terjengkit. Wanita itu menoleh ke arah samping dan sontak melompat dari atas pangkuan Cheng Secara reflek. Sedangkan Cheng yang kebingungan, tak sempat menutupi asetnya yang berukuran di bawah standar tersebut. "What happen, babe?" tanya pria itu heran. Nafasnya masih memburu namun kebingungan melihat Moza yang tiba-tiba melepaskan penyatuan mereka. "Honey...ini tak seperti yang kau pikirkan..apa yang kau lihat tadi...itu....itu hanya.." "Hanya apa Moza? hanya sedang bercinta dengan seorang pria gendut sipit ini? inikah yang membuatmu melarikan diri dari pernikahan kita? hanya demi karir? kesenangan? apa kurangnya aku selama ini padamu, Moza? aku bahkan menentang keluargaku untuk bisa membawamu naik ke atas singgasana pernikahan. Lihatlah, kau menukar pengorbananku dengan pria jelek ini. Astaga! aku tak habis pikir. Tadinya aku pikir pertemuan kita akan di penuhi dengan keadaan haru setelah beberapa bulan terpisah. Nyatanya aku malah terharu seorang diri, kala melihat mantan kekasihku tengah bercinta tanpa tau malu dengan seorang pria tua di tempat umum. Aku sungguh bodoh selama ini, memperlakukan berlian layaknya binatang." Elardo tertawa garau menahan tangisannya. Pria itu tak menangisi nasibnya. Namun Elardo merasakan sakit yang teramat sangat dalam, karena berusaha menampik rasa yang hadir dengan menyiksa wanita yang diam-diam ia cintai. "Lanjutkan saja Moza, maaf telah mengganggu waktu kalian. Aku permisi dulu," pungkas Elardo kemudian memutar langkahnya meninggalkan Moza yang masih mematung dalam diam. Moza menelan ludah kaku, ia sedang di landa kebingungan. Antara karir atau mengejar Elardo. Namun suara Cheng kembali menyadarkan wanita tamak tersebut. "Ayo lanjutkan babe, kau masih bisa menikmati kemilau kemewahan asal selalu menuruti permintaanku." Sungguh pria tak tau malu. Masih sempatnya berpikir untuk melanjutkan percintaan panas mereka yang tertunda setelah di pergoki oleh kekasih wanita simpanannya. Moza berbalik kemudian tersenyum lebar. Ia merasa tak ada ruginya menjadi seorang wanita simpanan. Toh ia tetap mampu memenuhi ekspektasi kelas atas yang selalu ia impikan. Moza melabuhkan ciuman untuk kembali memulai apa yang sempat tertunda. Keduanya pun melanjutkan perjalanan mendaki bukit menyusuri lembah kenikmatan penuh dosa tersebut tanpa peduli akan sekitar. Sedangkan Elardo dengan langkah pasti meninggalkan club malam membawa hati yang lega. "Ayo kita pulang Harlan," ajak Elardo pada sang asisten yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dari kejauhan. "Pesanlah beberapa botol minuman paling mahal yang tersedia di hotel tempat kita menginap. Aku ingin merayakan kebebasan jiwaku yang selama ini telah mati." Perintah Elardo menatap sisi jalanan tanpa menoleh pada Harlan. "Baik tuan," sahut Harlan patuh. Senyum samar terbit di bibir Harlan. Ia berharap kali ini kehidupan Elardo berubah menjadi pria berhati manusia seperti dahulu sebelum Elardo di ubah paksa oleh keadaan menjadi sesosok iblis. flashback end Elardo menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Ia merasakan pusing efek dari alkohol yang ia minum sejak tadi. "Sepertinya anda sudah ingin beristirahat, aku akan memanggil Layanan kamar untuk membersihkan sampah-sampah ini. Aku permisi duluan ke kamar tuan, semoga malam buruk anda berkahir baik esok hari." Harlan pergi meninggalkan Elardo tanpa mendengar apa yang sang atasan katakan. Sebelum meninggalkan kamar sang tuan, Harlan meletakkan sebuah foto 4 dimensi yang memperlihatkan siluet bayi perempuan, yang sedang menghisap jari jempol dalam keadaan meringkuk di atas ranjang Elardo. Elardo memuntahkan semua cairan dari lambungnya di kamar mandi. Rasa pengar akibat kadar alkohol yang ia konsumsi membuat perutnya bergejolak hebat. Sekembalinya dari kamar mandi, Elardo berjalan pelan menuju balkon yang memperlihatkan keindahan kota di malam hari. Rambutnya terlihat basah, Elardo rupanya langsung membersihkan dirinya setelah puas mengeluarkan semua cairan laknat dari dalam tubuhnya. Saat akan menaiki ranjang, perhatian Elardo terfokus pada selembar foto yang nampak buram di matanya. Elardo meraih foto tersebut dan sontak melebarkan kedua matanya. Degup jantungnya berpacu kencang, Elardo hampir kesulitan untuk sekedar bernafas. "Di dia..masih mempertahankannya..." gumam pria itu dengan bibir bergetar hebat. Matanya memanas menahan tangis. "Harlan...pria itu... Astaga! bekerja pada siapa kau sebenarnya breng sek..." Elardo tertawa kecil dengan getaran suara menahan gejolak kebahagiaan. Ia tak menyangka, bayi yang ia minta untuk di lenyapkan. Rupanya masih bersemayam Indah PKKdalam rahim ibunya. "Kau sangat menggemaskan sayang...tunggu daddy kembali. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia selamanya," ucap Elardo mencium foto tersebut lalu mendekapnya bagai memeluk tubuh seseorang. Sepotong malam, Elardo tak tidur nyenyak. Bukan karena masih memikirkan pengkhianatan Moza, namun pria itu sudah tak sabar untuk bertemu dengan Ryu juga calon anaknya. Ia harap Ryu masih mau mengampuninya. Memberikan sedikit kesempatan, agar ia dapat menebus segala dosanya terhadap wanita itu. Pagi tiba, Harlan begitu terkejut saat membuka pintu kamarnya. Elardo berdiri di depan kamarnya dengan menyeret sebuah koper. Tak lupa, senyum selebar lapangan bola menghiasi wajah tampannya. Harlan sampai di bus merinding oleh pemandangan tersebut. "Anda mau kemana pagi buta seperti ini tuan, bahkan belum waktunya sarapan." Tanya Harlan heran. "Aku tak mengatakan kita akan sarapan. Ayo bersiaplah, jangan jadi seorang pemalas. Aku akan menunggumu," ucap Elardo bagai Sambaran petir di guesstelinga Harlan. Menungguku? apa tuan Elardo mengalami mimpi buruk semalam? ya Tuhan, ini lebih buruk daripada mendengar tuan berkata dengan nada kasar seperti biasanya. Harlan mengangguk patuh lalu bergegas ke kamar mandi. Elardo duduk di sofa kemudian mengeluarkan selembar foto calon anaknya. Senyum pria itu kembali terbit mengalahkan cakrawala. Matahari bahkan masih terlelap di balik bukit namun cahaya kemilau kebahagiaan Elardo serasa menerangi seisi kota. "Daddy pulang sayang, tunggulah sebentar lagi bersama mommy." Ucap pria itu seraya mengecupkan bibirnya di permukaan gambar calon buah hatinya. Perasaan membuncah membuat Elardo tak sabar untuk segera kembali pulang. Ia ingin memeluk erat tubuh ringkih Ryu dan tak akan melepaskan wanita itu lagi. Akan ia tukar bulan-bulan penuh penderitaan yang ia berikan kepada Ryu, dengan cinta yang tak akan pernah habis. Membayangkannya saja sudah membuat gejolak hatinya tak menentu. Tak peduli bagaimana respon wanita yang ia sakiti itu, yang Elardo inginkan hanya sebuah kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. To be continue Apakah Ryu mampu memaafkan Elardo guys? atau sempatkah Elardo memohon pengampunan dari wanita yang ia sakiti seluruh jiwa raganya? kuy simak terus, jangan lupa tap LOVE ahar bisa berlangganan. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN