Elardo berteriak histeris sembari memeluk sebuah syal berwarna hitam, yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun Ryu beberapa minggu yang lalu melalui perantara Harlan. Ia memberikan syal itu dengan di iringi hadiah lain, berupa kalimat-kalimat pedas yang sungguh menyakitkan. Saat itu Harlan jelas tak akan menyampaikan kalimat lain sebagai penyerta hadiah kecil tersebut kepada Ryu.
Dan Ryu pun tak mengetahui bahwa syal tersebut adalah hadiah pemberian Elardo. Karena Harlan mengatakan jika syal itu ia belikan khusus untuk Ryu dengan rajut inilah nama R & A. R adalah Ryu dan A adalah inisial nama bayi Ryu yang di usulkan oleh Harlan sebagai dalih.
Karena sejatinya A adalah inisial klan Aarav. Dan Ryu mempercayainya begitu saja.
"Kenapa tak ada satupun dari kalian yang bisa mencegahnya melakukan hal gila ini, hah?!" Teriak Elardo menatap para penjaga kastil satu persatu dengan tatapan murka.
Ia tak menyangka, kepulangannya ke kastil setelah menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Malah di hadiahi oleh kepergian Ryu serta calon bayinya.
Saat ia bersikukuh mempertahankan ego, dan melampiaskan segala amarah yang sebenarnya telah berubah menjadi cinta. Di saat itu ia mulai menguak satu persatu kenyataan yang terjadi sebenarnya.
Ryu adalah korban dari keegoisan tunangannya. Wanita malang itu di korbankan agar wanita ja lang bernama Moza, dapat menikmati gemerlapnya dunia tanpa gangguan darinya.
Dan di saat hatinya mulai memutuskan untuk melepaskan segala ego dan kebencian tak beralasan, Ryu tak lagi dapat ia rengkuh dalam dekapan.
Wanita itu memilih untuk meninggalkannya dengan setumpuk kenangan yang menyakitkan. Wanita itu menyerah atas hidupnya dan memutuskan untuk mengakhiri penderitaan yang ia dapatkan, dengan melompat dari ketinggian tebing jurang yang curam.
Dapat Elardo saksikan dari layar monitor cctv keamanan kastil. Bagaimana wanita itu berjalan dengan tatapan kosong menuju tepi pantai, yang berada di belakang kastil miliknya.
Wanita itu terlihat menaiki undakan bebatuan lalu berhenti sejenak, sebelum akhirnya menghempas diri Ketika gelombang pasang menerpa tubuh ringkihnya. Dan setelahnya, wanita itu menghilangkan di telam ombak yang dahsyat.
Selama tiga bulan berada dalam sanderaannya, Ryu selalu ia siksa lahir dan batin. Jiwa maupun raga wanita itu siang malam ia aniaya. Hingga akhirnya benih liar nan ganas miliknya tumbuh subur di rahim hangat Ryu.
Wanita itu menerima kehamilan yang tak ia impikan dengan ikhlas. Namun dirinya justru kian membenci tubuh fana yang membawa satu nyawa lagi di dalam sana.
Berkali-kali ia memberikan obat penggugur kandungan, namun janin tersebut seolah enggan untuk pergi. Bertahan meski berkali-kali menahan dahsyatnya hantaman gelombang, kala ibunya kembali di gagahi Dengan brutal bak seekor binatang.
Kini sesal itu telah menjadi seonggok kenangan yang memilukan. Bayangan wajah penuh permohonan Ryu kala dirinya terus menggauli wanita itu dalam keadaan lemah. Terus berseliweran di pelupuk matanya.
Tak terhitung kali Ryu mengalami pendarahan, tak terhitung kali wanita itu kehilangan kesadarannya. Namun jiwa iblis dalam dirinya seolah enggan untuk merasa iba.
Seakan bisikan para setan kian menyesatkan jiwa Elardo, hingga selalu berbuat buruk dan semakin buruk saat hatinya mulai merasa tak tega.
Elardo melampiaskan kekesalannya pada Ryu, saat ia mulai menatap wanita itu dengan hati nurani. Ia benci merasakan sebuah rasa iba. Ia merasa Ryu tak pantas untuk di ampuni. Ryu membuatnya kehilangan sang tunangan, Ryu membuat pernikahan impiannya hancur berantakan, Ryu membuat ia terpaksa harus menikahi wanita itu karena desakan keluarga, demi menghindari tatapan penuh hinaan orang-orang.
Dan ia merasa Ryu pantas mendapatkan perlakuan tak manusiawi. Wanita itu di asingkan. Bahkan kematiannya di palsukan. Seluruh keluarga wanita itu berduka. Menyambut peti jenazah yang berisi abu kremasi Ryu. Yang nyatanya hanyalah abu dari seorang tunawisma yang malang.
Sungguh kejam perlakukan Elardo. Masih pantaskah ia memohon pengampunan pada Tuhan? Masih pantaskah ia meminta wanita itu untuk di kembalikan kepadanya?
Elardo putus asa, depresi dan menjadi pria penyendiri di kastil tua milik keluarga Aarav turun temurun. Ia ingin hidup dengan kenangan Ryu serta calon anaknya yang bahkan belum sempat ia lihat rupanya. Ia ingin menghukum dirinya, dengan melepaskan kehidupan duniawi.
Elardo hanya hidup dari hasil perkebunan anggur milik mendiang kakeknya. Ia bahkan turun tangan langsung untuk merawat perkebunan tersebut.
Setiap sore hari tiba, Elardo akan berdiri di atas tebing batu. Berharap hempasan gelombang membawa kembali tubuh ringkih Ryu nya, meski hanya berupa potongan tubuh yang tak utuh. Sungguh kerinduannya sangat menyakitkan.
Merindu pada mahkluk yang sudah tak lagi bisa ia sentuh. Beberapa foto Ryu yang ia ambil dalam pose mengenaskan tanpa sehelai benangpun. Masih berserakan di atas ranjangnya tanpa berniat ia simpan. Hanya itu yang ia miliki. Meski setiap kali menatap setiap lembaran foto tersebut. Hatinya bagai tersayat pisau tumpul. Sakit namun tak berdarah.
Foto-foto itu ia ambil setelah puas menuntaskan hasratnya yang gila. Dan Ryu pasti tak dalam kondisi yang baik-baik saja, apalagi dalam pose siap untuk di potret.
Wanita itu tergolek lemah tak berdaya, tak jarang Ryu dalam keadaan tak sadarkan diri akibat keganasannya.
Sungguh ia tak menyangka, hanya karena tipu muslihat seorang wanita yang ia puja. Mampu merubahnya menjadi sosok monster yang menakutkan.
Ia memang kejam dalam dunia persaingan bisnis, namun hatinya sangat lembut terhadap orang-orang yang ia kasihi. Namun karena rasa malu akibat di tinggalkan oleh sang kekasih tepat di hari pernikahan. Merubah Elardo menjadi iblis menyeramkan.
Namun kini sosok iblis itu telah lenyap dari dalam dirinya. Seiring dengan kepergian Ryu dan rahasia besar Moza yang terbongkar.
"Tuan demam Marta...biar aku aku saja yang mengompresnya. Aku khawatir tuan masih marah karena kita tak becus menjaga nona Ryu hingga kejadian hari bisa terjadi. Kau siapkan bubur saja, aku akan mengambilnya jika sudah selesai." Ucap Andreas pada Marta.
Wanita itu mengangguk patuh dalam kebisuan. Ia tak tau harus memulai kata dari mana. Kepergian Ryu membuat wanita itu syok. Ia tak menyangka, dalam upaya berusaha membebaskan wanita malang itu dari belenggu sang tuan. Malah berujung maut yang memilukan.
Marta teringat dirinya lah yang membuka gembok yang membelenggu rantai di kaki Ryu. Meminta wanita itu pergi sebelum Elardo kembali. Namun siapa sangka, Ryu benar-benar membebaskan dirinya dari segala siksa dunia.
Mendengar berita sang tuan akan segera kembali ke kastil, membuat hati Marta tak tenang. Ia khawatir sang tuan akan kembali menyiksa wanita hamil itu saat tiba di kastil. Apalagi sudah beberapa kali Elardo mengirimkan paket obat penggugur kandungan, namun tak pernah ia berikan.
Dan kini, wanita muda itu memilih pergi menuju alam kematian dengan cara yang cukup membuat jiwa Marta terguncang.
"Marta! MARTA!" wanita itu terkesiap nyaris limbung. Andai saja Andreas tak segera menahan bahu wanita tambun itu.
"Ada apa denganmu? Aku memintamu untuk membuatkan tuan Elardo bubur, kenapa kau malah bengong." Cecar Andreas menatap aneh sang pelayan.
"Maaf Andreas, aku hanya masih syok atas kepergian nona. Akan aku buatkan sekarang," ucap wanita itu sedikit gugup.
Marta meninggalkan Andreas dalam rasa penasaran. Marta tak biasa bertingkah seaneh ini sebelumnya.
"Semoga saja anda selamat nona, aku mohon tetaplah hidup. Aku tak bisa hidup dengan menanggung beban dosa ini selamanya," lirih wanita itu dengan memanjatkan doa harapan.
Ia merasa bersalah atas apa yang Ryu alami. Andai dirinya tak lancang, mungkin malam ini akan menjadi awal yang baik bagi sang majikan.
Pria itu datang dengan setumpuk harapan setelah mengetahui sebuah kebenaran. Namun dirinya malah mematahkan segala harapan sang tuan dengan kelancangannya.
Tangannya masih sedikit bergetar saat mencuci daging juga sayuran. Kedua tangan yang telah tanpa sengaja mengirim sang nona menuju alam baka. Pikiran Marta terus di hantui oleh rasa bersalah yang teramat dalam menggores kalbunya.
Di sisi pulau lain, seorang pria terlihat basah kuyup oleh deburan ombak air laut. Di gendongannya ada sesosok tubuh lemah seorang wanita.
"Bertahanlah, aku tau kau tak selemah ini. Jika kau berani mati setelah perjuangan panjang ini, akan aku lubangi kepalamu hingga otakmu berceceran." Gumam pria tersebut berjalan sedikit tergesa menuju sebuah kabin.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang wanita sambil menggendong bayi mungil 7 bulan.
"Pingsan, aku harap..." sahut pria itu ambigu dan terkesan menjengkelkan. Si wanita mendengus kesal.
"Duduk di keretamu sayang, mama ingin membantu ayahmu yang pemarah itu." Ucap wanita itu pada bayi laki-lakinya.
"Aku sudah menyiapkan air hangat dalam bathtub, letakkan saja nona Ryu di dalam sana untuk menetralkan sisa air laut dari tubuhnya." Ucap wanita itu mengarahkan sang suami ke sebuah kamar mandi tamu.
"Kau lanjutkan, lakukan dengan hati-hati. Aku akan menemani Lucio di luar," ucap pria itu setelah meletakkan tubuh lemah Ryu di dalam bathtub. Sebelum keluar pria itu mengecup kening istrinya dengan gemas
"Lain kali kau tak perlu memakai apapun," ucap pria itu mengeram. Bisa-bisanya sang istri menggunakan pakaian renang di saat yang tak tepat. Dan berhasil membuatnya jiwa kelakiannya meronta-ronta.
To be continue
Penasaran gak sih siapa sepasang suami istri absurd ini? besok kita lanjutkan lagi ya gengs.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.