Dua orang pria tengah duduk di kursi yang menghadap ke arah lahan perkebunan. Keduanya baru saja bertemu setelah hampir 1 tahun tak berjumpa.
"sudah lima tahun berlalu, dude. Tak inginkah kau melepaskannya? Meski hanya sekedar tulang belulang, aku tak yakin ombak akan menyeretnya ke tepi pantai untuk kau ratapi dengan penuh penyesalan. Ryu telah tenang bersama calon anak kalian. Lepaskan, kau hanya akan membuat jiwanya melayang tak tentu arah." Nasihat sang sahabat entah untuk ke berapa kalinya.
"Maka selamanya aku akan tinggal untuk mengenangnya. Ryuku juga bayiku," sahut Elardo santai. Asegaf hanya bisa menggeleng pasrah. Sulit untuk membawa pria penyendiri itu keluar dari zona rasa bersalah, yang terus menghimpit rongga da da nya. Elardo memutuskan hubungan dengan dunia luar. Termasuk keluarganya. Itu pengorbanan yang luar biasa. Elardo rela kehilangan pamornya, kekuasaan dan seluruh kemewahan yang ia miliki.
Jika bukan di kunjungi, maka tak satupun dari keluarganya yang bisa melihat wajah tampannya untuk melepaskan kerinduan yang terpendam.
Penyesalan Elardo rupanya berbuntut panjang. Pria itu seolah menikmati hukum semesta yang meliputi kehidupannya yang kian suram. Tak ada lagi senyum teduh Ryu yang biasa ia lihat diam-diam dari kejauhan, kala wanita itu duduk bercengkrama bersama pelayan setianya di balkon kamar. Wanita yang selalu ia kunjungi di seperempat malam untuk melepaskan kerinduan. Balkon yang menjadi tempat satu-satunya bagi Ryu untuk bisa melihat dunia nyata di balik dinding penjara yang Elardo ciptakan. Hanya dari sanalah wanita malang itu memiliki kesempatan untuk melihat keindahan alam terbuka.
"Kau akan menginap?" Elardo tak ingin memperpanjang obrolan tentang Ryu juga calon anaknya yang tak pernah ia inginkan di masa lalu.
Bayangan kenangan itu masih terasa perih hingga sekarang.
"Apa itu semacam pengusiran secara halus?" Sambar Asegaf sedikit sensitif. Elardo terkekeh geli. Ia tau pria itu tengah kesal kepadanya.
"Aku hanya ingin menyiapkan hidangan makan malam terbaik untuk tamu istimewaku. Jarang-jarang aku mendapatkan kunjungan tamu dari kota, semua orang di sini tak terbiasa dengan kehadiran para pelancong asing berjas seperti dirimu. Kau harus memakai setelan yang sesuai dengan gambaran kehidupan pedesaan yang kental. Maka kau akan di terima dengan senyum ramah, saat berpapasan dengan salah satu warga desa. Jika kau ingin menikmati suasana kota, kau bisa menumpang mobil pengangkut barang besok subuh menuju pusat kota Interlaken." Tutur Elardo panjang lebar.
Asegaf hanya menggeleng kecil. Ia tak berniat kemanapun. dirinya ke sana hanya karena ingin membawa pria keras kepala itu untuk kembali ke Zurich. Itu karena Joanna adik pria itu akan menikah dalam waktu dekat.
Sebagai adik yang sangat menyayangi kakaknya, Joanna tak ingin melangsungkan pernikahan tanpa kehadiran sang kakak tercinta. Cukup baginya pertunangannya Elardo lewatkan begitu saja, tidak dengan pernikahannya juga.
Makan malam tiba. Elardo lebih memilih untuk menikmati makan malam di gazebo. Tempat favorit baginya saat ingin menyaksikan pemandangan indah dari atas balkon kamar yang di tempati oleh Ryu.
Segala hal yang berhubungan dengan kenangan tentang Ryu, akan Elardo jalani sebagai sebuah kebiasaan harian baginya.
"Jadi, apa yang membawamu kemari dude? Aku tau kau tak datang hanya untuk memastikan aku masih hidup atau sudah mati. Terlebih kau tak mungkin merindukanku, bukan?" Goda Elardo terpingkal renyah.
Melihat ekspresi jengkel di wajah Asegaf membuat hatinya terhibur.
"Maaf brother, aku sudah lama tak memiliki teman untuk sekedar berbagi canda tawa. Para pekerja di perkebunan terlalu serius dan cenderung sungkan bila ku ajak bercanda. Mungkin auraku terlihat sangat menakutkan sehingga mereka begitu enggan berlama-lama berada di dekatku." Cerita Elardo dengan mimik wajah yang berubah sendu.
Asegaf terenyuh melihat bagaimana pria angkuh, kejam dan tak punya perasaan seperti Elardo bisa begitu berubah hanya karena sebuah rasa kehilangan.
Pria itu jelas kesepian namun tak berniat untuk melepaskan diri, dari segala kemelut yang membelenggu kebebasan jiwanya.
"Mereka takut kau permentasi untuk membuat pupuk organik. Seramah apapun dirimu, auramu tetap saja terlihat sangar. Semua orang jelas berpikir dua ribuan kali untuk mencoba mengakrabkan diri denganmu. Yang ada mereka bisa langsung terserang Tremor parah, bila kau tiba bersikap ramah dengan senyum aneh di bibirmu yang biasa mengucapkan kata-kata kasar." Beber Asegaf mengemukakan pendapatnya dengan blak-blakkan.
Elardo terdiam. Ia menyadari bahwa seluruh penduduk desa jelas masih mengingat bagaimana dirinya menyiksa Ryu, saat wanita itu berhasil kabur dan bersembunyi di lumbung salah satu warga desa.
Tanpa perasaan dirinya menyeret Ryu hingga meninggalkan jejak darah berceceran di atas tanah kering. Ryu mengalami luka lecet juga pendarahan kala ia seret dari dalam lumbung menuju mobil.
Semua warga desa menatapnya penuh dengan kebencian. Ada pula yang dengan berani mengutuk dirinya saat melihat Ryu sudah tak lagi berdaya.
Sekarang ia menyadari, kesalahpahaman teramat sangat fatal di masa silam. Pantas saja para pekerja hanya berbicara seperlunya saja, tanpa berniat untuk memulai obrolan panjang dengannya.
Rupanya kebencian itu masih belum terhapus meski sudah bertahun-tahun lamanya. Meski kini ia telah berubah menjadi pria yang lebih manusiawi, tak ada satupun warga desa yang menatap respect dirinya.
"Kau benar.... keburukanku tak bisa di hapus begitu saja dari ingatan orang-orang baik di desa ini. Mereka bahkan sampai melempariku menggunakan telur busuk saat aku mengambil alih perkebunan ini. Saat menerima upah pertama dariku, seorang wanita tua pemilik lumbung tempat Ryu bersembunyi. Menatapku dengan tatapan jijik, marah dan entahlah. Wanita itu berkata, jika keluarganya tak butuh makan dan memiliki pekerjaan lain meski hanya di upah 1 dollar saja. Maka ia tak akan sudi bekerja di perkebunan milik pria ba ji ngan seperti diriku." Elardo memalingkan wajahnya.
Asegaf tau, jika pria itu berusaha untuk menyembunyikan cahaya berkilau dari tumpukan air mata yang menggenang di pelupuk mata Elardo.
Elardo tak suka di kasihani.
"Lupakan semuanya...di mulai dari merelakan kepergian Ryu. Kau akan menemukan kebebasan jiwamu kembali. Kau masih memiliki keluarga yang menyayangimu, aku, juga sahabatmu yang lain. Kami semua ingin kau menjadi Elardo yang penuh ambisi serta tak suka terkalahkan seperti dahulu." Bujuk Asegaf tak putus asa.
"Akan aku pikirkan," jawaban singkat yang berhasil menciptakan de sa han panjang dari mulut Asegaf.
"Kau keras kepala sekali man," kesal Asegaf melempari Elardo menggunakan tisu bekas dirinya.
Elardo menatap onggokan tisu di atas pangkuannya dengan tatapan tak terbaca. Asegaf sedikit kelabakan. Dengan cepat pria itu mencoba untuk mengambil kembali tisu bekas yang ia lemparkan. Asegaf merasa ia telah bercanda berlebihan yang mungkin saja merendahkan harga diri Elardo.
Pria itu paling anti terhadap hal-hal seperti itu. Candaan yang baginya bagai kotoran tak berarti.
Elardo mengangkat tangannya mencegah Asegaf meraih tisu dari pangkuannya.
"biarkan saja....aku jadi teringat dengan apa yang pernah aku lakukan dahulu. Ryuku sering ku lempari tisu bekas seperti ini, bahkan lebih kotor lagi. Aku melempari wajah lelahnya setelah puas ku nikmati tubuhnya. Bukankah aku ini pria yang sangat kejam dan jahat? Sekarang aku mengerti apa yang Ryu rasakan. Di lempari kotoran setelah mati-matian memberikan hidangan terbaik yang membuatku terpuaskan." Asegaf meneguk ludah kaku.
Sindiran halus tersebut bukan untuk menyindir dirinya secara harfiah. Namun hatinya tetap saja tersentil hebat. Elardo telah menjamunya dengan hidangan terbaik, dan dirinya malah melempari sampah pada sang tuan rumah yang memberinya makan.
Begitulah kira-kira sepenggal pemahaman yang Asegaf tangkap.
Ryu telah memberikan kepuasan batin pada Elardo, dan dengan kejam pria itu melempari tisu kotor yang ia gunakan untuk membersihkan miliknya, dari cairan kenikmatan yang Ryu berikan padanya. Sungguh perbuatan yang tak tau terimakasih dan bia dab.
"Sepertinya sudah larut malam. Kita akan lanjutkan obrolan besok pagi saja. Ada beberapa hal tentang perusahaan juga bisnismu yang lainnya yang ingin aku sampaikan padamu. Juga.... pernikahan Joanna..." Elardo mengangguk paham.
Pria itu mempersilahkan Asegaf untuk beristirahat terlebih dahulu. Perjalanan ke tempat itu membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Setelah membersihkan sisa-sisa makanan dan mencuci perabotan makan, Elardo berjalan ke ujung dermaga yang ia buat beberapa tahun lalu untuk mengenang kepergian Ryu di tempat itu.
"Selamat malam kesayangan daddy, selamat malam sweetheart. Kalian pasti sedang mentertawai daddy, bukan? Melihat pria arogan ini telah berubah menjadi hello Kitty yang lemah." Elardo menyapu pipinya yang basah oleh lelehan kesedihan yang tak pernah habis.
"Daddy akan ke kota untuk beberapa waktu...bibi Joanna akan menikah dan wanita keras kepala itu sudah menunda pernikahannya selama dua tahun, hanya karena ingin daddy hadir dalam pesta pernikahannya." Suara kekehan kecil Elardo tersapu oleh deburan ombak laut.
Elardo menghirup udara malam dan aroma laut yang terasa menusuk sanubarinya. Di sana, di tempat ia berpijak saat ini. Di sanalah Ryu mengakhiri penderitaannya.
"Selamat malam sweetheart, selamat malam baby Sea..." Setelah mengucapkan sederet kalimat selamat malam kepada Ryu juga bayinya, Elardo berbalik kembali meninggalkan dermaga kecil itu.
Diam-diam dari balik gorden, Asegaf menatap iba sang sahabat. Ia tak pernah menyangka, duka kehilangan Elardo begitu dalam dan tak terobati.
"Aku harap kau masih hidup Ryu...meski kemungkinannya hanya seujung kuku. Elardo telah berubah karena kehilanganmu, pria kejam itu kini bagai tubuh tak bernyawa. Menjalani hari hanya sebagai sebuah hukuman yang harus ia jalani. Semua demi bisa menebus setitik dosa yang ia perbuat kepadamu." Gumam Asegaf kemudian menutup tirai gorden.
Ia berharap kali ini Elardo melunak dan ikut kembali ke kota. Dan harapan lainnya, ia berharap Ryu masih hidup dan memberikan kesempatan meski tak semudah membalikkan telapak tangan.
Namun setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Begitupun dengan Elardo. Pria itu sudah cukup menghukum dirinya sendiri dengan menerima tatapan penuh kebencian dari para penduduk desa. Orang-orang yang bekerja padanya namun memperlakukannya bagai sampah busuk.
Tak ada yang mau mendekati pria malang itu, meski sekedar untuk membalas sapaan hangat dari Elardo. Namun Elardo tak pernah merasa marah. Ia anggap itu suatu kewajaran dan ia menerimanya dengan lapang da da.
To be continue
Note author,
Besok author ada sedikit kesibukan ya gengs. Si bungsu merayakan pesta ulang tahun kecil-kecilan, jadi author mungkin tidak akan update besok. Semoga tetap setia menanti update selanjutnya setelah author tidak sibuk lagi.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.