Bab 10

1605 Kata
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun berlalu. Elardo kembali menghirup udara syarat polusi di stasiun utama kota Zurich. Stasiun Zurich Hauptbahnhof merupakan stasiun tersibuk di dunia, yang dalam satu hari operasi, bisa mencapai 2900_an kereta perharinya. "Aku harap keajaiban menghampiriku di kota ini," gumam Elardo penuh harapan ketika langkah kaki pertamanya menuruni undakan anak tangga, menuju lobby di mana mobil jemputannya terparkir. Sebelum tiba, Elardo terlebih dahulu berpesan agar kedatangannya tak menjadi perbincangan hangat di kota tersebut. Setelah lima tahun, jelas kedatangannya kali ini akan menjadi berita besar yang akan mencuri perhatian. Terutama perbincangan hangat di kalangan para pengusaha. "Maaf tuan, saya hanya menjemput anda sampai di sini." Ujar sopir keluarga Aarav tersebut menunduk hormat. "Tak apa, ini yang aku inginkan. Ayo jalan," sang sopir mengangguk patuh lalu masuk ke sisi kemudi. Sedangkan Elardo sudah duduk nyaman di jok belakang. Pria itu tak banyak bicara, namun lebih ramah dari dahulu seingat sopir tersebut. Saat mobil memutar arah meninggalkan lobby stasiun, siluet bayangan seseorang tertangkap oleh kedua mata elang Elardo. Pria tersebut meminta sang sopir menghentikan mobil secara tiba-tiba, kemudian keluar sebelum mobil berhenti sempurna. Nyaris saja Elardo tertabrak oleh sebuah mobil yang kebetulan melintas masuk ke area pelataran parkir stasiun. "Hei! perhatikan langkahmu bung!" seru seorang pria berseru jengkel. Ia tak ingin berakhir di kantor polisi hanya karena menyerempet seorang pria gila, yang keluar dari mobil seperti seorang tahanan kabur. "Sorry!" seruan Elardo tak lagi terdengar, karena seiring langkahnya yang terus berlari entah kemana. Sesampai di mana kedua matanya melihat bayangan seorang wanita, Elardo terus memutar pandangan ke seluruh penjuru . Nafas pria itu terengah-engah karena berlari ke sana kemari, hingga pada langkah lelahnya, Elardo tak sengaja menabrak seseorang. "Auw! Lututku..." pekik seorang gadis kecil yang nampak terjerembab di ubin dengan bertumpu pada kedua lututnya. "Oh astaga! maafkan paman sayang..paman sungguh tak se...nga..ja..." Elardo nyaris terkena asma mendadak. Bagaimana tidak, gadis kecil itu begitu menduplikasi wajahnya versi seorang gadis mungil. Nafas Elardo tercekat di tenggorokan. Pria itu hampir kesulitan untuk bernafas. "Seharusnya paman minta maaflah padaku, bukannya malah bengong seperti ini." Ketus gadis kecil itu kesal. Ia kesal karena Elardo tak kunjung mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Elardo kelabakan, " maaf sayang. Mari paman bantu kau berdiri," Elardo akhirnya tersadar dan segera meraih tangan mungil yang terarah kepadanya. "Ayo kita duduk di kursi tunggu itu," tunjuk Elardo menuntun gadis kecil tersebut menunju ke sebuah kursi panjang. "Apa ini sangat sakit hmmm?" tanya Elardo lembut, pria itu kini tengah berjongkok di hadapan gadis kecil itu dengan perasaan bersalah. "Aku gadis kuat, itu yang selalu mom katakan. So, ini...tak terlalu sakit sebenarnya. Aku hanya...merasa malu karena di lihat oleh banyak orang. Aku jadi tidak anggun lagi," cicit gadis kecil itu memelankan suaranya di ujung kalimat. Elardo tercengang, tak lama pria itu melepaskan tawa gemas. Itu sukses membuat bibir gadis mungil itu mengerucut kesal. "Maafkan aku sweetheart," ucap Elardo merasa bersalah telah mentertawai gadis kecil itu. "Kau terlalu menggemaskan, itu sebabnya aku tertawa." Ungkap Elardo jujur. "Siapa namamu sweetie?" tanya Elardo lagi. "Elary," sahut gadis kecil itu dengan gaya malu-malu. Wajahnya memerah karena di sebut menggemaskan oleh Elardo. Sedangkan Elardo, pria itu merasakan jantungnya berdegup kencang bagai suara genderang. Di tatapnya lamat-lamat wajah oval tersebut dengan teliti. Fokusnya berhenti pada sepasang mata hazel yang sama persis seperti miliknya. Lalu bibir mungilnya namun penuh yang mengingatkan Elardo pada seseorang di masa lalu. Tanpa sadar telapak tangan Elardo mengusap lembut pipi Elary yang hanya setengah telapak tangannya. Gadis itu sangat mungil, mungkin sekitar 2-3 tahun menurut perkiraan Elardo. Pria itu menggeleng cepat. Jika saja anaknya masih hidup, sekarang usianya sudah beranjak lima tahun. "Berapa usiamu sayang?" tanya Elardo yang di dera oleh rasa penasaran yang amat sangat. "Elary!" seru seorang wanita paruh paya yang tampak kesulitan untuk berlari kecil menghampiri Elary. "Astaga! kau membuat wanita tua ini nyaris kehilangan nyawanya Elary. Berhentilah melakukan hal seperti ini berulangkali, kau bisa duduk manis sementara aku membayar tagihan makanan. Kenapa selalu saja berkeliaran seperti anak yang kehilangan induknya." Omel si wanita tambun tersebut dengan mimik wajah kesal namun juga lega. "Maafkan aku bibi Sora," cicit Elary tak enak hati. "Siapa anda tuan? kenapa Elary bisa bersama anda?" cecar wanita bernama Sora tersebut dengan tatapan penuh selidik. "Aku...." "Aku tak sengaja menabrak paman tampan ini, bibi Sora. Itu kenapa lututku sedikit terluka. Tolong jangan memarahinya, aku yang salah." Elardo terkesiap. Ia tak menyangka, gadis kecil itu mampu memberikan sebuah pembelaan terhadap dirinya dengan begitu apik. "Ah, kau memang selalu saja ceroboh. Lain kali perhatikan langkahmu, kau terlalu mini, siapapun tak akan melihatmu bila kau berkeliaran di tengah keramaian." Lanjut Sora mengomel. Elary cengengesan memperlihatkan gigi kecilnya yang putih bersih tersusun begitu rapi. Senyuman itu...persis seperti senyumanmu honey. Monolog Elardo lagi-lagi terpesona oleh senyum polos Elary. "Maafkan keponakanku tuan, Elary sering kali menghilang saat ku tinggal walau hanya beberapa detik saja. Seperti kali ini," ucap Sora tak enak hati. "Ah tak apa, aku senang bisa berjumpa dengan keponakan anda. Dia sangat menggemaskan, aku menyukainya." Sahut Elardo cepat. Tatapan matanya tak beralih dari wajah oval yang telah mencuri seluruh dunianya. "Kalau begitu kami permisi duluan, ibunya sudah menunggu sejak tadi. Tapi bayi ini malah menghilang dari pengasuhanku," celetuk Sora membuyarkan lamunan Elardo. Riak wajah Elardo tampak begitu kecewa, ia masih belum puas untuk bercengkerama dengan gadis mungil itu, dan sekarang Elary sudah akan pergi. "Baiklah, berhati-hatilah menjaga peri kecil ini. Lain kali aku bertemu lagi dengannya, maka bayi ini akan aku bawa pulang ke rumahku." Canda Elardo terselip sebuah harapan besar untuk bisa bertemu kembali. Sora tertawa kecil, menganggap apa yang Elardo ucapkan merupakan sebuah candaan belaka. "Kau bisa mengantonginya lain kali bila melihat bayi ini berkeliaran tanpa pengawasan." Balas Sora melontarkan candaan. Elardo terkekeh kecil, kembali menatap wajah Elary sebelum gadis itu pergi dari hadapannya. Elardo bahkan melupakan tujuannya kembali ke stasiun untuk mencari seseorang. Elary rupanya mampu mengalihkan perhatian Elardo tanpa tersisa untuk memikirkan apapun lagi. Itu membuat senyum terbit di bibir seorang wanita di balik kaca mobil. "Kau berhasil mengalihkan perhatian pria ba ji ngan itu sayang, mom berhutang padamu." Gumam wanita tersebut menatap tubuh mungil sang anak yang tengah berjalan menuju ke arah mobilnya. Klek, bum! "Bertindaklah sesuai dengan ukuran tubuhmu sayang," tegur sang ibu menatap teduh sang anak penuh peringatan. Elary hanya melengkungkan senyum manis agar sang ibu tak mengomelinya seperti yang kerap di lakukan oleh Sora. "Aku reflek mom, sorry..." cicit Elary dengan ekspresi memelas. Sora mencebik dari jok depan. Wanita itu tampak sedikit kesulitan untuk menyesuaikan posisi duduk ternyaman, karena bobot tubuhnya yang sangat makan tempat. "Kau harus melakukan diet ketat bibi Sora, atau semua kursi yang kau duduki akan langsung patah menjadi beberapa bagian." Celetuk Elary menasehati. Sang ibu hanya bisa menggeleng melihat kejahilan sang anak terhadap pengasuhnya. "Aku seperti ini karena terlalu sering memakan sisa makananmu yang tak pernah kau habiskan. dahulu aku memiliki body seorang super model, sebelum aku menjadi pengasuh dari miniatur balita sepertimu." Balas Sora melontarkan dalih pembelaan diri seperti biasanya. "Sudahlah kalian berdua," tegur ibu si gadis mungil menengahi. Perdebatan tersebut tak akan berkahir hingga mereka tiba di tujuan. Selalu seperti itu, karena tak akan ada salah satu dari kedua makhluk fana tersebut yang sudi untuk mengalah terlebih dahulu. Untuk itu perannya sangat di butuhkan di saat-saat seperti ini. "Lain kali jangan sampai kehilangan peri mungil ini lagi Sora. Kau nyaris saja kehilangan putriku. Kau lupa, seberapa kecil ukuran tubuhnya? semut bahkan lebih besar darinya." Nasihat wanita itu kepada pengasuh putrinya. "Maafkan aku Aura, lain kali aku akan menaruh miniatur ini di dalam dompetku saja. Agar aku tak lagi kesulitan untuk mencarinya di tengah keramaian," sahut Sora dari jok depan. Bibir Elary berlipat kesal. Karena sang ibu juga pengasuhnya selalu mengatakan dirinya miniatur atau bayi mungil. Itu karena postur tubuh Elary memang sangat mini dari usia yang seharusnya. Gadis itu sudah berusia 4 tahun lebih, namun tubuhnya masih terlihat seperti baru berusia 2 tahun. Kelahirannya yang prematur, juga banyak faktor lain yang membuat pertumbuhan Elary sedikit terhambat dari janin yang seharusnya. Membuat tubuhnya sangat mungil. Ketika lahir, bobot tubuhnya hanya seberat 1.200gram. Atau 1,2 kilogram. Sangat mungil bukan? hingga sekarang, tubuh Elary begitu sulit untuk berkembang. Namun begitu, Elary anak yang sangat cerdas. Seperti saat ini, gadis kecil itu baru saja menyelamatkan sang ibu dari tangkapan megalodon raksasa. Aktingnya yang meyakinkan, meski harus mengorbankan lutut mungilnya. Sungguh itu di luar arahan sang ibu. Namun Elary begitu epik memainkan perannya sebagai anak yang tersesat dari ibunya. flashback "Sweetpie, apa kau bisa membantu mom?" tanya sang ibu menatap sang anak penuh permohonan. Elary mengangguk cepat dengan tatapan polos yang membuat hati wanita itu nyaris tak tega. Namun ia harus melakukannya, atau keberadaannya akan di ketahui oleh pria bengis itu. "Kau lihat pria itu," tunjuk wanita itu ke arah seorang pria yang terus memutar pandangan menyapu area stasiun untuk mencari seseorang. Sedangkan mobilnya berada tepat di sebelah mobil yang menjemput pria itu. Hingga terpikir sebuah ide untuk mengalihkan perhatian pria itu melalui sang anak. "Of course mom, he is...." "Yes!" jawab sang ibu mantap. Senyum kecil terbit di bibir kecil tersebut. " I Will do it," sahut gadis kecil itu penuh keyakinan. Dengan perasaan ketar ketir, wanita tersebut melepaskan sang anak dari pantauan sang pengasuh dengan mengalihkan perhatian wanita tambun itu. Dan ya, Elary sukses mengalihkan perhatian sang ayah agar tak lagi terfokus mencari keberadaan sang ibu. To be continue Si bungsu selesai merayakan ultah terserang diare. Karena cinta kasih seorang ibu, jadi princess sehari, apa ajalah boleh di cicipi. Padahal tau batita'ku sangat sensitif terhadap jenis jajanan tertentu. Dan yaaaa...aku menyesal readers. Puji Tuhan sudah membaik, dan baru sempat update sore ini. Terimakasih sudah setia menanti bab ini. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN