Bab 8 : Tujuan Hidup

4168 Kata
Mereka berada di dalam kamar hotel mewah, duduk berdempetan sebelum tubuh sintal wanita berpakaian ketat itu merangkak naik ke pangkuan Azam. Untuk kemudian menyembunyikan kepalanya yang dihiasi rambut pirang panjang di d**a Azam. Jemari lentik itu mengelus sepanjang rahang Azam, naik turun konstan, Azam memejamkan mata. “Kau tahu? Namamu terlalu suci untuk berada di tempat ini denganku.” Suara wanita itu terasa menggelitik, napasnya yang harum menyapu permukaan jubah mandi Azam. Bibir yang bergincu merah itu tersenyum sensual. Azam lantas terkekeh sembari meraih pergelangan tangan itu untuk diperlakukan istimewa. “Lorena,” suara yang keluar dari tenggorokannya hampir berupa erangan. “kau tahu betapa tidak pentingnya namaku menyangkut wanita cantik seperti kau.” Diciumnya satu persatu jemari Lorena yang berkutek merah, mengilap sekaligus membangkitkan gairah. Lorena dengan gaun hitam yang menjuntai melewati telapak kakinya nampak begitu mempesona. Luar biasa pas membungkus tubuhnya yang berlekuk. Kini tak lagi duduk menyamping, tetapi mengangkangi Azam, menampakkan sepasang paha yang sekal akibat potongan gaun di sisi kanan dan kiri yang terlalu tinggi. Wanita itu menyunggingkan senyum. “Kau tidak takut tenggelam di lautan api atau terbakar di tiang gantung neraka, seperti orang-orang suci katakan di luar sana?” “Kau tunjukkan wajah Tuhan dulu ke hadapanku kalau begitu,” kata Azam serius. “Persetan dengan alibi manusia-manusia putih di luar sana, mereka bukan malaikat bersayap yang tiap detik bersujud di kaki Tuhan. Semuanya sama, pada akhirnya terjun bebas ke dalam neraka.” Lorena menaikkan alis, lelaki di hadapannya ini terlalu filosofis, jauh untuk dijangkau akalnya. Lagipula tujuannya hanya ingin bersenang-senang dengan pria yang mendatanginya beberapa jam lalu di club malam itu. “Jadi kau malaikat bersayap hitam yang bersedia bersujud di bawah kakiku? Merangkak bersamaku?” Azam memberi senyum tipis mempesona. “Mungkin saja, kalau kau mau dijinakkan.” Wanita itu makin menjadi dengan melingkarkan kedua lengannya ke sekitar leher Azam, menunjukkan belahan dadanya yang rendah. Siapapun yang melihatnya pasti akan meneteskan air liur. Lorena tersenyum, “Aku begitu beruntung bisa bertemu denganmu malam ini. Jadi, apakah kita akan bersenang-senang sepanjang malam?” matanya melirik nakal ke arah ranjang besar. Tangannya menarik ikatan jubah mandi Azam, menampakkan kulit telanjangnya yang ingin dicicipi wanita itu sesegera mungkin. Ramping dan berlekuk, begitu menggoda. Lorena menyukai laki-laki yang mengatur porsi olahraganya dengan benar. Jaminan punya stamina tinggi dan lebih memuaskan. Azam menahan gerakan wanita itu ketika tangannya hendak menyusup lebih bawah. “Tentu, tapi malam yang panjang ini harus dibuka oleh sesuatu yang membakar lidah.” Senyum miring yang irit itu disertai jajahan jemarinya di sepanjang wajah cantik Lorena. Kulit itu terasa halus di bawah sentuhannya. “Sebuah foreplay?” Azam tertawa, aktivitas yang jarang diperlihatkan pada siapapun. “Bukan, sayang. Tapi ini sesuatu yang manis, hangat sekaligus membakar—seperti kau.” Azam meraih botol minuman dan menarik serta dua buah gelas kecil, menuangkan cairan ke dalamnya dengan pandangan terarah pada Lorena, yang merasa titik sensitifnya bereaksi hanya karena tatapan tajam lelaki itu. Lorena menikmati isi gelas pertamanya dengan sekali teguk. Kemudian menjilat ujung-ujung bibirnya dekat ke wajah Azam sambil mengembus napas panas. Beberapa menit berlalu sejak minuman mengaliri tenggorokan, Azam terlihat makin tampan di pandangannya yang remang. Oh benar, arak membuat segalanya menjadi jauh lebih nikmat. Lorena mendesah liar. “Apa setelah ini kita akan tetap berhubungan? Besok, besoknya, mungkin? Sepanjang hari di atas tempat tidur,” Konsep itu terasa mengikat syaraf-syaraf dalam tubuhnya, Azam mendecak kesal mengingat jadwalnya yang super padat. “Tapi aku harus pergi ke Kalimantan untuk bertugas, beberapa minggu. Ada masalah yang harus aku selesaikan di sana.” Lorena menyipit, nampak tidak suka. “Kau jenis pria sibuk! Padahal aku sudah jatuh cinta padamu.” Wanita itu tertawa di akhir kalimatnya, minum lagi dan memperhatikan Azam yang menggantung gelas di udara, masih penuh. Agaknya pria itu senang memerhatikan buah dadanya daripada minum segelas Jack Daniel’s. Lorena meremas rambut Azam yang basah habis keramas, membuatnya kian acak-acakan. “Kalimantan yang mana yang harus kau datangi, hm?” Wanita itu menggerak-gerakkan pinggulnya dalam pangkuan Azam, badannya panas merindukan sentuhan. Azam mendesis, menahan pinggang Lorena. “Long Ikis.” Gerakan Lorena terhenti. “Kenapa kau harus pergi ke sana?” Azam mengedikkan bahu. “Aku harus mengontrol perkebunan milik Ayahku.” “Oh” Lorena minum lagi, seteguk, dua teguk, terus menerus menguras isi cairan botol kaca itu. Kepalanya bersandar di d**a Azam, merasakan kehangatannya secara langsung dan detak jantung pria itu yang berirama konstan. Bel berbunyi dan Azam melalui controlling dekat meja menyuruh petugas hotel yang mengantarkan pesanan makan malam untuk masuk. Pria muda itu mendorong trolley dan tersentak kaget. Sementara Azam tidak perduli atas kondisi mereka yang tidak senonoh. “Letakkan  saja di meja.” Perintahnya dingin. Pemuda itu mengangguk canggung, dan dengan muka merah padam meletakkan satu persatu makan malam milik Lorena. Azam memberinya uang, dan dengan isyarat tangannya menyuruh pria itu cepat keluar. “Kau mau makan malam sekarang?” Lorena tidak menjawab, pipinya yang menempel di tubuh Azam terasa panas. “Malinggi,“ wanita itu meracau, matanya tertutup tapi tubuhnya bergerak gelisah, Azam menegang. “jangan ke sana, nanti kau ketemu dia.” “Malinggi? Siapa dia? Pacarmu?” Lorena suka atas kecemburuan pria itu. Wanita itu terkikik diiringi beberapa kali cegukan kecil. “Bukan, bukan, tentu saja bukan—honey. Hanya kau sekarang—laki-laki untukku.” Lorena menyapukan telunjuknya di kulit telanjang Azam, suaranya manis seperti kucing betina merayu pejantannya. Tetapi kemudian bicaranya menajam, matanya kembali tertutup, seolah kesadaran tak mampu menopang kelopaknya. “Dia macan dalam hutan itu, kekuasaannya sanggup menyingkirkan semut kecil yang mengganggu. Aku tak terlalu suka dia, anak macan sok! Dia menyuruh semua orang untuk tinggal di dalam tanah.” “Kau tahu banyak tentang dia. Ada hubungan apa sebenarnya dia denganmu huh?” “Oh, maaf,” wanita itu terkikik lagi, menempelkan telunjuk ke atas bibir merahnya. Menahan pusing yang menghantam. “aku tak boleh mengatakannya. Aku sudah bersumpah setia kepada pria bintang empat itu. Dan kau sayang, meski telah merebut hati ini—“ Lorena menunjuk belahan dadanya, menggesekkannya pada Azam. “tidak akan mampu mengelabuiku.” Wanita itu mendaratkan kecupan di leher Azam. Azam balas mencengkeram erat rambut pirangnya. “Apakah aku harus takut atas informasi yang kau sampaikan?” “Tidak, aku tahu kau lebih hebat. Hmmm—“ Lorena menggesekkan hidungnya ke leher Azam, menciumnya beberapa kali. “dia hanya membawa penyengat kecil di kantongnya, sedangkan aku yakin kau punya sesuatu yang lebih berbahaya dari itu, iya kan?” Dalam sekejap mata saja, Lorena jatuh di atas pundaknya, napas halusnya terdengar teratur. Minuman keras dengan serbuk penghilang akal itu bekerja terlalu lambat. Sialan! Sekujur tubuh wanita itu bau benih pria, dan mungkin beberapa pengunjung club malam menjadikannya gundik satu jam. Terserahlah, Azam tak peduli selain ingin muntah. “Kau boleh pegang bokongnya, pastikan tatapan penuh cintamu bisa membuatnya percaya.” “Atau mengelus pinggangnya, biasanya wanita selalu suka diperlakukan seperti itu. Atau kau bisa—“ “Dia sudah tidur.” Sela Azam, dia memindahkan tubuh yang memberatinya untuk berbaring di sofa. Wanita itu seperti bangkai menjijikan yang melebarkan pahanya untuk dimasuki belati. Tatapan hina dilontarkannya untuk kali terakhir. Sumpah setia? Rasanya ingin dia memotong lidah wanita itu atas kebohongannya. Lorena jelas perempuan berhati lemah, pengkhianat dalam kelompoknya namun amat menguntungkan untuk diperas kebodohannya. Wanita semua sama, mereka seperti lebah yang harus ditepuk agar berhenti mendengung. Dicabut jarumnya lantas diinjak-injak. Azam mengeraskan kedua mata kala menegakkan tubuhnya. Binar memuja sirna dalam bulatan hitam itu seolah tak pernah singgah. Garis-garis wajahnya kembali tegas dan kaku. Dengan itu dia tahu betul bahwa rohnya telah kembali. Azam yang sesungguhnya telah tumbuh seperti tanaman beracun. Lelaki itu berjalan angkuh dengan keluwesan yang berbahaya, memakai kembali kemeja yang berada dalam walk closet. “Kau yakin tak mau menyentuh payudaranya dulu barang sebentar, Azam?” suara Darris masuk lewat earcret magnet di telinga kanannya. Darrislah yang selama lima jam penuh siksaan membisikinya kata-kata, memberi instruksi apa yang harus dilakukannya mengingat predikat pria itu sebagai flamboyan cap hidung belang. “Oh, man! Suer demi Gunung Fujiyama yang kapan saja bisa meletus, aku di sini sudah terangsang berat dengar suara wanita itu, dan kau mau meninggalkannya dengan keadaan utuh?” Azam menarik lepas tutup Jack Daniel’s yang adalah alat perekam. “Otak kotormu lebih baik kau cuci di air neraka.” Diucapkannya tanpa emosi. Darris terbahak. “Kau bahkan tidak mencium bibirnya, seharusnya kau memberinya sedikit hadiah dengan french kiss yang hot. Astaga, kawanku Khairul Azam, kau benar-benar perawan Bunda Maria yang menyedihkan.” “Tutup mulut kalian berdua,” Azam menggertak. Gelak tawa Samananjung di ujung sana yang tertangkap samar-samar memancing emosinya. “Kuperingatkan, benda di dalam saku celanaku sanggup membuat kalian tidur di dalam liang lahat untuk selamanya.” *** “Well, menikmati malam terakhirmu, young man? Bagaimana rasanya tidur seranjang dengan wanita cantik?” Pria keturunan Perancis itu menenggak wine dengan keanggunan yang mengesankan. Seringainya lebih pantas terhidang di meja kasino untuk memikat gadis-gadis muda. “Anjing!” Azam menyumpah, matanya berkilat garang. “seharusnya kugorok leher kau sampai mampus!” Emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Terlalu banyak kecamuk dalam kepala bisa membuat seorang lelaki lepas kendali. Azam hampir tak pernah menunjukkan emosi secara gamblang, tetapi kalimat propokatif pria itu telah memancingnya. “Seharusnya Pak Tua itu berpikir dua kali untuk melibatkanmu.” “Kau pikir begitu, Khairul? Aku kecewa dengan anggapanmu, Monsieur kita yang kaya ini telah memberi informasi tak ternilai harganya dengan memberitahu keberadaan wanita itu.” Tahu-tahu Giri Harimun sudah menyender di pintu masuk, menyesap wine seperti kebiasaannya. Lelaki itu seperti tua bangka tak tahu malu menikmati segelas minuman keras padahal usianya sudah udzur. Azam menoleh, marah. “Kau seharusnya sadar riwayat hitamnya! Dia bukan sekutu yang cocok kau ajak kerjasama. Kutu busuk selalu menyerap darah dari tubuh tuannya, kau tahu betul itu, Pak Tua.” Pemilihan diksi Azam memang selalu tajam, ia tak repot menghargai perasaan orang lain. “Memang,” tubuhnya yang dibalut seragam nampak gagah ketika berjalan, merangkul Azam untuk duduk di kursi tamu. “tapi aku selalu tahu apa yang harus aku lakukan, sama seperti instingmu.” Richard lewat manik hijaunya memerhatikan Azam seksama. Menilai dan menyimpulkan bahwa pemuda itu adalah lelaki yang kuat mentalnya. Pantas Giri merekrut dan mempertahankannya mati-matian di divisi pengintaian dan penyerangan. Khairul Azam jelas bisa diandalkan. Richard teringat masa mudanya, ketika ia bergabung bersama badan intelijen terbuka pemerintah Prancis, sampai hampir-hampir terpeleset ke jurang hitam sesungguhnya ketika memutuskan mengundurkan diri. “Dulu aku sempat berambisi mengembangkan perkebunan ganja di wilayah Long Ikis, membuatnya menjadi komoditi nomor satu di tanah air ini.” Richard menginterupsi, menyenderkan tubuh, Azam menegang. “Kau harusnya kujebloskan ke dalam bui!” Pria itu tertawa melihat geraham Azam mengetat. “Tenanglah, young man. Kau terlalu meledak-ledak seperti petasan, dinginkan kepalamu dan duduklah bersama kami.” Azam bukan tipe manusia yang mudah diajak negosiasi, tapi akhirnya mau bergabung juga, bagaimanapun ada Giri yang harus ia hormati. Meski duduk satu ruangan bersama mantan bos besar kasino-kasino paling laris di Italia adalah hal terakhir yang akan dilakukannya, Azam harus menekan kuat-kuat keengganannya. “Aku pernah tersesat, jadi wajar bila ambisiku untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Tidak peduli menyengsarakan atau merugikan orang lain, kau tentu tahu betul kalau aku bergaul dengan mafia-mafia kelas tengah di Italia, menilik betapa murkanya kau melihat wajahku.” Azam tidak merespon, pandangannya lurus-lurus seolah berusaha meremukkan kata yang diucapkan Richard. “Well, beberapa tahun lalu aku mengirim anak buahku untuk bekerja dengan kepala Semuntai, dengan dalih ingin melebarkan perkebunan cengkeh yang sebetulnya bakal kutanami ganja. Proses pembelian tanah masyarakat sudah hampir selesai, tinggal mendatangkan notaris, tapi gerombolan cecunguk di sana menggagalkannya, mereka membongkar niat terselubung kami dan membantai habis semua anak buahku, dikubur jauh-jauh dalam hutan dan tidak pernah ditemukan kembali hingga kini.” “Kau ingin balas dendam, begitu?” Richard mendesah melihat tatapan permusuhan di mata Azam. “Sudahlah, lagipula aku tak pernah benar-benar terlibat dengan dunia hitam. Kini aku ingin membantu GPN45 meringkus mereka. Bagaimanapun, negeri ini adalah rumah pertamaku, tempat ibuku melahirkanku. Sebelum aku mati dan Tuhan menjebloskanku ke neraka, akan kulakukan satu hal yang bisa melegakan almarhum ibuku.” Wanita kelahiran Bugis yang tidak pernah diketahui Richard, wajah maupun keberadaannya. Azam mendengus, menerima alasan itu setengah hati. Diskusi mereka selanjutnya adalah cerita mengenai Richard Garbakov yang menemukan Lorena di sebuah club malam kawasan R-21, kebetulan Monsieur asal Prancis itu sedang mencari teman tidur. Dan wanita seksi itu datang menawarkan diri, secara tak sengaja menyambit topik panas tersebut dalam percakapan mereka seputar bisnis. Kebetulan sekali ketika lidah ular wanita itu salah bicara dengan merambah usaha yang dijalankan majikannya. “p*****r itu ternyata mainan mereka,” Richard geram. “dia sulit dijinakkan, aku sudah memaksanya dengan beragam cara agar buka mulut tapi wanita itu kembali ke Long Ikis. Aku mencarinya selama hampir setahun, dan anak buahku memata-matai kedatangannya kembali ke kota ini beberapa minggu lalu.” Giri berbagi minuman dengan Richard seolah mereka dua remaja yang duduk-duduk di bawah cahaya purnama. “p*****r itu ternyata tidak cukup puas menjadi mainan di hutan belantara.” “Dan kau menggunakan aku sebagai umpan.” Bisik Azam rendah, menahan emosi. Richard dan Giri berpandangan dan terkekeh. Giri menarik asbak mendekat. “Kau mungkin butuh hiburan dalam bekerja. Aku lihat kau tidak pernah punya waktu untuk berkencan, Khairul.” Kata Giri, “Aku mungkin mau menggantikanmu kalau aku bisa. Tapi wajahku sudah terlalu tua untuk memikat wanita cantik.” Azam melipat kedua lengan di d**a. “Wanita itu bau s****a dan membuatku jijik, aku tidak sudi meniduri tempat sampah.” Tawa kencang dua senior itu menggema ke seluruh ruangan. Mereka terkejut atas jawaban Azam. “Oh ya, tentu saja young man, kami tahu seleramu. Lain kali akan kusewa bidadari yang paling cantik agar bisa kau tiduri.” Alih-alih marah, Azam menaikkan alis. Kalimat Richard itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Tidur seranjang dengan bidadari terasa amat menarik. Seperti bidadari bermulut tajam— Oh, man, focus! Apa sih yang kau pikirkan? Kau tidak mungkin membayangkan dia, kan? Wajahnya bahkan masih terasa berdenyut-denyut bekas tamparan. “Well, sekarang marilah kita dengarkan apa yang telah kau dapat dari wanita itu.” Giri menyalakan alat perekam otomatis, membuat tutup botol itu berputar-putar di atas meja. Dan desahan wanita adalah suara yang muncul untuk pertama kalinya. *** Azam membasuh wajahnya yang muram di depan wastafel. Bangun malam akibat mimpi buruk adalah dua penyakit yang telah dilaluinya selama bertahun-tahun. Azam seolah dikutuk tak pernah bisa tidur tenang. Malam tidak pernah membiarkannya mengistirahatkan diri. Apa yang kurang dari jiwanya? Azam bahkan tidak merasa memiliki jiwa. Dia hanya punya raga dan akal. Hatinya hitam dan kosong. Benaknya dipenuhi kilas balik genangan darah serta borok menganga tanpa penawar berarti. Azam lupa kapan terakhir dia bersujud di atas sajadah, kapan terakhir kali dia terbangun dan mengambil air wudhu, kapan terakhir kali dia membaca al-quran, dan kapan terakhir kali dia menyebut nama-Nya. Apakah memang semua ini teguran untuknya? Abdullah Muis Zailani telah berkali meminta Azam untuk kembali ke Darul Mu’min, memberi tahu bahwa kondisi Umi makin lemah dari terakhir dia meninggalkan rumah. Tapi apa yang dia lakukan? Menghindar seperti seorang pengecut dan bersembunyi di bawah tanah seperti tikus got. Karena apapun yang terjadi, Azam tidak ingin kembali ke Darul Mu’min. Betapapun rindu terhadap Abi serta Umi, betapapun ia merindukan suasana pondok ketika mengkaji kitab kuning dan hadist-hadist. Dia pernah? Oh benar, dulu Azam sering melakukan itu semua. Belajar agama serta mendalaminya. Dulu, sebelum dia memutuskan untuk mengambil jalan hidupnya sendiri. Azam meneliti pantulan dirinya di cermin, tiba-tiba tangannya terulur menyentuh pipi yang rasanya masih terasa panas bekas tamparan. Hebat, satu minggu berlalu tapi sengatan itu masih terasa hingga mengusik tidurnya. Gadis sialan itu selalu menghampirinya dalam tidur. Azam meraih ponselnya di atas nakas, mencoba menghubungi Zayanara Qasir di jam satu dini hari. Semoga laki-laki itu masih bisa berpikir jernih untuk sekadar mengindahkan panggilannya. Azam bersumpah memberi satu pukulan telak di perut jika pada dering ke tiga Zayanara tidak mengangkat teleponnya. “Ya?” Sayup-sayup terdengar suara rintihan wanita dan napas yang saling berkejar-kejaran. Sialan! Anggotanya bahkan sempat bersenang-senang. Sementara dia kesulitan tidur di bawah selimut, apartemennya terasa kosong. “Aku ingin bicara sesuatu yang penting. Datanglah ke club sekarang juga.” “Di jam satu pagi? Oh, aku bahkan baru mulai dua jam lalu.” Keluh Zayanara. “Ya. Aku memerintahkanmu sekarang juga untuk meninggalkan wanita yang bergelung satu selimut dengan tubuhmu,” kata Azam tegas. “ aku sedang dalam perjalanan menuju club milik Tommy, dan kalau aku tiba kau belum juga sampai, kau harus menerima hukumanmu dengan lapang dada.” *** Bibir yang panas itu menyentuh permukaan bibir miliknya. Sungguh tak terlukiskan, ciuman pertamanya indah dan menggelora. Tidak buru-buru kala lidahnya ikut menyusup, melilit dan mengisap dengan lembut. Apakah dia sering melakukannya dengan gadis lain? Asha tak sempat menanyakan, karena tangan pria itu menekan tengkuknya sampai tak ada jarak tersisa antara tubuh mereka. Melekat pas. Tangan kokohnya mencengkeram pinggang Asha. Mereka berdua terengah-engah ketika ciuman itu selesai, sorot kecewa membayangi mata kelam itu. “Kenapa kau menghentikanku?” suaranya serak, pandangan laki-laki itu setajam pertemuan terakhir mereka, mengintimidasi dan membuatnya menggigil. “Kau berjanji sentuhanmu hanya untuk permintaan maaf.” Asha mengulum bibirnya, menjilat bagiannya yang mendadak terasa kering. Gerakan provokatif itu rupanya mendapatkan perhatian khusus. “Sssh—kau tidak boleh melakukannya lagi di hadapanku,” pria itu memandanginya intens. Asha tidak paham. “Apa?” “Mengulum bibirmu, cantik.” Asha mendapat hukuman berupa kecupan-kecupan kecil di kedua ujung bibirnya. “Jangan lakukan itu lagi.” Bisiknya halus, Asha menggeliat dan mencoba melepaskan diri. “Mengapa?” “Karena aku tidak bisa untuk tidak menciummu lagi dan lagi.” Laki-laki itu kembali mencumbu bibirnya ketika Asha ingin bicara. Tidak membiarkannya berpikir. Ciuman itu merenggut akal sehat mereka berdua. Asha pasrah dan membiarkan lelaki itu meninggalkan jejak-jejak panas di tubuhnya. Hingga bayangan itu terhempas cepat ketika Asha bangun tengah malam dengan napas memburu. Mimpi buruk. Ya! Mimpinya adalah mimpi buruk. Asha tidak mau memikirkan mimpi yang kurang ajar itu. Tetapi bayangan mimpi tersebut terus mengganggunya sepanjang hari seperti hantu dalam film horror. Meskipun berkali-kali Asha meyakinkan diri bahwa semuanya hanya mimpi buruk, dia tak perlu khawatir. Tapi mengapa Asha membiarkan laki-laki itu menyentuhnya meski hanya dalam mimpi? “Apa yang kau pikirkan?” Arka duduk di sampingnya, masih mengenakan baju seragam ketat berwarna biru muda. Lencana penghargaan menempel angkuh di d**a kirinya. Kakaknya telah tumbuh menjadi duplikat Dimas Hartanto yang kaku. “Tidak ada.” Asha mencoba menahan rona di wajahnya, kesal sekaligus malu. Namun sulit, kulitnya yang terlalu putih bakal susah menyembunyikan perasaannya. Mata Arka memicing jeli. “Apa yang ada di kepalamu? Apa yang kau bayangkan?” “Hanya mimpi biasa.” Oh, Asha salah bicara ketika mata kucing milik Arka mendesaknya. “Dengan wajahmu yang merona? Dengarkan aku, Little Sister, hanya ada dua alasan mengapa gadis-gadis tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang mimpi-mimpi mereka. Pertama, mereka bertemu dengan kekasihnya dalam mimpi itu. Kedua, mereka berciuman dengan kekasihnya.” Asha seperti disambar geledek, yang pertama terpikir olehnya adalah membela diri. “Mas jangan berpikiran jorok, jangan-jangan kau yang malah sering mengalaminya dan menuduhkannya pada orang lain juga.” “Oh memang, benar sekali. Kami kaum adam menyebutnya mimpi basah.” Arka menatapnya kalem. Asha menganga tak percaya.  “Ck, sudahlah. Kau jangan terlalu polos sebagai seorang wanita. Kadang kala, kau juga harus membaca majalah dewasa untuk mengikuti perkembangan zaman dan memilah baik-buruknya untukmu.” Asha makin tak percaya dengan kakaknya yang seminggu lalu pulang dinas dari Madiun. Yang dikiranya sebagai cetakan sempurna dari Papa mereka. Apakah Dimas Hartanto juga begitu ketika seusia Arka? Lain waktu Asha harus menyusun jadwal untuk menginterogasi Mama. “Ah, Mas sering membawa majalah dewasa ke asrama, ya? Pantas saja tidak pernah memperbolehkan aku atau Mama membantu mengemasi barang-barang.” Dengan santai Arka memetik buah anggur di dalam mangkuk, dengan gaya akrobatik melemparkannya ke dalam mulut. “Aku tidak pernah bawa barang begituan. Aku bisa pinjam teman sekamarku.” Asha hendak bicara tapi kedatangan Samananjung terpaksa menghentikan pembicaraan mereka yang tidak biasa. Asha menyapa sepupunya, terburu, karena Mama minta bantuan untuk mengangkut piring-piring besar ke meja makan. Ruang makan dengan delapan kursi itu perlahan dipenuhi oleh para tuan rumahnya. Asha tersenyum bahagia, jarang-jarang mereka bisa berkumpul sekeluarga begitu. Papa dan kakaknya sering bolak-balik pergi keluar kota, sementara Samananjung sudah punya rumah sendiri tiga tahun lalu. Hanifa menarik mangkuk berisi rendang ketika Dimas Hartanto hendak menjangkaunya. “Tidak boleh macam-macam, aku harus memantau makananmu supaya semuanya aman.” Dimas tampak pasrah. “Sedikit saja, Hanif. Tidak akan mempengaruhi kolesterolku.” Wanita itu tetap menggeleng sambil mengisi gelas suaminya dengan air putih. “Tetap tidak boleh, kau harus mendengarkanku, harus banyak makan sayur dan buah.” “Baiklah, aku anggap itu sebagai bentuk kasih sayangmu.” Dimas mengalah, mereka lalu saling melempar senyum ketika Hanifa menyendokkan nasi beserta sayur brokoli ke atas piringnya. Interaksi kecil itu entah kenapa terasa berbeda jika mereka yang melakukannya. Sentuhan dan tatapan mereka begitu alami, memancarkan cinta yang dalam. Dimas yang masih tersenyum-senyum kecil, sangat mengherankan bagi anak-anaknya. Sebab, sekalinya tersenyum, Dimas Hartanto akan berubah menjadi pria yang memiliki senyum paling manis di dunia. Hal itu menunjukkan bahwa semenakutkan apapun seorang pria dalam menghadapi tantangan dunia, dia akan tetap luluh dan pulang ke rumah dengan sikap lembut pada wanita yang dicintainya—dan keluarga yang disayanginya. “Apa yang kau kerjakan sekarang, Galuh?” Dimas Hartanto bertanya seperti biasa. Samananjung menerima ikan gabus sambal ijo dari Hanifa, tersenyum manis sekali. “Terimakasih, Ma. Tidak sedang dalam proyek besar. Hanya mengajari anak-anak membuat sesuatu yang sederhana saja sih. Tapi lain kali aku ingin menunjukkan baterai super power untuk kapal terbang pada Papa, aku membuatnya sebulan lalu bersama rekanku.” Dimas dan Arka tampak sangat tertarik. “Sebesar apa kau membuatnya?” “Oh, kecil sekali. Hanya kekuatannya saja yang super.” Sam menyeringai, Dimas dan anak lelakinya saling berpandangan karena berhasil dimanipulasi. “Salah satu temanku sangat menggilai berbagai jenis pesawat dan jet tempur, sebetulnya, aku mencuri ide darinya.” Samananjung terkekeh. Dimas mengangguk-angguk. “Aku ingin melihatnya nanti.” “Berarti temanmu jauh lebih pintar, dong.” Asha menyeletuk tiba-tiba. “Ya, sepertinya dia lebih jenius daripada aku.” Sam mengedikkan bahunya. “Tapi sayang sekali temanku yang kau anggap jauh lebih pintar adalah orang yang sama, yang membuatmu kabur tanpa pamit dari rumah makanku.” Asha hampir menelan duri ikan, buru-buru diraihnya segelas air putih yang tersaji di depannya. Kegugupannya itu justru memancing reaksi beragam dari para penghuni meja makan. Dimas dan Hanifa bertanya-tanya dan Arka menatapnya curiga. “Apa sih yang terjadi waktu itu di sana? Kau dan Azam, kalian sama-sama sulit untuk bisa kutanyai. Kau juga tidak kembali ke pameran.” Samananjung memandangnya serius. “Apa kalian bertengkar? Tapi apa sebabnya?” Oh, Samananjung tak akan pernah mengerti. Asha mengelap bibirnya. “Tidak ada yang terjadi, aku hanya mendapatkan panggilan mendadak dari Profesor Bilal.” “Oh.” Sam melanjutkan kembali makannya dengan nikmat. Masakan Hanifa adalah yang terbaik di dunia. “Makan yang banyak, Galuh. Kau kelihatan agak kurus semenjak punya rumah sendiri.” Tegur Hanifa sambil memperhatikan tubuh anak lelakinya yang lain itu. “Tenang, Ma. Akan kuhabiskan semua yang ada di meja makan ini.” Sam mengedipkan mata. Kelihatan manis sekali ketika dia tersenyum, warna kulit dan bibirnya yang merah muda membuat Sam jadi mirip Asha. “Galuh takkan ikut denganmu ke Semuntai?” Dimas mengagetkan Asha yang saat itu banyak melamun. Sam, lain lagi, laki-laki itu hampir menjatuhkan garpu dan sendoknya. “Semuntai? Ada acara apa kau pergi ke sana?” “Um, aku mau melakukan penelitian di bidang Agroteknologi,” Asha berkata pelan, karena Sam kelihatan tidak senang dengar informasi baru itu. “Papa dan Mama mengizinkan aku pergi kok, dan aku sudah kirim formulir ke Mr. Gorbakov. Proyek pertaniannya didanai oleh beliau.” “Kapan kau berangkat?” “Minggu depan.” Asha tak suka melihat wajah ramah dan ceria Sam mendadak muram. Mood pria itu kelihatan buruk ketika meletakkan sendok dan garpu di atas meja. “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Asha seperti kehabisan kata-kata. Dia tidak berpikir harus meminta izin pada Samananjung, sekaligus merasa bersalah karena tidak sempat berbagi cerita. “Aku pikir itu privasiku, Galuh. Aku hanya tidak ingin melibatkanmu kalau hanya untuk menyusahkanmu.” Samananjung sering merajuk, tapi Asha tidak pernah melihatnya marah. Contohnya ya seperti sekarang ini. Amat gamblang di depan mata kepalanya. “Bukan masalah menyusahkan, Sha. Kau tidak bisa pergi ke tempat asing di mana kau belum pernah sama sekali mengunjunginya.” “Galuh, jangan berlebihan deh. Aku tidak pergi ke benua lain atau kutub Antartika,” Asha menyendok nasi banyak-banyak. “aku tidak mengerti kau bisa jadi berubah menyebalkan begini.” Hanifa dan Dimas menghela napas, saling memberi kode lewat tatapan mata. Samananjung meninggalkan meja makan ketika Hanifa memintanya untuk membawa piring kotor ke dapur, sama sekali tidak melirik Asha. “Jadi, namanya Azam?” Arka menaikkan satu alisnya ketika mereka berdua kebagian tugas membersihkan meja makan. “Apa?” Asha melotot, kesalnya menggemaskan. Kakaknya terkekeh, “Laki-laki yang kau bayangkan terus menerus karena menciummu dalam mimpi.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN