Bab 9 : Kecamuk di Kalimantan Timur

2769 Kata
Rencana sudah disusun apik. Skema yang Azam rancang dengan begitu matang itu seolah menyihir siapa saja untuk berdecak takjub. Sebab, tak-tik itu memiliki sentuhan khas Azam yang dingin dan jitu. Helikopter milik kesatuan TNI AD menjemput rombongan pada dini hari. Seorang Peltu bernama Iwayan Kandi menjadi pilot mereka. Perjalanan menuju Batalyon di Kalimantan Timur paling selatan itu terasa singkat, bahkan ketika Azam dan Mayjen Abbas turun langsung untuk memimpin rapat rahasia di aula utama. Keputusan yang disepakati bersama di antaranya; 7 anggota tim membuat tenda dekat hutan dan melakukan patroli dua kelompok, sementara Azam memilih satu untuk menemaninya pergi berkeliling desa. Azam memutuskan membawa Zayanara untuk menyusuri jalan negara Tanah Grogot menuju Air Terjun Doyam Gerigu. 12 kilometer kurang lebih mereka berjalan kaki. Hamparan kebun kelapa sawit, baik kebun PTP Nusantara III Semuntai, kebun KKPA, maupun kebun PT BWS mengepung sisi kanan dan kirinya. Sesuai arahan Mayor Jenderal Bunaya Abbas, Azam dan Zayanara akan memulai penyelidikan dari kawasan perkebunan. “Apa kita akan menemukan banyak titik terang di sini?” Zayanara nampak sangsi. Kedua matanya mengamati keadaan sekitar. Sepi. Hanya ada kicau burung dan suara air terjun beberapa meter di depan mereka. “Mungkin saja,” Azam ingin tahu seberapa banyak sengketa yang pernah terjadi di wilayah ini. Beban ransel di punggungnya tidak menyusahkannya. Rasa penasarannya mengalahkan lelah, insting detektif Azam meruncing. “Aku akan mencoba menemukan seseorang. Sebaiknya kau juga begitu, tapi ambil arah yang berbeda.” Zayanara tidak sempat mencegah ketika pemuda itu sudah meloncati pagar kayu untuk masuk ke dalam kebun kelapa sawit, dan menghilang di baliknya. Zayanara mengeluh, seharusnya Kombes Giri membiarkan Azam bekerja seorang diri. Sepanjang mata memandang, tak ada objek lain yang tertangkap mata Azam kecuali tanaman kelapa sawit yang tumbuh bagus di atas tanah. Perkebunan ini memang milik pemerintah daerah, tapi Azam belum menemukan bangunan pengelolaannya. Yang lebih penting, para pekerjanya. Di mana mereka semua? “Kakan po mone iko?” Suara teriakan itu menghentikan langkahnya. Azam spontan waspada, dia menggenggam pistol di saku jaketnya sebelum gesit berbalik. Seorang lelaki tua dengan cangkul di pundak menghampiri. Pak tua itu telanjang d**a, kulitnya hitam dan tidak pakai alas kaki. Azam mengamati wajah senja itu, ramah khas penduduk desa. “Kakan po mone iko?” Pak tua itu mengulang. Azam melepaskan pistolnya setelah memastikan jika lawan bicaranya aman. Jangan salah, bapak-bapak zaman sekarang bisa jadi penjahat. Profesinya menuntut Azam untuk tidak pernah mempercayai siapapun. “Kakan po semunte.” Azam menjawab. Pak tua itu kaget, pemuda di hadapannya terlihat seperti anak kota. Sejak melihat, dia tahu kalau Azam bukan penduduk asli desa manapun di Kabupaten Paser, tetapi logat bicaranya menyatu dengan lidah orang Kalimantan. “Siapa kau? Kau bukan pelancong?” *** Pak tua itu bilang tanah perkebunan ini bukan lagi milik pemerintah daerah. Menurut rumor, penguasa barunya adalah seorang bos besar asal ibu kota. Sudah sejak satu bulan lalu kegiatan para pekerja yang mengurusi kelapa sawit terhenti. Alasannya karena warga hanya ditawari upah minim kalau mau tetap memburuh. Belum lagi beberapa kasus demo yang dilakukan warga ke kabupaten akibat sengketa ini. Warga desa semuntai tidak rela jika tanah leluhur mereka di pindahtangankan. “Siapa tadi namamu?” “Azam, Pak.” Azam berpikir keras, menghubungkan penuturan Pak Ruhiyat dengan banyak hal. Namun agaknya belum menemukan titik temu. Kini mereka duduk bersila di atas dipan beratapkan daun kelapa. “Azam, kau bawa tujuan apa ko Semuntai ini?” Azam mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Giri melalui sebuah pesan singkat, “Saya sedang melakukan penelitian bersama kawan-kawan. Kami datang dengan sembilan rombongan.” Pak Ruhiyat mengangguk-angguk, beliau adalah seorang petani sekaligus pengurus tanaman sawit milik pemprov daerah. Rumahnya terletak dekat balai kampung. “O, begitu rupanya, sudah dapat tempat tinggal?” “Sudah. Kami buat tempat berteduh dekat perbatasan hutan.” “Kenapa musti ka deka-deka hutan? Bahaya.” Pak Ruhiyat menyalakan sebatang rokok linting, menawarkan satu pada Azam dan ditolak secara halus. “Lepas maghrib bukan waktu yang baik untok anak-anak belia seperti kalian ka deka hutan.” “Ya, kami memang mendengar beberapa rumor. Apa saja yang Pak Ruhiyat ketahui dan berkenan ceritakan pada saya tentu akan berguna untuk melindungi anggota dari ancaman. Setidaknya, kami tahu apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan di wilayah ini.” “Apui Sulo Tembiling, ato ada yang katakan kalao apui terbang itu sebetulnya hantu kuyang. Orang dahulu bilang tak boleh keluar lepas adzan maghrib, lalu ada kucing hitam yang kami sebut Timang, ada ular pengenon yang bisa mencapai betis kao punya, Azam. Berhati-hatilah dengan mereka.” Pak tua itu tertawa, Azam membalasnya dengan senyum tulus. Dia tidak pandai mengekspresikan diri, tapi Pak Ruhiyat membuatnya merasa nyaman bercakap-cakap. “Saya menghormati kepercayaan desa ini, Pak. Saya akan beritahu pada kawan-kawan supaya menjaga diri.” Pak Ruhiyat mengangguk senang, “Bujang yang baik, semoga urusanmu di kampung endo lancar dan dapat kemudahan dari Tuhan yang Maha Esa.” Azam mengamini sambil mengirim pesan singkat pada Zayanara agar bergabung bersama mereka. “Saya ingin mengenalkan Pak Ruhiyat pada erai bai’ saya, sedang menuju ke mari.” “O iyo, baguslah. Zam, alo eno kao dan bai’-bai’ tinggal di rumah saya?” *** “Mereka punya markas di bawah tanah seperti GPN45. Kalian tahu betul bagaimana sulitnya menembus benteng di dalam tanah. Mereka juga pasti menggunakan berbagai pengamanan teknologi tinggi seperti kita. Karena itu, aku ingin Manahande memasang pendeteksi jejak di beberapa pohon, mulai dari jalan keluar yang ditunjukkan Pak Ruhiyat sampai ke bagian dalamnya.” Azam berdiri di samping boardtomatic tengah menerangkan. “Zayanara dan aku tetap turun lapangan. Satu jam ke depan kami sudah harus masuk di kedalaman hutan bagian C. Bagian yang ini.” Azam menunjuk wilayah yang dimaksudnya. “aku belum tahu pergerakan jenis apa orang-orang ini. Tetapi sesuai dengan apa yang telah kita diskusikan, banyak kejadian di wilayah ini saling berhubungan.” “Apa penduduk setempat pelakunya?” Darris bertanya, dia dan Manahande duduk berdua sambil meneliti laporan dari I-Pad. “kasus-kasusnya tak ada satupun yang naik pengadilan. Ini gila! Apa mereka tidak punya mulut atau mulutnya sudah dibungkam segepok duit?” “Mereka dibungkam ketakutan dan terror, para penduduk Semuntai itu. Tidak, bukan, dalangnya bukan dari pribumi. Tetapi ada beberapa yang turut campur, aku yakin itu.” Azam mengeryit. Beberapa orang di kampung dengan gelagat mencurigakan telah ditandainya. “Selama misi berlangsung, apa rumah Pak Ruhiyat akan kita jadikan sebagai markas?” Hakim menyalakan sebatang rokok pemberian Pak Ruhiyat. Mereka bangun tenda besar di halaman belakang rumah Pak Ruhiyat, yang nampak artistik dikelilingi oleh tumpukan bata merah. “Tidak, terlalu beresiko untuk kita, terutama untuk Pak Ruhiyat sendiri. Kedatangan kita di saat-saat terjadi banyak konflik sudah cukup menarik perhatian. Kita akan berpindah tempat setiap tiga hari sekali.” Azam mengambil obeng dan mengotak-atik alat-alat kecil yang berserakan di atas meja. Sementara yang lain mengangguk-angguk. “Kau menjelaskan misi kita kepadanya. Berapa persen kau percaya kepada Pak tua itu?” Darris bertanya kepada Azam, ada keraguan yang tampak menggelayuti di mata anggota-anggotanya. “Aku percaya padanya, lebih dari yang bisa kau bayangkan.” Azam menjawab tenang. Masih basah dalam ingatan percakapan dengan Pak Ruhiyat malam itu. Seorang pria berusia 83 tahun yang masih bekerja. Bekas-bekas perang kemerdekaan sempat tercecap dan dirasainya. Pak Ruhiyat adalah seseorang yang memiliki jiwa nasionalisme yang amat tinggi, sikap pejuang tersebut membungkus sosok tak terduga itu dengan apik. Di lain sisi, Azam bukan orang yang mudah ditipu. Maka jadilah Darris dan Manahande memakai pakaian umum pagi itu. Celana jeans belel juga robek yang menyembunyikan sebelas magnet detektor. Mereka berdua menyelinap keluar diikuti anggota lain yang mendapat tugas masing-masing di perbatasan. “Sudah siap?” Azam tidak pakai sepatu bertali, akan menyulitkan untuk lari, atau kalau terjebak di tanah basah akan sangat merepotkan. Kaos abunya dibalut dengan rompi anti peluru dan jaket kulit. Alat-alat milik Samananjung berada di dalam kantung loreng yang dikaitkan di sisi celana jeansnya. Sebelum mereka bergegas, Azam sempat bilang sebuah wejangan, “Kuatkan hatimu. Kau akan menemukan kepuasannya ketika kau bisa merasakan rasa sakit untuk mengamankan negaramu, Zayan.” Zayanara tertegun, memandang punggung Azam beberapa lama, yang lebih dulu keluar dari tenda. Laki-laki keras itu hampir tak pernah panggil nama rekan-rekannya di GPN45, dan mendengar Azam mengatakan namanya untuk pertama kali membuat dia merasa dianggap sebagai—adik barangkali. Atau setidaknya, Zayanara senang Azam melek bahwa ada dirinya di sana. Pagi menjelang siang yang teduh di Semuntai mengiringi mereka menuju pintu hutan. Azam menyapa beberapa warga yang memperhatikan mereka, dia dengan fasih menggunakan bahasa daerah setempat. “Manahande sudah menempelkan pendeteksi jejak di beberapa batang pohon, dia dan Darris keluar seperempat jam lalu dari sisi dalam hutan itu. Mereka sedang mengintai sisi kanan hutan, di desa seberang.” Azam mengangguk atas informasi Zayanara. “Lebih baik kita tidak melewati jalan utama, detektor itu sudah tersambung dengan milikku.” Azam membimbing Zayanara melewati semak belukar yang meninggi, kedua tangannya menggenggam scalpel untuk menebas tanaman berduri. Scalpel itu sendiri punya mata pisau yang amat tajam, Zayanara bisa melihat tanaman itu langsung jatuh ke bawah dalam sekali tebas. Semakin mereka jauh melangkah maka semakin berkurang pula pencahayaan yang membantu. Langit di atas mereka pelan-pelan ikut tertutup. Perlahan tapi pasti mengepung keduanya dalam gelap. Jam tangan analog Azam berbunyi. Beberapa jejak kaki tergambar di daerah yang Sam buat, Azam dan Zayan spontan waspada. “Ada yang memasuki hutan. Kita ambil titik koordinat yang sama. Ayo, lewat sini.” Medan yang mereka tempuh lebih sulit karena belum ada yang menjejaki. Tanaman berduri di sisi kanan dan kiri mengepung, dan tanahnya lebih terjal. Mereka menerobos labirin hutan hingga ke area pohon dengan daun kecil yang bergerombol. “Mereka tidak pasang CCTV kan di setiap pohon besar ini?” Zayanara mendongak menatap dahan-dahan pohon yang tinggi. “Tidak, tapi mereka menanam ranjau peledak. Kau harusnya lihat ke tanah, untung kakimu masih untuh sampai sekarang,” napas Azam masih terdengar teratur. Zayanara lupa caranya mengatupkan rahang. Azam bukan komandan perang yang baik, dia tidak akan mau susah-susah mengingatkan prajuritnya kalau ada busur panah yang diarahkan pada kepalamu. “Kalau aku tidak bertanya, mungkin kau sudah menemukan tubuhku meledak di detik ini.” Zayanara melompati bulatan tembaga tipis dengan gesit. Azam menyipitkan mata ke arah rerimbunan daun di seberang mereka. “Masalahmu adalah kurang teliti, aku hanya ingin menguji kemampuanmu.” Zayanara mendengus, menguji dan mempertaruhkan keselamatan orang mungkin jadi lelucon paling lucu buat seorang Khairul Azam. “Tapi omong-omong, lambang apa yang kulihat di atas ranjau itu?” “Naga,” kata Azam kalem, “seekor naga dengan lidah menjulur.” Zayanara mengikuti pergerakan Azam, pikirannya berputar, lalu kelopak matanya membelalak. “Club malam Guangshu, maksudmu? Milik Steve Yan? Sial, sialan! Apa lagi yang coba dilakukan b*****t itu!” Azam terkekeh, dan kekehan laki-laki itu seperti membangkitkan aura mistis di dalam hutan. Zayanara butuh pisau lipatnya ketika terlilit akar pohon. “Jadi kita sudah dekat dengan rumah musuh?” “Ya, kau tidak melihat ada manusia yang mengamati kita?” Azam melirik rekannya yang kesulitan bergerak lewat bahunya. Zayanara menggeleng, “Tidak, karena punggungmu menghalangi pandanganku. Apakah itu artinya keberadaan kita sudah diketahui?” “Mereka manusia otak dangkal tidak akan mampu berpikir cepat, siagakan saja pistol milikmu.” Mereka berlari-lari kecil melintasi kumpulan pohon meranti dan bangkirai. Masuk lebih dalam dikepung pohon kapur dan keruing yang merupakan jenis kayu perdagangan paling laris. “Aku masih ingat cerita Pak Ruhiyat tentang ular penganon, aku bertanya-tanya apa yang bakal terjadi padaku jika bertemu dengan jenis ular itu.” Zayanara terengah di belakang Azam, waktu dua jam yang diperkirakan untuk menembus hutan. “Kau akan mati membiru kalau dililit tubuhnya yang besar.” Kata Azam datar. “Oh, sungguh menenangkan.” Zayanara mencibir. Azam melirik jam analognya, dua jam lebih empat puluh telah mereka habiskan menembus belantara. Wilayah baru ini mulai ditumbuhi pohon-pohon tinggi yang menutup rapat angkasa. Gelap dan kepengapannya berasal dari pohon beringin raksasa yang mempunyai rambut berjuntai-juntai lebat. Azam menarik jaket Zayanara, “Kita diikuti oleh seseorang.” Bisiknya. Dengan hati-hati mereka menyembunyikan diri dari satu pohon ke pohon lain, meminimalkan suara langkah kaki. Mereka menghindari bayangan-remang yang kadang muncul, berputar melingkupi. Masuk lebih jauh lagi, mereka kini dikelilingi ratusan pohon ulin. Sekitar 40% kawasan ini memang didominasi oleh pohon tersebut. Mereka bersembunyi di balik pohon ulin, vegetasi asli yang dikenal sebagai kayu besi Kalimantan, yang saat ini semakin langka. Ada satu yang paling besar hingga tingginya mencapai 35 meter tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi. “Pohon itu berbeda dengan yang lainnya.” Azam bergumam. Di sampingnya Zayanara mengiyakan, matanya memicing. “Ada tombol kecil di tengah-tengahnya. Kita akan masuk ke sana?” “Tidak. Tapi kita akan masuk ke sini.” Azam melompat ringan menjauhi serabut akar yang berbonggol-bonggol, berputar melewati pohon besar itu dan menemukan sebuah gubuk berbahan anyaman bambu serta beratap triplek. Tiga damar menempel di dindingnya yang reyot. Ada suara percakapan di dalam sana, tawa-tawa sumbang dan makian kasar dalam bahasa daerah terdengar bersahutan. Mereka sedang main kartu. Zayanara melompat ke bagian belakang gubuk dan terperangah dengan keadaan di sana yang berantakan. “Great! Pecundang-pecundang di sana ternyata menebangi jati kualitas nomor satu.” Bisiknya menahan amarah, sambil melihat puluhan gergaji mesin tergeletak di sisi-sisi pohon waru. Azam menyipit, tunggul pohon-pohon jati yang mati bagai titik-titik hitam dosa manusia, mengerikan. Pria itu menyeka keringat yang membanjiri wajah, mengendap ke samping kiri, tawa di dalam gubuk makin keras terdengar. “Kita akan masuk ke dalam?” “Tidak, aku hanya ingin menanam ini.” Azam menyelipkan tutup botol Jack Daniel’s di celah anyaman bambu. Benda yang pantas jadi rongsokan seperti itu tentu tidak akan mencurigakan. Dengan adanya gubuk reyot ini, makin jelas terbukti bahwa ada kegiatan ilegal yang tidak boleh dibiarkan. Mereka hendak menyelinap pergi tetapi pergerakan pria yang menenteng petromax menghentikan Azam. Dia menahan Zayanara agar tetap berada di sampingnya. Lelaki itu berbaju lusuh, wajahnya tidak ramah dan terdapat jaret luka memanjang bekas cakaran. Bibirnya yang berwarna ungu terlihat menyumpah-nyumpah. Azam belum pernah melihat rupa itu sebelumnya di Semuntai. “Apakah dia yang mengikuti kita?” Azam mengangguk. Zayanara mengepal, “Tapi kenapa dia tidak mencoba menyerang kita?” “Dia melihat siluet kita membawa pistol, kau pikir manusia t***l mana yang berani mendekat? Niatnya hanya ingin mengawasi.” Dalam hati Azam mengatai kecerobohan sendiri hingga bisa terlihat musuh. Keadaaan jadi berubah karena mereka pasti lebih siaga, mungkin seluruh jalan masuk diawasi. Kecuali jalan baru, yang baru saja dibuat. Laki-laki itu menendang pintu gubuk, menyebabkan tawa-tawa terhenti. Gumaman heran terdengar dari satu mulut ke mulut yang lainnya. “Akan kubunuh mereka dengan aret, beleso dan beliai! Godek boto, duo singkut ene!” “Kenapa kau sialan? Mengagetkan kami.” Suara kaki-kaki berdiri, cepat dan siaga. Gesekan benda tajam dan bambu terdengar nyaring. “Duo godek ene losan ka hutan, ka mari.” “Siapa mereka? Cari mati rupanya.” Banyak mulut berseru-seru, marah seperti tawon yang sarangnya diusik. “Orang asing. Mereka membawa pisau dan senjata api.” Terang si muka codet dengan marah. Seperti di komando, langkah-langkah berderap keluar dari gubuk. “Bule dari luar negeri maksudmu?” salah satu dari mereka bertanya. Azam mundur beberapa langkah dan kembali ke belakang gubuk. Berjongkok, siap lari kalau salah satu dari mereka memergokinya. “g****k! Otak kau memang g****k!” Bunyi hantaman keras benda tumpul ke kepala manusia, dan jeritan mengaduh mengindikasikan bahwa sedang terjadi keributan. Suara yang menghardik itu, yang paling keras, mungkin dialah pimpinan dalam gubuk. “Di mana kau melihatnya, Sanca? Apa yang mereka lakukan di sini, tai! Cari mati!” “Aku melihat mereka di seberang hutan di sisi kanan. Aku tidak tahu, mereka sepertinya mata-mata.” Azam dan Zayanara tepat waktu meloncat ke balik pohon ulin di pinggir gubuk ketika dua di antara penghuni gubuk di luar memeriksa seluruh penjuru bangunan reyot itu. “Mereka polisi?” tanya si pimpinan, yang bertubuh tinggi dan bermata juling. “Mungkin saja. Tapi mereka tidak pakai seragam seperti pada umumnya. Sudah, tak perlu dikejar! Mereka pasti sudah mabur dari hutan ini. Yang harus kita lakukan adalah melapor pada bos besar,” si codet rasional, rupanya masih memiliki otak. “kita menghancurkan markas dan kau bisa perintahkan anak buahmu untuk mengawasi warga kampung. Bunuh mereka kalau berani memberontak.” “Kalian bongkar gubuk ini, dan kau Sanca, ikut aku menghadap bos.” Keduanya berlari menuju pohon ulin besar, Azam tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk melihat bagaimana cara mereka memasuki pohon tersebut. Seperti dugaan Zayanara, tombol itu berfungsi untuk mengakses data seperti dalam markas GPN45. Tetapi mereka menggunakan semacam card yang digesekkan ke mulut mesin setelah memencet tombol. Tidak sulit, Azam menyeringai. Di belakang punggungnya seekor burung gagak mengepak sayap, menembus gelapnya atap hutan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN