Cuaca pucat di luar menyebarkan dingin, gemuruh guntur membuat suasana makin terasa mencekam. Seperti hal lumrah yang biasa terjadi, rumah besar itu gaduh oleh suara teriakan marah. Tak bisa dipungkiri, bahwa semua itu seolah menjadi makanan pahit bagi para penghuni rumah jika sang Marsda kembali ke kediamannya. Seorang anak lelaki menyaksikan adegan itu dengan takut-takut sembari bersembunyi di pojok ruangan, menangis dan meratap tanpa kuasa untuk menolong Ibunya. Rasanya tidak pernah ada kebahagiaan di rumah itu semenjak dia lahir ke dunia, atau jauh hari pun tak ada sinar matahari yang masuk melalui celah-celah rumah megah itu? Hanya menjadikannya bangunan megah tanpa nyawa. “Sejak awal aku tahu aku menikahi p*****r! Dasar wanita jalang tak tahu diri kau, Seruni! Berani-beraninya main

