Azam terduduk tiba-tiba di ranjangnya. Dengan napas memburu dan keringat dingin bercucuran tiada henti. Angin menerpa wajahnya, tersadar jika jendela kamar terbuka. Hawa malam di pondok pesantren Darul Mu’min membawa sisa-sisa air hujan yang deras mengguyur bumi di luar sana. Menciprati kusen jendela, kedua kacanya saling membentur-bentur akibat angin kencang. “Astagfirullah,“ Azam mengusap wajahnya yang basah, membuang ludah tiga kali dengan isyarat ke sisi tempat tidurnya. Lantas ia bersandar di ranjang, merenung sembari menormalkan jantung. “Mimpi itu lagi.“ Gumamnya. Tidak, itu bukanlah mimpi. Bukankah mimpi akan selalu menyajikan visualisasi berupa serangkaian kejadian bagi yang mengalaminya? Tetapi Azam tidak mengalami itu. Tak ada kejadian dalam kepalanya. Hanya gelap tak berujun

