“Ayo kita obati lukamu.” Asha menggenggam jemari Azam untuk membawanya masuk ke dalam rumah, namun lelaki itu menahan tangannya. Menariknya untuk berbalik kembali dan memaksa menatap wajah Azam yang berubah serius. “Lukamu harus diobati,” ujar Asha lembut, tahu kalau suaminya tak pernah mau seseorang mengobati luka yang didapat dari pekerjaannya. “Meski sudah ditangani tapi tetap saja harus segera dibalut, nanti kau terinfeksi bagaimana?” Azam berusaha menguatkan diri, “Aku datang untuk menjemputmu. Ada hal penting yang harus aku tunjukkan padamu selaku perwakilan dari kesatuan.” Senyum di wajah Asha sirna, wanita itu mengerutkan dahi. “Menjemputku? Perwakilan dari kesatuan? Apa yang kau bicarakan?” “Kau akan tahu nanti.” Dan Azam akan hancur bersama Asha, lebih hancur lagi ketika meli

