Bab 17 : Dendam dan Tipu Muslihat

6881 Kata

“Galuh? Kapan datang? Kenapa tidak mengabariku dulu? Koperku masih di rumah penginapan tahu.” Asha memberondongnya dengan ragam pertanyaan kala pemuda itu mendekatinya sambil membawa cangkir kopi. Samananjung tertawa karena ketergesaan Asha dalam berbicara. “Satu jam lalu, cousin. Aku mampir dulu ke rumah Kiyai Muis. Hm, cukup lama sih sampai aku menghabiskan beberapa cangkir kopi, yang satu ini bahkan sudah hampir dingin.” Lengan Sam akhirnya dihadiahi tinju lemah dari kepalan tangan Asha yang jengkel. Cangkir kopi itu hampir jatuh kalau Sam tidak punya daya fleksibel, dengan gemas dicubitnya hidung Asha sampai gadis itu meringis. “Kau jangan nakal-nakal sepupu tersayang, atau capit kepiting ini bakal mendarat di atas hidungmu yang lucu. Bz. “ “Galuh!” Asha menepis tangan Sam yang ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN