“Kau tertarik padanya?” “Ya” Tak ada raut tergambar di wajahnya yang tegas, lelaki separuh abad itu memandang tajam ke kedua manik Azam seperti burung hering raja yang mengintai korbannya. “Kau tahu dia putriku satu-satunya, maka aku memintamu untuk menjauhinya mulai dari sekarang dan tetap akan seperti itu apapun yang terjadi.” Keputusan final itu seharusnya tak boleh di bantah Azam, tapi pemuda itu malah menaikan alis. “Kenapa aku harus melakukannya?” Mata senjanya menyipit tak suka atas pembangkangan itu. “Kau dan lingkunganmu sangat berbahaya. Setelah semua hal buruk terjadi di hutan itu kau pikir hanya akan ada satu malapetaka yang menyinggahi hidupnya?” Azam terkekeh, “Aku pikir dia tidak merasa takut, kau tahu bahwa kami bertahan hidup dari banyak bahaya. Lalu mengapa kau harus

