“Jangan bergerak.” Suara itu rendah, nyaris berbisik, tapi cukup dekat hingga napasnya menyentuh telinga Cassie. Gelap menelan segalanya. Alarm sudah berhenti, menyisakan dengung listrik yang tidak stabil. Cassie berdiri mematung. Jantungnya berdetak teratur bukan karena tenang, melainkan karena ia memaksa dirinya tetap fokus. “Ada tiga pintu,” lanjut suara itu. “Satu di belakangmu. Dua di kiri.” “Kau menghitung napasku?” Cassie balas berbisik. “Tidak perlu,” jawabnya singkat. “Kau selalu menarik napas sebelum bergerak.” Cassie menelan ludah. “Kau tidak seharusnya di sini.” “Hari ini banyak hal tidak seharusnya terjadi.” Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Cepat. Terburu. Panik yang disembunyikan. “Waktu kita pendek,” kata suara itu. “Ikut aku.” “Ke mana?” “Keluar.” “Keluar b

