Yang Tak Pernah Dianggap
“Pa… aku mau ngenalin dia.”
Suara Manggala terdengar mantap, meski dadanya bergetar. Ia berdiri di ruang keluarga rumah besar itu, satu tangan menggenggam jemari Cassie, satu lagi terkepal di saku celana. Di hadapan mereka, Bhava Darmawangsa sang ayah tidak segera menjawab. Ia tetap duduk di kursi utamanya, berbincang dengan dua paman dan seorang kolega bisnis seolah tidak ada yang baru saja diperkenalkan.
“Kontrak proyek Qingdao itu harus dipercepat, kita tidak bisa menunggu sampai kuartal depan.” kata Bhava datar.
Manggala menelan ludah. Cassie berdiri di sampingnya, senyum sopan terpasang, punggungnya lurus seperti seseorang yang sedang diuji bukan dikenalkan.
“Ayah, aku ingin memperkenalkan pacarku.” Manggala mengulang, kali ini lebih keras.
Percakapan terhenti.
Beberapa pasang mata akhirnya menoleh. Bukan ke Cassie, melainkan ke Manggala seolah kehadiran perempuan itu hanyalah detail yang terlambat disebutkan.
Bhava mendongak perlahan. Tatapannya singgah sekilas pada wajah Cassie, lalu kembali ke anaknya. Tidak ada senyum. Tidak ada keramahan.
“Sekarang?” tanyanya singkat.
Manggala mengangguk. “Ya. Sekarang.”
Hening jatuh, berat dan kaku.
“Duduk,” kata Bhava pada Manggala, bukan pada Cassie.
Manggala ragu sejenak, lalu menuntun Cassie ke sofa. Namun sebelum Cassie sempat duduk, Bhava kembali berbicara.
“Tidak perlu, sebentar saja.” katanya.
Sebentar saja. Dua kata yang langsung membuat Cassiw merasa dirinya bukan tamu, bukan siapa-siapa. Ia tetap berdiri, jemarinya saling mengait tanpa sadar.
“Namamu?” tanya Bhava, nadanya netral, nyaris seperti bertanya pada resepsionis.
“Cassie Arnara Leviana, Pak,” jawabnya pelan.
“Bekerja di mana?”
“Di biro desain interior.”
Bhava mengangguk singkat, lalu menoleh kembali pada koleganya. “Kita lanjutkan nanti.”
Kalimat itu terdengar sopan, tapi jelas pembicaraan penting baru saja diganggu.
Para tamu berpamitan satu per satu. Tidak ada yang menyalami Cassie. Tidak ada yang menatapnya lebih lama dari satu detik. Seolah ia hanyalah bayangan yang kebetulan berdiri di ruang itu.
Ketika pintu tertutup dan ruang keluarga kembali sepi, Bhava berdiri.
“Kau ikut aku.” katanya pada Manggala.
“Cassie juga.” jawab Ren Shen cepat.
Bhava berhenti melangkah. Ia menoleh, tatapannya dingin. “Tidak.”
Cassiw tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip tameng. “Tidak apa-apa,” katanya pada Manggala. “Aku tunggu di sini.”
Manggala ingin membantah, tapi tatapan ayahnya sudah lebih dulu memerintah. Ia mengikuti Bhava ke ruang kerja, meninggalkan Cassie sendirian di ruang keluarga yang terlalu besar untuk satu orang.
Di dalam ruang kerja, Bhava menutup pintu tanpa suara.
“Kau serius?” tanyanya langsung.
“Ya. Aku mencintainya.” jawab Manggala.
Ren Yaojun tertawa kecil, tanpa humor. “Cinta tidak ada dalam perhitungan hidupmu, Shen.”
“Ini hidupku,” Manggala membalas, rahangnya mengeras.
Bhava menatapnya lama. “Justru karena itu, aku harus menghentikannya.”
Manggala terdiam.
“Perempuan itu tidak cocok. Dan sebelum kau terlalu jauh, aku tidak akan membiarkan kesalahan ini berkembang.” lanjut Bhava
“Kesalahan?. Ayah bahkan belum mengenalnya.” suara Manggala meninggi.
“Aku tidak perlu mengenalnya, aku tahu cukup banyak dari cara ia berdiri di ruang ini.” jawab Bhava tenang.
Kata-kata itu seperti pisau. Manggala mengepalkan tangan.
“Ayah menghakimi tanpa alasan.”
“Aku melindungimu.”
“Dengan mengontrol hidupku?”
Bhava melangkah mendekat. “Dengan mengingatkanmu siapa dirimu.”
Hening.
Manggala menghembuskan napas panjang.
“Aku tidak akan memutuskan hubungan ini hanya karena Ayah tidak setuju.”
Bhava menatapnya tajam. “Kita lihat saja.”
Di luar ruang kerja, Cassie duduk kaku di tepi sofa. Jam dinding berdetak terlalu keras. Ia menatap sekeliling rumah itu foto keluarga, lukisan mahal, rak buku tinggi semuanya rapi, sempurna, dan sama sekali tidak memberinya ruang.
Ketika seorang pembantu lewat tanpa menyapanya, Cassie akhirnya mengerti ia tidak diharapkan ada di sini.
Manggala kembali beberapa menit kemudian. Wajahnya tegang.
“Kita pulang.” katanya singkat.
Di dalam mobil, Cassie tidak langsung bicara.
“Ayahmu tidak menyukaiku.” katanya akhirnya, tenang tapi pahit.
Manggala menggenggam setir. “Aku akan mengurusnya.”
Cassie menoleh, menatapnya lama. “Jangan memaksakan dirimu demi aku.”
Manggala tidak menjawab.
Ia tidak tahu bahwa kalimat itu adalah awal dari semua yang akan ia korbankan.
Dan di rumah besar itu, Bhava berdiri di depan jendela, menatap mobil yang menjauh.
Baginya, malam ini bukan tentang perkenalan.
Ini tentang penolakan pertama.
Dan perang yang baru dimulai.