baginya, menulis bukan sekadar menyusun kalimat; melainkan upaya merawat memori, mengukur ulang jarak antara hati dan dunia, serta menghadirkan keindahan yang tidak selalu terlihat mata. tema-temanya sering bergerak pelan, mengalir seperti malam yang tidak terburu-buru menjadi pagi. ia menganyam suasana, menata emosi, dan membiarkan pembaca menemukan dirinya sendiri di sela-sela jeda.
Rania pulang ke rumah yang seharusnya miliknya dan mendapati dirinya hanya tamu.
Namanya terhapus, posisinya tergantikan, dan kasih sayang ibunya jatuh pada anak lain.
Di antara kebohongan dan pengakuan yang dirampas, Rania harus memilih;
bertahan demi diakui, atau pergi demi menyelamatkan dirinya sendiri.
“ Aku kehilangan cintaku demi restu keluarga. Namun yang tidak pernah kuduga—ayahku merampasnya."
Dalam keluarga yang menganggap anak sebagai milik, Manggala harus memilih antara darah dan dirinya sendiri.
Elira pergi setelah melihat Arel dengan perempuan lain. Tanpa klarifikasi. Tanpa pamit.
Dua tahun kemudian, hujan mempertemukan mereka kembali—dengan luka yang belum sembuh dan rahasia yang belum dibuka.
Kali ini, pergi atau bertahan sama-sama menyakitkan.