Bayangan

952 Kata

“Jangan menoleh.” Suara itu muncul dari arah jendela mobil, rendah, nyaris menyatu dengan dengung mesin. Manggala refleks mengencangkan cengkeraman pada setir, matanya tetap lurus menatap lampu lalu lintas di depan. “Siapa kau?” tanyanya pelan, rahangnya menegang. “Kalau kau menoleh, aku tidak akan menjawab,” balas suara itu tenang. Lampu hijau menyala. Mobil hitam di belakang masih diam. Terlalu diam. Manggala menginjak gas perlahan. “Ini caranya Ayah sekarang? Mengirim bayangan?” “Tergantung,” jawab suara itu. “Kalau kau menganggap aku bayangan, berarti kau belum cukup dekat dengan kebenaran.” Mobil bergerak. Manggala bisa merasakan keberadaan orang itu tanpa melihat—di kursi belakang, tepat di sisi gelap kabin. “Kau mengikuti aku,” kata Manggala. “Tidak,” sahutnya ringan. “Aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN