14 – Ketakutan yang Berbahaya
Segala hal tentangmu menakutkanku
Aku takut kau terluka karena aku tak bisa melindungimu
Ketika Brianna keluar dari kamar, Brian sudah berada di ujung koridor bersama Joe dan Gading. Brianna tak ingat bagaimana semalam ia bisa pindah dari balkon ke tempat tidur, tapi mengingat semalam ada Brian, maka pastilah pria itu yang memindahkan Brianna. Dan kejadian semalam, sejak Brianna bangun pagi ini, ia tak bisa melupakannya.
Tidak ada masalah sebenarnya, kecuali wajah Brianna yang selalu memerah setiap mengingatnya. Dua kali dalam semalam, Brian melihatnya menangis. Dua kali dalam semalam, Brian memeluknya. Dan hanya karena Brian menceritakan masa lalunya, dengan mudahnya Brianna percaya padanya dan menumpahkan kesedihannya di hadapan pria itu.
Jika memikirkan betapa lemahnya dirinya di hadapan Brian kemarin, rasanya Brianna tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Oh, dia benar-benar tidak bisa ...
“Brianna!” Panggilan Brian menahan Brianna yang sudah berbalik dan hendak kembali masuk ke kamarnya.
Brianna menyumpah dalam hati, lalu dengan ekspresi sedatar mungkin ia kembali berbalik dan menatap Brian. “Ya?”
“Kau mau turun, kan?” tanya Brian dengan nada terlalu riang.
Tidak cukup dengan sapaan paginya itu, kini Brian juga berjalan menghampiri Brianna. Di belakang Brian, Joe dan Gading menatap mereka dengan terheran-heran.
Ketika Brian sudah berdiri di hadapannya, mendadak Brianna tak tahu apa yang harus ia lakukan atau bicarakan. Brianna memaki dirinya dalam hati. Ini hanya Brian, astaga!
Brianna berdehem sebelum berbicara, “Tentang semalam ...”
“Ah, ya, tentang semalam ...” Brian menyela.
Brianna menunggu. Apa yang akan Brian katakan? Apa mungkin dia tidak ingat? Apa dia mungkin akan melupakannya saja? Apa dia juga sama seperti Brianna, berharap bahwa mereka melupakan apa yang terjadi semalam?
“Ada yang belum kukatakan padamu,” Brian melanjutkan.
Brianna menunggu.
Brian tersenyum. “Penjahat itu ... b******n busuk yang telah membunuh Lena itu, kita pasti akan menangkapnya dan membuatnya menerima balasannya,” ucapnya sungguh-sungguh.
Brianna tertegun.
“Brian, ayo!” seru Gading dari ujung koridor.
Brian menoleh untuk membalas, “Iya!” Brian lalu kembali menatap Brianna dan berkata, “Ayo!”
Brian sudah berbalik dan berjalan ke tempat Gading, tapi Brianna masih membeku di tempatnya. Ia terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan Brian padanya tadi. Ia sama sekali tidak berpikir tentang ...
“Kenapa kau masih di situ?” Brian terdengar kesal ketika dia menoleh dan melihat Brianna masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Aku ...”
Brian mendecakkan lidah kesal seraya kembali ke tempat Brianna, dan tanpa mengatakan apa pun, Brian meraih tangan Brianna dan menggandengnya pergi dari sana. Brianna tercekat. Tatapannya jatuh pada tangan Brian yang menggenggam tangannya.
Seperti ini ... tidak apa-apakah?
***
Sudah beberapa hari ini Joe melihat Brian dan Brianna semakin dekat. Apakah Brian benar-benar berhasil mendapatkan kepercayaan gadis itu? Secepat ini? Brian benar-benar keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu.
Ini adalah hari terakhir pelatihan mereka dan besok mereka sudah harus kembali ke kantor pusat NDA dan melanjutkan misi SOS mereka. Mereka harus segera menangkap Mata Kegelapan sebelum dia menjatuhkan lebih banyak korban. Dan untuk itu, mereka harus menemukan umpan untuk memancingnya.
“Bom apa yang akan kita pakai untuk latihan kali ini?” tanya Gading penasaran.
“Entahlah. Masing-masing kita akan mendapat bom yang berbeda. Tiger bilang, itu kejutan,” sahut Joe seraya mengedikkan bahu.
“Dia benar-benar tidak akan membuat ini mudah,” keluh Gading.
Joe tersenyum tipis.
“Tapi omong-omong, tidakkah kau menyadari belakangan ini Brian dan Brianna semakin dekat?” Gading mengamati Brian dan Brianna yang sedang menertawakan sesuatu. “Sejak beberapa minggu terakhir ini, aku tidak pernah melihat Brianna tertawa seperti itu. Dia bahkan nyaris tidak pernah tersenyum sebelum ini.”
Joe mengerutkan kening. Sebenarnya, apa yang sudah dilakukan Brian hingga bisa membuat Brianna seperti itu?
“Rasanya seperti kembali seperti dulu, saat Lena masih ada,” gumam Gading seraya tersenyum sendu.
Joe menoleh mendengar nama itu. Ia ingat Brian memberitahunya tentang gadis bernama Lena itu. Dia adalah sahabat Brianna yang tewas dibunuh sang Mata Kegelapan. Ketika Joe bertanya tentang profil Lena, Brian berkata bahwa dia sudah mengetahui apa pun yang ingin ia ketahui tentang Lena.
“Apakah Brian sudah bertanya padamu tentang dia? Lena?” Joe memastikan.
Gading mengangguk. “Aku juga tidak tahu dari mana dia tahu tentang Lena. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?”
Joe menggeleng.
“Tapi syukurlah, aku bisa melihat Brianna tersenyum lagi,” kata Gading kemudian. “Sebenarnya, dia adalah gadis yang baik. Sebelum Lena pergi ... yah, kau bisa bertanya pada Brian. Dia sudah tahu tentang Lena.”
Joe mengamati Brianna dan Brian yang kini tampak sedang mendebatkan sesuatu. Brianna memukul kepala Brian, Brian berteriak kesal, tapi Brianna malah tertawa. Brian menggerutu pada gadis itu, tapi kemudian dia juga tersenyum. Dan cara Brian tersenyum itu ... tunggu, apakah itu benar-benar Brian?
Brian, meskipun bukan jenis orang yang tertutup, tapi dia juga tidak benar-benar terbuka. Dia bisa berkomunikasi dengan baik dengan agen lainnya, tapi dia hanya bersikap terbuka pada Joe. Namun kali ini, Joe melihat betapa santainya sikap Brian di depan Brianna. Brian tampak ... nyaman bersama Brianna.
Baiklah. Jadi apa yang sudah Joe lewatkan?
***
“Brian, tenanglah.” Suara Brianna menghentikan tangan Brian yang sudah terangkat, gemetar saat hendak membuka kotak bomnya.
Brian menurunkan tangan, memejamkan mata dan menarik napas dalam. Ia mengembuskan napas perlahan saat kembali membuka mata dan menatap Brianna. Belum pernah Brian merasa sepanik dan setakut ini saat menghadapi bom. Ia hanya harus menjinakkan bom waktu yang ada di pangkuan Brianna ini. Namun ...
“Brian ... ini hanya latihan. Tenanglah ...” Brianna kembali berbicara.
Brian tahu ini hanya latihan, tapi ia tidak bisa menghentikan gambaran Brianna yang terikat seperti ini dengan bom waktu di pangkuannya, dan itu bukan latihan. Brian tahu ini hanya latihan, tapi ia tak bisa menyingkirkan pikiran tentang bagaimana jika ia harus menghadapi situasi seperti ini di suatu misi yang sebenarnya?
“Brian, aku percaya padamu,” ucap Brianna sungguh-sungguh.
Dan akhirnya, Brian baru bisa sedikit tenang. Hanya sedikit. Ia mengangguk pada Brianna, lalu mulai membuka kotak penutup bom itu dan mempelajarinya. Ia punya waktu delapan menit untuk menghentikan waktu yang terus berjalan di LCD-nya.
Brian kembali memejamkan mata ketika membayangkan bom itu meledak, dan Brianna ada di sana. Brian menghalau pikiran buruk itu dan kembali berkonsentrasi. Setelah lebih tenang, barulah Brian mulai memeriksa lebih cermat kabel-kabel itu dan memotong satu-persatu kabel sesuai urutan seharusnya.
“Joe mengatakan padaku bahwa kau adalah yang paling tenang saat menjinakkan bom,” ucap Brianna tiba-tiba. “Tapi, kurasa dia mengatakan itu hanya untuk menenangkanku.”
Brian mendengus pelan. Ya, biasanya dia selalu menjadi yang paling tenang, dan santai.
“Dia bilang, kau bahkan bisa menjinakkan bom sambil bercanda, seolah kau sedang mengobrol santai di waktu luangmu,” ucap Brianna lagi.
Brian tersenyum kecil. Itu adalah caranya untuk menenangkan diri jika dia merasa sedikit panik. Namun kali ini, bahkan meskipun ia panik, ia tak bisa mengatakan apa pun. Bahkan, saat ini ia merasa takut.
“Brian,” panggil Brianna.
“Hm?” sahut Brian tanpa menatap gadis itu.
“Aku ... percaya padamu,” ucap Brianna pelan.
Tangan Brian yang sudah hendak memotong kabel lainnya terhenti. Ia mendongak dan menatap Brianna.
“Apa ... yang kau katakan?” Brian terdengar tak yakin.
Brianna tersenyum. “Aku percaya padamu.”
Kali ini, Brian tersenyum. Dadanya terasa mengembang hanya dengan mendengar kata-kata itu.
“Apakah kau baru saja mengatakan bahwa kau mempercayai orang yang kau benci?” Brian memastikan.
Brianna berdehem canggung. “Aku tidak mengatakan seperti itu,” elaknya.
“Tapi kau membenciku, benar?” kejar Brian.
“Beberapa waktu lalu, iya. Tapi sekarang ... kurasa aku sudah tidak terlalu membencimu,” aku Brianna tanpa berani menatap mata Brian. “Lagipula, kita akan bekerja sebagai rekan tim. Aku tidak boleh mengutamakan perasaan pribadi dibandingkan pekerjaanku, kan?”
Brian tersenyum seraya mengangguk-angguk. “Itu berarti, sebelum ini juga kau benar-benar tidak percaya padaku?”
Brianna menatap ke arah lain, arah mana pun selain Brian. “Kau juga tidak percaya padaku.”
“Itu beberapa waktu lalu,” ralat Brian.
“Bukankah aku juga begitu?” balas Brianna kesal.
Brian tersenyum geli. “Tampaknya, kau tak ingin mempercayai siapa pun sebelum ini.”
Brianna mendesah pasrah, dan akhirnya ia menatap Brian. “Sebelum Lena meninggal, salah satu pesan terakhirnya adalah agar aku tidak mempercayai siapa pun,” ungkapnya. Brianna memalingkan wajah dengan muram.
Ah, jadi karena itu. Brian tersenyum kecil seraya meraih dagu Brianna dan membuat gadis itu menatapnya. “Kau bisa mempercayaiku,” ucapnya tulus.
Brianna tersentak kecil. “Brian ...”
“Ya?” Brian menunggu.
“Cepat selesaikan saja tugasmu agar aku bisa segera melepaskan tali ini,” lanjut Brianna kesal.
Brian melongo selama beberapa saat. Dia pikir Brianna akan mengatakan sesuatu yang penting. Brian mendengus kesal seraya kembali fokus pada tugasnya. Ia melirik tali yang mengikat Brianna di kursi itu dan mendadak merasa kesal.
“Siapa yang mengikatmu di sini? Perlukah mereka mengikatmu seperti ini?” gerutu Brian.
“Apa itu penting sekarang?” Brianna memutar mata.
“Tentu saja,” sahut Brian kesal seraya memotong kabel timer-nya. “Orang itu sudah ...” Kalimat Brian terhenti tatkala ia melihat waktu yang masih berjalan di LCD. “Apa-apaan ini?”
Brianna ikut menatap ke kotak bom itu. “Brian, kurasa kau masih harus memotong satu kabel lagi,” ucapnya hati-hati.
Brian menatap dua kabel yang tersisa. Biru dan merah. Ia memeriksa keduanya, tapi tidak ada skema untuk dua kabel tersebut. Tidak mungkin.
“Brian ...” Suara cemas Brianna membuat Brian semakin kalut.
Brian menggeleng lesu, kedua tangannya terjatuh ke sisi tubuhnya sementara tatapannya masih tertuju ke dua kabel yang tersisa. Salah satu dari kabel itu adalah kabel pemicu ledakan bom itu. Bagaimana bisa Tiger memasang bom ini tanpa memberi petunjuk?
“Brian, tenanglah ...” Kali ini suara Brianna lebih tenang, tapi itu justru membuat Brian kesal. Brianna tidak perlu berpura-pura tenang agar Brian juga bisa tenang.
Brian membayangkan jika ini adalah misi yang sesungguhnya. Brian tidak bisa membuang bom itu karena gerakan kecil bisa memicu ledakan dari tuas air raksanya. Namun, dia juga masih harus dihadapkan dengan kabel ini, di mana salah satunya adalah kabel pemicu ledakannya. Namun, yang membuat Brian lebih ngeri adalah jika sandera yang memegang bom itu adalah Brianna, seperti saat ini.
“Maaf,” ucap Brian pelan.
“Brian, jangan seperti ini,” protes Brianna. “Kau harus berkonsentrasi. Kau hanya harus memotong salah satu kabelnya. Ingatlah sesuatu, Tiger pasti mengatakan sesuatu padamu.”
Brian menggeleng. “Separah apa ledakannya ini? Separah apa ledakan bom untuk latihan?” tanyanya lesu.
“Brian, jangan bodoh! Kau bisa melakukannya!” desak Brianna.
Brian mendesah lelah. “Aku akan melepaskan ikatanmu dulu,” ucapnya seraya berdiri, berjalan ke belakang Brianna untuk melepaskan tali yang mengikat gadis itu di kursi yang didudukinya.
“Brian, kau tidak bisa melakukan ini. Kau harus menjinakkan bomnya!” Brianna mengingatkan.
Brian tak membalas. Ia melepaskan ikatan Brianna, lagi-lagi merasa kesal karena tali itu meninggalkan bekas merah di tangan Brianna.
“Aku akan mencoba memindahkan kotaknya, dan kau ... larilah sejauh mungkin,” kata Brian begitu dia sudah kembali berlutut di depan Brianna.
Brianna menggeleng. “Jika kau membuang bomnya, kau akan gagal.”
“Membuangnya pun tak mungkin karena ada tuas air raksanya. Tapi, aku akan menjauhkan bom ini darimu,” Brian berkeras.
“Jangan seperti ini!” teriak Brianna frustrasi dan putus asa. “Kau menjadi rekan Joe bukan untuk membebaninya dengan kebodohan dan kekeraskepalaanmu ini!”
Brian menatap Brianna tanpa ekspresi. “Joe akan mengerti.” Brian memegang pinggiran kotak itu, bersiap mengangkatnya.
“Brian, tunggu!” tahan Brianna.
Brian mengalihkan tatapan dari bomnya dan menatap gadis itu. “Kita hanya punya satu menit.”
“Karena itu, pikirkanlah sesuatu, Sialan!” Brianna benar-benar sudah kehilangan kesabaran.
Brian mendengus. “Bahkan saat ini pun, meski kau ingin menghajarku, kau tidak bisa, kan?”
Brianna mendesah pelan. “Aku percaya padamu, Brian,” ucapnya.
Brian tertegun.
“Hari ini cerah sekali, bukan begitu, Brian? Menurutmu, apakah langit akan tetap indah jika warnanya bukan biru?”
Pertanyaan asal Tiger saat Brian dan yang lain menonton usaha Joe menjinakkan bom yang terikat di tubuh Gading tadi mendadak terlintas di kepalanya.
Jika langit tidak berwarna biru ... apakah ia akan tetap indah? Jika warna langit menjadi merah ... semerah darah ... bukankah akan mengerikan? Brian tersentak ketika ia tahu jawabannya. Hanya tinggal sepuluh detik tersisa sebelum ledakan. Tanpa membuang waktu, Brian memotong kabel merahnya. Waktu berhenti di angka empat begitu kabel itu terpotong.
Brian mengembuskan napas lega. “Clear,” ucapnya pelan.
“Kau berhasil!” seru Brianna riang. “Sudah kubilang kau ...” kalimat Brianna terhenti ketika Brian merengkuhnya. “Brian ...”
“Ini ... benar-benar mengerikan ...” ucap Brian sungguh-sungguh.
Brian merupakan salah satu penjinak bom terbaik di SIA, dan bagaimanapun situasinya, dia selalu berhasil menguasainya. Bahkan mungkin, ini adalah keahlian yang dikuasainya lebih dari Joe. Namun kali ini ... untuk pertama kalinya ... permainan yang dulu dirasanya menyenangkan, saat ini terasa begitu mengerikan.
***