13 – Make Me Believe
Beri aku kesempatan
Untuk percaya kepadamu, untuk melindungimu
Brian berdiri di balkon kamar, menatap kegelapan malam di hadapannya, mengabaikan hawa dingin yang menyentuh kulitnya. Saat ini, pikirannya sepenuhnya terpusat pada Brianna.
Jika memang Lena seberarti itu bagi Brianna, apakah dia benar-benar akan membunuh sahabatnya sendiri demi misinya sebagai Mata Kegelapan?
Brian mendesah lelah. Jika memang Brianna adalah sang Mata Kegelapan, tidak seharusnya Brian berdiri di sini dan berharap Brianna bukanlah sang Mata Kegelapan. Dan lagi, Brian menyadari bahwa meskipun mungkin Brianna memang adalah sang Mata Kegelapan, Brian sedang berusaha mencari pembenaran untuk itu.
Apakah sekarang Brian menjadi pembela para pembunuh?
Merasa marah pada dirinya, Brian memanjat pagar balkon, lalu melompat ke balkon sebelahnya. Ia harus memastikan sendiri. Ia tidak bisa seperti ini. Jika Brianna bukanlah sang Mata Kegelapan, dia harus mendengar sendiri dari mulut gadis itu. Namun, jika dia adalah sang Mata Kegelapan ...
Brian akan memikirkan itu nanti.
***
Brianna membolak-balikkan tubuh di atas tempat tidur, berusaha mencari posisi nyaman untuk tidur. Namun, berapa kali pun ia menutup mata, betapa kerasnya ia mencoba, ia tetap tidak bisa tidur. Brianna ingin mengelak tapi pikirannya benar-benar keras kepala. Meskipun ia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak bisa tidur karena kelelahan, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Brian yang sedang memeluknya muncul.
Menyerah, Brianna melompat bangun dari tempat tidur. Ia mengambil jaket dan ponsel, sudah berjalan ke pintu ketika mendengar suara ketukan dari balkon. Brianna menghentikan langkah dan berbalik. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Siapa yang iseng mengerjainya malam-malam begini?
Sesaat Brianna berpikir untuk mengabaikan keisengan di balkon itu, tapi kemudian ia mendengar ketukan lagi dari sana. Tak punya pilihan lain, Brianna berjalan ke arah balkon. Betapa terkejutnya Brianna ketika ia membuka tirai dan mendapati Brian berdiri di depan pintu balkonnya. Tatapan Brian jatuh ke lantai, sementara ia berdiri di luar sana hanya mengenakan kaos, tanpa jaket. Di luar sana pasti sangat dingin. Pria ini benar-benar sudah gila.
Brianna membuka pintu balkon, sempat berpikir untuk mempersilakan Brian masuk, tapi ia belum bisa percaya pada pria itu, dan akhirnya memutuskan untuk keluar ke balkon. Hawa dingin yang menyapanya kemudian membuat Brianna bergidik. Ia baru saja hendak memakai jaket ketika kedua tangan Brian mendarat di bahunya, mencengkeramnya erat.
“Brian, apa yang kau lakukan?” kaget Brianna.
“Katakan kau tidak membunuhnya,” ucap Brian dengan nada mendesak.
Brianna tertegun. Apa yang sedang dibicarakan Brian?
“Katakan kau tidak membunuh sahabatmu!” bentak Brian.
Brianna mencelos. Bagaimana ia harus membalas sekarang?
“Katakan kau bukan sang Mata Kegelapan!” Brian mengguncang bahu Brianna.
Brianna memejamkan matanya pedih. Apa bedanya?
“Kembalilah ke kamarmu, di sini dingin,” kata Brianna dingin seraya menepis tangan Brian yang menahan bahunya.
Brianna berbalik, hendak membuka pintu balkon ketika tangan Brian memeluknya dari belakang, menahannya. Brianna membeku di tempat.
“Negara ini yang membuangku ...” tiba-tiba Brian berkata. “Bukan aku yang membuang negara ini, tapi negara ini yang membuangku.”
Kenapa Brian mengatakan ini? Kenapa tiba-tiba ia ...
“Ketika aku masih kecil, orang tuaku tidak menginginkanku.” Kepedihan terdengar jelas dalam suara Brian. “Ibuku meninggalkanku bersama ayahku yang pemabuk saat aku masih kecil. Dan sejak saat itu, ayahku selalu memukuliku. Ketika aku berumur sepuluh tahun, ayahku meninggal. Ayahku tertabrak mobil hingga tewas saat mabuk. Setelah itu, aku dibawa ke panti asuhan.
“Tapi, di mana pun aku berada, tidak pernah ada yang menginginkanku. Aku tidak punya teman, dan tidak ada yang peduli padaku. Aku hanya bertahan selama tiga tahun di panti asuhan. Aku melarikan diri dan hidup di jalanan. Hidup di mana pun, sama saja bagiku. Aku selalu dipukuli, direndahkan dan tidak diinginkan. Aku hidup seperti itu tapi negara ini tak peduli.
“Para pejabat di kantor pemerintahan itu menikmati hidup nyaman mereka tanpa mempedulikan nasib orang-orang sepertiku. Mereka tidak pernah peduli. Kau bilang aku akan mengkhianati negaraku. Kau salah. Negara ini yang mengkhianatiku. Untuk apa aku peduli pada negara yang bahkan tidak peduli pada nasib warganya? Untuk apa aku membela negara yang tak pernah membela hak para warganya?
“Selama dua tahun, aku hidup dengan cara yang keras. Terkadang, aku berharap aku akan mati saat dipukuli para preman. Terkadang, aku berharap aku tidak perlu bangun lagi saat aku tidur, atau saat aku tak sadarkan diri setelah dikeroyok anak-anak jalanan lainnya. Saat itu, aku tak pernah berharap untuk kehidupan yang lebih baik. Saat itu, aku berharap mati.
“Hingga suatu hari, saat aku dihajar anak-anak jalanan lain, ketika kupikir akhirnya aku akan mati, seseorang menyelamatkanku. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena setelahnya aku tak sadarkan diri. Tapi ketika aku sadar, aku ada di rumah sakit. Seorang pria yang tak kukenal menungguiku di sisi tempat tidurku.
“Pria itu berkata bahwa seseorang membawaku padanya dan memintanya merawatku. Kupikir saat itu, orang itu pasti akan menjualku. Tapi setelah aku sembuh, dia mengirimku ke camp pelatihan. Dan di sanalah aku bertemu dengan Joe. Dia menolongku saat aku dikeroyok para senior di camp. Dia juga, adalah orang yang menyelamatkanku sebelumnya.
“Untuk orang seperti itu, masuk akal jika aku akan mempertaruhkan nyawaku untuknya. Tapi untuk menyakitinya, dan bahkan membunuhnya ... kurasa lebih baik aku membunuh diriku sendiri. Jika itu kau ... bisakah kau membunuh orang yang telah menyelamatkan hidupmu?”
Brianna memejamkan mata saat butir pertama air matanya jatuh. Tidak. Ia tidak bisa. Namun kenyataannya ... dialah yang membunuh Lena.
“Jika kau berpikir bahwa aku adalah sang Mata Kegelapan, bukankah seharusnya kau tidak mengatakan semua ini padaku?” ucap Brianna pedih.
“Karena itu, katakan bahwa kau bukan sang Mata Kegelapan,” sahut Brian dengan kepedihan yang sama. “Katakan bahwa kau tidak membunuhnya, Brianna.”
Brianna melepaskan tangan Brian darinya dan berbalik untuk menatap pria itu. “Tapi, aku yang bertanggung jawab atas kematiannya,” ucapnya dengan bibir bergetar. “Dia mati karenaku. Dia berada di sana karena kekeraskepalaanku. Seandainya aku mendengarkannya, hari itu, ia tidak harus ...”
“Kau tidak membunuhnya,” putus Brian.
“Apa bedanya? Aku yang menyebabkan kematiannya. Jika saja saat itu aku mendengarkannya, menghentikan penyelidikanku dan segera meninggalkan tempat itu ...”
“Kau tidak membunuhnya,” ulang Brian.
“Aku yang ...”
“Tidak,” Brian menyela cepat seraya menarik Brianna dalam pelukannya. “Kau bukan sang Mata Kegelapan. Kau berpikir kau membunuhnya karena kau merasa bertanggung jawab atas kematiannya, tapi bukan kau yang membunuhnya. Kau tidak bersalah. Kau tidak membunuhnya, tidak bersalah.” Brian berbicara cepat, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Brian ...”
“Kau bukan sang Mata Kegelapan,” ucap Brian lega seraya melepaskan pelukannya.
“Tapi, aku ...”
“Tidak, kau tidak membunuh Lena, Brianna. Kau tidak bersalah,” potong Brian tegas. “Kau bukan sang Mata Kegelapan, syukurlah ...”
Brianna membeku ketika Brian kembali memeluknya. Apa ini? Saat ini, jantung Brianna berdetak sekencang ini ... kenapa?
***
“Kau yakin kau tidak mau mempersilakan aku masuk ke kamarmu?” Brian bertanya, entah untuk keberapa kalinya.
Dan lagi-lagi, Brianna meliriknya kesal. “Aku tidak sepercaya itu padamu untuk membiarkanmu masuk.”
“Tapi, aku sudah mengatakan banyak hal tentangku, bahkan saat kupikir kau adalah sang Mata Kegelapan,” pamer Brian.
“Apa kau merasa bangga karena kecerobohanmu itu?” sinis Brianna. “Jika aku adalah sang Mata Kegelapan, aku pasti sudah akan membunuh Joe untuk menyerangmu.”
Brian merengut. “Tapi, kau bukan sang Mata Kegelapan.”
Brianna mendesah lelah. “Jangan melakukan hal seperti ini lagi,” katanya. “Jika kau masih mencurigai seseorang, jangan biarkan kewaspadaanmu turun.”
Brian meringis. Ia selalu begitu sebelumnya. Hanya saja, entah kenapa, setiap bagian dalam dirinya tidak bisa menerima bahwa Brianna adalah sang Mata Kegelapan.
“Kau ... begitu membenci negara ini ... sekarang aku mengerti,” ucap Brianna kemudian.
Brian menoleh dan menatap Brianna dengan terkejut. Kenapa tiba-tiba dia membicarakan itu?
“Mungkin jika aku berada di posisimu, aku juga akan membenci negara ini. Bahkan, aku pasti akan menyimpan dendam pada negara ini,” lanjut Brianna. “Tapi kau hebat, karena kau bahkan tak berniat untuk membalas dendam pada negara ini. Karena, kau yang saat ini, bisa saja menghancurkan negara ini jika kau mau. Negara ini beruntung, karena kau tidak sependendam aku.”
Brian menahan napas ketika Brianna menatapnya dan tersenyum padanya.
“Di negara yang penuh dengan ketidakadilan ini, bukankah semua orang tampak mengerikan?” lirih Brianna. “Sebelum aku bertemu Lena, aku membenci semua orang. Mereka bersikap baik di depanku, tapi membicarakanku di belakang punggungku. Aku selalu benci orang-orang seperti itu. Tapi ... kenapa hanya orang-orang seperti itu yang ada di sekitarku?
“Tapi, orang-orang juga membenciku, jadi aku merasa adil dengan membenci mereka. Aku tidak keberatan jika aku tidak punya teman. Aku tidak keberatan jika harus sendirian. Itu lebih baik daripada memiliki teman yang hanya memanfaatkanku dan membicarakanku di belakangku. Tapi masalahnya, Lena tidak seperti itu.
“Lena bukanlah jenis orang yang takut padaku karena aku putri Direktur NDA, dan bukan pula orang yang membicarakanku di belakang karenanya. Jika aku salah, dia akan mengatakan bahwa aku salah. Aku bukanlah teman yang menyenangkan, tapi dia tidak pernah memintaku berubah. Jika dia kesal padaku, dia akan mengatakannya. Jika dia pikir aku keras kepala, dia akan meneriakkannya padaku. Jika dia pikir aku gila, dia akan melemparkan kata-kata itu padaku.”
Brianna tersenyum sedih. “Tapi, tidak semua orang seperti dia. Dan sekarang, aku bahkan sudah kehilangannya.” Brianna menarik napas dalam. “Tahukah kau, kehilangan itu lebih menyakitkan daripada kematian?”
Brian tertegun. Beberapa waktu lalu, dia juga berpikir seperti itu. Benar. Sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian adalah kehilangan.
Brian tersenyum lemah seraya menatap bayangan dirinya dan Brianna yang duduk bersebelahan bersandar pada pagar balkon di pintu kaca. Perasaan apa ini? Saat ini, udara sangatlah dingin tapi meskipun Brian tak memakai jaket, ia merasa hangat dan nyaman. Perlahan, ia memejamkan mata. Kini ia mendengar napasnya sendiri, dan juga napas Brianna, menyatu dengan desau angin malam.
“Eh?” Brianna tersentak pelan ketika Brian mendaratkan kepala di bahu gadis itu. “Brian, apa kau tidur?”
Brian tak menjawab dan hanya memejamkan matanya. Ia tersenyum dalam hati ketika mendengar dengusan tak percaya Brianna. Brian menunggu, berapa lama gadis itu akan bertahan sampai dia menendang Brian menjauh. Namun, hingga beberapa saat kemudian, Brianna tak melakukan apa pun.
Brian bahkan dibuat terkejut tatkala merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuh depannya. Ia membuka matanya sedikit, hanya sedikit, untuk mengintip benda yang kini menutupi tubuhnya.
Brian buru-buru menutup mata ketika mendengar gerutuan kesal Brianna, “Benar-benar merepotkan.”
Brian memerlukan usaha keras untuk menahan senyumnya. Sebenarnya, Brianna tidak perlu repot-repot memberikan jaketnya pada Brian seperti ini jika dia membangunkan Brian. Brian bergerak pelan, membuat dirinya semakin nyaman untuk bersandar di bahu Brianna.
“Maaf, karena aku telah menuduhmu dan mengatakan hal-hal buruk tentangmu,” tiba-tiba Brianna berbicara. “Maaf, karena aku tidak berusaha mengerti dirimu sejak awal.”
Brian tercekat. Brianna terdengar begitu tulus.
“Argh, kenapa aku mengatakan hal-hal seperti ini?” gerutu Brianna. “Untung dia sudah tidur. Jika dia mendengar ini, dia pasti sudah meledekku habis-habisan.”
Brian lagi-lagi harus menahan senyum karenanya. Ah, jika menuruti egonya, Brian ingin terus seperti ini sepanjang malam. Bersandar di bahu Brianna, dan mendengarkan suara gadis itu.
Brian tidak pernah bisa tidur dengan nyaman selama ini. Jika bukan karena ia harus waspada karena sedang berada di tengah misi, pasti karena mimpi buruk saat melihat teman-temannya terluka, atau bahkan meninggal, di depan matanya. Seumur hidupnya, Brian tak pernah merasakan emosi lain selain amarah dan kebencian. Namun saat ini, untuk pertama kalinya, akhirnya ia bisa merasakan perasaan damai.
Brian menikmati waktu-waktu menenangkan ini selama setidaknya sepuluh menit. Brian menggeliat pelan saat mengangkat kepala dari bahu Brianna. Ia sudah menyiapkan diri menerima gerutuan marah Brianna, tapi apa yang ditunggunya tak kunjung datang. Brian melirik Brianna dan ternganga tak percaya melihat Brianna sudah memejamkan matanya, terlelap.
“Apa dia berencana tidur di sini semalaman?” cibir Brian. “Benar-benar mencari penyakit.”
Brian mengambil jaket Brianna dari pangkuannya, menyelimutkan di tubuh gadis itu, lalu dengan mudah dia mengangkat tubuh Brianna. Brian menghentikan langkahnya ketika Brianna bergerak pelan. Ia baru melanjutkan langkah ketika Brianna sudah kembali tenang.
Perlahan, dia menurunkan Brianna di tempat tidur gadis itu. Brian mengambil jaket Brianna dan menggantinya dengan selimut.
“Terima kasih, karena telah percaya padaku,” ucap Brian pelan seraya menatap wajah tidur Brianna. “Semoga mimpi indah, Brianna.”
***