12 – Lena

2299 Kata
12 – Lena Ketika jantungmu berdegup kencang karenanya Sanggupkah kau menghentikan degup jantungnya?   “Kalian berdua periksa keadaan di sekitar lokasi transaksi, apakah sudah ada pergerakan,” perintah Joe pada Brian dan Brianna. Keduanya mengangguk, lalu meninggalkan tempat persembunyian mereka dan bergerak menuju lokasi transaksi. Mereka berhenti sekitar seratus meter dari lokasi dan memeriksa keadaan sekitar. Belum ada pergerakan, hanya ada para penjaga yang mondar-mandir di sekitar lokasi. Mereka menunggu di balik pepohonan, mengawasi kegiatan di lokasi transaksi. Lalu, beberapa orang datang dan berbicara dengan para penjaga. Mereka tampak membicarakan sesuatu. Para penjaga lalu berkumpul, dan tak lama kemudian, mereka kembali berpencar, tampak lebih siaga. Brian dan Brianna bertukar pandang. Transaksi akan segera dilakukan. Mereka sudah hendak kembali ketika cahaya lampu senter menyorot ke arah Brianna. Dengan gerakan cepat, Brian menarik Brianna ke arahnya, mengejutkan gadis itu. Brian menahan Brianna di depannya seraya mendengarkan dengan waspada. Tidak ada kericuhan, itu berarti mereka tidak melihat Brianna. Brian baru saja bernapas lega ketika kemudian ia menunduk dan matanya terhenti tepat di mata Brianna. Brian menahan napas menyadari keberadaan gadis itu yang terlalu dekat dengannya. Brian merasakan Brianna bergerak, berusaha menarik diri. Gelagapan, Brian melepaskan tangannya dari pinggang Brianna. Brian berdehem seraya menegakkan tubuh. Ia tak menatap Brianna ketika mendahului gadis itu meninggalkan persembunyian mereka dan kembali ke tempat tim mereka. Dalam hati, Brian memaki dirinya sendiri. *** “Ini sudah pagi,” keluh Brian ketika mereka melintasi halaman, menuju ke gedung pelatihan. Joe melirik Brian dan tersenyum geli. Brian bekerja paling keras untuk pelatihan kali ini. Entah kenapa, dia tampak begitu serius saat pelatihan kali ini. “Setidaknya masih ada tiga jam sebelum matahari terbit,” Gading berkomentar. “Ah, aku merindukan tempat tidurku.” “Pelatihan kali ini benar-benar berbeda dengan pelatihan sebelumnya,” ungkap Rega. “Dulu saat pelatihan, ada cukup banyak orang dalam satu tim. Dan pelatihannya pun tidak seberat saat ini.” “Tiger benar-benar ingin memanfaatkan sebanyak mungkin waktu untuk menyiksa kita,” dengus Brian. Joe mendengus geli. “Tapi, kau tampak menikmati pelatihan kita tadi.” Brian melirik ke arah Brianna. “Sedang butuh pengalih perhatian, dan mereka ada di sana,” sahutnya seraya mengedikkan bahu dengan cuek. Sebenarnya, Brian hanya berusaha untuk tidak memikirkan Brianna. Setiap kali ia mengurangi fokus pada lawannya, ia selalu menoleh untuk mencari Brianna. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Mungkin ini efek setelah beberapa kali dihajar Brianna. Sepertinya ia perlu memeriksakan kepalanya, mungkin ada cedera yang tidak ia sadari. *** “Joe,” panggil Brian ketika mereka baru menyelesaikan pelatihan mereka petang itu. “Hm?” sahut Joe tanpa menoleh. “Menurutmu, berapa persen kemungkinan Brianna adalah sang Mata Kegelapan?” tanya Brian. Pertanyaan Brian menghentikan langkah Joe. Mereka berdua memang berjalan jauh di belakang teman-teman mereka yang lain. Tampaknya mereka masih lelah meskipun sudah sepanjang pagi tadi mendapat waktu untuk istirahat. “Lebih dari lima puluh persen, kurang dari delapan puluh persen,” jawab Joe. Brian tercenung. “Dia punya informasi lengkap tentang semua kasus yang berhubungan dengan Mata Kegelapan. Dan, dia juga punya banyak sumber dari dunia hitam itu sendiri. Dengan keahliannya itu ...” “Apakah ada sesuatu tentangnya yang ingin kau katakan padaku?” Joe penasaran. “Tidak,” sahut Brian cepat, terlalu cepat. Joe mengangkat sebelah alis heran. “Kau baik-baik saja?” Brian berdehem. “Ya, tentu saja,” ucapnya tanpa membalas tatapan Joe. “Omong-omong, kau sudah melihat seluruh rekamannya?” “Kau tidak berpikir bahwa Brianna gila, kan?” tanya Joe curiga. “Tentu saja tidak,” sergah Brian. “Meski awalnya kupikir begitu, tapi setelah aku melihat video di ponselnya itu ...” “Video apa?” sela Joe. “Video Brianna dan temannya ... di ponselnya ... kemarin aku menontonnya dengan mode mute, tapi kau sudah mendengar percakapan dari video itu, kan? Brianna memutar video itu sebelumnya. Saat ia ... eh, menangis ...” Brian tampak tak nyaman ketika mengatakannya. Joe memutar ulang rekaman kejadian itu dalam kepalanya. Di video itu, Brianna juga menyebut-nyebut Rega. Teman Brianna itu, sepertinya dia adalah kekasih Rega. Namun, di mana dia sekarang? “Aku penasaran, apa yang terjadi dengan teman Brianna itu,” gumam Joe. “Malam ini, aku akan mencari tahu,” Brian berkata. “Aku juga penasaran.” Joe kembali dibuat heran dengan sikap Brian ini. Apakah sesuatu terjadi padanya tanpa sepengetahuan Joe? *** Brian sudah akan kembali ke kamar setelah makan malam ketika melihat Brianna berjalan ke arah sebaliknya. Dia tidak kembali ke kamar? Ke mana dia akan pergi? Penasaran, diam-diam Brian mengikuti Brianna. Apakah Brianna akan menghubungi Bos Besar? Jika memang begitu, maka dia memang adalah sang Mata Kegelapan. Pikiran itu membuat Brian mencelos, tapi segera disingkirkannya pikiran itu. Ia harus fokus. Brian mengikuti Brianna yang terus berjalan hingga ke belakang gedung. Brian berhenti di belakang sebuah pohon besar sementara Brianna berjalan terus hingga ke danau. Brian menatap sekelilingnya dan baru menyadari bahwa ini adalah taman. Brianna berhenti di tepi danau, lalu duduk di dekat batu besar. Bukannya duduk di batu itu, Brianna malah duduk di atas rumput dan bersandar di batu itu. Ia menatap lurus ke arah danau. Brian sudah mengambil ponsel, bersiap merekam ketika Brianna juga mengambil ponselnya. Namun ternyata, apa yang diharapkan Brian tidak terjadi. Brianna tidak menelepon Bos Besar. Selama beberapa saat, Brianna hanya menatap ponselnya, lalu mulai berbicara, “Sudah berapa lama sejak terakhir kalinya kita berada di sini?” Brian mengerutkan kening. Sepertinya, lagi-lagi gadis itu berbicara sendiri. “Empat tahun?” Brianna mendengus pelan. “Kau selalu berkata bahwa aku keras kepala. Tapi kau tahu? Kau bahkan lebih keras kepala dariku.” Brianna menarik napas dalam seraya mendongak menatap langit. “Saat itu, aku yang ada di sini bersamamu. Tapi, kenapa kau selalu berbicara tentang Rega? Seharusnya kau mengajaknya ke sini, dan bukannya mengajakku,” Brianna terdengar kesal, tapi kemudian ia tersenyum. Brian menahan napas ketika melihat air mata mengalir di pipi Brianna. “Kau tahu? Hingga saat ini, aku terus bertanya-tanya, kenapa harus kau? Kenapa kau yang ada di sana? Kenapa dirimu di antara sekian banyak agen?” Suara Brianna bergetar. “Seharusnya kau tidak ada di sana ... seharusnya kau tidak pernah terlibat dalam kasus itu ...” Apa yang Brianna bicarakan? Temannya itu ... ia berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah? “Seandainya saat itu kau tidak ada di sana, saat ini kau pasti masih ada di sini ...” Bahu Brianna berguncang ketika ia terisak semakin keras. “Seharusnya kau masih ada di sini, Lena ...” Brian tertegun. Lena. Teman Brianna itu bernama Lena. Jika dugaan Brian tepat, Lena sudah ... meninggal. Jangan-jangan, Lena adalah salah satu dari detektif yang tewas terbunuh saat menyelidiki sang Mata Kegelapan. Namun, jika Mata Kegelapan itu adalah Brianna, itu berarti ... Brianna menangis seraya memeluk lututnya erat. Saat ini, ia tampak begitu rapuh. Brian mengepalkan tangan, berusaha menahan diri untuk tidak menghampiri gadis itu. Saat ini, Brian ingin mengguncang tubuh gadis itu, memaksa gadis itu mengatakan bahwa dia bukanlah sang Mata Kegelapan. Dan, ia ingin memeluk gadis itu, meredam tangisnya. “Seharusnya kau hidup bahagia, Len ... seharusnya kau ada di sini bersamaku ...” Brianna masih terus terisak. “Maafkan aku ... maaf ...” Maaf? Maaf, karena dia telah membunuh rekannya? Maaf, karena dia telah merenggut hidup rekannya yang seharusnya hidup bahagia? Brian berbalik dan bersandar di pohon itu, matanya terpejam saat merasakan perih di dadanya. Seharusnya ia tidak terkejut jika Brianna adalah sang Mata Kegelapan. Namun, kenyataan itu kini menghantamnya begitu rupa, menyakitinya. Brian menggertakkan gigi menahan amarah, tangannya terkepal hingga kuku jarinya menyakiti telapak tangan, tapi dadanyalah yang terasa paling sakit saat ini. Kenapa dia bereaksi seperti ini? Dan kenapa ia merasa seperti ini saat berhadapan dengan Brianna, sang Mata Kegelapan? Kenapa Brianna? *** Brianna menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh seperti ini. Hanya saja, sejak ia tiba di tempat ini, ia terus teringat pada Lena. Sejak kejadian itu, ia tidak pernah membiarkan dirinya mengingat apa pun tentang Lena. Namun, tempat ini seolah membangkitkan semua ingatan itu dengan sendirinya. Rasanya, seolah Lena ada di sini. Rasanya, seolah ia tak pernah pergi. Brianna mendongak, berusaha menahan air mata. Semakin lama berada di sini, ia hanya akan semakin lemah. Merasa marah pada dirinya sendiri, Brianna berdiri. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi di tempat itu, Brianna berbalik dan berjalan pergi. Brianna tersentak kaget ketika seseorang menahan tangannya saat ia melewati pohon besar di taman. Brianna semakin terkejut ketika mendapati orang itu adalah Brian. “Kau ...” Brianna menatap Brian dengan geram. Pria itu balas menatapnya dengan sorot terluka. Butuh usaha cukup keras untuk mengabaikan sorot terluka di mata pria itu. Sejak kapan Brian berada di sini? Apakah dia mengikuti Brianna? “Kau sedang memata-mataiku karena kau mencurigaiku, aku mengerti. Tapi, tindakanmu ini benar-benar sama gilanya dengan penguntit,” desis Brianna kesal seraya berbalik. Namun lagi-lagi, Brian menahan lengannya. Kali ini, Brian menariknya, membuat Brianna menabrak tubuh pria itu. Ketika Brianna hendak menarik diri, Brian malah menahannya, erat. “Lena ... apakah dia sahabatmu?” Pertanyaan Brian membuat tubuh Brianna membeku. Apakah sedari tadi Brian mendengarkan? Itu berarti, dia juga melihat saat Brianna menangis seperti gadis kecil yang lemah. “b******k kau!” maki Brianna seraya berusaha menarik diri, tapi Brian malah menahan punggungnya semakin erat. “Sialan kau, Brian!” Bukannya melepaskan Brianna, Brian kini malah menggunakan kedua tangannya untuk menahan Brianna. Kedua tangannya, memeluk Brianna. “Apa sebenarnya maumu?!” amuk Brianna seraya memukul bahu Brian keras-keras. “Kau ingin tahu apakah aku yang membunuh Lena? Ya, aku memang membunuhnya. Apa kau puas sekarang?! Sialan kau, Brian!” Brianna berusaha menahan tangisnya sekuat tenaga, tapi ketika Brian memeluknya semakin erat, tangannya menepuk punggung Brianna dengan lembut, air mata Brianna jatuh tanpa sanggup ditahannya lagi. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” isak Brianna seraya mencengkeram bagian depan kaos Brian. “Kau benar-benar b******k, Brian ...” Namun berapa kali pun Brianna memakinya, Brian tak juga melepaskan pelukannya. *** “Kau ingin tahu apakah aku yang membunuh Lena? Ya, aku memang membunuhnya.” Kata-kata Brianna tadi terus berputar dalam kepala Brian, mengusiknya. Apakah Brianna akhirnya mengakui bahwa dialah sang Mata Kegelapan? Namun, meskipun Brian mendengar pengakuan itu sendiri dari Brianna, ia masih tidak percaya. Ia tidak mau percaya. Bahkan meskipun Joe telah mengatakan kemungkinan bahwa Brianna adalah sang Mata Kegelapan, dan bahkan dirinya sendiri cukup yakin dengan itu. Saat ini, ia tak bisa menerima kenyataan itu. Brian mengacak rambutnya frustrasi. Seharusnya ia tidak boleh ragu seperti ini. Namun jika mengingat saat Brianna menangis .... Brian memejamkan mata, menarik napas dalam. Wajah Brianna yang sedang tertawa riang dan tanpa beban mendadak muncul dalam kepalanya. Brian membuka mata dan teringat pada video di ponsel Brianna kemarin. Ya, gadis yang ada di dalam video itu pasti Lena. Sedekat apa sebenarnya hubungan Brianna dan Lena? Sedekat apa hingga Brianna sanggup membunuh sahabatnya sendiri, jika memang dia adalah sang Mata Kegelapan? Brian mengambil napas dalam, lagi, sebelum menyalakan laptop. Ia harus mencari tahu tentang Lena. Dan, ia juga harus memastikan, bukan Brianna pembunuhnya. *** “Lena?” Gading tampak terkejut ketika mendengar Brian menanyakan tentang gadis itu. Brian mengangguk. Gading terdiam selama beberapa saat. Ia menarik napas dalam, menatap Brian sekali lagi. “Mungkin kau bisa lebih banyak tahu tentang Lena dari Rega atau Brianna. Tapi, bertanya tentang Lena kepada mereka, sama saja seperti membunuh mereka.” Brian kembali teringat saat Brianna menangis di kamarnya, di tepi danau. “Sebenarnya ... seberapa berartinya gadis bernama Lena itu bagi Brianna?” Gading mendengus pelan. “Seberapa berartinya?” ia mengulang. “Kau tahu Brianna sangat keras kepala, kan? Lena adalah satu-satunya orang yang bisa menangani itu. Jika Brianna melakukan kesalahan karena kekeraskepalaannya, Lena akan melindunginya. Lena bukan orang yang akan pergi begitu saja dan meninggalkan Brianna dan kekeraskepalaannya sendirian. Jika Brianna melakukan hal bodoh, dia tidak akan membiarkan Brianna melakukannya sendirian. Brianna yang dulu, benar-benar berbeda dengan yang kau kenal saat ini. “Dulu, Brianna adalah gadis yang tidak bisa tenang. Dia sangat ceroboh dan terburu-buru. Tapi, dia bukan gadis pendiam dan sinis seperti sekarang. Kudengar, dulu sebelum bertemu dengan Lena, Brianna sangatlah sombong. Mungkin seperti saat ini. Tapi, setelah bertemu Lena, dia berubah. Lena tidak pernah berusaha mengubah Brianna, ia menerima Brianna seperti itu. Briannalah yang akhirnya berusaha menyeberang ke dunia Lena. “Kau bertanya, seberapa berartinya Lena bagi Brianna? Lena memberikan dunia baru bagi Brianna. Dunia di mana dia bisa tersenyum dan tertawa, dan menjadi dirinya sendiri. Dunia di mana Brianna bisa diterima tanpa perlu berubah menjadi orang lain. Dunia di mana Brianna perlahan menjadi sosok yang lebih baik. Lena adalah dunia baru yang lebih baik bagi Brianna. Dan sekarang, Brianna kehilangan dunianya. Dia kembali ke dunianya di mana tak ada hal lain selain dirinya sendiri.” Brian termenung. Lena adalah sahabat Brianna, satu-satunya. Brianna tertawa dan tersenyum seperti yang dilihat Brian di video itu, Lenalah alasannya. Brianna menjalani hidupnya dengan normal dan bahagia karena Lena. Keteguhan dan ketulusan hati Lena mampu menyentuh dunia Brianna yang dingin. “Sedangkan dengan Rega ...” Gading melanjutkan. “Lena adalah kekasih Rega. Ah, seharusnya aku bilang tunangan. Rega sudah melamar Lena beberapa bulan sebelumnya. Tapi pada akhirnya, Rega harus kehilangan Lena. Jika kau melihat betapa hancurnya Rega saat itu, kau akan takjub bagaimana dia akhirnya bisa bertahan hingga saat ini.” Kehilangan gadis yang dicintainya. Brian sering melihat kekasih rekan-rekannya mengalami itu. Di dunia ini, ternyata ada yang lebih mengerikan dari kematian, yaitu kehilangan. Meski kau sudah kehilangan sesuatu yang berarti bagimu, kau tetap harus hidup bagaimanapun caranya, dan bertahan dengan rasa sakit karena kehilangan. “Dan Brian, apa kau tahu, Brianna juga ada di sana saat sang Mata Kegelapan membunuh Lena?” ucap Gading. Brian tertegun. Benarkah itu? Brianna ada di sana? Apakah itu berarti, Brianna adalah ... sang Mata Kegelapan? ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN