11 – Trust?

1716 Kata
11 – Trust? Karena untuk percaya Bukanlah perkara mudah   Rega mengangguk pada Brian, tanda bahwa dia sudah siap. Brian menghitung sampai tiga sebelum dia melompat dari atap gedung. Berpegangan pada tali, ia melompat ke ruangan di bawahnya, menendang kaca jendela dan menerobos masuk. Brian berguling untuk menghindari tembakan musuh, lalu mencari perlindungan. Dua detik berikutnya, Rega masuk, mengalihkan perhatian musuh dari Brian. Ini adalah kesempatan Brian. Ketika musuh-musuhnya mengarahkan tembakan ke arah Rega, Brian menjatuhkan mereka lebih dulu. Setelah Rega mencari posisi yang aman di belakang salah satu tiang besar, keduanya tak bisa bergerak karena tembakan beruntun musuh mereka. Saat itulah pintu menjeblak terbuka, dan masuklah Joe, Brianna dan Gading. Memanfaatkan momen itu, Brian berpindah ke posisi yang lebih mudah untuk menyerang sembari melindungi rekan-rekannya. Brian melihat Rega berjalan menghampiri target mereka, tapi dia dihadang tiga orang sekaligus dan salah satunya berhasil menjatuhkan pistolnya. Rega tak punya pilihan lain selain bertarung dengan tangan kosong. Brian berkonsentrasi penuh membidik lawan Rega. Meleset sedikit saja, Rega bisa terluka. Brian mencari posisi aman dan menembak salah satu lawan Rega. Tepat saat orang itu terjatuh, Brian merasakan seseorang berdiri di belakangnya. Ketika ia berbalik, moncong pistol orang itu sudah terarah ke kepalanya. Namun, sebelum orang itu sempat menembak, ia sudah lebih dulu tertembak. Brian tersenyum pada Gading yang sudah menyelamatkannya. Gading tampak terkejut ketika tiba-tiba Brian melompat ke arahnya, menjatuhkannya. “Maaf, tapi aku hanya mencoba membantumu,” kata Brian seraya menembak beberapa musuh yang tadi mengincar Gading. Brian mengecek keadaan Rega dan ternyata dia sedang membantu Brianna. “Tampaknya mereka semua sedang sibuk. Bagaimana jika kau tangkap targetnya? Aku akan membuat jalan untukmu.” Gading tampak terkejut. “Tapi ...” “Jika kita tidak segera bergerak, target kita akan kabur,” kata Brian seraya menarik Gading berdiri bersamanya. Gading mengangguk. “Baiklah.” “Aku akan mengalihkan perhatian orang-orang yang mengawal target,” kata Brian seraya menarik Gading ke belakang tiang. Setelah mengawasi situasi sejenak, Brian keluar dan menyerang para pengawal yang menjaga target. Seperti dugaannya, mereka terpancing. Empat orang dari mereka mengincar Brian, meninggalkan dua penjaga lain bersama target. Brian sengaja membawa mereka sejauh mungkin dari target. Sementara Brian sibuk dengan lawannya, Gading berlari ke arah target sembari berusaha menghindari peluru. Ketika melewati tempat Joe berkelahi tanpa senjata dengan lima orang, Gading melompat dan menendang salah satu dari mereka, sebelum kembali melanjutkan tugasnya. Gading berhenti untuk menembak salah satu pengawal yang menjaga target, dan menendang yang lainnya, menjatuhkan senjata lawannya, lalu menyingkirkannya juga. Gading sudah berhadapan dengan target dan mengarahkan moncong pistolnya ke arah target. Target mengangkat tangan, tapi kemudian bahaya muncul di sampingnya. Gading menoleh dan mendapati Tiger juga menodongkan pistol ke kepalanya. “Bukankah sudah kubilang untuk tidak hanya fokus pada target?” Tiger berkata. “Kurasa itu berlaku untukmu juga,” Brian berkata, tepat ketika tembakannya mengenai tangan Tiger. Brian berjalan ke tempat Tiger dengan pistol terarah ke kepala Tiger. “Maaf membuatmu kecewa, tapi aku sudah berjanji untuk melindunginya,” lanjut Brian seraya tersenyum penuh kemenangan. “Clear!” seru Joe yang berhasil menjatuhkan semua lawannya. “Clear!” Brianna juga sudah membereskan bagiannya.  Tiger tersenyum, tampak puas ketika tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Kerja bagus, kalian semua,” kata Tiger. “Setelah makan siang, kalian bisa beristirahat. Malam ini kalian akan melakukan pengintaian di hutan.” “Baik, Pelatih!” sahut mereka kompak. *** Brianna merebahkan tubuh di atas tempat tidur, menatap nyalang langit-langit kamarnya. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi semalam. Seingatnya, ia tertidur di sofa, dan ia tak ingat sekali pun ia terbangun dan berpindah ke tempat tidur. Ia merasa terusik dengan kejanggalan itu. Brianna mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Tidak ada yang aneh dengan ruangan itu. Dan lagi, ia tak percaya dengan mitos tentang hantu. Brianna memejamkan mata dan menggeleng gusar. Tentu saja tidak ada yang seperti itu. Lalu, bagaimana semalam ia bisa berpindah ke tempat tidurnya? Ketika ia kembali membuka mata, hal pertama yang ditangkapnya adalah sudut kamar itu. Brianna mengerutkan kening ketika melihat sesuatu di sudut atas ruangan. Ia ingat dengan pasti, kemarin saat ia tiba di kamar ini, ia tidak melihat benda itu. Benda hitam kecil itu hanya berukuran tak lebih dari dua senti. Jika benar itu seperti dugaan Brianna, siapa yang merasa perlu memasang itu di sini? “Aku tidak punya alasan untuk percaya pada gadis ini.” Kalimat yang dicetuskan Brian di ruang rahasia gedung apartemen milik keluarga Brianna terngiang jelas di telinganya. Brianna mendengus tak percaya memikirkan kemungkinan itu. Yah, ia bisa memastikan kebenaran dugaannya dengan satu cara. Brianna bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah balkon. Brianna membuka kunci, menggeser pintu kaca itu dan keluar, lalu kembali menutup pintunya begitu sudah berada di luar. Ia berjalan ke pagar balkon dan mendapati samar jejak kaki di cat putihnya. Tidak hanya di pagar balkonnya, tapi juga di pagar balkon kamar sebelahnya yang adalah kamar Brian. Tiger, Gading maupun Rega tidak punya motif untuk melakukan ini pada Brianna. Berbeda dengan Brian atau Joe. Namun, untuk tindakan ceroboh seperti ini, Brianna tidak akan menunjuk Joe. Ini pasti hasil pekerjaan Brian. Meski begitu, Brianna harus memuji kerapian pria itu membuka kunci pintu kaca beranda. Setelah memikirkan apa yang akan dilakukannya selanjutnya, Brianna baru kembali ke kamar. Akhirnya, ia punya kesempatan untuk membalas pria sombong yang menyebalkan dan kurang ajar itu. *** Brian sudah hendak menyusul ke balkon karena khawatir sesuatu terjadi pada Brianna ketika gadis itu kembali masuk ke kamar. Tadi ketika Brianna melihat ke arah kamera, Brian sempat berpikir gadis itu sudah menemukan kameranya. Namun, melihat tenangnya sikap gadis itu, sepertinya dia masih tidak tahu. Karena, jika dia tahu, saat ini dia pasti sudah berada di depan Brian dan membuat wajah Brian memar. Brian bisa lebih santai karena itu tidak akan terjadi. Ia bersandar di sofa sembari terus menatap layar laptop. Brianna berdiri di tengah kamar, memunggungi kamera. Brian merasa ada yang aneh ketika mendapati gadis itu berdiri di sana terlalu lama. Brian mencodongkan tubuh untuk menatap lebih dekat, dan ia tersentak ketika tiba-tiba Brianna berbalik, tatapannya mengarah tepat ke arah kamera. Namun, yang lebih mengejutkan Brian adalah ketika Brianna membuka kancing kemejanya, sembari masih menatap ke arah kamera. Gadis itu tahu, lalu kenapa ... Tepat ketika Brianna melepas kemeja, menampakkan tank top hitamnya, Brian menutup flip laptop dengan kasar. Brian melempar tubuh ke belakang, mendongak dan menatap langit-langit kamar dengan tak percaya. Sekarang bagaimana? Apa yang harus Brian lakukan? Dan sial, kenapa pula Brianna harus melakukan itu jika dia sudah tahu? Dia selalu berganti pakaian di kamar mandi sebelum ini, membuat Brian tidak perlu merasa bersalah karena bertingkah seperti penguntit gila begini. Namun, apa yang dia lakukan tadi benar-benar ... Brian mengacak rambutnya frustrasi. Gadis gila itu pasti sebentar lagi akan mengatakan hal-hal yang membuat telinga Brian sakit. Dan, dia juga pasti akan menghajar Brian hingga babak belur. Yah, seharusnya Brian sudah memikirkan resiko ini ketika memasang kamera itu kemarin. Brian mengerang putus asa ketika terdengar pukulan, –ya, pukulan, dan bukannya ketukan, di pintu kamarnya. Brian menyeret langkahnya yang terasa berat menuju pintu. Tepat seperti dugaannya, sosok Brianna berdiri di depan pintunya saat Brian membuka pintu kamar. “Kau memang penguntit m***m berbakat,” gadis itu berkata dingin. “Jangan bicara sembarangan,” elak Brian. “Seenaknya saja menuduh orang penguntit ...” Kata-kata Brian mendadak berhenti ketika tatapannya jatuh ke kemeja Brianna yang terbuka, menampakkan tank top hitamnya. Kontan Brian segera membuang muka. “Selain jaga sikapmu, jaga juga pandanganmu, Tuan,” kata Brianna tajam. Brian bisa merasakan wajahnya panas. Jadi, ini balas dendam gadis itu karena apa yang Brian katakan dan lakukan di depannya beberapa waktu lalu. Ia berdehem untuk mengusir canggung. “Jika memang sudah tahu, bukankah seharusnya tidak sembarangan membuka pakaian seperti itu?” cibir Brian. Brianna mendengus meledek. “Jadi, ini benar-benar perbuatanmu?” Brian tergagap karena terjebak oleh kata-katanya sendiri. “Itu ...” “Tidak perlu membuang-buang tenaga untuk mengelak dari hal yang sudah terbukti,” sela Brianna dingin seraya memindahkan kamera pengintai yang dibawanya ke tangan Brian. Kata-kata Brianna membungkam Brian. Gadis itu berbalik dan kembali ke kamarnya, meninggalkan Brian yang masih terpaku di depan pintu. Tepat ketika pintu kamar Brianna tertutup, pintu kamar Joe terbuka. Dengan rambut basah setelah mandi, Joe menghampiri Brian dengan penasaran. “Ada apa? Kenapa kau berdiri di sini seperti orang bodoh?” tanya Joe polos. Brian menatap Joe tajam, lalu menunjukkan kamera pengawasnya. “Dia sudah tahu, dan dia baru saja datang kemari untuk mengembalikan ini.” Joe melongo selama beberapa saat, lalu mengangguk-angguk. Ia lantas mengamati Brian dari atas ke bawah. “Dia baik hati sekali mau mengembalikan itu,” gumam Joe seraya meringis. “Tapi ... beruntung sekali kau tidak babak belur dihajarnya.” Brian mendengus kasar seraya berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya. Beruntung? Rasanya lebih baik dihajar daripada dikatai penguntit m***m. Brianna benar-benar sukses memukul harga diri Brian. “Dia benar-benar baik hati sekali, benar, kan?” Joe melanjutkan. Brian memejamkan mata, menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri. Ia tahu menghajar Joe tidak akan mengubah apa pun. *** Brianna bersandar di pintu kamarnya dan merenung. Di hari pertama, kamera itu belum ada. Itu berarti, Brian baru memasangnya tadi pagi, atau semalam. Jika tadi pagi, Brianna pasti melihatnya. Brianna tidak meninggalkan kamarnya pagi ini. Ia meninggalkan kamarnya untuk latihan pagi, sarapan, dan setelahnya mereka semua kembali ke kamar untuk mandi dan semuanya meninggalkan kamar pada saat bersamaan untuk berlatih. Itu berarti ... tadi malam? Ya. Bukankah semalam juga Brianna berpindah ke tempat tidur padahal dia sama sekali tidak ingat? Kini Brianna bisa yakin, Brianlah yang memindahkan Brianna ke tempat tidurnya. Berarti, saat itu juga dia memasang kamera itu. Dia pasti menunggu Brianna tidur untuk memasang kamera itu. Namun, Brianna tak habis pikir, kenapa Brian repot-repot memindahkan Brianna ke tempat tidur jika dia menerobos kamar Brianna untuk memasang kamera itu? Jangan-jangan ... dia memang seorang penguntit? Brianna menghalau pikiran itu dari kepalanya. Tidak. Dia memasang itu karena dia tidak percaya pada Brianna. Bukan masalah. Brianna sendiri juga tidak percaya padanya. Yah, ia memang tak punya dasar bahwa Brian kemungkinan adalah sang Mata Kegelapan, tapi tetap saja, ia tak mau percaya pada pria itu. Sejak awal ia menyetujui dibentuknya tim ini, ia sudah bertekad untuk tidak mempercayai siapa pun. Tak peduli berapa kali pun Brian menyelamatkan hidupnya, ia tidak bisa percaya pada pria itu. Ia tidak boleh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN