10 – Makna Seorang Rekan

2083 Kata
10 – Makna Seorang Rekan Dalam sebuah misi Apa yang lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang rekan?   Brian menatap Joe, menunggu perintah. Begitu Joe mengangguk, Brian menendang pintu gedung tua itu, lalu ia menepi dari jalur tembak dan membiarkan Joe menyerang. Lawan mereka pasti tak menduga Joe akan menembak dari hutan. Yah, bukan salah mereka jika mereka tidak tahu bahwa Joe adalah penembak jitu. Begitu keadaan aman, Brian dan Rega masuk. Rega masuk lebih dulu sementara Brian melindunginya. Untuk mengalihkan perhatian lawannya dari Rega, Brian menyerang salah satu dari mereka, menggunakan tubuh lawannya sebagai tameng saat ia menembak lawan yang lain dengan senjata di tangan lawan yang menjadi tamengnya itu. Sesuai rencana, kini musuh mereka mengepung Brian. Dan saat itulah Joe muncul bersama Brianna. Di belakang mereka Gading berlari masuk dan menyusul Rega. Mereka berdua memeriksa dua ruangan di samping gudang. Beberapa musuh yang hendak mengejar mereka berhasil dijatuhkan Brianna. Begitu Joe sudah mengendalikan situasi di tengah gedung, Brian bersama Brianna pergi ke ruangan di pojok belakang, ruangan yang belum mereka periksa tadi. Para penjaga yang berjaga di sana langsung menyambut mereka dengan tembakan saat pintu terbuka. Kali ini mereka berencana menghabisi lawan per ruangan, karena dengan begini, jarak pandang mereka lebih luas untuk mengawasi rekan tim mereka. Begitu tembakan berhenti, Brian berguling masuk sementara Brianna menembak musuh mereka yang menyerang Brian. Ketika perhatian musuh teralih pada Brianna, barulah Brian menyerang mereka. Ketika mereka keluar dari ruangan itu, Rega dan Gading juga sudah selesai dengan tugas mereka. Begitu pun Joe. Mereka kini mengambil posisi di ruangan terakhir. Begitu Joe mengangguk, Brian membuka pintu ruangan itu. Kali ini tak ada tembakan dari dalam. Namun, Joe memberi isyarat agar mereka tidak bergerak. Joe menatap Brian. Mengangkat tiga jarinya. Mereka akan beraksi dalam tiga detik. Brian mengangguk. Tepat pada hitungan ketiga, Joe melempar pistolnya ke dalam ruangan, mengalihkan perhatian lawan, lalu dia berguling masuk, sementara Brian dan rekan-rekan timnya yang lain masuk sambil menembak musuh-musuh mereka. Di pojok ruangan, seorang sandera diikat dan di belakang sandera itu, Tiger berdiri dan mengarahkan senjata ke arah Joe. Tiger menggunakan sandera sebagai tamengnya. Joe melompat untuk menghindari tembakan Tiger, dan saat itulah Brian melempar pistolnya ke arah Joe. Begitu Joe mendapatkan pistol Brian, dia menembak tangan Tiger, menjatuhkan pistol Tiger, lalu mengincar leher Tiger. Jika tembakannya meleset sedikit saja, sandera bisa terluka dan misi mereka akan gagal. Tapi seperti yang Brian tahu, Joe adalah penembak jitu terbaik. Tiger melepaskan sandera dan mengangkat tangan saat peluru cat Joe bersarang di lehernya. “Good job,” kata Tiger seraya membuka helmnya. “Kalian bisa kembali dan bersiap-siap untuk makan malam. Setelah itu kalian bisa beristirahat. Besok masih ada misi lain yang harus kalian selesaikan.” “Baik, Pelatih!” jawab kelima agen itu kompak. Kelegaan tampak di wajah mereka kini. Begitu Tiger meninggalkan ruangan, Gading bersorak dan menepuk punggung Brian dengan terlalu keras, membuat Brian terbungkuk. Alih-alih marah, Brian malah tersenyum. “Lain kali kau memukulku seperti itu, akan kubanting kau,” ancam Brian pada Gading, pura-pura kesal. Gading meringis. “Ini adalah keberhasilan pertama tim kita,” katanya dengan senyum lebar. Joe menepuk bahu Gading. “Dan akan semakin banyak misi kita yang akan berakhir seperti ini.” Gading mengangguk antusias. “Aku lega Pelatih memilihmu sebagai Ketua. Aku tak bisa membayangkan jika ...” Gading melirik Brian. “Apa kau berniat mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi ketua tim?” amuk Brian seraya menerjang ke arah Gading yang sudah menghindar. “Kau sendiri yang mengatakannya,” elak Gading seraya berlari keluar ruangan. Brian mengejar Gading, meninggalkan Rega dan Joe yang tersenyum geli melihat ulah mereka. Sementara Brianna hanya mendengus melihat tingkah mereka. “Apa dia selalu seperti itu?” Rega bertanya pada Joe. “Brian?” Joe menatap Rega sekilas sebelum kembali menatap Brian yang kini berhasil mengejar Gading dan sedang berusaha mencekik Gading dengan lengannya. “Di luar misi, ya. Belum pernah sekali pun aku melewatkan hari tanpa dia membuat keributan di sekitarku.” Rega mendengus geli. “Kalian partner yang hebat.” “Kita juga tim yang hebat,” balas Joe seraya tersenyum. “Aku sempat berpikir bahwa tim ini tidak akan berhasil, tapi ... sepertinya kita benar-benar akan berhasil.” Rega mengangguk. “Apa kalian yakin kalian bisa berhasil dalam misi ini?” Brianna mendengus meremehkan. “Seharusnya kalian juga bersiap-siap jika suatu hari sang Mata Kegelapan datang pada kalian untuk membunuh kalian.” Joe menyipitkan mata waspada. Apa lagi yang disembunyikan gadis itu? *** Ketika Brian kembali ke meja makan, ia memberikan anggukan tak kentara pada Joe. Seolah tak terjadi apa-apa, Brian melanjutkan makan malamnya, dan bergabung dengan obrolan Gading dan Rega tentang misi-misi mereka sebelumnya. Diam-diam Brian melirik Brianna yang sedari tadi diam. Bahkan setelah menyelesaikan makan malamnya, Brianna langsung kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun pada yang lain. Dua menit kemudian, Brian juga pergi ke kamarnya. Begitu memasuki kamar, Brian mengunci pintu kamar dan melompat ke sofa. Tatapannya kini tertuju pada layar laptop. Brianna tampak berbicara pada seseorang, tapi tak ada siapa pun di ruangan itu selain dirinya. Baiklah, sepertinya gadis itu mengalami sedikit gangguan mental. Brian memakai headset untuk mendengarkan apa yang sedang dikatakan Brianna. “Iya, aku tahu kau akan menyebutku keras kepala,” Brianna berbicara, entah pada siapa, sembari memasukkan pakaian ke lemari. “Tapi percayalah, dia bahkan lebih keras kepala daripada aku. Tidak cukup hanya meniru namaku, sekarang dia juga selalu bersikap sok pahlawan. Kenapa dia selalu menolongku? Aku bukan gadis yang lemah, sungguh! Tapi, lihat apa yang dia lakukan setiap kali di dekatku! Dia membuatku tampak lemah!” Brian mengangkat alis. Sekarang ia tahu siapa yang dibicarakan Brianna, tapi ia masih tak tahu siapa lawan bicara gadis itu. “Aku iri pada mereka,” Brianna kembali berbicara. “Mereka bisa saling melindungi satu sama lain dengan baik. Mereka bisa menoleransi kesalahan satu sama lain, bahkan bersikap seolah tidak ada kesalahan. Menutupi kesalahan satu sama lain seperti itu ... apakah itu diperbolehkan? Jika salah satu dari mereka berbuat salah, yang lain tidak akan menyalahkan. Mereka akan mencari cara untuk memperbaiki kesalahan itu bersama-sama. “Kita ... bukankah dulu juga seperti itu?” Brianna terdiam selama beberapa saat, tatapannya kosong menatap lantai. “Kenapa kau tidak menjawab?” Suara gadis itu terdengar marah. “Kenapa kau tidak menjawab?!” Brian benar-benar penasaran dengan lawan bicara Brianna. “Lupakan saja! Aku memang tidak penting, semua yang kukatakan memang tidak penting,” ketus Brianna seraya menutup koper yang telah kosong, lalu dengan kasar menjatuhkannya ke lantai. Setelahnya, Brianna menyambar ponsel yang berada di tengah tempat tidur, lalu berjalan ke sofa. Ekspresinya masih tampak kesal ketika ia duduk di sofa. Namun  kemudian, ia memejamkan mata, menarik napas dalam beberapa kali dan ketika ia kembali membuka mata, Brian bisa melihat kesedihan di mata gadis itu. Brianna menghela napas berat seraya menatap ponsel. Ia tampak mengutak-atik ponselnya, lalu tak lama kemudian, Brian bisa mendengar suara tawa. Brianna tersenyum ke arah ponselnya saat menatap apa pun yang ada di sana. “Setelah misi ini selesai, kita harus meninggalkan tempat ini. Padahal aku masih ingin berada di sini,” sebuah suara yang tak dikenali Brian berbicara. “Bagaimana jika saat kita libur nanti kita pergi lagi kemari untuk berlibur?” Kali ini suara Brianna. Suara yang begitu ceria, berbeda dengan saat pertama kali Brian bertemu dengannya, atau bahkan saat ini. “Apakah setelah misi ini selesai, kita bisa mendapat libur?” keluh suara pertama tadi. “Kita masih harus ... hei! Apa kau merekamku?” Suara tawa Brianna kemudian membuat Brian tak dapat menahan senyum. Tawa ceria, tanpa beban. “Ini untuk kenang-kenangan,” Brianna membela diri. “Kau selalu merekam hal-hal tidak penting seperti ini saat bersamaku hanya agar kau bisa menertawakanku setiap waktu, kan?” geram gadis lain itu. Brianna tergelak. “Terkadang, yeah ...” “Kemarikan ponselmu,” kata suara yang satunya. Terdengar suara gemeresak, Brianna menjerit panik, tapi kemudian dia tertawa. Tampaknya dia berhasil menyelamatkan ponselnya dari temannya. “Jika kau marah-marah terus seperti itu, kau akan cepat tua. Aku benar-benar kasihan pada Rega,” kata Brianna dengan nada usil. Rega? Apa hubungan teman Brianna itu dengan Rega? “Urusi saja dirimu sendiri, B,” balas teman Brianna kesal. “Dengan tingkah kekanakanmu ini, siapa pun yang akan menjadi kekasihmu nanti pasti akan gila.” Kekanakan? Brianna? Ya, dia kekanakan untuk kekeraskepalaannya. Namun, mendengar kata-kata usil dan tawa Brianna saat bersama temannya, dia terdengar sangat kekanakan. Mengganggu temannya seperti itu ... Brian tertegun ketika melihat air mata jatuh dari mata Brianna. “Dasar bodoh ...” Suara Brianna bergetar. “Kenapa kau pergi? Bukankah kau bilang kau ingin berlibur lagi ke sana? Lalu, kenapa kau pergi?” Brian mencelos ketika mendengar isak Brianna setelahnya. Selama ini, Brianna sudah menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Entah sejak kapan, Brianna menjadi gadis dingin dan sinis yang tidak percaya pada siapa pun. Namun sebelum itu, dia bukanlah gadis seperti yang Brian lihat saat ini. Ia tertawa, bercanda, senormal gadis-gadis lainnya. “Maaf ... aku berteriak padamu tadi ...” ucap Brianna di tengah isak tangisnya. “Hanya saja ... hari ini sangat melelahkan ...” Brian menyadari, ia lebih suka melihat sikap dingin Brianna, daripada melihat Brianna seperti ini. Brianna tampak begitu lemah, dan terluka. Dan entah kenapa, saat ini Brian dipenuhi keinginan untuk menerobos masuk kamar gadis itu dan memeluknya. *** Dua jam setelah kembali ke kamar, Joe pergi ke kamar Brian. Ia masuk ke kamar Brian setelah dibukakan pintu. “Apa kau mendapatkan sesuatu?” tanya Joe seraya berjalan ke sofa. Brian mendesah berat. “Entahlah, Joe. Aku ... “ Joe menatap Brian dengan heran. “Apa sesuatu terjadi?” Brian mengedikkan bahu, tampak gugup. “Hanya ... aku sedikit bingung. Aku tahu seharusnya ini tidak membuatku ragu. Dia mungkin saja sudah tahu bahwa kita memasang kamera pengawas itu, lalu berakting dan ...” “Brian, tunggu,” sela Joe. “Aku benar-benar tak tahu apa yang sedang kau bicarakan.” Brian menghela napas berat. “Sebaiknya kau lihat sendiri saja.” Joe mengangkat alis. “Kurasa itu lebih baik.” Joe menatap layar laptop dan melihat Brianna yang tertidur di sofa dengan posisi tak nyaman. Kakinya menggantung di lantai sementara tangannya masih memegang ponsel. “Apakah dia sudah tidur?” Brian mendesah lelah, lalu mengangguk. “Sudah satu jam lebih dia tidur dengan posisi itu. Seharusnya, dia terbangun karena posisinya itu pasti tidak nyaman. Tapi ...” “Dia pasti sudah sangat kelelahan karena latihan tadi,” tanggap Joe. “Tidak. Bukan hanya itu, tapi ...” Brian tampak ragu. “Yah, kau bisa menonton sendiri.” Joe menatap Brian dengan bingung. Apakah Brian baik-baik saja? “Dia ... apa benar tidak apa-apa tidur seperti itu? Besok masih ada latihan lagi, kan?” Joe kembali menyinggung posisi tidur Brianna. Brian mendecakkan lidah gusar. “Aku sudah berusaha menahan diri sejak tadi dan sekarang kau ...” “Aku hanya mengatakan bahwa besok masih ada latihan,” potong Joe. “Jika dia tidur di sana sepanjang malam, badannya pasti sakit saat ia bangun besok.” Brian mendesis kesal ke arah Joe, lalu ia pergi ke balkon kamar. “Apa yang kau lakukan? Kau mau ke mana?” bingung Joe saat tiba-tiba Brian memanjat pagar balkon. Joe tak tahu apa yang coba Brian lakukan, tapi dua menit kemudian, ia melihat Brian berada di kamar Brianna. Joe mengangkat alis tak percaya. Apa yang Brian lakukan di sana? Joe mendengus tak percaya ketika Brian mengangkat tubuh Brianna setelah meletakkan ponsel gadis itu di meja, memindahkannya ke tempat tidur, bahkan menyelimutinya. Brian masih berdiri di samping tempat tidur Brianna dan menatap wajah gadis itu selama beberapa saat, sebelum berbalik dan berjalan ke sofa. Brian mengambil ponsel Brianna, membeku saat melihat apa pun yang ada di sana. Brian menatap ponsel Brianna cukup lama. Setelah memindahkan ponsel itu ke meja samping tempat tidur Brianna, barulah Brian meninggalkan kamar Brianna. “Jadi?” tuntut Joe ketika Brian sudah kembali ke kamarnya. Brian menghela napas berat, lagi. Ia menatap Joe saat berkata, “Sudah kubilang, lihat dan dengarkan sendiri rekamannya.” Lalu, ia berjalan ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Joe mendapati ada yang aneh pada Brian. Ia bahkan tak sanggup mengelak bahwa ia lebih penasaran pada apa yang terjadi pada Brian, daripada apa yang dilakukan Brianna. Brian bukan orang yang mau repot-repot mengurusi orang lain, apalagi yang tidak terlalu disukainya. Namun barusan, Joe melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Brian memindahkan Brianna ke tempat tidur dan memastikan gadis itu tidur dengan nyaman. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN