9 – Pelatihan Neraka

2390 Kata
9 – Pelatihan Neraka Ketika kau kehilangan seorang rekan Kau kehilangan satu bagian dari hidupmu   “Apakah ranjau itu benar-benar akan meledak kali ini?” tanya Brian ketika mereka tiba di ladang ranjau. “Ya. Meski kau tidak akan kehilangan kakimu, tapi kau akan terluka dan setidaknya harus beristirahat selama beberapa minggu,” jawab Brianna. “Tiger benar-benar tidak main-main. Kita bisa menghabiskan sepanjang hari menyisiri ladang ranjau ini.” Brian berjongkok, pandangannya memeriksa ladang ranjau itu dengan seksama. Ia mengeluarkan pisau lipatnya dan dengan hati-hati mengais permukaan tanah dengan sudut diagonal. Ia mengangkat tangan menahan yang lainnya ketika melangkah maju dan kembali mencari titik ranjaunya. Setelah menemukan empat ranjau terdekat, Brian lalu mengawasi dengan cepat, menyadari pola ranjau ini bisa dibacanya. “Ranjau ini dipasang dengan jalur zig-zag, berjarak dua meter satu sama lain. Selisih ketepatan titik ranjau tidak lebih dari sepuluh senti,” katanya setelah beberapa waktu. “Wah, bagaimana kau bisa mengenalinya seperti itu?” Gading menatap Brian takjub. “Aku sudah sering menghadapi yang seperti ini, dan sudah banyak rekan-rekanku yang terluka karena ini,” sahut Brian tanpa menatapnya. “Tapi untuk lebih amannya, Joe akan memeriksa ulang dan memastikan kita aman, sementara aku akan mengawasi langkah kalian dari belakang.” “Sebenarnya, ke mana saja kau dikirim untuk misi selama ini?” Gading penasaran. Brian berdehem, berusaha tetap santai saat menjawab, “Hanya sering berlatih dan mengamati. Karena terlalu sering berlatih, aku jadi bisa mengenalinya. Lagipula, di ladang ranjau yang ini tampaknya memang sengaja dibuat mudah untuk dikenali. Sama seperti di gedung NDA, ada perbedaan tinggi tanah tempat ranjau ditanam.” Gading mengangguk-angguk. “Baiklah. Semua sudah dengar penjelasan Brian, jadi berhati-hatilah dengan langkah kalian,” pesan Joe, disambut anggukan oleh anggota timnya. Joe memimpin mereka memasuki ladang ranjau itu. Disusul Gading dan Rega, lalu Brian dan Brianna. Mereka tidak punya banyak waktu karena masih harus melewati hutan dengan jalur yang panjang dan sulit. Syukurlah Joe bisa memeriksa dengan cepat dan memimpin mereka dengan baik. Brian mengawasi langkahnya, dan juga langkah rekan-rekannya. Ketika melihat langkah Gading yang mendekati ranjau, Brian memanggilnya. “Ikuti saja langkah Joe, dan jangan khawatirkan ranjau lainnya. Kau aman selama mengikuti langkah Joe,” beritahu Brian. Gading mengangguk. Brian bisa melihat kekhawatiran Gading yang berlebihan. Gading tidak terlalu baik mengenali medan ranjau. Brian mengawasi langkah yang lainnya dan jantungnya seolah berhenti saat kaki Brianna hendak menapak ke titik ranjau. Dengan gerakan cepat, Brian menarik Brianna mundur hingga gadis itu menabraknya. “Apa yang kau lakukan?!” teriak Brianna marah, menarik perhatian rekan-rekan mereka yang lain. “Kau nyaris menginjak ranjaunya,” kata Brian pelan, jantungnya terlalu lemah untuk digunakannya membalas dengan teriakan. “Kau kehilangan langkahmu karena memperhatikan langkah Gading.” Brianna mengatupkan bibir rapat, tapi tak mendebat. Ia menarik diri dari Brian dengan kasar. “Kau harus berkonsentrasi pada langkahmu sendiri. Bukan saatnya mengawasi langkah rekanmu saat nyawamu sendiri menjadi taruhannya,” pesan Brian, masih sepelan sebelumnya. Brianna mendengus. “Kau sendiri mengawasi langkah rekan-rekanmu,” ketusnya. Brian meringis. Yah, dia sudah melewati banyak medan ranjau sebelumnya. “Aku hanya kebetulan melihat saat Gading dan kau tidak melangkah di jalur yang aman,” sahut Brian kalem. *** Brianna harus mengakui reflek sempurna teman-temannya saat menghadapi berbagai macam jebakan di hutan. Jebakan tali, lumpur hisap, hingga serangan tembakan panah, mereka dapat menghindarinya. Tembakan panah itu untuk melatih reflek mereka pada peluru. Ia mengakui, kualitas agen SIA memang mengagumkan. Joe dan Brian sedari tadi membantu mereka hingga mereka bisa sampai sejauh ini. “Jangan melamun saat menjalankan misi,” suara Brian menyentak Brianna. Ketika ia menoleh, dilihatnya Brian menangkap sebuah panah yang terarah padanya. Lagi, Brian menyelamatkannya. Brianna tak mengatakan apa pun dan kembali melanjutkan langkahnya, yang perlahan mulai berubah menjadi lari kecil, mengikuti Joe dan yang lain. Mereka berhenti seratus meter dari gedung tua yang ada di depan sana. Joe memanggil Brian dan mengatakan sesuatu padanya. Brian mengangguk, lalu Joe menatap Brianna dan yang lainnya, dan berkata, “Aku dan Brian akan masuk lebih dulu dan menunjukkan situasi di dalam sana pada kalian. Rega, kami akan membuka jalan untukmu, tapi kau harus melindungi kami. Gading dan Brianna, tunggu di sini dan lihat keadaan. Pastikan tidak ada pasukan tambahan. Jika di luar sudah aman, aku ingin kalian masuk dari pintu samping. Sebisa mungkin jangan membuat keributan. Rega akan membantu kalian begitu dia berhasil melewati para penjaga. Selama kami mengalihkan perhatian penjaga lainnya, cari sandera dan bawa dia keluar. Rega yang akan mengawal kalian nanti. Mengerti?” “Mengerti, Ketua!” jawab keempat agen lainnya. Joe mengangguk. Ia menoleh pada Brian, memberikan anggukan kecil. Lalu mereka berdua berlari ke arah gudang. Berdiri di kiri kanan pintu, keduanya mengambil senjata masing-masing. Brian mengangguk pada Joe, lalu Joe menendang pintunya. Keduanya berlari masuk begitu pintu terbuka. Dari tempatnya, Brianna masih bisa melihat Joe maupun Brian belum sempat menyerang ketika lawan sudah menembak. Tembakan pertama dari lawan berhasil dihindari Joe, sementara Brian menembak musuh yang menyerang Joe itu. Cat merah mengotori pakaian hitam yang dikenakan lawan mereka. Mengejutkan Brianna, bukannya segera mencari perlindungan, Brian malah berlari ke arah lawan dan menjatuhkan mereka tanpa senjata. Brianna menahan napas ketika ada lawan yang mengarahkan senjata ke arah Brian. Tapi sebelum tembakannya terlepas, Joe sudah lebih dulu menembaknya. Kerjasama tim Joe dan Brian memang mengagumkan. Mereka mempercayakan nyawa masing-masing pada satu sama lain. “Sepertinya tidak ada tambahan pasukan dari luar. Aku akan masuk, kalian segera pergi ke posisi kalian,” kata Rega. Brianna dan Gading mengangguk. Mereka berpisah di sana. Sementara Rega menyusul Brian dan Joe, Brianna dan Gading pergi ke samping gedung. “Lindungi aku,” kata Brianna pada Gading sebelum dia menendang pintu samping. Tidak ada musuh di ruangan itu. Brianna berjalan lebih dulu memasuki gedung. Ia baru akan membuka pintu ruangan ketika mendengar suara di depan pintu ruangan. Brianna memberi isyarat agar Gading berlindung. Brianna sendiri segera berlindung begitu membuka pintu. Tembakan demi tembakan terarah tepat ke arah ia berdiri tadi. Begitu tidak ada lagi tembakan, Brianna keluar dan membalas tembakan. Tiga orang jatuh karena serangannya, tapi ia tidak siap ketika tiba-tiba seseorang muncul. Orang itu sudah mengarahkan senjatanya pada Brianna, tapi sebelum Brianna maupun orang itu menembak, cat merah sudah mengotori pakaian lawan Brianna lebih dulu. “Sekarang aku mengerti apa yang dicontohkan Brian dan Joe tadi,” kata Gading. “Mereka tidak mengkhawatirkan diri mereka saat menyerang lawan dan sepenuhnya percaya pada rekannya.” Brianna tersenyum. “Baguslah jika aku tidak perlu mendiktemu,” usilnya. Gading mendengus geli. “Di gedung ini ada empat ruangan. Apa kita harus berpencar?” tanyanya. Brianna menggeleng. “Tidak ada perintah untuk berpencar. Saat ini, kita juga harus melindungi satu sama lain. Ini adalah metode pertahanan kita. Jika kita berpencar, kita akan lebih mudah diserang.” Gading mengangguk-angguk. “Apakah menurutmu Rega benar-benar akan menemukan kita?” Brianna mengangguk. “Instruksi Joe sudah jelas. Rega pasti akan menemukan kita dan membantu kita keluar dari sini.” Gading tersenyum. “Aku tidak sesering dirimu turun ke lapangan dan bekerja seperti ini. Tapi ternyata bekerja seperti ini, menyenangkan. Mendapat kepercayaan untuk melindungi nyawa rekan sendiri, dan bisa percaya sepenuhnya pada rekan tim ... kurasa ini pertama kalinya aku berada dalam tim seperti ini. Tim yang tidak boleh egois.” Brianna mendengus geli. “Aku mungkin tidak bisa percaya pada siapa pun sepenuhnya. Tapi untuk kali ini, kupercayakan nyawaku pada rekan timku.” Meninggalkan ruangan itu, mereka menyeberang ke ruangan berikutnya. Brianna sudah tiba di pintu ruangan seberang ketika matanya menangkap gerakan di lorong menuju ruangan itu. Brianna berbalik dan menembak lawan yang akan menembak Gading itu. “Tembakan yang bagus, Brian,” kata Gading terlalu riang, membuat Brianna mau tak mau tersenyum juga. Setelah tak menemukan sandera di ruangan kedua, mereka pergi ke ruangan ketiga. Ruangan ketiga terletak di belakang. Mereka harus keluar dari lorong ini dan muncul di tengah gedung, tempat Brian, Joe dan Rega menghadapi musuh mereka. “Kau pergi dulu, aku akan melindungimu,” kata Gading. Brianna mengangguk. Ia keluar dari lorong, lalu berlari ke arah ruangan ketiga. Brianna menoleh ke belakang dan melihat Gading memunggunginya saat menembaki lawan yang mengincar mereka. Brianna tersenyum ketika melihat Gading bahkan melindungi Rega. Brianna membuka pintu di ruangan ketiga, terkejut karena banyaknya musuh di dalam sana. Ia menarik Gading menepi dan berlindung ketika tembakan demi tembakan keluar dari ruangan itu. “Rega, bantu mereka!” Brianna mendengar Joe berseru pada Rega. Tapi bahkan setelah mengatakan itu, Joe masih sempat mengarahkan tembakan ke dalam ruangan, memberi jalan pada Brianna. Brianna melihat Rega menghampirinya, sementara di belakangnya, Brian sibuk melindungi Rega dan Joe. Brianna melihat seorang musuh mengarahkan tembakan ke arah Brian. Brianna melompat ke samping untuk mendapat sudut pandang lebih mudah dan menembak musuh yang mengancam Brian. Brian menoleh ke arahnya, tampak terkejut, tapi detik berikutnya, dia sudah kembali fokus pada pertarungan. Yah, seperti yang diharapkan. Tidak ada waktu untuk emosi di tengah misi. “Bagaimana bisa ada banyak sekali musuh?” tanya Brianna heran. “Tadi mereka bersembunyi di ruangan-ruangan lain. Tampaknya menghadapi Brian dan Joe cukup membuat membuat musuh kita kerepotan,” jawab Rega. Brianna setuju. Jadi, karena itulah dia bisa masuk ke dalam gedung ini dengan mudah. Mungkin Brian dan Joe sudah merencanakan ini. Jadi sekarang, hanya di ruangan di belakang Brianna ini yang masih dijaga ketat. Ruangan tempat sandera disekap. “Brianna, aku akan masuk lebih dulu. Lindungi aku,” kata Rega. Brianna mengangguk. Mereka menyerahkan lawan di luar pada Gading. Rega dan Brianna masuk. Brianna menembak musuh yang menyerang Rega. Di tengah adu tembak itu, tiba-tiba Rega melompat ke belakang, mengejutkan Brianna. “Rega tertembak, tim kalian kalah,” suara keras Tiger memenuhi gedung itu. Seketika, pertarungan berhenti. Brian dan Joe menoleh ke dalam ruangan itu, begitu pun dengan Gading. Brianna menoleh ke depan dan akhirnya bisa melihat bahwa lawannya yang memakai helm pelindung dan menembak Rega itu adalah Tiger. “Rega mati saat menghadang peluru yang kutujukan pada Gading yang tidak terlindung,” kata Tiger lagi. Rega menunduk lesu. “Aku terlalu fokus dengan diriku sendiri dan Brianna, hingga tidak berpikir untuk melindungi yang ada di luar.” “Jika kalian melihat Brian dan Joe, bukankah seharusnya sudah jelas? Tanggung jawab kalian adalah rekan satu tim kalian. Bukan hanya rekan yang sedang bersama kalian. Mereka sudah menarik semua musuh keluar untuk memberi jalan pada kalian, tapi kalian terlalu fokus pada sandera,” ungkap Tiger. “Aku sudah mengamati setiap aksi kalian. Rega dan Brianna memang tangguh, tapi dalam tim mereka, mereka selalu membereskan lawan sendirian. “Menurut rekan-rekan tim mereka yang dulu, mereka hebat. Tapi, rekan-rekan mereka itu salah. Jika kau bisa mengalahkan seluruh musuh sendirian, bukan berarti kau hebat. Melainkan egois. Jika kau hanya memperhatikan lawanmu sendiri, itu berarti kau tidak peduli pada rekan-rekanmu. Jika kau hanya memikirkan keberhasilan misi, menyelamatkan sandera, menangkap musuh, itu berarti kau kalah. Semua yang harus ada dalam kepalamu adalah menyelesaikan misi, menyelamatkan sandera, menangkap musuh, dan melindungi rekanmu. Semua hal itu sama pentingnya. “Kalian hanya bekerja berlima, bantuan bisa dipastikan akan datang terlambat saat kalian dalam keadaan terdesak, atau bahkan tidak akan ada sama sekali. Kalian setidaknya harus bertahan dan melindungi rekan kalian sampai bantuan datang. Tapi, kalian bukan tim yang dibentuk untuk meminta bantuan. Kalian dibentuk untuk menyelesaikan misi dengan bantuan rekan kalian sendiri. Jika kalian kehilangan rekan kalian, kalian kehilangan dua puluh persen kesempatan keberhasilan misi. “Dan, ketika rekan kalian terluka, hal yang paling penting adalah, jaga emosi kalian. Jika rekan kalian sudah terluka, kalian harus tetap fokus pada misi. Kalian harus meninggalkan rekan kalian yang terluka dan melanjutkan misi. Karena jika tidak, kalian semua juga akan mati. Dan yang terpenting, jangan sampai rekan kalian harus melindungi kalian dengan tubuh mereka sendiri. Itu berarti, kalian juga harus selalu waspada. Jangan terlalu tenang hanya karena rekan kalian melindungi kalian. Karena kalian tidak tahu kapan rekan kalian akan melompat dan menjadi tameng peluru bagi kalian. “Bahkan Brian dan Joe yang paling sering menjadi rekan setim, masih belum bisa mengendalikan emosi mereka jika rekan mereka terluka. Mementingkan misi di atas rekan sendiri, tidak dianjurkan dalam tim ini. Tapi, mementingkan rekan sendiri di atas misi, juga bukan hal yang diizinkan di sini. Selain kemampuan kalian, kalian juga masih harus mengendalikan emosi kalian. Dan yang paling penting, kesombongan, keegoisan, singkirkan semua itu dari diri kalian. Atau kalian akan mati. “Percobaan pertama gagal. Ulangi lagi setelah makan siang.” Setelah mengatakan itu semua, Tiger meninggalkan gedung bersama orang-orang yang menjadi lawan mereka tadi. Ketika hanya tinggal lima anggota tim Joe di ruangan itu, tak satu pun dari mereka berbicara. *** “Aku tahu kalian pasti sedang menyalahkan diri sendiri,” Joe akhirnya berbicara saat mereka berkumpul setelah makan siang. “Karena aku pun begitu.” Brian menepuk bahu Joe. “Kita hanya lengah sedikit karena ini hanya latihan, jangan terlalu terbebani. Jika dalam misi sesungguhnya, hal seperti ini tidak akan terjadi.” Joe mengangguk. “Tapi tetap saja. Jika ini adalah sebuah misi, kita akan kehilangan Rega.” “Seharusnya aku juga lebih waspada,” Gading angkat suara. “Tidak, akulah yang lengah tadi,” sahut Rega. “Saat Rega tertembak tadi,” Brianna berbicara, “aku menghentikan serangan. Jika ini misi sungguhan, aku juga pasti sudah mati.” Brian menghela napas berat. “Kita dilatih untuk saling melindungi, sekaligus menjadi pembunuh berdarah dingin. Itu karena yang kita hadapi adalah pembunuh berdarah dingin. Saat kita menghadapi sang Mata Kegelapan, kita harus bisa melindungi rekan kita tanpa membuat diri kita terluka. Dan jika sampai salah satu dari kita terluka, kita harus meninggalkan rekan yang terluka itu. Di tim ini ... haruskah kita mengorbankan rekan kita seperti itu?” “Mengorbankan hal kecil untuk meraih yang lebih besar,” Joe berkata. “Kurasa itulah yang ingin dikatakan Tiger.” Brian mendengus kasar. “Bahkan meskipun aku harus mati, aku tidak akan meninggalkan rekanku.” Brian meninggalkan rekan-rekannya dengan marah. Joe menatap punggung Brian dengan muram. “Dia selalu keras kepala,” Joe berkata. “Kita dilarang menghadang peluru untuk rekan kita. Tapi Brian, adalah orang yang seperti itu. Dia sering melanggar perintah karena kekeraskepalaannya itu. Dia pikir, menyelamatkan rekan adalah hal yang paling penting.” “Sebuah misi yang gagal, kita bisa mencari cara lain untuk itu. Namun, saat kita kehilangan rekan, kita tidak bisa mencari cara lain untuk membawa rekan kita kembali,” ucap Brianna dengan nada getir. Joe mengerutkan kening. Brianna ... kapan dia kehilangan rekannya? ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN