***
Hiro kembali ke ruang kerjanya setelah lebih dari satu jam. "Cie ketemu calon mertua," itu kata Hiro saat pertama kali kami bersitatap. Bagus lah, dia nggak ngomong formal lagi ke aku sekarang.
Tante Kina alias Mamanya Hiro senyum-senyum sendiri setelah mendengar anaknya menggodaku. Aku jadi malu sendiri karena wajahku memerah seperti tomat.
"Gimana Bang? Aman? Mama nggak mau mereka gangguin Litia," ucap Tante Kina. Aku baru tau kalau Tante Kina memanggil Hiro dengan sebutan Abang.
Hiro menatap Tante Kina, "iya. Mama nggak pulang?" Tante Kina mendengus mendengar pertanyaan Hiro. "Kamu ngusir Mama?" tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Tante Kina. Bukan karena aku setuju ya sama pengusiran Hiro yang nggak secara langsung itu. Tapi aku juga ingin tau maksud Hiro menanyakan itu ke Tante Kina apaan?
Hiro terkekeh. Nah, ekspresi Hiro sekarang sudah lumayan berubah-ubah. Nggak melulu datar kayak papan cucian. Aku beneran ikut senang melihatnya.
"Bukan gitu Ma," Hiro tampak meringis menanggapi tuduhan tante Kina.
Tante Kina mengangguk sambil tersenyum. "Mama ngerti!" Tante Kina melirik kepadaku. Sumpah, aku sama sekali nggak ngerti maksud lirikan jahil yang Tante Kina berikan itu. Tapi, gelagat Hiro terlihat aneh lagi di mataku. Dia garuk-garuk tengkuknya.
Tante Kina memajukan wajahnya ke aku. "Kalau Hiro macam-macam gampar aja, Litia." Bisik Tante Kina. Aku yang nggak ngerti apa-apa cuma bisa angguk-angguk kepala. Setelah itu Tante Kina meninggalkan aku dan Hiro berdua saja di ruangan itu. Oke! Kayaknya ini saatnya pembalasan dendam.
Pintu tertutup, aku menatap Hiro dengan garang. Dia meringis. Kayaknya sih dia tau kalau aku mau marah sama dia.
"Tenang dulu. Aku bisa jelasin," katanya. Aku menyipitkan mata. "Jadi, semua ini bukan ulahku sayang," Hiro memulai penjelasannya. Dan apa katanya tadi? Sayang?
Aku berdehem demi meredam detakan di jantungku yang mulai nggak karuan hanya kerena mulut manis Hiro memanggilku sayang. Murah banget sih!
"Jelasin!" saat aku bilang gitu ke Hiro dia malah terkekeh. Kenapa sih?
"Kamu lucu kalau lagi ngambek," ya pemirsa, terjawab sudah kenapa si Hiro ini terkekeh. Aku mendengus.
"Mau ke mana?" Hiro menarik tanganku saat aku berniat meninggalkannya. "Pintunya harus di kunci biar aku bisa leluasa balas dendam sama kamu!" jawabku kesal. Mata Hiro membola. Kan, kaget. Makanya jangan macam-macam sama Litia.
Bukannya melepaskan genggamannya, Hiro malah berulah dengan menarikku ke dalam pelukannya. Kan, rese! "Sumpah, aku rindu," ungkapnya. Aku salah tingkah lagi. Ini Hiro pura-pura atau gimana sih? Aku kan bingung?!
Hiro memberi jarak. Aduh, itu senyum manis banget sih! "Kamu kenapa diam?" aku memutar bola mataku. Pertanyaan macam apa itu? Jelas aku diam dong setelah tiba-tiba dia peluk aku, terus bilang rindu. "Nggak usah basa-basi! Sekarang jelasin apa yang terjadi! Maksud kamu apa nggak ada kabar sama sekali. Kamu juga ninggalin aku gitu aja di Paris. Maksud kamu apa bilang rindu setelah berita pernikahan kamu sama si cantik Ana-ana itu tersebar luas?" aku menghembuskan napas lega setelah sederet pertanyaan keluar dari mulutku dalam sekali tarikan napas.
Lagi. Bukannya menjawab, suara Hiro menggelegar, tangan kirinya sampai pegang perutnya sendiri sangking asyiknya tertawa.
"Hiro!" teriakku. Dia baru berhenti setelah aku merenggut. Telapak tangannya terangkat tanda menyerah. "Iya-iya, ampun sayang. Jangan ngambek,"
"Mulai dari mana dulu nih?" aku tau Hiro lagi godain aku.
Hiro menggenggam tanganku. Bisa banget dia bikin aku luluh. Iya, buktinya aku langsung lumer hanya kerena di pegang tangan kayak gini. "Aku minta maaf ninggalin kamu gitu aja di Paris, tapi aku nggak benar-benar ninggalin kamu. Ada Badu serta Zera yang diam-diam satu pesawat sama kamu," mulainya. Aku membentuk huruf 'O' pada mulutku.
"Soal berita itu," Hiro menarik napasnya sejenak. Tatapannya tampak meredup dan merasa bersalah. Aku deg-degan nih.
"Berita itu bukan ulahku atau Ana. Ada oknum tertentu yang ikut campur di sini," lanjutnya. Jadi aku langsung bisa nebak kenapa Hiro pulang duluan waktu itu. "Jadi itu alasan kamu ninggalin aku?" dia mengangguk. Tapi kok aku kesal ya? Kalau memang alasan Hiro pulang duluan untuk ngurusin gosip itu, kenapa sampai sekarang gosipnya masih panas?
"Aku nggak bohong sayang!" ujar Hiro. Kayaknya dia tau aku lagi nuduh dia berbohong. Bisa banget sih baca pikiranku?
"Gosip itu nggak benar. Mungkin kamu nggak akan percaya kalau aku bilang dari awal aku nggak pernah cinta sama Ana. Kami di jodohkan." Hiro menghela napasnya. "Dan bagian paling parahnya adalah Ana mikir kalau aku cinta dia, makanya dia lebih memilih selingkuh daripada jujur tentang perasaannya. Ya, walaupun dua-duanya sama-sama menjatuhkan harga diriku." Jelasnya. Aku menyimak saja. Peranku hanya jadi pendengar yang baik sebelum berkomentar.
Hiro menatapku dengan ragu, "dan kamu juga nggak akan percaya kalau aku bilang, aku tertarik sama kamu sejak kamu tiba-tiba menggandeng tanganku di hotel waktu itu," katanya. Aku nggak tau harus ngomong apaan.
"Tapi semua itu tertutupi sama rasa kesalku ke kamu karena rekaman itu. Lebih kesal lagi saat aku tau kamu ternyata adalah wartawan." Hiro melanjutkan penjelasannya yang sama sekali nggak tau harus ku jawab seperti apa.
"Jadi sekarang, aku mau bilang kalau aku serius sama kamu!" aku tau dia nggak bohong. Aku suka dia dengan ketegasannya itu. Tapi masalahnya apa iya Hiro suka aku? Eh ralat, maksudnya Hiro tertarik sama Litia? Aku?
"Oh my God!" teriakku tanpa sengaja. Ini mulut memang nggak pernah bisa diajak kompromi kali ya? Kenapa sering banget kelepasan sih? Tapi, halo Litia! Bukan saatnya bahas itu sekarang! Ada yang lebih penting.
"Tapi kamu nuduh aku yang menyebar luaskan rekaman itu!" ujarku. Hiro menghela napasnya lagi, "itu cuma akal-akalan aku aja biar bisa ketemu kamu." Jawabnya. Aku melotot. Jadi Hiro sableng ini nipu aku? Duh, kesal! Tapi manis juga sih. Haha..
Jangan senang dulu! Masih banyak tapi yang belum aku ungkapkan. Seperti, tapi waktu itu kamu bilang scandal yang kita perankan adalah untuk membuat kamu nggak terlihat patah hati sendirian. Lalu ada lagi seperti saat Badu memuji Ana, kamu terlihat marah dan nggak suka. Kamu cemburu.
Dan yang lebih jelas adalah saat kita pertamakali kita bertemu, waktu itu kamu ke hotel memang untuk menghajar Badu karena merebut Ana darimu. Jadi, gimana mungkin aku bisa percaya kalau kamu tertarik sama seorang Litia yang nggak ada apa-apanya ini.
"Litia!" teriak Hiro. Aku tersenyum. Baiklah, aku siap kalau memang kamu mau bermain drama sampai sejauh ini. Bahkan kamu melibatkan orangtuamu untuk menyamarkan perasaan patah hatimu itu.
.
.
TBC.