Ketemu Calon Mertua

1262 Kata
Seminggu setelah kejadian itu aku dan Hiro benar-benar hilang kontak. Baik Hiro maupun Ana masih menjadi perbincangan hangat di dunia pergosipan. Meskipun semakin panas tapi mereka berdua sama sekali nggak memberikan komentar apapun tentang berita itu. Aneh. Badu juga seperti di telan bumi. Meskipun media terus mempertanyakan keberadaannya, tapi sampai detik ini Badu nggak menampakan batang hidungnya. Pertanyaanku adalah di mana Badu Admaja saat ini? Apa mungkin dia bunuh diri karena ditinggal Ana? Aku jadi merinding memikirkan kemungkinan mengerikan itu. Semenjak 1 Minggu yang lalu juga aku sudah mulai gencar memikirkan balas dendam ke Hiro sableng. Tapi masalahnya si Hiro ini nggak muncul juga di depanku. Jadi gimana caranya aku balas dendam? "Kenapa nggak aku datangi aja si Hiro?" Aku menggeleng. Nggak! Ngapain nemuin dia? Tapi, dengan gitu rencanaku bisa terealisasi. Kayaknya aku memang harus mencari Hiro! Maka ku ambil tasku, aku harus mencari Hiro. *** "Lepaskan!" aku memutar bola mataku karena jengkel sama satpam perusahaan Admaja ini. Ya Allah! Aku udah kayak maling aja. "Saya bukan maling!" bentakku. Si satpam berdecak kesal. "Mbak! Coba Mbak ngaca dulu deh, itu dandanan udah kayak orang gila aja!" katanya. Oke! Tanpa dia bilang pun aku sadar betul dengan penampilanku ini. Siapa yang nggak ngeri melihatku memakai kaca mata hitam dengan bingkai love begini. Jangan lupakan baju hujan yang masih enggan ku lepas sejak motorku terparkir di depan pagar tadi. Bukan karena nggak sengaja, tapi memang aku enggan melepas atributku. Katakanlah ini semacam.. penyamaran? Yah intinya gitu. Biar saja aku terlihat bodoh, yang penting aku bisa mengundang si brengaek Hiro mendatangiku. Lihat saja! Aku pasti balas dendam. "Ada apa ini?" mendadak dua satpam yang memegangiku menunduk penuh hormat. Aku pun menoleh ke sumber suara. Siapa perempuan ini? "Maaf Bu, perempuan gila ini ingin berbuat onar," jawaban si satpam berkepala botak yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus itu benar-benar bikin aku mau botakin lagi kepalanya sampai memutih. "Siapa dia?" pertanyaan perempuan cantik ini mengalihkan perhatianku dari jawaban si satpam berkepala botak itu. "Saya tidak tahu Bu, dia ingin bertemu tuan muda Hiro," aku mau muntah dengar si satpam manggil Hiro dengan sebutan tuan muda. Astaga! Dia udah tua kaleee. Aku berdehem saat perempuan yang di panggil ibu itu menatapku penuh minat. "Perkenalkan aku Litia," ku ulurkan tanganku ke hadapan Ibu-ibu itu. Ya elah. Aku mendengus karena telapak tanganku dibiarkan begitu aja sama si Ibu. Oke! Kayaknya aku tau siapa perempuan berumur kira-kira di atas 50 tahun ini. Emaknya Hiro a.k.a calon mertua. Aku terkikik dalam hati. "Siapa kamu?" nada suaranya bikin deg-degan tau nggak sih. Ku lepas kaca mata bentuk love ini dan mulai memperkenalkan diri, "Litia, calon menantu ibu." Bukan Litia namanya kalau bukan jawaban terkeren yang keluar dari mulut manis ini. Si Ibu langsung syok. Matanya melotot, mulut menganga, sama hidungnya kembang kempis. Aduh, lucu banget sih reaksinya. Hehe Sabar Bu, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan secara perlahan. Kejutan dari calon mantu belum berakhir sampai di situ. "Mama!" aku refleks menatap ke si pemilik suara. Ah, ini dia orangnya. Hiro Admaja, lelaki penuh pesona, pemilik muka sedatar tembok, si pelit senyum dan si kurang ajar yang nyebelin setengah mampus. Aku melotot ke Hiro. Sumpah! Dia ngeselin banget. "Hiro jelaskan ke Mama siapa Litia?" perhatian si Ibu sudah ke anaknya. Aku juga menuntut jawaban dari si Hiro. Dia menatapku. Ditelitinya penampilanku yang astaga! Aku lupa kalau tubuhku masih terbalut jas hujan! Dan tadi aku ngaku ke Mamanya Hiro sebagai calon mantu dengan penampilan yang kayak gini?? OMG! Aku pasti jelek banget, Hiro aja sampai meringis setelah meneliti penampilanku. "Kenapa? Kangen?" aku menunjuk diriku sendiri. Aku nggak salah dengar, kan? Setelah apa yang dia lakukan, hanya itu kata-kata yang mulut asemnya itu keluarkan? Aku menghembuskan napas dengan kasar, "iya! Puas?!" mulut oh mulut kenapa malah jawab kayak gitu sih? Saat aku lagi sibuk merutuki kesalahan mulutku, telapak tangan Hiro asyik mengusap puncak kepalaku sambil terkekeh. Alhasil, Mamanya alias calon Mama mertuaku melotot ke arah kami berdua. Aku sudah ketar-ketir karena takut di ceramahi ala calon Mama mertua galak. Lagian kenapa tangan Hiro nakal banget sih? Kan, makin nggak dapat restu diriku kalau begini! Astaga! Aku mikir apaan sih? Aku ke sini bukan mau minta restu ya! Tapi mau balas dendam ke Hiro! Oke, tolong waras. "Hiro! Kamu belum jawab pertanyaan Mama?!" Nah, iya. Aku juga belum dengar pertanyaan Mamanya Hiro tentang siapa diriku di mata Hiro? Aku mengerjap salah tingkah akibat dari tatapan Hiro. Serius, dia kayak natapin apa gitu. Kalau kata penulis romance tu tatapan penuh cinta. Ah, bisa aja kamu, Litia! Sudah, jangan berharap. "Siapa yang berharap?" Aku jadi kesal sendiri mendengar suara hatiku. "Dia seseorang yang spesial, Ma." Hening. Aku nggak tau harus ngomong apa. Jawaban Hiro sangat mengejutkan. Dia terlihat seperti benar-benar menganggapku spesial dengan tatapan manisnya itu. Aduh, aku salah tingkah lagi. "Apa?" reaksi terkejut sang Mama mertua memutus tatapan kami berdua. Kemudian, gelak tawa wanita paruh baya itu membuatku kaget setengah mati. Ini kenapa? "Wellcome dear," dan aku hanya bisa mengerjap terheran karena sesaat setelah mengatakan selamat datang, Mamanya Hiro menarikku ke dalam pelukannya. Belum sempat kekagetan ini reda, aku juga harus dikejutkan dengan kedatangan wartawan yang tiba-tiba sudah mengelilingi kami. Hiro berdecak. "Urus mereka!" titahnya pada kedua satpam yang tadi mengusirku. Oya, jangan lupakan kalau mereka berdua terlihat menyesal setelah Hiro menjawab pertanyaan Mamanya tadi. Hiro menarik tanganku ke dalam kantornya. Mamanya mengikuti dari belakang. Dalam waktu yang singkat lift membawa kami ke lantai paling atas. Ku tebak ini pasti lantai di mana ruang kerja Hiro berada. Dan benar aja, nggak jauh dari lift, Hiro membawaku dan Mamanya ke sebuah ruangan. "Tunggu di sini!" katanya. "Kamu ke mana?" tanyaku menahan tangannya. Dia menghela napas sebelum merengkuh diriku ke dalam pelukannya. "Aku rindu. Tapi kamu tunggu di sini dulu sama Mama. Nanti aku jelasin semuanya." Tanpa menunggu jawabanku, dan tanpa peduli sama perasaanku yang deg-degan setengah mati, Hiro sudah melesat keluar. Huhhh. Apa ini? Aku benar-benar nggak paham kenapa aku harus terjebak sama calon Mama mertua. Matilah aku. Niat mau balas dendam sama Hiro tapi malah mengalami situasi canggung sama Mamanya. Serius, aku nggak tau kenapa aku jadi bingung sendiri menghadapi Mamanya Hiro. Padahal, aku adalah orang yang pintar banget ngomong. Ini mendadak diriku terdiam hanya karena Mamanya Hiro menatapku dengan senyum ramahnya. Apa karena aku merasa bersalah ya karena ingin balas dendam sama anaknya? Sedangkan ibunya tersenyum setulus ini. Ya, meskipun di awal sempat kayak calon mertua yang anti anak lelakinya ditempeli sama perempuan sepertiku. Tapi, semakin ke sini wajah Mamanya Hiro kayak malaikat. Baik banget. Adem banget lihatnya. "Kamu pasti syok ya dengar berita itu?" tiba-tiba Mamanya Hiro bertanya. Ah, aku tau maksudnya. Ini pasti tentang gosip pernikahan Hiro dan Ana. Aku mengangguk. Bodoh amat ah! Kalau ini bagian dari drama, ya aku ikut aja. Toh, Hiro memang belum mengklarifikasi apapun mengenai scandal kami. "Tenang saja. Hiro sama Papanya pasti menangani semua itu dengan baik. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri, karena setelah ini Mama mau kalian cepat nikah," penjelasan Mamanya Hiro bikin jantungku mau copot. Apa katanya? Cepat nikah? Aduh, dramanya sampai ke sana, ya? Aku cuma bisa cengengesan. Kali ini pasti diriku persis seperti orang gila sungguhan. Gimana nggak coba? Kalau saat ini aku lagi cengar-cengir, kadang terkekeh, kadang bengong dengan baju hujan masih menempel di tubuhku. Astaga! Tapi aku nggak sempat memikirkan itu, apa lagi melepas baju hujan ini. Ah sudahlah, lebih baik ku tunggu Hiro. Dia wajib mejelaskan kebingungan ini. Lebih dari itu, aku berharap terlepas dari rasa nggak enak berada di ruangan yang sama dengan wanita sebaik Mamanya Hiro yang sejak awal ku bohongi dengan bilang kalau aku adalah calon istri anaknya.    . . TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN