Aku menatap bangunan hotel yang jadi saksi bisu diriku pernah ke tempat ini. Ya, setelah perjalanan jauh tentu kita harus pulang. Ada yang nungguin di tanah air sana, yang jelas pekerjaanku. Mbak Vanya sudah ceramah panjang kali lebar. Pasalnya, aku bolos sehari dari masa cuti ku. Serius, itu nggak sengaja! Aku lupa kalau ternyata kemarin seharusnya aku sudah di Jakarta dan hari ini aku sudah bekerja. Gara-gara si Hiro dan scandalnya itu aku nyaris kehilangan pekerjaan.
Pun, sekarang aku baru diberi tahu kalau Hiro sudah di Jakarta. Kan, sableng!
Kapan dia on the way, ya? Ah entahlah aku nggak mau pusing mikirin tuh orang. Syukur-syukur sampai Jakarta aku udah nggak punya urusan lagi sama dia.
Yakin?
***
Jakarta, pagi-pagi sekali akhirnya aku sampai di Kota ini. Kos-kosan yang ku jadikan tempat tinggalku masih seperti biasa. Wangi lavender yang khas menyapaku untuk pertamakalinya setelah terakhir aku pergi.
Sedikit berdebu, maka setelah menyusun kembali pakaianku ke dalam lemari, bersih-bersih adalah hal yang harus ku lakukan selanjutnya. Setelah itu baru mandi dan berlayar ke pulau kapuk untuk menjemput mimpi. Waw sangat menggiurkan. Hehe.. aku jadi terkekeh sendiri.
Namun sayang seribu kali sayang, berlayar ke pulau kapuk dan menjemput mimpi hanya jadi angan-angan. Dering handphone yang layarnya menampakan nama Mbak Vanya langsung menyita perhatianku. "Halo?" sapaku untuk pertamakali.
"Litia kamu di mana?" aku mengernyitkan kening. Kenapa Mbak Vanya terkesan buru-buru ya?
"Kos-kosan. Kenapa Mbak? Jangan bilang Mbak Vanya nyuruh aku kerja sekarang??"
Mbak Vanya berdecak. "Keluar! Mbak di depan." Aku langsung bangun dari acara rebahanku. Ini kenapa Mbak Vanya tiba-tiba ada di depan kosanku sih?? Kayaknya urgent.
Saat membuka pintu, Mbak Vanya langsung masuk ke dalam kosanku. "Kenapa Mbak?" tanyaku heran. Wajah Mbak Vanya tuh serem banget, merah dan kalau aja dia punya tanduk pasti sekarang tanduknya itu lagi keluar. Tiba-tiba dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Lah ini kenapa sih?
"Kamu nggak apa-apa, kan?" bukannya menjawab, aku malah pasang wajah penuh tanda tanya, "maksud ngana apa?" Membuat Mbak Vanya geram. "Pokoknya kamu nggak usah baca berita dulu, nonton tv juga di stop dulu!" aku makin bingung saat Mbak Vanya ngomong kayak gitu. "Satu lagi! Kamu Mbak pecat untuk sementara waktu." Lah ini kenapa Mbak Vanya jadi mecat aku? Kan kemarin aku udah minta maaf karena keenakan liburan. "Sebenarnya kenapa, Mbak?" tanyaku penasaran. Mbak Vanya geleng-geleng kepala. Aku tau pasti sesuatu terjadi dan berhubungan denganku. Untung Mbak Vanya cuman melarang nonton tv, jadi aku bebas buka hp. Mataku membola saat melihat apa yang saat ini sedang jadi trending topik.
"Ini...?" aku nggak tau mau ngomong apa. Berita ini luar biasa mengejutkan.
Hiro Admaja dan Anastasya Ruby akan menggelar pesta pernikahan termegah tahun ini!!!
Siapa yang menyangka mataku akan berair saat membaca tulisan itu. "Litia," Mbak Vanya sampai cemas. Aku terbahak-bahak. Sumpah aku nggak paham kenapa aku tertawa? Jadi, Hiro nikah sama Ana? Scandal yang kemarin nggak ada artinya? Astaga aku benci Hiro! Dia merusak liburanku, dia mengganggu masa cutiku, dan di mematahkan hatiku.
Really?
Ah, ini akibatnya kalau bawa perasaan. Harusnya aku senang Hiro jadi nikah sama Ana. Dengan gitu hidupku balik lagi. Nggak ada Hiro, nggak ada Badu dan nggak ada Ana. Tapi tetap aja yang di Paris nggak bisa dilupain gitu aja. Kenapa? Aku nggak tau jawabannya.
"Baguslah Mbak. Kita juga harus nulis berita ini," ucapku mencoba mengalihkan rasa aneh yang ada di hati. Mbak Vanya menghela napasnya. "Kamu yakin?" tanyanya pelan. Aku mengangguk antusias. Persetan sama rasa aneh di hati, yang penting sekarang kerjakan aja apa yang bisa dikerjakan. Hiro nikah sama Ana itu urusannya.
"Mbak tunggu sini. Aku siap-siap dulu," aku berlari ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian aku dan Mbak Vanya sudah sampai di kantor. Nggak ada yang aneh. Semua seperti biasa. Perihal scandal, memang hanya Mbak Vanya yang tau. Jadi orang-orang kantor nggak tau apa-apa. Syukurlah..
Aku ingin langsung ke mejaku tapi Mbak Vanya menyuruhku untuk ikut ke ruangannya. " Litia kamu benar nggak apa-apa?" pertanyaan itu lagi. Aku nggak tau mau jawab apa. Memangnya aku punya hak buat bilang kalau aku...
Ah, sudahlah. Jangan menambah masalah. "Nggak apa-apa, Mbak! Kan, dari awal memang cuman scandal," jawabku.
"Malah yang aku khawatirkan sekarang adalah Badu Admaja. Apa kabar perasaannya yang cinta mati ke Ana?"
Tapi semua itu bukan urusanku. "Maksud Hiro apa sih? Mbak udah kasih peringatan ke dia tapi masih aja kayak gini!"
Ah, pasti itu yang Mbak Vanya bicarakan sama Hiro waktu itu. Sudahlah Mbak! Dari awal Hiro memang sayang Ana. Aku nggak nyesel sama semua ini. Ada untungnya kok, aku bisa liburan ke Paris dengan gratis. Bahkan sisa uang 1 miliar itu masih banyak. Aku pikir sebaiknya ku kembalikan saja ke Hiro, karena bagaimana pun, Vidio yang aku rekam waktu itu sudah tersebar. Tapi Hiro dan Ana tetap menikah. Jadi nggak ada gunanya kan uang suap waktu itu? Ku berikan aja yang ada, sisanya nanti aku nyicil. Aku nggak mau ada hutang sama siapapun meskipun Hiro bilang itu sudah impas sejak kami membuat kesepakatan baru.
Kesepakatan baru, ya?
Sebenarnya ini yang masih jadi pertanyaanku. Kalau pada akhirnya Hiro nikah sama Ana, kenapa harus bikin scandal segala sih?
"Litia!"
Aku mengerjap saat Mbak Vanya mengguncang tubuhku. Astaga! Aku melamun ya? "Kamu nggak apa-apa?" tanya Mbak Vanya entah sudah untuk yang ke berapa kalinya. Aku menghela napas.
Baiklah! Cukup berbohongnya Litia! Iya! Aku kesal sama Hiro! Aku benci sama semua kelakuannya ini! Gimana mungkin dia nggak ngasih aku penjelasan apapun sementara dia pernah ngajak aku nikah?! Dia mau main-main sama aku? Hiro, aku kecewa. Awas aja nanti! Pasti ku balas. "Iya, pasti ku balas!" Mbak Vanya terlihat kaget mendengar perkataanku. "Apa yang mau kamu lakuin Litia? Nggak usah berhubungan sama Admaja lagi!" tegur Mbak Vanya. Duh, Mbak kayaknya teguran Mbak Vanya nggak berlaku untukku sekarang.
"Mbak nggak mau kamu kenapa-kenapa Litia! Kita jalani kayak biasa aja ya. Apapun kesepakatan kalian, Mbak mohon lupain semua itu." Ketegasan Mbak Vanya memang nggak main-main tapi sekali ini saja aku nggak mau dengerin Mbak Vanya. Bagaimanapun Hiro sudah mempermainkanku.
"Emang dia ngapain kamu?" pertanyaan itu dari Dewi batinku.
"Dia peluk-peluk aku!"
"Terus ngapain lagi?" lagi, aku mendengar sesuatu berbisik.
"Dia cium-cium aku!" suaraku terdengar kesal.
"Apa???!" aku mengerjap mendengar pekikan seseorang yang pasti bukan diriku. Astaga! Mbak Vanya sedang menutup mulutnya. "Kamu di apain aja sama si Admaja itu?" tanya Mbak Vanya sambil melotot. Ya Allah! Aku keceplosan.
"Dia cium kamu di mana?" bentak Mbak Vanya. Jujur nggak ya? Ini kenapa mulut pakai kelepasan sih? Kenapa nggak bisa diam?
"Anu Mbak, aku.." ucapanku terbata. Bingung mau jelasin dari mana dulu ke Mbak Vanya.
Mbak Vanya menghela napasnya. "Mbak takut kamu kenapa-kenapa. Kamu udah Mbak anggap adik Mbak sendiri," lirihnya. Aku jadi merasa bersalah. Tiba-tiba dendamku sama Hiro bertambah. Tapi perasaan sakit ini lebih mendominasi. Rasanya mataku panas. Ada yang berdesakan ingin keluar. Aku kesal. Inikah yang di sebut pulang? Hiro kembali ke Ana dan aku kembali ke rutinitasku yang biasa.
Aku nggak tau kalau rasanya bisa sesakit ini..
.
.
TBC.