Ada Manis-manisnya

1065 Kata
*** Beberapa menit yang lalu aku memekik karena Hiro menarik diriku ke dalam pelukannya. Si cowok ganteng juga tak kalah terkejut. Kalau aku kaget karena Hiro, nah cowok ganteng ini kaget karena teriakanku. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya. Aku berdehem, bergerak nggak nyaman dalam pelukkan Hiro yang kelihatan posesif banget. Aku saja heran melihat caranya memelukku. "Nggak apa-apa kok," jawabku atas pertanyaan si cowok ganteng. Ini Hiro kenapa sih? Emang aku apaan main peluk segala! Nanti malah kelihatan murahan di depan orang lain. Cowok ganteng itu tersenyum. "Oya, saya Adnan," dia mengulurkan tangannya. Rugi kalau nggak disambut. "Saya Hiro Admaja, calon suami Litia!" mulutku terbuka. Mata nggak mau berhenti kedip-kedip. Aku keduluan sama Hiro. Aku menunjuk diriku sendiri, lalu Hiro. Setelah itu menunjuk cowok yang memperkenalkan dirinya sebagai Adnan. Aduh, Hiro kalau mau bikin scandal jangan sekarang bisa kali ya? Gagal sudah diriku berkenalan dengan cowok ganteng ini. Tega-teganya mengaku sebagai calon suamiku di depan cowok ganteng yang barus memperkenalkan dirinya sebagai Adnan. Duh, nasib-nasib. Gagal sudah punya kenalan cogan yang rencananya mau aku pepetin. Kan lumayan, siapa tahu berhasil dipepet sampai dapat. Adnan meringis, "sorry," katanya. Wajahnya berubah jadi nggak enak gitu. Seharusnya kan aku yang nggak enak. Kenapa malah dia yang minta maaf sih? Karena kesal, ku tarik tangan Hiro yang masih betah bersalaman dengan Adnan. Kemudian dengan senyum secerah mentari, aku pun menjabat telapak tangan Adnan yang sebenarnya sudah berada di samping tubuhnya sendiri. Ya, terpaksa ku tarik lagi ke depan demi sebuah etikat baik untuk berkenalan dan menjalin silaturahmi. Eh? Apa sih? Oke kembali ke wajah kesal milik Hiro. Dia sampai mendengus. Hiro pikir cuma dia aja yang punya gebetan cakep? Aku juga bisa kali! Malahan si Adnan ini nggak kalah ganteng kok sama Hiro. Mereka berdua cuma beda tinggi aja. Adnan lebih pendek sedikit daripada Hiro. Lainnya mereka sama-sama oke. "Emang Adnan mau sama kamu?" duh, Dewi batin bisa diam nggak? Jangan sok tau dulu deh. Ini juga lagi usaha. Kalau dia nggak suka juga nggak apa-apa, ini kan ada hitungannya. "Ya, itung-itung balas dendam sama Hiro. Hihi," aku jadi terkekeh sendiri. Adnan menoleh ke belakang setelah menatapku. "Kamu tinggal di hotel ini?" tanyanya. "Iya," jawabku buru-buru. "Kamu juga tinggal di sini?" aku terlihat antusias. Adnan mengangguk singkat. Ah, direspon kayak gitu aja aku seneng banget. "Kalau gini bisa kali aku dapat cowok dalam waktu dekat," Aku jadi meringis beberapa saat setelah mengatakan itu. Gimana mungkin seorang Litia yang katanya punya masa lalu paling menyedihkan bisa seganjen ini sama cowok? Litia yang selama ini anti banget kalau didekatin cowok kecuali satu orang, kini jadi mudah banget di baperin sama cowok. "Emang kenapa? Move on dari masa lalu nggak apa-apa, kan?" kali ini aku setuju sama Dewi batinku. Tapi bukan berarti aku gampangan ya! Ini semacam bentuk usaha buat keluar dari zona yang nggak nyaman, yang udah bikin aku trauma banget sama yang namanya lelaki. Tck! "Kalau gitu kamu mau makan malam sama saya?" mataku membola. Kesempatan! "Sana pergi! Tapi siapkan dirimu besok untuk bertemu laki-laki berseragam yang membawa pistolnya." Kepalaku menoleh ke pemilik suara yang baru bisik-bisik padaku. Senyum kemenangan seenak jidat tersemat di kedua sudut bibirnya. "Hiro!" apalagi yang bisa aku lakukan selain mengeluarkan geraman kesal? Hiro benar-benar ngajak perang! Ngapain sih dia bawa polisi segala? "Sorry, calon istri saya harus istirahat. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia," mulut Hiro minta di sumpel pakai apa sih biar diam? Mulai gerah nih aku. Tadi aja dia seenaknya ninggalin aku, nah sekarang malah sok ngatur gitu. Lagian kan lumayan diajak makan malam sama cowok ganteng. "Ayo sayang!" dia merapatkan tubuhku padanya lagi. Ampun deh! Maksudnya apa coba? Tapi aku nggak berdaya. Hiro tuh punya sesuatu yang nggak bisa aku lawan. Mana mungkin aku sanggup melawan pengacara Admaja? Ya sudahlah, daripada di penjara mending aku ikut aja apa maunya si Hiro sableng ini. "Sorry, aku harus pergi. Mungkin lain kali kita bisa makan malam kalau berjodoh," aku nyengir. "Iya, semoga ada lain kali. Senang kena tabrak nggak sengaja sama kamu, Litia," balasan Adnan tuh bikin kakiku lemas. Hiro mendengus. "Nggak ada lain kali!" ujarnya. Tanpa aba-aba dia menarikku, membawaku pergi untuk meninggalkan Adnan. Aku cuma bisa pasrah. Sampai di lift ku tatap dia dengan tatapan menyelidik. "Cemburu ya mas?" aku menunjuk dirinya. Alisku pun naik turun. Hiro malah garuk-garuk leher bagian belakangnya. Dia kayak orang salah tingkah. Mampus!!! Emang enak di kerjain?? Makanya jangan macam-macam sama cinderella. Tingkat kepercayaan diriku sedikit naik level karena kelakuan Hiro yang sedikit terlihat seperti seorang kekasih yang cemburu. "Nggak usah senyum-senyum! Saya tidak sudi cemburu pada kalian!" Aku berdecak kesal dengar Hiro ngomong kayak gitu. "Bisa kali kalau ngomong sama aku tuh nggak usah pakai dua tata cara bahasa? Kalau formal ya formal aja! Kalau mau ngomong santai aku lebih suka!" Hiro cuma bisa melongo setelah dengar balasanku. Apa? Hiro pikir aku mau balas omongan dia yang bilang 'saya tidak sudi cemburu pada kalian!' nggak penting kali! Aku nggak akan pusing soal itu. Yang bikin pusing tuh dengar Hiro yang kadang kalau ngomong kaku banget. Emang aku clientnya apa? Eh tapi iya kan aku ini semacam kliennya? Secara kami memiliki urusan karena sesuatu dan lain hal. Tidak ada hal romantis seperti pasangan kekasih sungguhan. Ekspresi Hiro udah berubah lagi. "Jadi, kamu suka kalau kita bersikap santai? Kayak gini maksud kamu?" tiba-tiba dia memajukan wajahnya. Demi menghindari adegan yang tidak diinginkan, ku tutup mulutku dengan telapak tangan. Enak aja dia main sosor aja! "Mau ngapain?" cicitku. "Menurut kamu?" tanyanya. Duh, gawat! Hiro berubah lagi! Pipiku pasti merah kayak tomat sekarang. Ini kenapa lift isinya cuma kami berdua sih? Pada kemana coba penghuni hotel ini? "Kenapa? Gugup?" pertanyaan macam apa itu? Dia sengaja ngerjain aku? Imbasnya, sekarang aku gemetar. Jantungku lagi-lagi maraton. Astaga! Kebiasaan! Kalau sudah begini, cuma satu jalan keluarnya. KABUR! Tapi gimana mau kabur kalau pintu lift nggak terbuka juga. "Aku suka.." ini Hiro mau ngomong apaan? Kok pakai digantung gitu kalimatnya. Kayak jemuran. Jangan-jangan Hiro??? "Suka?" walaupun kata salah satu pemusik tanah air cinta butuh waktu, tapi aku nggak sanggup nungguin Hiro lanjutin kalimatnya. Hiro terkekeh. Sumpah manis banget! "Suka ngerjain kamu," katanya. Astaga Hiro!! Kirain suka yang itu, ternyata dia mau bilang suka ngerjain aku. Kan rese! Tapi kelakuan Hiro ini sebenarnya nyebelin tapi nyenengin juga. Kalau kata iklan sebelah tuh ada manis-manisnya. Nah, aku suka kalau lagi manis gitu. Tapi giliran nyebelinnya kumat? Mau ku ulek-ulek dia kayak cabe. . . TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN