Ingat Ya Ini Bukan Cemburu

1256 Kata
Arc de Triomphe, jadi saksi gimana jari-jari Hiro mengisi celah jariku. Aku sih nggak berhenti senyum-senyum sendiri. Kalau si Hiro masih kayak biasa. Setelah mulutnya berkata manis tadi, wajah ganteng itu kembali kayak papan cucian sangking datarnya. Aku jadi pingin gambar sesuatu di muka Hiro biar agak lucuan dikit. Kan, rugi ya muka ganteng gitu jadi nggak ada lucu-lucunya gara-gara si empu nggak niat tersenyum. "Nggak usah lihat saya terus! Kamu nggak takut jatuh cinta sama saya?" mulut Hiro minta digampar kayaknya. Maksudnya apa coba ngomong kayak gitu setelah pernah cium aku. Ditambah beberapa waktu lalu ngajak aku nikah. Ck! Jangan kira aku nggak bisa kesal cuman gara-gara dia pernah baperin aku ya! "Nggak bakalan suka lah kalau muka kamu kayak gitu terus!" Akhirnya Hiro berekspresi juga. Tuh lihat mukanya. Dia jadi kelihatan bingung banget. "Maksud kamu?" tanyanya. "Cie kepo.." telunjukku tepat di depan hidungnya. Ekspresinya berubah lagi. Keningnya mengernyit, matanya menyipit. Ah, kenapa Hiro lucu banget sih. Tapi tuh muka cepat banget berubah jadi datar lagi. Kayaknya Hiro tau aku lagi ngerjain dia. "Nggak sopan!" serunya dan meledaklah tawa Cinderella cantik bernama Litia. Sumpah diriku gemes banget sama dia. Pipi Hiro di cubit boleh nggak, ya? "Sakit!" Oops! cepat ku tarik tanganku ke belakang punggung. Jadi aku merealisasikan pemikiranku tadi, ya? Duh, Litia! Bisa tenang dikit nggak sih? Hiro mengelus pipinya. Aku jadi pingin ikut ngelus juga. Hiro tersentak, pun tubuhku juga jadi kaku saat mata kami bersitatap. Oh ya ampun! Telapak tanganku tau-tau udah nangkring cantik di pipi Hiro. Malu banget. Ingin ku tarik lagi telapak tangan nakal ini untuk ku sembunyikan ke belakang tubuhku. Tapi, kini tangan Hiro yang nahan tanganku. Duh, pasti dia marah sama aku gara-gara nyentuh dia sembarangan. "Mana bisa dia marah cuma gara-gara aku nyentuh pipinya. Orang dia aja pernah cium-cium aku!" pipiku jadi terasa panas banget setelah mikirin kelakuan Hiro waktu itu. Kelihatan nggak ya warna merah jambunya??? Aku jadi salah tingkah. Mata Hiro juga nggak mau berhenti natap aku. Ini dia niat banget bikin aku baper. Tiba-tiba dia tersenyum. Sumpah, manis banget. "Kalau wajah saya seperti ini, bisa bikin kamu jatuh cinta?" hahhh? Maksud Hiro apaan? "Ck! Dasar lemot! IQ kamu berapa sih?" Aku makin nggak ngerti. Kok dia jadi bawa-bawa masalah IQ? Kan, tadi lagi bahas tentang 'jatuh cinta'. "Ayo!" serunya sambil menarikku berlari. Aishhh Hiro ini mau main teka-teki ya? Ngapain juga lari-larian kayak gini? Aku jadi ngos-ngosan dan merasa nggak cantik lagi. Iewww PD sekali diriku. Kalau si Hiro dengar, pasti dia dengan senang hati menghinaku. Iya, masalahnya, aku ini nggak cantik sama sekali! Apalagi kalau ingat Ana, sudahlah! Levelku jauh di bawah dia. "Hiro!" pekikan seseorang membuat aku dan Hiro menghentikan langkah. Kepala Hiro menoleh ke arah asal suara. Nggak mau ketinggalan, kepalaku juga mengikuti arah pandangnya. "Zera?" gumaman Hiro membuat ku menolehkan kepala padanya. Siaga Satu nih! Siapa Zera? Si Zera ini agresif juga ya. Nggak tau kapan dia sampai sini, yang jelas dia sudah nempel sama Hiro. Ya ampun! Kok kayak lintah sih! Lengket amat. Ini juga si Hiro mau-mau aja dipeluk sama Zera. "Aku kangen banget sama Hiro," ucapnya sambil merenggangkan sedikit pelukannya. Dia juga natap Hiro kayak orang yang punya kasih sayang berlebih gitu. Aku jadi serba salah berada di antara mereka. "Erggh Zera don't hug me," Hiro mendorong Zera sambil melihat ke arahku. Bodoh amat ah, ngapain juga mikirin kedekatan mereka! Tapi untuk nggak peduli sama perempuan cantik di depanku ini rasanya nggak mungkin. Mataku jadi nggak bisa berpaling dari sosok itu. "Dia siapa?" barulah pertanyaan dari Zera membuatku sadar. Aku malu karena tertangkapak basah. "Dia.. teman," dan lebih malu lagi saat Hiro cuman anggap aku teman. Astaga! Memangnya aku berharapnya dianggap apa? Zera mengangguk. "Gue Alea Kazera," dia mengulurkan tangan padaku. Aku jadi ragu menyambutnya. Dia mulus banget. "Litia," balasku pada akhirnya. Si Zera-zera ini memamerkan gigi gingsulnya yang lucu. Makin nggak percaya diri aku tuh. Zera bergantian menatap aku dan Hiro. Dia menyipitkan mata kemudian terkekeh. "Panggil gue Zera, ya," katanya. Aku hanya mengangguk. "Teman kamu cantik," pujian itu memang untukku tapi Zera mengatakannya ke depan wajah Hiro yang saat ini malah garuk-garuk belakang lehernya. "Santai aja kali!" Zera terkekeh lagi. Apa sih yang mereka bicarakan? Ini Hiro kenapa lagi? Mukanya jadi kayak habis kena air panas. Merah banget. "Ana mana?" pertanyaan Zera membuatku nggak memperhatikan wajah Hiro lagi. Aku penasaran sama jawaban Hiro. Apa dia mau jawab kalau Ana direbut sama Badu. Kayaknya tebakanku benar. Lihat aja mukanya udah asem dan khawatir gitu. Aku menghela napas. Gitu aja terus sampai bulan jadi dua. "Aku pikir kamu sudah baca beritanya," jawaban Hiro nggak jauh-jauh dari tebakanku. Intinya ya gitu. Si Ana direbut sama adik kandungnya sendiri. Kini giliran Zera yang menghembuskan napasnya dengan lirih. "Jadi benar ya berita itu?!" ah suaranya lebih ke arah menegaskan namun tidak rela bahwa itu adalah kenyataan daripada pertanyaan. Kenapa, ya? "Dan aku bisa tebak kalau kamu ke sini juga karena ingin melarikan diri!" terdengar seperti pernyataan bagiku. Ada apa sih? Tiba-tiba Zera tertawa. Tapi tawanya terlihat dipaksakan? Beberapa detik kemudian, perlakuan Hiro benar-benar mengejutkan aku. Dia peluk Zera di depan mataku. Astaga! Ada apaan sih ini? Aku lebih terkejut lagi saat Hiro nyuruh aku pulang sendirian. "Kamu bisa kan pulang sendiri? Aku.." tanganku terangkat. Sudah cukup. Aku sama sekali nggak butuh penjelasan darinya. Aku cukup tau diri. "Kamu nggak usah khawatir. Aku bisa pulang sendiri." Sekalian aja pulang ke Indonesia biar nggak ketemu kamu dulu. Hiro hanya mengangguk sebelum berbalik menatap Zera, lalu menggenggam tangannya dengan posesif. Ah.. Arc de Triomphe ternyata juga jadi saksi gimana teganya Hiro ninggalin aku di sini, sendirian. Memang, aku pasti bisa pulang sendiri dengan bantuan aplikasi semacam peta yang aku lupa apa namanya. Tapi alangkah nggak bertanggung jawabnya Hiro sampai rela ninggalin aku demi perempuan lain. "Aku bisa ikut mereka kalau Hiro nggak keberatan!" Sudahlah.. Hiro juga nggak akan balik lagi ke sini. Dia sudah pergi sama si Zera. Pulang sekarang juga nggak akan ada untungnya. Arc de Triomphe harus tetap dinikmati meskipun aku sendirian. Maka ku putuskan tetap melanjutkan trip tanpa super Hironya Zera. Sampai sore datang, waktu memaksaku berhenti. Akhirnya aku pulang. Nggak perlu ku sebutkan naik apa aku hingga bisa sampai di depan hotel lagi. Aku letih, sungguh bukan karena perjalananku hari ini tapi karena mataku terpaksa harus melihat Hiro yang lagi mondar mandir di depan sana. "Maaf," ucapku karena nggak sengaja nabrak orang gara-gara melotot ke arah Hiro. "Nggak apa-apa. Saya yang seharusnya minta maaf," balasnya. Aku jadi gerogi, ni orang udah ganteng ramah lagi. Eh, dia orang Indonesia juga? "Litia! Kamu nggak apa-apa?" aku menoleh ke sumber suara. Ini biangnya nih. Cowok nyebelin yang nggak bertanggung jawab. Malas banget jawab pertanyaannya, mending aku kenalan sama cowok baru di depanku ini. "Hai," duh sebenarnya nggak nyambung banget nih aku pakai say hai segala, padahal tadi baru aja nabrak dia. "Kenalin, aku Litia. Kamu boleh panggil aku Liti, Tia atau..." Hiro kelihatan penasaran karena ulahku. Aku sengaja ngerjain dia. Aku berdehem sebelum melanjutkan, "atau kamu boleh panggil aku 'sayang'," kali ini Hiro melotot karena ucapanku. Mampus dah tuh orang!!! Makanya jangan aneh-aneh, kan, aku bisa lebih aneh lagi. Hahaaaa. Eh, tapi ingat ya, aku ngelakuin ini bukan karena cemburu tapi mau ngasih pelajaran aja ke Hiro. Biar dia tau gitu kalau seorang Litia juga bisa bikin dia kesal. Mau bukti? Tuh lihat muka datar Hiro jadi punya rahang yang mengeras. Jangan lupakan tatapan mematikan yang dia tujukan ke cowok yang sampai detik ini masih bengong sambil melotot ke aku. Astaga! Kenapa cowok ganteng suka bersikap kayak gitu ya? . . TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN