Effect

1388 Kata
Sejak Mbak Vanya menyetujui permintaanku, sejak itu pula aku dan Hiro gencar jalan sana jalan sini, foto sana foto sini demi sebuah skandal. Tentu saja yang jadi wartawan dadakan ini adalah diriku sendiri. Begitu juga yang nulis beritanya. Mulut nyinyir Hiro lah yang berhasil memaksaku untuk menulis sendiri berita itu. "Biar saya bisa periksa tulisannya, agar terhindar dari typo,"   itu jawabannya saat aku tanya kenapa harus aku yang nulis. Ck. Kan nyebelin. Tau gitu kenapa nggak dia aja yang nulis!!! Jadi, di sinilah kami sekarang. Di bawah tingginya menara Eiffel yang menurut aku nggak ada romantis-romantisnya karena pergi bersama Hiro. "Ayo selfie!" Hiro mengangguk. Aku senyum lima jari tapi Hiro masih sedatar tembok sangking susahnya dia tersenyum meskipun sudah mencoba. Hahahaha. Hiro langsung menatapku dengan sorot mata yang uhggg mengerikan. Aku menarik napas lelah. Tanganku terangkat, Hiro mengernyit saat jari telunjuk dan ibu jariku menarik pipinya. "Senyum dong!" Kataku. Hiro diam, kita pandangan-pandangan udah kayak orang pacaran. Sumpah ini bikin jantung maraton. Cekrek. Ehh? Siapa yang fotoin? Aku kaget, Hiro juga ikutan kaget. Dia sampai menepis tanganku. "Badu!" geram Hiro. Mataku melotot. Duh ngapain si Badu di sini? Badu tergelak. Ya ampun dia ini kayak nggak punya salah aja sama kakaknya. Lah, Badu kan selingkuh sama tunangan Hiro. Makanya aku terjebak di sini. Huhh. Badu berdecak. "Dari tadi kek yang kayak gini. Kan, lebih dapat feelnya," ucap artis terkenal itu. Apa Badu baru saja mengakui kalau dia lagi ngikutin kami? entahlah. "Ahhgg pada tegang!" lanjut si pembuat onar. Iya, nggak salah kan kalau aku bilang dia ini pembuat masalah? Iwww kalau ingat tingkah kurang ajarnya itu, kenapa aku jadi sensi ya?? Aku berkacak pinggang. "Mau ngapain ke sini?" bentakku. Badu terkekeh. Nah apanya yang lucu? Nggak waras emang si Badu ini. Dari dulu selalu ketawa kalau aku bentak-bentak. Iya, ingatkan kejadian di apartemen? Pas aku marah-marah? Dia tergelak lho. Pake alasan lucu lagi. Huhhhh. Oke! Fokus ke yang sekarang aja. "Ngapain kamu ke sini?" tanyaku ulang. "Nyantai dong kakak ipar," jawabannya malah membuat aku memutar bola mataku. Apaan tadi? Kakak ipar? Ya kali! Nikah sama Hiro aja belum. Haha. Eh?? Kan nggak jelas. "Enak aja! Siapa juga yang mau jadi kakak ipar kamu!" kesal, ku balas dia dengan telak, sambil lirik-lirik Hiro sih, takut dia tersinggung. Ae elah. Ngapain juga mikirin Hiro? Bodoh amat! Mau tersinggung kek, tersungging kek, terserah dia lah. Bukan urusan aku. "Nih Abang gue mau sama Lo, makanya dikejar sampai ke sini," Badu mengakhiri pernyataannya dengan kekehan. Sementara aku??? Bengong kayak orang bodoh. Aku beralih menatap Hiro dengan tampang pengen tahu. Tapi Hiro, mukanya sama kayak biasa. Biar ku eja ya. D A T A R. Ahh, dengan tampang yang kayak gitu, aku cukup tau diri kalau ternyata Badu hanya bercanda. Tapi kok kesal ya? Duh, maunya aku apa sih? "Idih kakak ipar cemberut haha," Badu mengejekku. Lihat saja tingkahnya. Persis seperti anak kecil. Kok berani sih rebut tunangannya Hiro? "Ngapain cemberut!" Aku mendelik pada calon adik ipar. Awas saja nanti kalau sudah sah jadi adik ipar, akan ku aniaya, biar tau rasa dia. "Ngarep ya?" pertanyaan Badu menyadarkan aku dari khayalan yang sama sekali nggak benar itu. Serius aku ngarep?? Nggak, kan? Nggak kan, ya? "Cih siapa juga yang mau sama wanita kurus seperti dia!" telunjuk Hiro sedikit lagi berhasil menyentuh hidungku. Ck. Maunya apa sih Hiro ini. "Siapa yang kurus?" tanyaku dengan nada yang nggak ada santai-santainya. Hiro memasang tampang super meremehkan. Dia ngatain aku, menghina aku. "Dasar jelek! Nggak bisa senyum! Nggak ramah! Nyebelin! Tukang ngatur! Anak durhaka kamu! Ku kutuk kamu jadi batu!" Hahh? sumpah aku bingung sendiri dengan kalimatku yang terakhir. "Maksudku... Ahh nggak tau! Pokoknya kamu manusia yang harus aku hindari!" Sudah. Iya. Sudah mengatakan semua itu, termasuk anak durhaka dan titik bengeknya, aku pergi meninggalkan dua Admaja yang terbengong. Mungkin masih bingung dengan kata-kayaku yang mirip legenda dari Sumatra Barat itu. Hahaa. Menghentak-hentakkan kaki seperti anak kecil, menggerutu juga cemberut mungkin membuatku merasa lapar. Makanya sekarang aku ada di salah satu restorant yang katanya enak dan terjangkau ini. Sengaja nggak sebut merk ya, karena namanya agak susah. Karena aku nggak terlalu pintar bahasa inggris, akhirnya aku menerjemahkan dulu beberapa kaliamat demi memesan makanan. Oke, terimakasih kepada mesin pencarian yang telah membantu diriku hehe. Setelah memesan makanan, aku menunggu beberapa saat sampai pelayan kembali membawa pesananku. "Thakn you," ucapku sambil tersenyum.  Asyik dengan makanan berlabel halal di depanku, aku sampai lupa kalau sejak tadi aku mengabaikan suara handphone, deringnya menandakan ada yang menelpon. Kayaknya sih Hiro nyari aku nih. Dengan percaya diri, ku buka handphoneku dan yuppp nomor Hiro menjadi salah satu pemanggil itu.  Rasain!! Pasti dia lagi sibuk nyari ke sana ke sini. Makanya jangan nyebelin. Ditinggal, kan jadinya. Saat aku mau telpon balik, hp ku dirampas gitu aja oleh seseorang. Aku mendongak dengan kesal. Siapa coba yang kurang ajar sama aku? Mau marah tapi nggak jadi karena ternyata pelakunya adalah.. "Hi..ro?" aku terbata. Sumpah, muka Hiro serem banget. Mataku melotot. Tubuh mendadak kaku dan jantungku lagi-lagi maraton. Astaga!!! Hiro narik tangan aku, meluk aku dengan posesifnya. "Jangan suka ngilang," bahkan suaranya terdengar lirih di telingaku. Ya Allah Hiro kesambet apaan sih???? Dia melepas pelukannya. Menatapku dengan sorot mata aneh.  Hening melingkupi kami berdua setelah dia memajukan wajahnya.  Selanjutnya, yang aku tahu, aku memejamkan mata saat benda kenyal nan lembab punya Hiro nempel di bibirku. Nggak usah aku jelaskan, semua orang yang ada di restorant ini juga tahu apa yang sedang Hiro lakukan, atau yang kami lakukan?? Duh, aku nervous. ini memang bukan ciuman pertamaku, dan sebenarnya Hiro cuma sedang menempelkan bibirnya di bibirku. Tapi jantungku rasanya mau copot sangking gugupnya.  Aku membuka mata, ternyata Hiro juga melakukan hal yang sama.  Masih diposisi yang sama saat aku merasakan Hiro menarik kedua sudut bibirnya. Setelah itu, dia menarik dirinya untuk mundur. "Ihh Hiro kok rasanya deg-deg ser gitu sih??" "Kalau aku mau lagi, boleh nggak, ya?" Hiro terkekeh. Bukannya menciumku lagi tapi dia malah melingkarkan telapak tangannya di pergelangan tanganku. Dia juga membawa aku keluar dari restorant setelah ku dengar seseorang berkata yes dengan kencang. Huhh. Oke. Itu pasti Badu. Dia yang jadi wartawan menggantikan aku. Entah berapa lama aku memandangi pergelangan tanganku yang terlindung di bawah telapak tangan Hiro. Rasanya aku masih semacam.. malu-malu? Astaga! Baper banget aku tu. Ini gila! Lebih gila lagi saat aku mau nambah ciuman. Astaga!! Dewi jalang sialan! Kenapa muncul di saat aku nggak konsentrasi sih?  Kalau tadi aku bilang malu-malu, nah sekarang aku sadar aku benar-benar mempermalukan diriku sendiri. Mau ditarok di mana mukaku ini??? Hiro tiba-tiba berhenti. Kami lagi-lagi bertatapan. Ishh awas aja dia. Nggak mau lagi aku kalah sama si Hiro sableng ini. Tarik napas Liti! Jangan mau terintimidasi sama cowok nyebelin macam Hiro. Sudah cukup tadi aku mendadak lupa ingatan karena dicium Hiro. Sekarang saatnya aku yang beraksi. Ku hempaskan tanganku kuat-kuat sampai telapak tangan Hiro terlepas. "Ngapain kamu cium aku?" bentakku.  Hiro mendengus, "tadi mau nambah, sekarang marah-marah! Mana yang benar sih?" sumpah ya itu gerutuan Hiro kencang banget tau, makanya aku bisa dengar dan makin kesal. Aku berkacak pinggang. Nggak usah diungkit juga kali! Bikin tambah malu aja. "Apa??" katanya nggak pakai slow. Saat mau marah lagi dia malah narik tanganku sampai wajahku bertemu dengan dadanya. Aku syok, kaget sumpah. Jangan-jangan Hiro mau ngulangin adegan yang tadi? "Berhenti berpikir yang tidak-tidak Litia!" selalu seperti ini. Iya, Hiro itu kayak bisa baca isi pikiranku, makanya kata-katanya selalu tepat sasaran. By the way, kok Hiro ngomongnya formal lagi sih? Coba kayak tadi, kan lebih mirip orang yang beneran pacaran. Lagi asyik pelukan, si Badu datang lagi. Pakai acara tepuk tangan segala. Kenapa? Iri kali ya lihat orang pelukan.  Aku sebel. Efek kedatangan Badu tuh banyak banget. Salah satunya muka Hiro jadi datar lagi kayak nggak ada ekpsresi sama sekali. Pelukkannya? Jangan ditanya. Aku sempat hampir terduduk gara-gara didorong oleh Hiro. Ya ampun, kan nyebelin. Dari pada pusing mikirin adik kakak ini, mendingan aku pergi. "Jangan lari-lari!" siapa lagi pemilik suara itu kecuali Hiro. Aku sama sekali nggak berhenti. "Nggak lari kok," balasku. "Ini cuman lagi maraton aja, sama kayak jantungku yang maraton melulu kalau dekat-dekat kamu." Mampos. Mulutku mengacau lagi. Duh, malu banget. Tapi nggak apa-apa lah asal bisa lihat ekspresi Hiro yang sekarang lagi ngakak. Rasanya tuh di perutku kayak ada kupu-kupu yang dengan nakalnya gelitikin aku. Sumpah nggak ganggu kok, malah aku suka.    . . TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN